Batu-batu balok jenis batuan beku andesit terhampar berserakan di situs Megalith Gunung Padang, Kab. Cianjur, Jawa Barat, (3/12/2012). Situs Megalith Gunung Padang diperkirakan berumur 1.500 SM. Luas zona inti lokasi situs 4.000 meter dari luas keseluruha | Republika

Kronik

Jejak Sesar Cimandiri di Situs Gunung Padang Cianjur

Gunung Padang terletak di daerah rawan bencana karena berada pada sesar Cimandiri.

OLEH SELAMAT GINTING

Disadur dari Harian Republika Edisi Kamis, 29 Januari 2015

Menyusuri jalur Puncak, Bogor, menuju Kota Cianjur. Dilanjutkan arah menuju Jalan Raya Cianjur-Sukabumi. Di situ ditemui jalan bercabang, jalur ke Pal Dua atau Tegal Sereh.

Mengambil jalur Pal Dua, bertemu Desa Warungkondang. Dari desa ini berbelok ke kanan. Menuju Cipadang-Cibokor-Lampegan-Pal Dua-Ciwaringin-Cimanggu dan berakhir di Dusun Gunung Padang.

Mencapai Dusun Gunung Padang, jalurnya menanjak dengan kondisi jalan yang berlubang, khususnya Pal Dua. Hampir sebagian jalan bergelombang dan berlubang. Sampai di Dusun Gunung Padang, terdapat gapura atau gerbang menuju situs Gunung Padang.

Selanjutnya, menyusuri jalan ke kaki bukit bisa dengan berjalan kaki atau menggunakan jasa ojek sepeda motor. Di situlah situs Gunung Padang berada, di Dusun Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. “Silakan masuk, murah meriah, tetapi bernilai sejarah,” kata seorang pemandu wisata, baru-baru ini.

photo
Batu-batu balok jenis batuan beku andesit terhampar berserakan di situs Megalith Gunung Padang, Kab. Cianjur, Jawa Barat, (3/12/2012). Foto ANTARA/Agus Bebeng/Koz/mes/11. - (Republika)

Persis satu tahun yang lalu, pada 28 Januari 2014, Tim Riset Mandiri meluncurkan sebuah buku berdasarkan napak tilas. Arkeolog Ali Akbar, salah seorang tim tersebut, merangkumnya menjadi sebuah buku yang berjudul, Situs Gunung Padang; Misteri dan Arkeologi.

Ali Akbar mengungkapkan, tim yang diinisiasi Andi Arief, staf khusus presiden bidang bantuan sosial dan bencana, era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, telah mengungkap adanya indikasi bencana besar pada masa lalu di Gunung Padang.

“Gunung Padang ini dari sudut pandang ilmu kebumian, terletak di daerah rawan bencana karena berada pada sesar Cimandiri yang dapat menimbulkan gempa bumi,” ujar Ali Akbar menjelaskan.

Terkait banyaknya pertanyaan bahwa situs Gunung Padang merupakan peradaban tertua di dunia, arkeolog itu menyebutkan, penelitian telah mendeteksi bawah permukaan tanah Gunung Padang menggunakan metode dan teknik geofisika, seperti geolistrik dan georadar oleh Tim Katastropik Purba. “Hasil uji (carbon dating) menunjukkan angka belasan ribu sebelum Masehi. Itu angka yang tergolong tua untuk kebudayaan Indonesia,” kata Ali menjelaskan.

 
Gunung Padang ini dari sudut pandang ilmu kebumian, terletak di daerah rawan bencana karena berada pada sesar Cimandiri yang dapat menimbulkan gempa.
ALI AKBAR Arkeolog
 

Bahkan, Tim Katastropik Purba juga mengungkapkan, permukaan tanah Gunung Padang telah terdapat campur tangan manusia. Diperkuat lagi dengan hasil tes laboratorium Beta Analytic Miami, Florida, Amerika Serikat. Dalam rilisnya menyebut, usia sempel bawah permukaan Gunung Padang mencapai belasan ribu tahun lalu.

Temuan-temuan tersebut, seperti satu suara dan satu gelombang dengan buku, Atlantis: The Lost Continent Finally Foud (2010), karya Aryos Santos. Ia adalah ahli geologi dan fisikawan nuklir asal Brasil. Dia mengungkapkan, di wilayah Indonesia pernah menjadi pusat peradaban dunia.

“Pertama, adalah Atlantis Lemuria yang sebenarnya (Ibu yang perawan) yang terletak di Indonesia dan dihancurkan oleh bencana Gunung Toba pada 75 ribu yang lalu. Kedua, adalah Atlantis yang sebenarnya (Putra) dihancurkan oleh letusan Gunung Krakatau pada 11.600 tahun lalu di akhir zaman,” tulis Santos.

Selain itu, ada pula ilmuwan genetika Stephen Oppen Heimer dalam buku, Eden in The East, Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara. Dalam bukunya, dokter lulusan Oxford University itu menyebut, Sundaland (Tanah Sunda) merupakan tempat peradaban masyarakat nusantara yang tenggelam karena peristiwa banjir besar berkali-kali pada 14.500, 11.500, dan 8.400 tahun lalu.

Filsuf Plato mengemukakan, Atlantis adalah sebuah peradaban tinggi yang kaya raya, tapi hilang terkena bencana. Benarkah yang dimaksud Atlantis itu adalah Indonesia?

 

photo
Batu-batu balok jenis batuan beku andesit terhampar berserakan di situs Megalith Gunung Padang, Kab. Cianjur, Jawa Barat, (3/12/2012). Foto ANTARA/Agus Bebeng/Koz/mes/11. - (Republika)

Zaman Es

Terkait dengan temuan-temuan ilmiah tersebut, Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana mengumpulkan para ahli kebumian. Dalam perjalanannya, tim ini menemui berbagai catatan penting terkait dengan bencana katastropik purba. Tim katastropik ini kemudian diperkuat dan menjelma menjadi Tim Riset Mandiri Situs Gunung Padang.

Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang menduga bahwa situs atau bangunan di dalam perut Gunung Padang sudah ada sejak Zaman Es. Dikatakan, situs Gunung Padang terdiri atas empat lapis kebudayaan dengan tiap-tiap lapisan dibangun oleh peradaban berbeda.

Lapisan tertua diduga berasal dari masa 11 ribu tahun yang lalu dan diduga dibangun oleh peradaban saat itu. "Jadi, (situs Gunung Padang) sudah ada sejak Zaman Es," kata Danny Hilman Natawidjaja, geolog yang juga anggota tim riset situs itu.

Bagian bangunan di perut Gunung Padang yang diduga sudah ada sejak Zaman Es adalah yang berada di lapisan paling dasar. Namun, menurut arkeolog dari Universitas Indonesia Ali Akbar, dugaan itu masih perlu dikonfirmasi secara arkeologis. "Yang sudah dikonfirmasi secara arkeologis adalah yang berumur 5.200 tahun," kata Ali Akbar, arkeolog anggota tim riset.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Gunung Padang Megalithic Site (@gunungpadang.id)

Ia mengatakan, penelitian tentang Gunung Padang masih perlu dilanjutkan guna menguak kemungkinan adanya peradaban yang lebih tua yang pernah hidup di Indonesia. Danny mengakui bahwa hasil penelitian Gunung Padang kontroversial. Salah satu faktornya, belum dikenal peradaban maju di Indonesia pada 11 ribu tahun lalu.

Namun, kemungkinan ada peradaban yang membangun situs Gunung Padang pada masa lalu. Dalam kurun waktu 11 ribu tahun, kemungkinan ada peradaban nusantara yang membangun situs Gunung Padang, tetapi runtuh akibat bencana.

Ya, situs Gunung Padang mulai dibicarakan sejak munculnya klaim adanya piramida di perut gunung tersebut. Maka, Tim Riset Mandiri Gunung Padang melakukan penelitian lewat analisis tomografi, georadar, geolistrik, serta arkeologis.

Hasil analisis tomografi mengungkap adanya zona dengan cepat rambat suara rendah. Artinya, terdapat rongga di perut Gunung Padang. Sedangkan, penelitian georadar dan geolistrik mengungkap adanya water loss yang juga menjadi indikasi adanya rongga.

Sementara, penelitian geologis menguak adanya lapisan tanah yang bukan hasil pelapukan, melainkan dikumpulkan sebagai dasar bangunan.

Kesimpulan hasil penelitian memicu kontroversi. Beberapa arkeolog dan geolog menganggap bahwa para arkeolog dan geolog dalam tim riset itu terlalu "jump to conclusion".

Geolog Awang Harun Satyana menyatakan bahwa mungkin saja ada ruang di dalam perut Gunung Padang, tetapi belum tentu ruang itu buatan manusia. Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta, Siswanto, mengatakan, harus ada jejak budaya sebelum mengatakan bahwa terdapat lapisan budaya dalam Gunung Padang.

Danny memaparkan, sangat wajar bila kontroversi muncul dari hasil penelitian ini. "Ini memang sangat frontier. Jadi, kalau banyak ilmuwan kaget, wajar," katanya.

Meneladan Kesederhanaan dan Keteguhan KH AR Fachruddin

Dia dikenal sebagai pribadi yang ramah, mengayomi banyak pihak, bijaksana, dan zuhud.

SELENGKAPNYA

Jejak Tsunami Purba di Serambi Makkah

Temuan ahli geoteknologi dan arkeolog di Aceh menunjukkan, Aceh pernah mengalami tsunami jauh sebelum peristiwa tsunami 2004.

SELENGKAPNYA

Duka untuk Cianjur

Gempa di Cianjur tidak terkait potensi gempa megathrust di selatan Jawa.

SELENGKAPNYA