Petugas menyuntikan vaksin Covid-19 kepada pengunjung pada peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) DKI Jakarta di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (28/11/2022). | Republika/Putra M. Akbar

Nusantara

Pemerintah Didorong Gencarkan Dosis Keempat

Kelompok lansia masuk dalam prioritas vaksinasi dosis keempat.

JAKARTA -- Pemerintah berupaya memastikan warga lanjut usia atau lansia terlindung dari keparahan akibat serangan Covid-19 dengan melaksanakan vaksinasi dosis keempat atau dosis penguat kedua pada warga berusia 60 tahun ke atas.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Mohammad Syahril mengatakan warga lansia termasuk kelompok yang rentan mengalami keparahan dan kematian akibat infeksi virus corona penyebab Covid-19.

Oleh karena itu, pemerintah sejak 22 November 2022 memberlakukan kebijakan mengenai vaksinasi booster atau penguat kedua untuk memberikan perlindungan tambahan kepada warga lansia.

Vaksinasi penguat kedua dilakukan setidaknya enam bulan setelah warga lansia mendapat suntikan vaksin Covid-19 dosis ketiga atau dosis penguat pertama, yang diberikan kepada mereka yang telah mendapat vaksinasi dosis pertama dan kedua.

Pelaksanaan vaksinasi penguat kedua ditujukan untuk menekan risiko keparahan atau kematian akibat Covid-19 pada warga lansia. "Percepatan vaksinasi baik primer maupun booster perlu dilakukan mengingat pasien Covid-19 yang meninggal sebagian besar adalah masyarakat yang belum divaksinasi, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta," kata Syahril, Selasa (29/11).

Dia juga mengemukakan pentingnya penggiatan pelaksanaan vaksinasi Covid-19, utamanya di daerah-daerah yang cakupan vaksinasi primer maupun penguatnya masih di bawah 70 persen dari target vaksinasi.

Ketua Satuan Tugas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Erlina Burhan sebelumnya mengemukakan orang yang belum mendapat vaksinasi dosis lengkap lebih rentan terinfeksi virus corona tipe SARS-CoV-2 sub-varian Omikron XBB.

IDI pun mendorong agar masyarakat umum segera mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 dosis keempat sebagai bentuk preventif menekan keparahan penyakit serta kematian pasien Covid-19 di Indonesia.

Ia menyampaikan, IDI mendukung pemerintah terkait program vaksinasi Covid-19 saat ini. Namun, ia juga meminta pemerintah dapat menjamin akses ketersediaan dan kemudahan vaksin

“Jadi kalau kami tentunya mendorong supaya booster (untuk masyarakat umum) segera dilakukan dan ini tentunya sangat tergantung dengan ketersediaan vaksin itu sendiri,” kata Ketua Umum Pengurus Besar IDI M. Adib Khumaidi.

Pemberian vaksin dosis lanjutan tersebut, menurut Adib tak masalah bila diberikan dengan skema berbayar. Namun, alangkah baiknya bila dapat diberikan secara gratis melalui program pemerintah.

“Saya kira ini upaya agar kita sama-sama edukasi bahwa vaksinasi masih perlu hingga saat ini,” ujar Adib.

Hal senada disampaikan Peneliti keamanan dan ketahanan kesehatan global Griffith University Australia, Dicky Budiman. Ia juga mendorong pemerintah mempertimbangkan vaksin booster dosis kedua atau vaksinasi dosis keempat untuk masyarakat umum.

Terutama, masyarakat dengan penyakit bawaan atau komorbid, serta individu yang pernah terinfeksi virus corona lebih dari satu kali. Diketahui saat ini kelompok lanjut usia atau lansia sudah masuk dalam prioritas pemberian vaksin booster kedua.

photo
Presiden Joko Widodo menerima suntikan vaksin Covid-19 IndoVac dosis booster kedua di halaman Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Kamis (24/11/2022). - (ANTARA FOTO/Biro Pers Setpres - Lukas)

"Pemberian booster, baik itu booster pertama atau booster kedua ketika memang sudah eligible (memenuhi syarat), artinya sudah lebih dari lima bulan atau lebih sejak dosis sebelumnya, itu tetap penting diberikan," ujar dia.

Menurut Dicky, kenaikan kasus Covid-19 beberapa waktu terakhir tidak hanya disebabkan oleh subvarian baru Omicron, tetapi juga mobilitas masyarakat yang tinggi, lemahnya deteksi kasus, penurunan protokol kesehatan, dan buruknya cakupan vaksinasi booster.

Melihat situasi ini, pemerintah pun diminta lebih tegas menerapkan protokol kesehatan di masyarakat, termasuk mempercepat laju vaksinasi dosis ketiga atau vaksin booster. "Strategi WFH (work from home) tetap diperlukan terutama untuk jenis pekerjaan yang bisa remote," kata peneliti keamanan dan kesehatan global itu.

Ahli Epidemiologi dari Universitas Indonesia, Pandu Riono juga memandang saat ini prioritas vaksin dosis keempat lebih baik diberikan kepada para tenaga kesehatan, kelompok lansia dan orang dengan komorbid. Pandu mengatakan, pengendalian Pandemi di Indonesia saat ini sudah lebih baik.

photo
Tenaga kesehatan menyuntikan vaksin booster Covid-19 kepada warga di sentra vaksinasi di kawasan Kota Tua, Jakarta, Jumat (16/9/2022). - (Republika/Thoudy Badai)

"Perlu prioritaskan vaksinasi pada penduduk yang rawan tapi belum divaksinasi, belum lengkap dan belum booster,” kata Pandu, Selasa.

Strategi tersebut juga berdasarkan wilayah, terutama urban dan wilayah penyangganya (Aglomerasi). "Belajar dari Cina kita harus kejar vaksinasi pada lansia dan komorbid 100 persen," kata Pandu menambahkan.

Sementara itu, Provinsi Riau menerima 10 ribu dosis vaksin IndoVak dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Gubernur Riau Syamsuar mengatakan vaksin IndoVak tersebut mulai digunakan untuk warga Riau, terutama warga yang memiliki komorbid atau warga yang belum melakukan vaksin ketiga (booster).

"Masyarakat harus segera mendatangi tempat-tempat yang sudah disiapkan pemerintah daerah untuk mendapatkan vaksin, terutama vaksin booster, mengingat kasus positif Covid-19 masih ada," kata Syamsuar. 

Penentuan di Laga Pemungkas

Belanda, Ekuador, dan Senegal sama-sama berpeluang ke babak 16 besar.

SELENGKAPNYA

Masa Pencarian Korban Gempa Cianjur Diperpanjang

Tren kasus penyakit pada warga yang mengungsi mulai mengalami penurunan.

SELENGKAPNYA