Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menyampaikan paparan pada pertemuan The 4th Indonesia Fintech Summit yang diprakarasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BI, AFTECH, dan AFPI di Bali, Kamis (10/11/2022). | ANTARA FOTO/Humas OJK

Ekonomi

OJK Minta Industri Perkuat Mitigasi Risiko

OJK juga berencana memperpanjang relaksasi industri asuransi pada 2023.

JAKARTA -- Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengatakan, sektor jasa keuangan harus mampu memitigasi ketidakpastian ekonomi global.

Menurut dia, para pelaku di sektor jasa keuangan tetap harus mencermati dan mewaspadai risiko transimisi serta efek rambatan dari guncangan eksternal karena tingginya keterhubungan pasar keuangan domestik dengan pasar dan ekonomi global.

"Kita harus secara proaktif mampu mencegah risiko pemburukan dari dalam dan luar sektor keuangan yang bisa sangat tidak terduga arah dan jurusannya. Kita harus merespons dengan cepat, tepat, dan terkoordinasi," kata Mahendra dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu (23/11).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Otoritas Jasa Keuangan (@ojkindonesia)

Mahendra mengungkapkan, sektor jasa keuangan Indonesia cukup mampu bertahan di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian. Hal tersebut tecermin dari kinerja positif yang ditorehkan sepanjang tahun ini.

"Apabila kita melihat kondisi kesehatan industri jasa keuangan, baik perbankan, pasar modal, maupun industri keuangan non-bank (IKNB), bisa dikatakan pulih dari dampak pandemi," kata Mahendra.

Menurut Mahendra, kinerja positif sektor jasa keuangan ini meningkatkan optimisme dan menjadi modal penting dalam mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi nasional 2023 yang diperkirakan akan tetap solid di atas 5 persen.

Meski demikian, Mahendra mengingatkan dunia saat ini sedang mengalami ketidakpastian akibat eskalasi ketegangan politik yang mengakibatkan terganggunya rantai pasok global. Tidak hanya itu, normalisasi kebijakan bank sentral AS, the Federal Reserve, turut memperparah ketidakpastian global.

 
 
Apabila kita melihat kondisi kesehatan industri jasa keuangan, baik perbankan, pasar modal, maupun industri keuangan non-bank (IKNB), bisa dikatakan pulih dari dampak pandemi.
 
 

"Berbagai risiko tersebut dapat membawa ekonomi dunia ke jurang resesi bahkan stagflasi pada tahun depan. Selain itu, likuiditas global juga diperkirakan jadi lebih tertekan sehingga memicu terjadinya volatilitas di sektor keuangan," ujar Mahendra.

OJK juga berencana memperpanjang relaksasi industri asuransi pada 2023. Hal itu karena ancaman resesi membayangi perekonomian global pada tahun depan.

Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) 2A OJK Ahmad Nasrullah mengatakan, pihaknya sudah memberikan relaksasi kepada industri asuransi selama wabah pandemi Covid-19 melanda Indonesia. "Kami akan menerapkan kebijakan yang sifatnya mendukung pertumbuhan industri asuransi dengan tetap menyeimbangkan dengan kepentingan konsumen," ujarnya.

Ahmad menyebut adanya perpanjangan relaksasi tersebut bertujuan untuk menghadapi resesi. Kebijakan relaksasi tersebut diputuskan setelah berdiskusi dengan berbagai pihak di industri asuransi yang memang masih memerlukan beberapa relaksasi kebijakan dari OJK. 

 
 
Perpanjangan hanya diberikan dengan segmentasi yang terbatas karena saat ini pandemi Covid-19 mulai mereda.
 
 

"Relaksasi yang akan kami perpanjang lebih kepada yang bersifat substantif. Kalau yang administratif, tidak akan kami berikan lagi," ucapnya.

Kebijakan relaksasi ini juga sejalan dengan kebijakan bagi industri pembiayaan berupa restrukturisasi yang akan diperpanjang pada tahun depan. Hal ini khususnya untuk mendukung sektor UMKM agar tetap tumbuh. "Perpanjangan hanya diberikan dengan segmentasi yang terbatas karena saat ini pandemi Covid-19 mulai mereda," ucapnya.

GoTo Masih Cetak Kerugian Rp 20 Triliun

Perseroan tetap berfokus pada optimalisasi beban usaha.

SELENGKAPNYA

Waskita Rights Issue Awal Desember 

Waskita sedang berdiskusi intensif dengan Kementerian BUMN dan JLA terkait usulan harga pelaksanaan rights issue.

SELENGKAPNYA

Kontribusi Ekonomi G-20 Diprediksi Rp 7,4 Triliun

Okupansi hotel di Bali juga diprediksi tetap tinggi hingga akhir tahun.

SELENGKAPNYA