ILUSTRASI Lukisan yang menggambarkan para pemuka Dinasti Mughal di India. Kerajaan Islam tersebut mengalami pasang surut sejak era kepemimpinan Akbar Agung hingga Aurangzeb. | DOK WIKIPEDIA

Tema Utama

Kesultanan Mughal, Dari Akbar ke Shah Jahan

Kesultanan Mughal mencapai masa stabil dan kejayaan meski diwarnai konflik politik.

OLEH HASANUL RIZQA

Sepeninggalan Sultan Akbar, Kerajaan Mughal berada di bawah pemerintahan salah seorang putra almarhum, Muhammad Salim. Sesungguhnya, hubungan antara bapak dan anak itu tidak selalu berjalan baik.

Tiga tahun sebelum menerima takhta, Salim sempat memberontak terhadap kekuasaan ayahnya. Namun, perbuatannya itu kemudian dimaafkan setelah ia menyerahkan diri.

Gelarnya adalah Jahangir, yang berarti ‘penakluk dunia'. Secara umum, kebijakan-kebijakannya tidak jauh dari visi Sultan Akbar, yang mengutamakan toleransi dan persatuan di atas kemajemukan. Mughal saat itu menguasai nyaris seluruh Anak Benua India. Rakyat sang raja tidak hanya Muslimin, tetapi juga umat dari agama-agama lain.

Dalam 10 tahun pertama masa kekuasaannya, Jahangir berfokus pada stabilitas politik. Sang sultan meredam pelbagai pemberontakan di penjuru negeri. Bahkan, ia tidak ragu-ragu dalam memerangi dan menghukum mati putranya sendiri, Khusrau Mirza. Sebab, anaknya itu terlibat dalam sebuah upaya kup pada tahun 1606 M.

photo
Cover Islam Digest edisi Ahad 20 November. Dinasti Mughal Dalam Sejarah. - (Islam Digest/Republika)

Sebagai seorang Muslim, Jahangir condong pada Tarekat Chistiyah. Bahkan, nama lahirnya pun terinspirasi dari sosok sufi, Salim Chisti, yang hidup pada akhir abad ke-16 M. Akan tetapi, dalam realitas sehari-hari dirinya tidak begitu ketat dalam mengamalkan ajaran Islam, terlebih lagi jalan sufistik.

Pengaruhnya kian meredup sejak dirinya terpikat pesona seorang putri Persia, Nur Jahan. Wanita itu berasal dari Kerajaan Safavid. Pada 1620 M, perempuan yang lahir dengan nama Mehrun Nissa itu menikah dengan Jahangir.

Pernikahan tersebut tidak hanya berdampak pada kehidupan di istana, tetapi juga seluruh masyarakat Mughal. Sejak hadirnya Nur Jahan, kesultanan tersebut kian larut dalam budaya Persia. Padahal, secara nasab raja-raja Mughal mewarisi tradisi Turki-Mongol.

Imbas lainnya terasa di ranah politik kekuasaan. Jahangir bagaikan harimau yang kehilangan taring. Sang istri mengambil alih perannya sebagai penentu kebijakan negara. Hal itu mengundang sinisme para pejabat, terutama kalangan senior yang telah bekerja sejak zaman Akbar.

 
Jahangir bagaikan harimau yang kehilangan taring. Sang istri mengambil alih perannya sebagai penentu kebijakan negara.
 
 

Bagaimanapun, Nur Jahan tidak peduli. Salah satu contoh campur tangannya tampak pada mata uang Mughal. Pada setiap koin perak rupee, terdapat inskripsi nama sang wanita di samping nama Jahangir.

Dari sang ratu Persia, Jahangir tidak memperoleh keturunan. Keadaannya berbeda dengan istri-istrinya yang lain. Dari mereka, sang raja Mughal mendapatkan banyak putra. Salah seorang di antaranya adalah Shihabuddin Muhammad Khuram.

Pada 28 Oktober 1627, Jahangir wafat. Kematiannya mengawali perebutan kekuasaan di tingkat elite Istana. Muhammad Khuram membangun aliansi untuk meruntuhkan pengaruh ibu tirinya. Pada saat bersamaan, Nur Jahan juga berupaya menggaet banyak dukungan untuk mempertahankan posisinya sebagai penguasa de facto.

Perang saudara pun tidak terhindarkan. Akhirnya, kubu Khuram tampil sebagai pemenang. Kemudian, ia mengeklaim gelar Shah Jahan, yang dalam bahasa Persia berarti ‘raja dunia'. Sang ibu tiri yang telah diperanginya itu diberi status sebagai tahanan rumah. Pada 1645, Nur Jahan meninggal dunia dalam usia 68 tahun.

Pembawa kemajuan

Sejarah mencatat, Shah Jahan merupakan salah seorang raja yang berhasil membawa Mughal pada kemajuan pasca-era Akbar. Putra pasangan Jahangir dan Bilqis Makani—seorang wanita Hindu—itu bervisi menjadikan kerajaannya sebagai pusat dunia. Menurut Roger D Long dalam Encyclopedia of India, pemilik nama asli Shihabuddin Muhammad Khuram tersebut berwatak flamboyan dan ambisius.

photo
Shah Jahan - (DOK WIKIPEDIA)

Agak berbeda dengan kakeknya, Shah Jahan cenderung menerapkan syariat Islam dengan kaku. Ia menjauhi segala bentuk sinkretisme. Beberapa sumber menyebut, kebijakannya juga menyasar bangunan-bangunan yang dianggap sebagai tempat penyembahan berhala. Situs-situs yang demikian itu dihancurkannya.

Perhatiannya terhadap kepentingan Muslimin amatlah besar. Di lingkungan Istana, para pejabat dan pengikutnya yang beragama Islam diberangkatkan ke Tanah Suci. Selama di Haramain, mereka diperintahkan untuk mengabarkan kepada jamaah haji tentang kebesaran Imperium Mughal.

Shah Jahan pun menggiatkan ekspansi wilayah, khususnya di kawasan Anak Benua India. Militernya terbilang tangguh. Total prajuritnya yang siap tempur mencapai satu juta personel. Kekuatan itu cukup signifikan bila dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan lain pada masanya.

Melalui berbagai ekspedisi militer, Shah Jahan sukses merebut banyak wilayah di India bagian tengah dan selatan. Satu per satu daerah para rajput Hindu berhasil ditaklukkannya. Sasaran pasukannya bukan hanya non-Muslim. Di dataran tinggi Dekka, misalnya, terdapat tiga negeri otonom yang berpenduduk mayoritas pemeluk Islam. Ketiganya adalah Ahmednagar, Bijapur, dan Golconda.

 
Melalui berbagai ekspedisi militer, Shah Jahan sukses merebut banyak wilayah di India bagian tengah dan selatan. Satu per satu daerah para rajput Hindu berhasil ditaklukkannya.
 
 

Shah Jahan memerintahkan pengepungan terhadap benteng-benteng tiga negeri tersebut. Pada akhirnya, mereka menyerah dan menjadi bagian dari wilayah Mughal. Ekspansi sang sultan berlanjut hingga ke region Afghanistan dan Balkh. Bahkan, sebagian Asia tengah sempat dikuasainya pada 1638 M, tetapi lepas sekira tiga tahun kemudian.

Di Asia selatan, hanya separuh India selatan dan Pulau Sailan yang tidak dapat dikendalikan Imperium Mughal. Dengan wilayah yang amat luas itu, Shah Jahan pun menerapkan sistem birokrasi pemerintahan yang terpusat, sistematis dan efektif. Tujuan utamanya adalah menjaga stabilitas politik, keamanan, dan sosial.

Dalam keadaan negeri stabil, sang raja dapat mewujudkan berbagai proyek ambisiusnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan arsitektur. Pada masanya, cukup banyak kota di India yang menjadi pusat intelektual, seni, dan sastra. Shah Jahan sendiri memiliki kecintaan yang tinggi terhadap estetika puisi dan bangunan.

Umumnya sejarawan sepakat, era Shah Jahan merupakan puncak pencapaian arsitektur khas Mughal. Tidak sedikit bangunan yang berdiri pada masanya menjadi legasi keindahan seni bangunan Islam-India, yang bahkan dapat dijumpai hingga kini. Di antara banyak peninggalannya adalah Masjid Jama di Delhi; Masjid Mutiara di Agra; serta Taman Shalimar di Lahore. Tentu saja, yang paling fenomenal adalah Taj Mahal.

Kisah cinta

Shah Jahan membangun Taj Mahal demi mengenang istri keduanya, Arjumand Banu Begum alias Mumtaz Mahal. Kisah cinta di antara mereka sudah terjalin lama. Raja Mughal tersebut mengenal wanita ini sejak masih berusia anak-anak. Sebab, bapak si gadis merupakan seorang pengabdi di Istana saat era Akbar.

Dari pernikahannya dengan Mumtaz Mahal, Shah Jahan dikaruniai 14 orang putra-putri. Betapa bahagianya penguasa Mughal tersebut akan kepribadian dan kecantikan sang istri tercinta. Namun, hatinya hancur sesudah anak bungsunya yang bernama Gauhara Begum lahir. Sebab, istrinya meninggal tidak lama usai bersalin.

Mumtaz Mahal wafat dalam usia 38 tahun. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Agra. Di kompleks makam itu pula, Shah Jahan mendirikan Taj Mahal sebagai bangunan sekaligus taman nan indah demi mengingat sang istri.

Taj Mahal berada di atas lahan seluas 17 hektare. Bangunan utamanya terbuat dari bahan dasar marmer putih. Perancangnya merupakan arsitek resmi Kerajaan Mughal yang berdarah Persia, yakni Ahmad Lahori.

photo
Kompleks Taj Mahal di Agra, India. - (DOK WIKIPEDIA)

Sekitar 20 ribu seniman dipekerjakan Shah Jahan guna menyempurnakan kompleks mausoleum tersebut. Di dekat bangunan utama, dibangunlah taman, kolam air mancur, masjid, dan rumah-rumah penginapan khusus kalangan istana. Keanggunan Taj Mahal amat mempesona, bahkan hingga saat ini menjadi salah satu keajaiban dunia.

Corak arsitektur Persia sangat kentara pada Taj Mahal. Itu terlihat antara lain dari bentuk gerbang (iwan), kubah setengah bola, serta empat buah menara yang menjulang di sekelilingnya. Dengan keindahan tersebut, Shah Jahan berharap itulah “rumah” terakhirnya untuk terus mendampingi sang istri terkasih.

photo
Mumtaz Mahal - (DOK WIKIPEDIA)

Memang, sejak Mumtaz Mahal wafat, kondisi psikologis kaisar Mughal itu terus merosot. Ia tidak lagi fokus dalam membuat kebijakan-kebijakan negara. Bahkan, keadaan semakin parah dengan perang saudara yang dilakukan anak-anaknya. Mereka berambisi merebut takhta, tidak peduli pada ayahnya yang berduka.

Menjelang akhir hayatnya, Shah Jahan mendekam di Benteng Agra akibat intrik politik di lingkungan istana. Ironisnya, yang memenjarakan dirinya adalah salah seorang anaknya, yakni Aurangzeb.

Setiap hari di kamar tahanan, raja-kelima Dinasti Mughal itu hanya bisa memandangi Taj Mahal dari jendela. Membayangkan wajah istrinya yang amat dirindukan. Pada 1666, Shah Jahan mengembuskan napas terakhir. Sesuai wasiatnya, jasadnya dikebumikan bersebelahan dengan makam Mumtaz Mahal di dalam Taj Mahal.

photo
Aurangzeb, sultan Mughal sejak medio abad ke-17 M. - (DOK WIKIPEDIA)

Negeri yang Amat Makmur

Muhi ad-Din Muhammad menjadi raja Mughal sesudah kematian Shah Jahan pada 1666 M. Sejak menjadi penguasa, ia mengambil gelar Aurangzeb, yang dalam bahasa Persia berarti ‘ornamen takhta.’ Julukan lain untuknya adalah Alamgir, ‘sang penakluk dunia.’

Aurangzeb berusia 48 tahun ketika meneruskan kepemimpinan pendahulunya. Sejak muda, anak keenam Mumtaz Mahal ini dikenal sebagai pribadi yang pantang menyerah. Dan, dengan ketegaran itulah dirinya berhasil memenangkan perang saudara untuk dapat meraih hak atas takhta.

Pemerintahannya berjalan nyaris setengah abad, yakni hingga tahun 1707 M. Saat menjadi sultan Mughal, ia memulihkan stabilitas politik yang sempat melemah. Dengan tangkas dan tegas, dirinya meneguhkan pengaruh Mughal di seluruh Anak Benua India. Bahkan, reputasinya dikenal hingga ke mancanegara.

Sejarah mencatat, Mughal dalam masa kekuasaannya menjadi salah satu kerajaan paling makmur sejagad raya. Jumlah penduduk kesultanan tersebut ketika itu mencapai 158 juta jiwa. Mereka tidak hanya berasal dari kalangan Muslimin, tetapi juga umat agama-agama lain.

 
Para sejarawan modern mencatat, hampir seperempat kekayaan dunia waktu itu berada dalam kendali Mughal.
 
 

Dari segi pemasukan, juga luar biasa. Kekayaan Aurangzeb sendiri diketahui jauh melampaui para raja Eropa yang hidup sezaman dengannya. Bahkan, para sejarawan modern mencatat, hampir seperempat kekayaan dunia waktu itu berada dalam kendali Mughal.

Seperti para leluhurnya, Aurangzeb membangun kejayaan di atas stabilitas negeri. Untuk itu, ia sangat keras dalam meredam setiap upaya pemberontakan. Memang, sebelum menjadi raja, dirinya telah memiliki banyak pengalaman tempur.

Mughal pada era Aurangzeb menerapkan syariat Islam dengan ketat. Sang raja merupakan pengikut mazhab fikih Imam Hanafi. Dalam kesehariannya, diupayakannya untuk menghadirkan kesalehan. Dikisahkan, ia merupakan seorang penghafal Alquran dan pengamal shalat malam.

Kaum Muslimin mendapatkan banyak dukungan untuk kemajuan. Aurangzeb menjadi patron berdirinya ratusan masjid dan madrasah di seantero Anak Benua India. Ia juga membangun pusat-pusat studi dan kesenian Islam.

Pada 3 Maret 1707, raja keenam Dinasti Mughal itu berpulang ke rahmatullah. Ia wafat akibat sakit sesudah memimpin ekspedisi militer untuk menyempurnakan penaklukan atas Dakka.

Pesantren Cetak Generasi Berakhlak

Ponpes hadir untuk menghindari munculnya generansi yang kehilangan keteladanan.

SELENGKAPNYA

Gandeng Muhammadiyah, Erick Dorong Kemandirian Umat

BUMN dan Muhammadiyah sepakat untuk mengakselerasi industri obat herbal.

SELENGKAPNYA

Surakarta Message Beri Pesan Damai Bagi Dunia

Surakarta Message akan disampaikan pada seluruh umat beragama di dunia dan umum.

SELENGKAPNYA