Haji Hasbiyallah | DOK IST

Mujadid

Haji Hasbiyallah Seorang Alim dan Pejuang dari Betawi

Pendiri Pondok Pesantren al-Wathoniyah ini turut berjihad melawan penjajah.

Sejak berabad-abad silam, Jakarta melahirkan banyak ulama besar. Di antara tokoh-tokoh pendakwah yang berasal dari Tanah Betawi adalah Haji Hasbiyallah. Perannya terbilang besar, khususnya dalam bidang pendidikan. Masyarakat mengenangnya antara lain sebagai pendiri Pondok Pesantren al-Wathoniyah Pusat di Jakarta Timur.

Hingga kini, lembaga pendidikan itu telah memiliki tidak kurang dari 60 cabang. Semuanya tersebar di seluruh penjuru Ibu Kota dan sekitarnya. Kebanyakan cabang tersebut dirintis dan diasuh oleh kerabat atapun murid-murid Haji Hasbiyallah.

Dai itu bernama lengkap Hasbiyallah bin Haji Anwar. Anak kedua dari delapan bersaudara itu lahir di Jakarta pada tahun 1911. Kedua orang tuanya merupakan pemuka agama Islam. Ayahnya adalah seorang ulama yang berjulukan Muallim Gayyar. Adapun ibundanya ialah Hajjah Mamnin binti Ja’man.

Di lingkungan tempat tinggalnya, Muallim Gayyar mendirikan majelis ilmu yang dinamakan Riyadh al-Fityan. Dalam perkembangan kemudian, halakah itu menjadi cikal bakal Ponpes al-Wathoniyah. Semangat menyebarkan ilmu-ilmu keislaman menginspirasi para buah hatinya, termasuk Hasbiyallah.

 
Semangat menyebarkan ilmu-ilmu keislaman menginspirasi para buah hatinya, termasuk Hasbiyallah.
 
 

 

Ayahanda Muallim Gayyar, yakni Haji Abdurrahim, termasuk kalangan alim. Kakek Hasbiyallah itu pun terkenal akan sifatnya yang dermawan. Salah satu jasanya adalah mengembangkan Masjid al-Makmur, yang sebelumnya “hanya” sebuah mushala kecil.

Dengan latar genealogis demikian, wajarlah bila Hasbiyallah mewarisi spirit ulama hingga akhir hayatnya. Sejak kecil pun, dirinya tumbuh di tengah lingkungan keluarga yang sangat religius. Watak dan kepribadiannya terbentuk sehingga mencintai ilmu-ilmu agama.

Guru pertamanya adalah bapaknya sendiri. Kepadanya, Hasbiyallah kecil belajar mengaji dan menghafalkan Alquran. Muallim Gayyar dengan penuh disiplin menempa putranya itu agar giat. Bukan hanya pendidikan agama, ilmu-ilmu umum pun diberikan kepadanya. Itu melalui sekolah formal yang ditempuhnya, yakni Hollandsch Inlandsche School (HBS)—lembaga setingkat SMP atau SMA pada zaman kolonial Belanda.

Saat mencapai usia remaja, Hasbiyallah semakin semangat untuk menimba ilmu-ilmu keislaman. Atas saran dan dukungan ayahnya, ia pun mengaji kepada Guru Marzuki di Cipinang Muara. Dai tersebut masyhur sebagai mahaguru para ulama di seluruh wilayah Betawi.

Di bawah asuhan Guru Marzuki, remaja yang saleh itu kian intensif dalam mempelajari kitab-kitab kuning (turats). Dalam berbagai kesempatan, sang mahaguru pun kerap memujinya. Hingga kemudian, Hasbiyallah meminta restu kepadanya untuk meneruskan pendidikan ke Ponpes Buntet. Lembaga yang berlokasi di Cirebon (Jawa Barat) tersebut ketika itu diasuh oleh seorang alim karismatik, KH Abbas.

Dengan didikan dari Kiai Abbas, Hasbiyallah muda menyerap berbagai ilmu. Salah satunya mengenai cara-cara melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Misalnya, metode qiraat as-sab’ah. Di samping itu, dirinya belajar banyak ilmu hikmah. Pada masa dewasanya, ia menunjukkan sifat-sifat seorang sufi yang memiliki karamah. Konon, pernah dalam sebuah jihad dirinya berhasil mengusir musuh hanya dengan kain sorban.

 
Dengan didikan dari Kiai Abbas, Hasbiyallah muda menyerap berbagai ilmu. Salah satunya mengenai cara-cara melantunkan ayat-ayat suci Alquran.
 
 

 

Selain Guru Marzuki dan Kiai Abbas, Hasbiyallah menuntut ilmu kepada banyak ulama lainnya. Perjalanan intelektual itu dilakukannya hingga beberapa tahun. Kemudian, tibalah kesempatan untuknya pergi ke Makkah. Mengikuti jejak kakaknya, ia pun berangkat ke Tanah Suci, bukan hanya untuk menunaikan ibadah haji, tetapi juga meneruskan rihlah keilmuan. Dari Jawa, Hasbiyallah pergi dengan ditemani seorang kawannya, Kiai Noer Ali—kelak menjadi pahlawan nasional.

Di Haramain, putra daerah Betawi itu mengaji kepada banyak ulama terkemuka. Di antara guru-gurunya adalah Syekh Ali al-Maliki, Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki, Syekh Muhammad Habibullah as-Sanqithi, Syekh Muhammad Amin Kutbi, dan Syekh Umar Hamdan. Kemudian, ada pula Syekh Hasan al-Masysyath, Syekh Ali al-Yamani, Syekh Zakariya Bila, Syekh Ahmad Fathoni, serta Syekh Umar at-Turki.

Dalam masa merantau itu, Hasbiyallah juga mempertajam pengetahuannya dalam beberapa bidang, semisal ilmu tafsir Alquran. Sekitar tahun 1929, ia kembali ke Tanah Air. Masyarakat Betawi, khususnya di Klender dan sekitarnya, menyambut kedatangannya dengan suka cita.

Haji Hasbiyallah pertama-tama mengembangkan pengajian yang telah dirintis ayahandanya, Riyadh al-Fityan. Dari tahun ke tahun, perkembangan majelis ilmu itu kian besar. Hal itu seiring dengan bertambahnya jumlah jamaah yang mengikuti ceramah-ceramah sang haji.

Menurut KH Arif Fahrudin dalam buku biografi tentang Haji Hasbiyallah, ada beberapa fase yang dilalui lembaga Riyadh al-Fityan. Pertama, tahapan ketika proses belajar-mengajar di sana masih tradisional. Kedua, tahapan transformasi. Ini bermula terutama sejak wafatnya Muallim Gayyar. Sepeninggalan ayahnya, H Hasbiyallah memimpin dan meneruskan legasi almarhum.

 
Sekitar tahun 1929, ia kembali ke Tanah Air. Masyarakat Betawi, khususnya di Klender dan sekitarnya, menyambut kedatangannya dengan suka cita.
 
 

 

Mulai saat itu, terjadilah perkembangan pesat Riyadh al-Fityan. Puncaknya, lembaga itu menjadi sebuah pondok pesantren yang dinamakan al-Wathoniyah. Kemudian, memasuki tahapan ketiga, yakni berbagai kemajuan yang dihadirkan ponpes tersebut. Hingga kini, al-Wathoniyah mempunyai cabang-cabang yang tersebar di nyaris seluruh wilayah Jabodetabek.

Saat H Hasbiyallah memimpin, al-Wathoniyah menerapkan lima lokal ruang belajar untuk level madrasah ibtidaiyah. Seiring dengan meningkatnya jumlah santri, pembangunan pun digencarkan. Kompleks ponpes itu berhasil mewujudkan sarana-sarana penting, semisal gedung aula, ruang-ruang kantor guru, serta bangunan-bangunan pondok.

Keberadaan Ponpes al-Wathoniyah tidak lantas “menggusur” majelis taklim. Format pengajian tetap dipertahankan. Biasanya, jamaahnya datang dari Klender dan kawasan sekitar. H Hasbiyallah secara rutin mengisi kajian untuk meningkatkan pemahaman keislaman mereka.

Tebar maslahat
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sebaik-baik insan adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Itulah pula yang menjadi prinsip H Hasbiyallah. Tidak hanya berkutat di Ponpes al-Wathoniyah, dirinya juga terus menebar maslahat di tengah umat dengan berbagai cara.

Misalnya dengan membentuk organisasi I’anatul Mauta (IM). Sesuai namanya, IM dimaksudkan sebagai gerakan sosial yang mengurusi berbagai perkara terkait kematian. Semangat yang disebarkannya adalah tolong menolong antarsesama Muslimin.

Sebagai contoh, ketika ada seorang fakir atau miskin yang wafat, sedangkan ahli warisnya tidak mampu menangani prosesi pengurusan mayat. Maka, IM hadir untuk membantu mereka dalam berbagai urusan, termasuk pemandian, pengafanan, pelaksanaan shalat jenazah, hingga penguburan si mayat. Bahkan, beberapa kali anak almarhum diberi santunan berupa uang sedekah.

Rakhmad Zailani Kiki dalam buku Genealogi Intelektual Ulama Betawi menulis, H Hasbiyallah bukan hanya sosok ulama yang berjiwa sosial tinggi. Tokoh tersebut juga memiliki spirit nasionalisme. Hal itu terbukti melalui berbagai perjuangan yang dilakukannya dalam melawan penjajah.

 
Haji Hasibiyallah juga memiliki spirit nasionalisme. Hal itu terbukti melalui berbagai perjuangan yang dilakukannya dalam melawan penjajah.
 
 

Untuk menyebutkan beberapa contoh, ketika Agresi Militer II terjadi. H Hasbiyallah turut berjuang bersama rekan-rekannya, Haji Darip dan KH Achmad Mursyidi. Mereka semua dikenang oleh masyarakat Betawi sebagai “tiga serangkai dari Klender.”

Dirinya pun mempunyai watak teguh dalam berprinsip. Hal itu tersirat, antara lain, ketika Indonesia sudah merdeka dan berada dalam kuasa Orde Lama. Presiden Sukarno pernah menghadapi sikap keras dari sebagian umat Islam. Bahkan, beberapa tokoh Muslim mengusulkan status haram atas Kabinet Gotong Royong, yang dibentuk sang proklamator RI.

Pada 10 November 1957, Muktamar Alim Ulama berlangsung di Palembang, Sumatra Selatan. Sejumlah hadirin mendukung pengharaman tersebut. Namun, H Hasbiyallah dengan tegas menolaknya.

 
Ulama Betawi itu tidak hanya berdakwah dengan lisan dan tindakan, melainkan juga tulisan.
 
 

Ulama Betawi itu tidak hanya berdakwah dengan lisan dan tindakan, melainkan juga tulisan. Ada berbagai karya yang dihasilkannya di sepanjang hayat. Di antara buku-buku buah penanya adalah Risalah Kaifiyah Sembahyang Tarawih dan Shalat al-Aidain.

Karena keluasan dan kedalaman ilmunya, ia juga kerap menjadi tempat ulama-ulama meminta pendapat. Dirinya pun diminta untuk melakukan tashih atas karya-karya mereka. Seorang pimpinan Perguruan al-Awwabin, KH Abdurrahman Nawi, diketahui pernah meminta H Hasbiyallah untuk meninjau karangannya yang berjudul Manasik Haji.

Pada 29 Februari 1982, H Hasbiyallah berpulang ke rahmatullah. Jenazahnya dikebumikan di area permakaman milik keluarga besarnya, yang berada tepat di depan kompleks Masjid al-Makmur Klender. Untuk mengenang jasa-jasanya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menganugerahkan gelar pahlawan.

 

photo
Kiai dan santri Ponpes al-Wathoniyah, yang didirikan Haji Hasbiyallah. - (DOK PONPES Wathoniyah )

Berjiwa Nasionalis

Haji Hasbiyallah merupakan seorang ulama dengan visi kebangsaan. Menurut pengasuh Ponpes al-Wathoniyah Pusat Jakarta KH Arif Fahrudin, hal itu tampak dari nama yang dipilih sang tokoh untuk lembaga pendidikan tersebut. Semula, nama madrasah yang dirintis orang tua H Hasbiyallah adalah Riyadh al-Fityan. Kemudian, diubahnya menjadi al-Wathoniyah. Secara harfiah, itu berarti ‘bangsa'.

Padahal, pada masanya kolonialisme Belanda masih menguasai negeri ini. KH Arif mengatakan, pemilihan nama itu tentunya memerahkan telinga pihak penjajah. “Beliau (H Hasbiyallah) memilih nama pesantren yang sangat nasionalis, yaitu al-Wathoniyah,” ujar dia kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu meneruskan, H Hasbiyallah juga turut berjuang di pelbagai medan jihad untuk melawan penjajah. Karena itu, generasi muda kini diharapkan banyak memetik keteladanan dari sang alim. “Keberaniannya dalam membela nasionalisme itulah yang patut diteladani generasi era milenial sekarang. Nasionalisme yang tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip agama,” tutur alumnus UIN Sunan Kalijaga itu.

 
Keberaniannya dalam membela nasionalisme itulah yang patut diteladani generasi era milenial sekarang. Nasionalisme yang tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip agama.
 
 

H Hasbiyallah tercatat menulis sebuah karya yang berjudul Qulil Haqqo Walau Kana Murron. Artinya kira-kira adalah ‘Katakanlah Kebenaran Meskipun Pahit.’ Dan, memang demikianlah sifat penulis buku tersebut di realitas.

Qulil Haqqo ditulis pada 10 November 1957, bertepatan dengan Hari Pahlawan. H Hasbiyallah menulisnya bersama dengan Habib Salin bin Djindan al-Alawi dalam konteks merespons keputusan Muktamar Alim Ulama di Palembang pada 1957.

“Kenapa direspons? karena salah satu keputusan muktamar itu menyebutkan, Konstituante yang isinya percampuran antara Muslim dan non-Muslim itu haram,” jelas Kiai Arif.

H Hasbiyallah berpandangan, keputusan tersebut sungguh keliru karena tidak berdasarkan pada dalil-dalil Alquran dan hadis. “Keduanya memandang, hasil muktamar itu cenderung berlebihan dan politis. Konstituante yang mencampur pemeluk agama-agama itu tidak sampai haram. Beliau menghukuminya mubah saja,” ucap Kiai Arif.

Sebelum tutup usia, H Hasbiyallah sukses mencetak sejumlah kader ulama. Di antara murid-muridnya adalah H Muhadjirin Amsar ad-Dary, H A Shodri, dan Kiai R Halim Saleh. Nama yang tersebut akhir itu merupakan seorang alim yang memiliki disabilitas netra. Bahkan, Kiai Halim pun mendirikan Raudhatul Makfufin, sebuah ponpes khusus Muslimin penyandang tuna netra.

Pesantren Cetak Generasi Berakhlak

Ponpes hadir untuk menghindari munculnya generansi yang kehilangan keteladanan.

SELENGKAPNYA

Gandeng Muhammadiyah, Erick Dorong Kemandirian Umat

BUMN dan Muhammadiyah sepakat untuk mengakselerasi industri obat herbal.

SELENGKAPNYA

Surakarta Message Beri Pesan Damai Bagi Dunia

Surakarta Message akan disampaikan pada seluruh umat beragama di dunia dan umum.

SELENGKAPNYA