Pemain Jerman berpose menutup mulut saat laga melawan Jepang di Stadion Internasional Khalifa di Doha, Qatar, Rabu (23/11/2022). | AP Photo/Ebrahim Noroozi

Piala Dunia

Kekalahan Jerman dan Pongahnya Kaum Hedonis

Sejumlah video yang berisi pesan mencemooh sikap 11 pemain Jerman itu menjadi viral di dunia maya.

OLEH MOHAMMAD AKBAR

Sejatinya saya mempunyai harapan kepada timnas Jerman di Piala Dunia 2022. Selain menjagokan Inggris dan Prancis untuk menjadi kandidat juara, skuad Der Panzer merupakan salah satu tim yang juga saya idolakan.

Namun, dari penampilan perdana penyisihan Grup E, Jerman bermain di luar ekspektasi banyak pihak. Di luar dugaan, Jerman harus menyerah 1-2 dari Jepang. Skor kekalahan itu mirip dengan yang dialami Argentina saat melawan Arab Saudi.

Padahal, Jerman dan Argentina memiliki skuad bertabur pemain bintang. Sebagian besar pemainnya merumput bersama klub elite Eropa. Sebaliknya, Jepang dan Arab Saudi didominasi pemain yang berkompetisi secara domestik saja.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by DFB-Team (@dfb_team)

Meski demikian, Arab Saudi dan Jepang terlihat memiliki mental bermain pantang menyerah dengan kekuatan saling menyokong antarpemain. Inilah kunci utama dari kemenangan dua tim asal Asia itu.

Sebaliknya, para pemain Jerman sebelum kick-off sudah mempertontonkan sikap yang tak bijak. Saat berpose bersama, 11 pemain Jerman memperlihatkan pose menutup mulut. Sikap itu merupakan bentuk protes kepada Qatar, tuan rumah penyelenggara Piala Dunia 2022, yang melarang penggunaan armband pelangi One Love buat kapten timnas Jerman.

Armband pelangi itu merupakan bentuk simbolis dukungan kepada komunitas lesbian, gay, biseksual, transgender, queer (LGBTQ) secara global. Komunitas ini umumnya tumbuh subur di Eropa. Salah satu kampanye komunitas ini adalah kebebasan berekspresi buat perilaku seks sesama jenis. Sungguh menjijikkan!

Anehnya, belum ada respons apa pun dari Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) terhadap pose para pemain Jerman sebelum kick-off itu. Padahal, merujuk Pasal 4 Ayat 5 Law of the Games 2021/2022 yang dirilis IFAB, FIFA secara tegas melarang masuknya pandangan pribadi soal politik, agama, slogan pribadi, pernyataan atau gambar, atau iklan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Hal berbeda justru terjadi ketika hukuman diberikan kepada klub Skotlandia,Glasgow Celtic, yang pernah memberikan dukungannya kepada Palestina. Meski penyampaian pesan dilakukan secara berbeda, semua itu memiliki motif yang sama untuk menunjukkan sikap dukungan terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan sepak bola.

Sikap mencemooh para pemain Jerman kepada tuan rumah ini sungguh aksi yang tidak sportif dan toleran—dalam makna berpikir manusia waras. Sikap itu juga memperlihatkan bagaimana 11 pemain Jerman itu menjadi representasi masyarakat Eropa yang ingin memaksakan budaya kaum hedonis mereka agar diizinkan selama digelarnya Piala Dunia di Qatar. Di antara budaya hedonis yang dilarang oleh Pemerintah Qatar itu adalah minum alkohol di tempat terbuka serta seks bebas.

Alhasil, ketika Jerman mengalami kekalahan, kemarahan warganet meluap begitu besar. Ekspresi luapan kemarahan, baik secara langsung maupun tidak, sangat berbeda ketika dibandingkan dengan Argentina saat kalah.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Japan Football (@japan_football__)

Sejumlah video yang berisi pesan mencemooh sikap 11 pemain Jerman itu menjadi viral di dunia maya. Salah satunya adalah aksi sejenis yang dilakukan suporter Jepang dengan memperlihatkan gerakan menutup mulut. Bedanya, aksi tiruan suporter Jepang itu berisi pesan bahwa tim mereka telah berhasil membungkam skuad Jerman yang pongah.

Kemarahan warganet juga dialamatkan kepada bek timnas Jerman, Antonio Rudiger. Pemain milik Real Madrid ini dinilai telah melecehkan pemain Jepang ketika aksi berlarinya dengan cara berjingkat-jingkat. Saat itu, Jerman masih unggul 1-0 atas Jepang.

Kekalahan Jerman ini sesungguhnya telah memberikan pelajaran penting. Kesombongan dan meremehkan lawan adalah kunci kekalahan. Jadi, dengan dua laga tersisa melawan Spanyol dan Kosta Rika, semoga saja mentalitas para pemain Jerman bisa diperbaiki.

Semoga juga arogansi negara yang pernah menjadikan Adolf Hitler sebagai penguasa dunia yang pongah itu dibuang. Semoga juga Jerman sadar bahwa khitah dari Piala Dunia itu untuk merawat perdamaian dan memperkuat persahabatan, bukan untuk pamer 

Kemenangan Bersejarah Arab Saudi

Saudi tak boleh cepat puas mengingat ini baru laga pertama.

SELENGKAPNYA

Tuntutan Fokus A Selecao

Portugal sebenarnya memiliki problem yang jauh lebih besar.

SELENGKAPNYA

Raksasa Tertidur Vs Macan Asia

Uruguay dan Korsel sama-sama memiliki sejumlah pemain top yang merumput di Eropa.

SELENGKAPNYA