Sejumlah relawan duduk di sekitar lilin yang dinyalakan saat memperingati hari AIDS Sedunia di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (1/12/2021) malam. | ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/hp.

Nusantara

Sebanyak 12.533 Anak di Bawah 14 Tahun Terinfeksi HIV

Prostitusi online di masa kini dapat meningkatkan potensi infeksi HIV-AIDS pada anak dan remaja.

JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengemukakan sebanyak 12.533 anak di bawah usia 14 tahun diketahui positif terinfeksi HIV dalam kurun waktu 2010 sampai September 2022. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, Imran Pambudi mengatakan, jumlah tersebut berdasarkan data 2010 sampai September 2022.

Imran mengatakan sedikitnya 4.764 anak usia 14 tahun ke bawah yang terinfeksi HIV, diantaranya sedang menjalani terapi antiretroviral (ART), berdasarkan data sampai September 2022. Jika dilihat berdasarkan jumlahnya, secara dominan kasus HIV yang ditemukan lebih banyak pada anak di bawah usia 4 tahun.

“Dari 12.553 kasus itu, yang sudah mulai pengobatan baru sekitar 7.800-an. Jadi gapnya cukup tinggi,” kata Imran dalam Temu Media Hari AIDS Sedunia 2022 yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa (29/11). Imran memaparkan anak laki-laki lebih mendominasi dibandingkan dengan anak perempuan.

Dalam kurun waktu 2010-2020, penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia sudah mengalami kemajuan, karena terjadi penurunan kasus infeksi baru, sebagai dampak akselerasi pengendalian yang berfokus pada pencegahan dan ekspansi berskala besar ART.

Namun, situasi HIV harus selalu diwaspadai, karena penurunan infeksi baru masih belum mencapai target yang diharapkan oleh pemerintah. Apalagi, hadirnya Covid-19 telah menghambat program pemerintah untuk mewujudkan eliminasi HIV-AIDS tahun 2030.

Selain Covid-19 dan tingginya penderita HIV di kalangan anak, tantangan lain yang harus dihadapi pemerintah adalah berdasarkan pengamatan tahun 2018-2022. Karena sebagian besar kasus HIV berada di kelompok umur 25-49 tahun atau pada usia produktif dan aktif melakukan hubungan seksual.

Imran menekankan pendidikan serta peningkatan pengetahuan yang dimiliki oleh orang tua menjadi kunci utama untuk mencegah anak terkena virus HIV. Sebab, biasanya HIV menulari anak-anak melalui orang tuanya.

“Setiap tahun masih saja ditemukan anak dengan HIV. Ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan pengendalian HIV masih memerlukan penguatan-penguatan,” kata dia.

photo
Petugas tenaga kesehatan melakukan screening dengan tes cepat HIV AIDS kepada warga di Gasibu, Bandung, Jawa Barat, Ahad (20/11/2022). - (ANTARA FOTO/Novrian Arbi)

Pemicu

Sementara, Dokter Spesialis Kulit Kelamin Rumah Sakit Krakatau Medika Banten Santoso Edy Budiono mengkhawatirkan jika maraknya prostitusi online di masa kini dapat meningkatkan potensi infeksi HIV-AIDS pada anak-anak dan remaja Indonesia.

“Belum lagi ada pengaruh dari media atau gadget yang terbuka pada sesuatu yang sifatnya pornografi atau pornoaksi,” kata Santoso.

Santoso menuturkan berdasarkan suatu survei, sebanyak 80 persen penduduk Indonesia telah menjadi pengguna dari aplikasi bernama MiChat yang seringkali dijadikan ruang untuk melakukan pemasaran prostitusi. Kemudahan teknologi dan kebebasan untuk mengakses berbagai informasi, dikhawatirkan membuat anak-anak yang tidak memiliki literasi digital yang baik terpapar HIV-AIDS karena mengaksesnya tanpa tahu dampak buruk dari seks bebas.

“Ini yang menurut saya harus disadari oleh orang tua pentingnya literasi digital pada anak-anak. Supaya mereka bisa mencegah dan tahu akibat dari pergaulan yang kurang baik,” ujar dia.

Bantu Korban Bencana, DD Gelar Konser Kemanusiaan

Beberapa musisi dan selebritas Tanah Air turut hadir dalam acara tersebut.

SELENGKAPNYA

Masjid Bukan Arena Politik Partisan

Boleh bicara politik di masjid, tapi politik yang mencerahkan dan menyatukan umat.

SELENGKAPNYA