KH KH AR Fachruddin. | istimewa

Tokoh

Meneladan Kesederhanaan dan Keteguhan KH AR Fachruddin

Dia dikenal sebagai pribadi yang ramah, mengayomi banyak pihak, bijaksana, dan zuhud.

OLEH HASANUL RIZQA

Tokoh Muhammadiyah ini lahir di Clangap, Purwanggan, Yogyakarta, pada 14 Februari 1916. Dia berasal dari keluarga kiai yang begitu dihormati masyarakat setempat. Ayahnya bernama KH Fakhruddin yang juga seorang penghulu di Pakualaman, sedangkan ibunya adalah Nyai Hajjah binti KH Idris.

Oleh orang tuanya, Abdul Razaq (AR) Fachruddin mendapatkan ilmu-ilmu agama di dalam rumah. Demikian pula, masa kecilnya ditempuh dengan pendidikan dasar di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Adapun masa remajanya pernah dilewati sebagai santri di Pondok Tremas, Pacitan.

Di lingkungan Muhammadiyah, inilah berturut-turut sekolah-sekolah yang dijalani AR Fachruddin: Standard School Muhammadiyah Bausasran, Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah, Sekolah Guru Daarul Ulum Muhammadiyah Kulonprogo, dan Tabligh School Muhammadiyah. Begitu disarikan dari buku Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20 karya Herry Mohammad.

Agaknya, berkat tempaan orang tua dan lingkungan terdekat, AR Fachruddin mengawali kariernya dengan menjadi guru. Sejak usia 18 tahun, dia telah ditunjuk untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama sesuai dengan kecakapannya saat itu.

Sempat pula AR Fachruddin merantau ke Palembang dalam kapasitasnya sebagai guru utusan Muhammadiyah Pusat. Sepuluh tahun lamanya di sana, dia dapat mendirikan Madrasah Wustha Mu'allimin Muhammadiyah.

 
Kala usianya 29 tahun, bertepatan dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Di Yogyakarta, dia diterima sebagai pegawai di lingkungan Departemen Agama.
 
 

Kala usianya 29 tahun, bertepatan dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Di Yogyakarta, dia diterima sebagai pegawai di lingkungan Departemen Agama (kini Kementerian Agama). Status PNS itu terus melekat hingga tahun 1972 saat AR Fachruddin meletakkan jabatan kepala kantor penerangan Depag Provinsi DI Yogyakarta.

Mengikuti jejak sang ayah, AR Fachruddin meniti jalan dakwah dan pergerakan di Muhammadiyah. Organisasi yang dibentuk KH Ahmad Dahlan pada 1912 itu memang lahir dan berpusat di Yogyakarta.

Selama berkiprah di Muhammadiyah, KH AR Fachruddin dikenal luas sebagai pribadi yang ramah, mengayomi banyak pihak, bijaksana, dan zuhud. Amanat pertamanya adalah sebagai pimpinan Muhammadiyah kota Yogyakarta pada 1952.

Satu tahun kemudian, dia menjadi ketua pimpinan Muhammadiyah DIY. Dua tahun berikutnya, KH AR Fachruddin menjadi anggota dan selanjutnya ketua PP Muhammadiyah.

Muktamar ke-37 Muhammadiyah berlangsung di Yogyakarta pada 1968. Dalam kesempatan itu, tokoh Masyumi kelahiran Gresik, Jawa Timur, KH Faqih Usman, terpilih menjadi ketua umum PP Muhammadiyah.

Namun, takdir Allah menggariskan hal lain. Hanya berselang satu pekan setelah Muktamar itu usai, sosok yang pernah menjabat menteri agama RI dua periode itu wafat pada 3 Oktober 1968. Muhammadiyah dan umat Islam serta Indonesia umumnya dirundung duka yang mendalam.

 
KH AR Fachruddin, yang sampai saat itu menjabat wakil ketua umum PP Muhammadiyah, lantas diamanatkan sebagai pengganti almarhum KH Faqih Usman.
 
 

Untuk mengisi kekosongan jabatan ketua umum organisasi, PP Muhammadiyah segera melaksanakan rapat pleno di Jakarta. KH AR Fachruddin, yang sampai saat itu menjabat wakil ketua umum PP Muhammadiyah, lantas diamanatkan sebagai pengganti almarhum KH Faqih Usman.

Pengajuan nama KH AR Fachruddin juga merupakan usulan Buya Hamka. Seluruh unsur pimpinan PP Muhammadiyah secara aklamasi menyetujuinya. Akhirnya, KH AR Fachruddin menjadi ketua umum PP Muhammadiyah melalui Sidang Tanwir di Ponorogo, Jawa Timur, pada 1969.

Rupanya, ketokohan KH AR Fachruddin sedemikian diterimanya sehingga dia menjadi ketua umum empat periode berturut-turut, yakni sejak melalui Muktamar ke-38 sampai ke-41. Menurut laman Suara Muhammadiyah, dia merupakan pemegang rekor ketua umum PP Muhammadiyah terlama, yakni 22 tahun (1968-1990). Adapun penggantinya adalah KH A Azhar Basyir, seorang ulama yang juga pakar ilmu fiqih.

Satu hal yang begitu dikenang dari KH AR Fachruddin adalah laku hidupnya yang sederhana. Meskipun menjabat sebagai ketum PP Muhammadiyah, tidak ada perubahan dari kesehariannya.

Dalam kata-kata budayawan Muslim Emha Ainun Nadjib, sebagaimana dikutip Herry Mohammad dalam bukunya, inilah kesan untuk sang kiai: "Pernahkah Anda membayangkan ada seorang pemimpin organisasi besar yang anggotanya berpuluh-puluh juta yang mencari nafkah 'hanya' dengan beberapa jeriken minyak tanah dan bensin untuk dijual di depan pagar rumahnya?"

 
Satu hal yang begitu dikenang dari KH AR Fachruddin adalah laku hidupnya yang sederhana. Meskipun menjabat sebagai ketum PP Muhammadiyah, tidak ada perubahan dari kesehariannya.
 
 

Selain menjual BBM eceran, dia juga menyewakan beberapa kamar kos untuk mahasiswa di Yogyakarta. Sosok KH AR Fachruddin mengamalkan betul wasiat sang pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan: "Hidup hidupilah Muhammadiyah, dan jangan mencari kehidupan (penghasilan) di Muhammadiyah." Dia bagaikan oase di tengah kegersangan teladan kepemimpinan nasional.

KH AR Fachruddin juga dikenal sebagai pribadi yang humoris tetapi penuh hikmah. Di antara kisah-kisahnya, seperti dirangkum dari Suara Muhammadiyah.

Pernah suatu ketika pada 1964, sang kiai diminta untuk ikut rombongan yang akan menemui Presiden Sukarno di Jakarta. Awalnya, KH AR Fachruddin enggan lantaran sudah ada acara lain di Semarang. Apalagi, jasnya ada di Yogyakarta, sedangkan untuk bertemu seorang kepala negara tidak mungkin berpakaian biasa.

Setelah dijanjikan akan dipinjamkan jas dari kantor PP Muhammadiyah Jakarta, barulah sang kiai bersedia ikut. Sesampainya di Jakarta, ternyata jas itu kepunyaan seorang sahabatnya yang bertubuh tinggi besar. Jadilah KH AR Fachruddin menghadap Bung Karno dengan jas "kebesaran".

Kisah lainnya. Suatu ketika, aktivis Muhammadiyah asal suatu desa di Banyumas bertamu ke rumah KH AR Fachruddin di Yogyakarta. Sesampainya di rumah sang kiai, tamu itu meminta izin agar bisa bertemu dengan tuan rumah. Sesungguhnya, KH AR Fachruddin sendiri yang menerimanya langsung tetapi sang tamu belum menyadarinya.

 
Barangkali lantaran penampilan KH AR Fachruddin yang "kurang" meyakinkan sebagai seorang tokoh besar. Tamu itu dijamu dengan ramah di rumah KH AR Fachruddin sejak ashar hingga subuh keesokan harinya.
 
 

Barangkali lantaran penampilan KH AR Fachruddin yang "kurang" meyakinkan sebagai seorang tokoh besar. Tamu itu dijamu dengan ramah di rumah KH AR Fachruddin sejak ashar hingga subuh keesokan harinya.

Usai shalat subuh berjamaah di masjid, para jamaah ramai-ramai menyalami pendamping tamu itu sehingga membuatnya heran. Kata salah seorang jamaah ketika ditanya, "Lho, kan beliau itu Pak AR, mubaligh Kauman (Yogyakarta) sini."

Terkejutlah sang tamu. Dalam perjalanan pulang, KH AR Fachruddin menjawab kepada tamunya itu, "Saudara kan tidak tanya, 'apakah Bapak adalah Pak AR' to? Saudara kan hanya tanya: 'Apa saya bisa bertemu Pak AR?'. Dan saya jawab: 'bisa'. Yang lebih penting, saya ingin lebih dekat dengan Saudara."

Sifat lainnya yang terkenang dari sosok KH AR Fachruddin adalah wawasannya yang luas dan terbuka. Berikut ini cerita dari almarhum KH Ali Mustafa Yaqub berdasarkan keterangan salah seorang putra KH AR Fachruddin, Mas Luthfi Purnomo.

Suatu saat, Mas Luthfi menyampaikan maksudnya kepada ayahnya itu apakah berkenan apabila dia berkiprah di luar Muhammadiyah. Ternyata, jawaban KH AR Fachruddin membolehkan, "Yo ora opoopo. Kowe ora kudu nang Muhammadiyah (Ya tidak apa-apa, kamu tidak harus di Muhammadiyah)."

Ditawari Jabatan Menteri 

Bagi ahli hadis, KH Ali Mustafa Yaqub, sikap Pak AR itu mengingatkannya pada toleransi dari KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Sebab, kakek Gus Dur itu tidak pernah mengharuskan anak-anaknya menjadi warga NU. "Alangkah indahnya perilaku para pemimpin kita itu dalam menyikapi perbedaan," kata almarhum Kiai Ali Mustafa.

Kala menjabat ketua umum PP Muhammadiyah, lanjut Ali Mustafa, KH AR Fakhruddin juga pernah ditawari jabatan menteri agama. Namun, penawaran itu ditolaknya secara sopan. Alasannya, jabatan menteri agama merupakan suatu tanggung jawab yang berat di akhirat kelak. Dan KH AR Fakhruddin menilai dirinya tidak sanggup mengemban amanah itu.

 
Kala menjabat ketua umum PP Muhammadiyah, lanjut Ali Mustafa, KH AR Fakhruddin juga pernah ditawari jabatan menteri agama. Namun, penawaran itu ditolaknya secara sopan.
 
 

"Tampaknya Pak AR dibimbing oleh hadis Nabi SAW yang menyatakan jabatan itu akan menjadi penyesalan di akhirat sehingga apabila memang dirasa berat tanggung jawabnya lebih baik tidak menerimanya. Ketika hal ini kami ceritakan kepada seorang kawan, dia berkomentar, 'Pada masa sekarang, mungkin tidak ada orang yang seperti Pak AR itu'."

KH AR Fakhruddin juga dikenal tidak konfrontatif dalam menghadapi penguasa, melainkan bersikap mencari jalan tengah. Misalnya, kala zaman Orde Baru ada pemberlakuan kebijakan atas seluruh PNS.

Isinya, mewajibkan semua pegawai negeri sipil untuk menjadikan Korpri satu-satunya organisasi yang diikuti. Bagi warga Muhammadiyah yang kebetulan PNS, maka mau-tak-mau mesti memilih.

Akhirnya, banyak pula yang secara terpaksa mengundurkan diri dari kepengurusan Muhammadiyah. Seperti dilansir dari Suara Muhammadiyah, KH AR Fakhruddin saat itu mencoba menjembatani kepentingan organisasinya. Dia lantas menemui menteri dalam negeri kala itu, Amir Mahmud.

Di lapangan, banyak pula aktivitas Muhammadiyah yang lantas menjadi sepi akibat pemberlakuan aturan monoloyalitas itu. Bahkan, di daerah-daerah yang semua pengurusnya pegawai negeri, kegiatan Muhammadiyah mati sama sekali.

Ternyata, kepada KH AR Fakhruddin, Amir Mahmud tetap pada pendiriannya menolak dispensasi bagi warga Muhammadiyah yang PNS. Sang kiai pun dengan bijak menerimanya tetapi dengan satu pertanyaaan: apakah PNS yang Muhammadiyah masih boleh mengadakan kumpul-kumpul pengajian.

Di luar dugaan, ternyata Amir Mahmud mendukungnya: "Oh, kalau itu tidak ada masalah. Kalau mereka mau mengadakan pengajian, malah saya bantu." Kesepakatan tercapai. KH AR Fakhruddin lantas berkeliling ke daerah-daerah untuk sosialisasi di lingkungan Muhammadiyah. Sejak saat itulah, di pelbagai kantor dan bahkan perusahaan yang pekerjanya Muslim mulai muncul kegiatan pengajian.

Jejak Tsunami Purba di Serambi Makkah

Temuan ahli geoteknologi dan arkeolog di Aceh menunjukkan, Aceh pernah mengalami tsunami jauh sebelum peristiwa tsunami 2004.

SELENGKAPNYA

Menanti Tarian Messi di Lusail

Arab Saudi menjadi ujian perdana Messi untuk merengkuh trofi juara Piala Dunia.

SELENGKAPNYA

Duka untuk Cianjur

Gempa di Cianjur tidak terkait potensi gempa megathrust di selatan Jawa.

SELENGKAPNYA