Pemandu wisata memberikan penjelasan kepada turis mancanegara di Masjid Istiqlal, Jakarta. | Republika/Putra M. Akbar

Opini

Tantangan Pariwisata Halal

Risiko ketidakpastian global cenderung meningkat sehingga menghambat pemulihan kinerja pariwisata.

IMRON ROSYADI, Peneliti pada Pusat Studi Halal Universitas Muhammadiyah Surakarta

Beberapa hari lalu, kami hadir dalam forum diskusi “Flagship Diseminasi Laporan Nusantara Serta Launching Buku Manufaktur dan Pariwisata”, yang digelar Bank Indonesia (BI).

Terkhusus, buku Pariwisata Indonesia: Bertahan di Masa Pandemi, Berisap Bangkit Lebih Kuat menarik didiskusikan lebih lanjut. Terutama jika diselaraskan dengan perkembangan terkini pariwisata halal.

Crescent Rating (2022) dalam rilisnya memproyeksikan, pada 2023 pergerakan wisatawan Muslim secara global mencapai 140 juta orang. Pada 2024, terus meningkat hingga 160 juta orang.

Setidaknya, dalam buku itu terdapat sejumlah bahasan menarik, antara lain, arah pengembangan pariwisata nasional, menangkap peluang tren baru pariwisata, membuka pariwisata secara aman, daya saing pariwisata membaik, bersinergi membangkitkan pariwisata nasional.

 
Crescent Rating (2022) dalam rilisnya memproyeksikan, pada 2023 pergerakan wisatawan Muslim secara global mencapai 140 juta orang.
 
 

Ditebitkannya buku tersebut, tampaknya untuk merespons perkembangan terbaru pariwisata domestik setelah meredanya gelombang pandemi Covid-19, dan seiring kebijakan pelonggaran mobilitas masyarakat.

Maknanya, ini momentum pemulihan pariwisata. Tak sebatas pemulihan, didukung juga membaiknya daya saing pariwisata nasional. Beragam kebijakan pemulihan dan pengembangan pariwisata berhasil mendorong peningkatan daya saing pariwisata domestik.

Berdasarkan asesmen Travel and Tourism Development Index (TTDI) 2021, dirilis Word Economic Forum (WEF) pada Mei 2022, daya saing pariwisata Indonesia peringkat 32 atau melompat 12 peringkat dibanding pada 2019.

Indonesia peringkat ke-2 di ASEAN setelah Singapura. Selaras dengan capaian tersebut, Indonesia didaulat salah satu destinasi wisata ramah Muslim terbaik di dunia.

Peringkat kinerja pariwisata halal itu berdasarkan asesmen Global Muslim Travel Index (GMTI) 2022 yang dirilis Crescent Rating. GMTI menempatkan Indonesia peringkat ke-2 setelah Malaysia sebagai destinasi wisata ramah Muslim terbaik di dunia.

 
Peringkat kinerja pariwisata halal itu berdasarkan asesmen Global Muslim Travel Index (GMTI) 2022 yang dirilis Crescent Rating.
 
 

Merujuk skor (0-45) dan preferensi (0-100 persen) wisatawan global GMTI, kekuatan Indonesia, terutama didukung ketersediaan tempat ibadah (40, 85 persen), restoran halal (38, 85 persen), pembatasan beribadah (30, 85 persen) dan keamanan umum (25,2, 65 persen).

Namun, pemulihan kinerja pariwisata halal digelayuti tantangan. Pertama, kinerja operasional pelaku usaha pariwisata terdampak pandemi Covid-19, belum sepenuhnya pulih.

Menurut hasil Survei Khusus Sektor Riil triwulan-II 2022 oleh BI, kegiatan operasional dan penggunaan tenaga kerja oleh pelaku usaha belum seperti sediakala.

Tecermin dari rendahnya subindikator GMTI pada kuadran meliputi hotel/akomodasi (24,4, 65 persen), lingkungan pendukung (16, 65 persen), pemasaran destinasi (15, 75 persen), infrastruktur transportasi (12,6, 58 persen), iklim yang mendukung (7,6, 65 persen), keberlanjutan (6,3, 65 persen), dan kedatangan pengunjung (5,4, 58 persen).

 
Kedua, kapasitas angkutan udara masih terbatas di tengah kenaikan harga energi global.
 
 

Kedua, kapasitas angkutan udara masih terbatas di tengah kenaikan harga energi global. Pada pertengahan 2022, jumlah pesawat yang beroperasi diestimasi hanya 63 persen dari sebelum pandemi. Diperburuk, beberapa bandara belum sepenuhnya pulih.

Terlihat dari rendahnya skor dan preferensi wisatawan Muslim GMTI untuk kinerja bandara (40,40 persen).

Selain itu, pariwisata halal nasional masih mendapatkan nilai GMTI rendah pada kuadaran yang meliputi pengalaman unik (1,44, 48 persen), persyaratan visa (8,8, 48 persen), kemampuan komunikasi (7,6, 35 persen), dan konektivitas (2,8, 48 persen).

Ketiga, risiko ketidakpastian global cenderung meningkat sehingga menghambat pemulihan kinerja pariwisata. Terutama, ketegangan geopolitik Rusia-Ukraiana yang menyeret negara kawasan Eropa, AS, dan Cina.

 
Ketiga, risiko ketidakpastian global cenderung meningkat sehingga menghambat pemulihan kinerja pariwisata.
 
 

Tren baru

Seluruh tantangan itu, bukan berarti menutup peluang peningkatan kinerja sektor pariwisata, khususnya wisata ramah Muslim. Asalkan, sinergi pemerintah dan stakeholder pariwisata berfokus menangkap peluang tren baru pariwisata.

Pertama, pariwisata berkelanjutan melalui quality tourism (QT). Proses adaptasi masyarakat terhadap kondisi pandemi Covid-19 mendorong pergeseran dari pengembangan pariswisata berorientasi kuantitas ke pariwisata berkualitas (QT).

Pengembangan QT terkait sejumlah aspek. Antara lain, peningkatan daya saing pariwisata, pengalaman unik, pariwisata bernilai tinggi dan berkelanjutan. Dengan QT diharapkan pariwisata halal bisa menangkap peluang pergeseran preferensi pariwisata pascapendemi.

Kedua, pergeseran dari “bleisure” ke “workcation”. Sejatinya, dua konsep ini mirip, sama-sama memadukan unsur liburan/wisata dengan bekerja. Bedanya, bleisure liburannya dilakukan setelah bekerja.

Terakhir, pengembangan desa wisata dan ekonomi kreatif untuk pariwisata Inklusif. Kemendes-DTT (2021) mencatat lebih dari 6.900 desa wisata. Karena itu, pariwisata halal diharapkan turut mengembangkan desa wisata menjadi desa wisata unggul dan halal.

Ki Bagoes Hadikoesoemo, Penggagas Tegaknya Syariat Islam

Ia telah merumuskan pokok-pokok pikiran KH Ahmad Dahlan hingga menjadi Mukaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah.

SELENGKAPNYA

Kisah Kesombongan Kafir Makkah

Orang-orang kafir Makkah sombong karena mengira bahwa kelak di akhirat mereka akan diutamakan daripada kaum Mukminin.

SELENGKAPNYA

Bagaimana Pandangan Syariah Menonton Piala Dunia?

Saat kopi disebut sebagai minuman sejuta umat, menonton sepak bola itu tontonan sejuta umat.

SELENGKAPNYA