vp,,rm
Hikmah November Pekan ke-3 | Republika

Hikmah

Jujur Pengantar Kebaikan

Jujur adalah pengantar menuju kebaikan.

OLEH MUHAMMAD RAJAB

Pada dasarnya, setiap orang memiliki kecenderungan dan kecintaan terhadap kebaikan. Hanya saja, terkadang dorongan hawa nafsu membuat seseorang berpaling dari kebaikan tersebut. Karena itu, dibutuhkan keteguhan sikap agar tidak mudah berbelok dari jalan kebaikan. Sikap tersebut adalah kejujuran.

Jujur adalah pengantar menuju kebaikan. Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR Muslim No 2607).

Jujur dapat berupa perkataan (qaulan) dan perbuatan (fi’lan). Dalam perkataan berarti menyampaikan sesuatu dengan sebenar-benarnya dan ini adalah kebalikan dari dusta (al-kadzib). Sedangkan jujur dalam perbuatan adalah menyesuaikan apa yang ada dalam hati dengan amal perbuatan.

Al-Qurtubi mengatakan, jujur adalah kesesuaian antara apa yang dikerjakan dengan apa yang dikatakannya. Abu Bakar ash-Shiddiq mengatakan bahwa jujur adalah sikap amanah dan dusta adalah khianat.

Terdapat keutamaan yang besar bagi orang yang jujur. Di antaranya, kejujuran dapat menunjukkan tinggi rendahnya integritas, nilai, dan kedudukan dia di hadapan Allah dan juga manusia. Makanya para nabi dan rasul Allah sebagai pembawa risalah umat memiliki sifat utama jujur (QS asy-Syu’ara’: 83, QS Maryam: 41). 

Demikian pula dengan Nabi Muhammad SAW yang memiliki empat sifat utama yang salah satunya adalah shiddiq atau jujur (QS an-Najm: 2-4). Sebab Rasulullah SAW memiliki kewajiban menyampaikan risalah yang diembannya secara jujur tanpa menutup-nutupi (kitman) sedikit pun.

Selain itu, Allah SWT akan menyiapkan ampunan-Nya dan pahala yang besar di sisi-Nya bagi orang-orang yang jujur (QS al-Ahzab: 35). Tidak cukup itu, orang yang jujur juga akan selalu mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup. 

Berbeda halnya dengan dusta atau bohong yang akan menjadikan hidup seseorang tenggelam dalam kegelisahan. Sebab, ketika seseorang berbohong ia akan terus mencari cara untuk menemukan kebohongan-kebohongan berikutnya.

Nabi Muhammad SAW berpesan: “Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.” (HR Tirmidzi No 2518).

Namun, menjadi orang yang jujur tidaklah mudah, butuh perjuangan dan komitmen keimanan yang kuat. Salah satu cara untuk menjadi orang yang jujur adalah dengan meningkatkan kesadaran diri bahwa kita selalu berada dalam pengawasan Allah SWT (muraqabatullah).

Sikap merasa diawasi Allah inilah yang akan memiliki modal utama untuk senantiasa komitmen di atas nilai-nilai kejujuran. Wallahu a’lam.

Kiai Dahlan Melawan Bodoh

Ahmad Dahlan sesungguhnya sedang mendobrak kejumudan beragama dan berkehidupan umat.

SELENGKAPNYA

KH Shodiq Hamzah, Raih Doktor HC Berkat Tafsir Bahasa Jawa

Tafsir ini menggabungkan antara tradisi penulisan Jawa pegon dengan tulisan Latin.

SELENGKAPNYA

Terus Bangun Ekonomi Syariah 

Perlu keseriusan dan komitmen semua pihak untuk memajukan ekonomi syariah.

SELENGKAPNYA