Prof KH Nasaruddin Umar | Ilustrasi : Daan Yahya

Tasawuf

Makna Hakikat Tanda Sujud

Vibrasi positif yang memancar di dalam wajah ahl al-shalat mampu memancarkan energi positif

 

Oleh PROF KH NASARUDDIN UMAR 

Dalam artikel terdahulu, makna fikih dan sosial atsar sujud telah dibahas. Pembahasan secara hakikat lebih dari sekadar itu. Dalam berbagai kitab tafsir isyari dan kitab-kitab tasawuf dijelaskan bahwa bekas sujud (atsar sujud), tidak dipisahkan dengan kata sebelumnya (simahum fi wujuhihim min ...). Kata sumahum berarti tanda-tanda yang muncul dan memberikan kekuatan atau energi.

Dalam tafsir Mafatih al-Gaib dijelaskan, energi itu akan mengeluarkan cahaya yang akan menerangi diri yang bersangkutan di dalam alam kegelapan menuju Padang Mahsyar. Para malaikat tidak repot mengidentifikasi hamba Tuhan yang baik dan buruk melalui tanda itu. Dalam tafsir al-Mizan karya Thaba'taba'i, pancaran cahaya dan energi yang membekas pada diri orang yang sujudnya benar tidak hanya memancar pada hari akhirat, tetapi sejak di dunia. 

photo
Jemaah melaksanakan ibadah Sholat Jumat di Masjid Al Ukhuwah, Jalan Wastukencana, Kota Bandung, Jumat (15/1). Pemerintah Kota Bandung memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara proporsional di tempat ibadah dengan membatasi jumlah jemaah menjadi 50 persen guna mengantisipasi penyebaran Covid-19. Foto: Abdan Syakura/Republika - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Vibrasi positif yang memancar di dalam wajah ahl al-shalat mampu memancarkan energi positif sekaligus menyedot perhatian terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Secara tegas, Thaba'taba'i menjelaskan bahwa kekuatan atsar sujud mampu mengajak orang yang bersangkutan untuk istiqamah di dalam kebenaran dan akan semakin dekat dengan Tuhannya.

Ketika penulis menghadiri Seminar Internasional Tafsir Al-Mizan di Quom, 4-5 November yang lalu, salah seorang muridnya menjelaskan, adanya "kekhususan" 'Allamah Thaba'thaba'i di dalam menyusun tafsir itu. Di antaranya ia mampu memperoleh insight atau inspirasi dari alam sekitarnya, termasuk sebuah pohon di depan pintu jendela kamarnya. Ketika beliau wafat, pohon itu juga mati. Mungkin itu yang dimaksudkan beliau dengan energi spiritual yang lahir dari sujud, bisa menyedot, dan sekaligus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara spiritual dengan makhluk di sekitarnya.

 
Nabi Muhammad SAW dalam beberapa riwayat hadis sahih sering digambarkan berkomunikasi dan bersahabat dengan alam raya.
PROF KH NASARUDDIN UMAR
 

Sesungguhnya pengalaman seperti itu bukan sesuatu yang baru. Nabi Muhammad SAW dalam beberapa riwayat hadis sahih sering digambarkan berkomunikasi dan bersahabat dengan alam raya.

Misalnya, ketika mengungsi ke Thaif, ia diadang orang kafir dan tumitnya berdarah terkena lemparan batu. Gunung Thaif menanyakan, "Maukah aku balaskan siksaan mereka terhadapmu?” Nabi menjawab, "Tidak usah, mereka melakukan itu karena tidak tahu siapa aku. Kelak satu saat mereka mengetahui siapa aku dan misi yang aku bawa, mereka akan sadar." Dari masa Nabi sampai sekarang, benteng dan pangkalan militer Saudi dibangun di kawasan pegunungan Thaif itu.