Karyawan beraktivitas di dekat logo-logo perusahaan asuransi di Jakarta, Senin (4/4/2022). | ANTARA FOTO/Reno Esnir/hp.

Opini

Asuransi Syariah 2023

Disarankan 42 UUS asuransi syariah memulai membangun fondasi persiapan spin off atau konversi tahun depan.

BAMBANG RIANTO RUSTAM, Doktor Ilmu Ekonomi dan Keuangan Syariah Universitas Trisakti

Hal yang patut disyukuri, industri keuangan syariah di Indonesia berkembang pesat kurang lebih tiga dekade ini. Merambah ke sektor perbankan, lembaga pembiayaan, bahkan asuransi syariah yang masuk kategori industri jasa keuangan nonbank syariah.

Salah satu industri yang vital mendukung perbankan dan pembiayaan syariah adalah asuransi syariah. Statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, sampai akhir Juni 2022, aset asuransi syariah Rp 42 triliun.

Dibandingkan aset industri jasa keuangan nonbank syariah lain, seperti pembiayaan dan dana pensiun syariah, asuransi syariah saat ini memberikan share 63  persen dari aset industri keuangan nonbank syariah di Indonesia.

Tantangan bagi semua termasuk OJK, KNEKS agar 2023 dapat meningkatkan pangsa pasar asuransi syariah, meninggalkan angka psikologis lima persen pada Juni 2022 dibandingkan asuransi konvensional, berdasarkan statistik OJK.

 
Salah satu industri yang vital mendukung perbankan dan pembiayaan syariah adalah asuransi syariah.
 
 

Potret asuransi syariah

Statistik OJK menyebutkan, dua tahun pascapandemi, industri keuangan nonbank syariah masih bisa tumbuh 10 persen. Pertumbuhan setahun terakhir didorong perusahaan pembiayaan syariah yang meningkat sekitar 26 persen.

Angka ini berkontribusi bagi kenaikan aset industri keuangan nonbank syariah yang tumbuh 10 persen setahun terakhir. Bagaimana dengan asuransi syariah? Pengamatan penulis, aset asuransi syariah masih bisa tumbuh delapan persen setahun terakhir menjadi Rp 42 triliun.

Ini kontribusi dari 31 asuransi jiwa syariah dan 25 asuransi umum syariah. Industri asuransi memiliki dua pemain besar asuransi syariah, yaitu asuransi syariah dan unit usaha syariah (UUS) asuransi baik untuk asuransi jiwa syariah maupun asuransi umum syariah.

Asuransi umum syariah saat ini memiliki 25 pemain, yang terdiri atas enam asuransi umum syariah dan 19 UUS asuransi umum. Asuransi jiwa syariah per Juni 2022, memiliki 31 pelaku asuransi jiwa yang terdiri atas delapan asuransi jiwa syariah dan 23 UUS asuransi jiwa.

 
Asuransi umum syariah saat ini memiliki 25 pemain, yang terdiri atas enam asuransi umum syariah dan 19 UUS asuransi umum.
 
 

Pertumbuhan asuransi jiwa syariah setahun terakhir dari sisi aset hanya 2,94 persen menjadi Rp 35 triliun. Asuransi umum syariah tumbuh 17 persen menjadi Rp 7 triliun.

Tantangan bisnis

Tahun 2023 menantang bagi industri asuransi syariah. Pertama, memenuhi amanah UU Perasuransian 17 Oktober 2014, pedoman asuransi baik syariah maupun konvensional dalam melaksanakan operasinya dan memberi kepastian hukum.

Salah satunya, kewajiban spin off atau konversi. Pasal 87 menyebutkan, asuransi atau perusahaan asuransi yang memiliki UUS dengan nilai dana tabarru dan dana investasi peserta paling sedikit 50 persen dari total nilai dana asuransi, dana tabarru, dan dana investasi peserta pada asuransi induknya atau 10 tahun sejak berlakunya UU Perasuransian maka asuransi dan reasuransi itu wajib memisahkan UUS-nya, menjadi asuransi syariah atau reasuransi syariah pada 2024.

Bila kita lihat publikasi UUS asuransi, belum ada UUS asuransi memenuhi kriteria memiliki nilai dana tabarru dan dana investasi peserta paling sedikit 50 persen dari total nilai dana asuransi, dana tabarru, dan dana investasi peserta pada asuransi induknya.

 
Pertumbuhan asuransi jiwa syariah setahun terakhir dari sisi aset hanya 2,94 persen menjadi Rp 35 triliun.
 
 

Patut diperhatikan, amanah UU juga menyebutkan 42 UUS asuransi yang terdiri atas 23 UUS asuransi jiwa dan 19 UUS asuransi umum syariah, wajib memisahkan diri pada 2024.

Mengingat sisa waktu setahun, disarankan 42 UUS asuransi syariah mulai membangun fondasi persiapan spin off atau konversi tahun depan. OJK disarankan mengawal proses ini.

Penulis meyakini karena 42 UUS asuransi ini sebagian besar milik swasta, pertumbuhan aset menjadi pilihan utama pemegang sahamnya dalam mengambil keputusan di samping isu permodalan, kesiapan teknologi dan sumber daya insani, yang butuh investasi besar.

Kedua, bisnis asuransi syariah pada 2023 adalah melaksanakan operasional dengan manajemen risiko yang baik.

 
Kedua, bisnis asuransi syariah pada 2023 adalah melaksanakan operasional dengan manajemen risiko yang baik.
 
 

Belajar dari banyak kasus asuransi di masa lalu, tantangan asuransi syariah adalah menjaga perusahaan dari risiko reputasi dan memelihara tata kelola yang baik, meningkatkan kinerja untuk memperoleh kepercayaan masyarakat.

Tanpa kepercayaan, bisnis asuransi syariah tak berkembang. Apalagi, nanti menghadapi ancaman baru, seperti inflasi global, normalisasi kebijakan bank sentral AS, the Fed, krisis pangan, hingga kemungkinan bangkrutnya puluhan negara yang tertimbun utang.

Catatan penulis, dilihat dari investasinya asuransi syariah Indonesia banyak penempatan pada saham, reksadana, dan surat berharga yang diterbitkan negara Republik Indonesia, serta deposito sebagai investasi terbesar.

Maka itu, kondisi ekonomi 2023 utamanya kinerja pasar modal juga memengaruhi kinerja asuransi syariah. Semoga asuransi syariah pada 2023, bisa melaksanakan amanah UU Perasuransian dan meningkatkan tata kelola untuk meningkatkan kinerja. 

Kiai Dahlan Melawan Bodoh

Ahmad Dahlan sesungguhnya sedang mendobrak kejumudan beragama dan berkehidupan umat.

SELENGKAPNYA

Terus Bangun Ekonomi Syariah 

Perlu keseriusan dan komitmen semua pihak untuk memajukan ekonomi syariah.

SELENGKAPNYA

Neymar di Hotel Saat Brasil Kalahkan Swiss

Neymar satu-satunya pemain yang tak ada di stadion dalam laga tersebut.

SELENGKAPNYA