Atraksi terjun payung yang menghibur oenggembira saat memeriahkan Pembukaan Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah dari luar Stadion Manahan, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (19/11/2022). | Republika/Wihdan Hidayat

Kabar Utama

Tujuh Arah Muhammadiyah ke Depan

Pemikiran keislaman Muhammadiyah harus menjadi arus penting yang menentukan perkembangan Islam di Indonesia.

SURAKARTA – Situasi yang terus berubah meniscayakan sebuah organisasi keislaman untuk beradaptasi dalam banyak hal, dari penguatan lembaga hingga perubahan strategi dakwah. Muhammadiyah telah menyiapkan tujuh poin yang akan menjadi arah gerak persyarikatan untuk lima tahun ke depan sebagai ikhtiar bersama menjawab tantangan zaman.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah terpilih periode 2022-2027, Prof Haedar Nashir, mengatakan, sejumlah agenda dakwah dan tajdid gerakan perlu mendapatkan perhatian, khususnya lima tahun ke depan. Dengan begitu, Muhammadiyah dapat menjadi pemimpin atau kekuatan strategis yang berpengaruh dalam memimpin masa depan umat dan bangsa.

“Pertama adalah peneguhan paham keislaman dan ideologi Muhammadiyah,” kata Haedar dalam khutbah iftitah yang berlangsung di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jawa Tengah, Sabtu (19/11).

Haedar menjelaskan, kenyataan sering menunjukkan, paham keislaman dan kemuhammadiyahan yang menjadi landasan gerakan tidak sepenuhnya tertanam dan melembaga di internal persyarikatan. Oleh karena itu, peneguhan kembali paham Islam dan nilai-nilai ideologi Muhammadiyah secara masif dan terstruktur di seluruh tingkatan dan lini persyarikatan menjadi penting.

Kedua, lanjut Haedar, adalah penguatan dan penyebarluasan pandangan Islam berkemajuan. Pemikiran keislaman Muhammadiyah harus menjadi arus penting dan meluas yang menentukan atau memberi pengaruh besar bagi perkembangan Islam di Indonesia ke depan.

“Muhammadiyah sebagai gerakan Islam seyogianya menghidupkan tajuk-tajuk keislaman yang khas, jangan hanya isu-isu umum termasuk politik yang terus-menerus menjadi perhatian,” ujar dia.

Arah ketiga adalah perlunya memperkuat dan memperluas basis umat di akar rumput. Menurut Haedar, Muhammadiyah kuat karena berbasis pada umat atau jamaah di bawah. “Maka perlu dibangun suatu peta jalan untuk pengembangan Muhammadiyah dalam struktur masyarakat Indonesia yang majemuk dan tengah menghadapi perubahan besar,” kata dia.

Haedar melanjutkan, poin keempat yakni mengembangkan amal usaha Muhammadiyah unggulan dan kekuatan ekonomi. Muhammadiyah memiliki kekuatan strategis, antara lain karena amal usahanya di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi.

photo
Relawan menyiapkan makanan di Dapur Umum Muktamar ke-48 Muhammadiyah, Balai Desa Gonilan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Ahad (20/11/2022). Setiap hari sekitar 150 relawan menyiapkan 4500 porsi makanan disiapkan untuk penggembira selama Muktamar Muhammadiyah berlangsung. Ada enam titik dapur umum yang disiapkan yang tersebar di Sukoharjo, Surakarta, dan Karanganyar. - (Republika/Wihdan Hidayat)

“Karenanya, lima tahun ke depan penting mengembangkan berbagai bisnis dan ekonomi Muhammadiyah secara lebih gigih, masif, dan tersistem disertai usaha-usaha langsung yang bersifat praktik, termasuk mengembangkan bisnis online. Mulai dari UMKM, rumah sakit, hingga perguruan tinggi perlu terus dikembangkan dengan merespons zaman,” ujar dia.

Kelima, berdakwah untuk milenial, generasi Z, dan generasi alfa. Muhammadiyah saat ini berada dalam era menghadapi generasi baru. Oleh karena itu, kata Haedar, generasi-generasi tersebut tidak boleh terlalu jauh dari orbit dakwah dan gerakan Muhammadiyah.

“Jika mampu mendakwahi tiga generasi ini maka Muhammadiyah menabung investasi masa depan yang luar biasa besar sekaligus mampu memengaruhi dan mengarahkan bangsa dan negara Indonesia,” kata Haedar.

Selanjutnya atau yang keenam adalah reformasi kaderisasi dan diaspora kader ke berbagai lingkungan dan bidang kehidupan. Haedar menilai Muhammadiyah ke depan memerlukan reformasi kaderisasi untuk mempersiapkan diaspora kader di berbagai struktur dan lingkungan di luar maupun ke dalam. Dengan begitu, gerakan Islam ini mengalami perluasan melalui peran para kadernya.

photo
Muktamirin dan penggembira memanfaatkan layanan pijat gratis saat Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Edutorium, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (19/11/2022). Sebanyak 20-an mahasiswa Prodi Pendidikan Olahraga FKIP UMS memberikan layanan pijat gratis untuk Muktamirin dan penggembira Muktamar. Lebih dari 200 orang memanfaatkan jasa pijat gratis sejak dua hari sebelum Muktamar. - (Republika/Wihdan Hidayat)

“Kaderisasi konvensional penting direformasi, baik pandangan maupun sistem dan prosesnya, sehingga dapat memenuhi tuntutan zaman untuk pendiasporaan kader secara luas di kancah nasional dan global,” ujar dia.

Terakhir yakni digitalisasi dan intensitas internasionalisasi Muhammadiyah. Hal itu dinilai penting dan harus dilakukan secara masif dan terstruktur karena era digitalisasi tak bisa dibendung. Arah ketujuh ini penting dilakukan, baik dalam pengelolaan organisasi dan administrasi maupun dalam publikasi dan pengembangan aktivitas.

“Bersamaan dengan digitalisasi, baik dalam pengembangan dan publikasi pemikiran Muhammadiyah ke dunia internasional maupun dalam pelaksanaan program internasionalisasi, meniscayakan peningkatan intensitas sehingga ke depan Muhammadiyah semakin membuana dengan amal usaha dan pemikiran-pemikiran yang dikenal di ranah global,” ujar Haedar.

Seabad lebih berkiprah

Upaya Muhammadiyah dalam memajukan kehidupan bangsa bukanlah akan, tapi telah dan terus berkiprah selama lebih dari satu abad dalam lintasan pergerakannya. Hal itu dilaksanakan melalui berbagai amal usaha dan dakwah kemasyarakatan yang tiada henti, dari pusat kota, desa, sampai pelosok terjauh.

Haedar mengatakan, khidmat kebangsaan ini lahir dari visi keislaman berwawasan nasionalisme inklusif agar Indonesia makin berkemajuan di segala bidang-bidang kehidupan. “Itulah bukti nyata Muhammadiyah ikut berkeringat dalam memajukan kehidupan bangsa,” kata Haedar.

Kini dan ke depan, kata haedar, perjuangan Indonesia makin tidak ringan dalam menghadapi arus globalisasi, modernisasi abad ke-21, revolusi teknologi informasi, serta perkembangan geoekonomi-politik global. sSmua itu akan sangat dinamis dengan segala persoalan dan tantangan.

Secara domestik, Indonesia juga mengalami dinamika baru liberalisasi politik, ekonomi, dan budaya pascareformasi dengan berbagai dampak yang kompleks. Haedar meyakini, Indonesia sejatinya dapat menjadi bangsa dan negara yang maju, adil, dan makmur.

Kuncinya, menurut dia, mengurus Indonesia harus disertai perjuangan sungguh-sungguh dan kebersamaan semua komponen bangsa. Maka, segala proses bernegara, termasuk Pemilu 2024, merupakan jembatan emas untuk mewujudkan kehidupan kebangsaan. “Yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar Haedar.

photo
Ribuan penggembira memenuhi tribun saat Pembukaan Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Stadion Manahan, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (19/11/2022). Sebanyak 3.700 talent menampilkan berbagai macam atraksi seni seperti marching band, tarian, paduan suara, dan pencaksl silat menghibur warga Muhammadiyah saat Pembukaan Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah. Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah secara resmi dibuka oleh Presiden Joko Widodo yang dihadiri oleh warga Muhammadiyah dari seluruh Indonesia. - (Republika/Wihdan Hidayat)

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) RI Erick Thohir mendorong kemandirian umat di sektor ekonomi dengan menggandeng Muhammadiyah. Ia menggagas kolaborasi BUMN dan Muhammadiyah untuk mendorong industri obat herbal yang halal dan aman.

Menurut dia, Kementerian BUMN dan Muhammadiyah sepakat untuk mengakselerasi industri obat herbal agar menjadi bagian penting dari industri obat nasional.

Selain industri obat, Erick Thohir mengungkapkan, BUMN dan Muhammadiyah juga bisa bekerja sama di sejumlah sektor lainnya, seperti kerja sama di bidang finansial atau UMKM. Menurut Erick, Muhammadiyah merupakan pilar penting dalam kebangkitan ekonomi umat.

Dia berharap kerja sama ini bisa menumbuhkan pelaku usaha dari kalangan umat. “Sama halnya dengan NU, dengan Muhammadiyah juga kita mendorong kerja sama dengan UMKM,” kata Erick.

Menelusuri Arti Tanda Sujud

Jadi, tidak perlu berupaya menghitamkan dahi dengan berbagai cara.

SELENGKAPNYA

Awal Mula Imperium Mughal

Kerajaan Islam di India ini berkembang pesat dalam era pemerintahan Sultan Akbar.

SELENGKAPNYA

Kesultanan Mughal, Dari Akbar ke Shah Jahan

Kesultanan Mughal mencapai masa stabil dan kejayaan meski diwarnai konflik politik.

SELENGKAPNYA