Gedung gedung tua Kota Tua Jakarta (21/01/1993). Di Area ini dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta. Wilayah khusus yang memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pina | DOKREP

Jakarta

Hidupkan Jiwa Jakarta Lewat Bangunan Tua

Pada abad ke-17 sebelum VOC mendatangi Sunda Kelapa, Jakarta hanya kampung kecil.

Sudah seratusan tahun lalu, bangunan-bangunan tua di DKI Jakarta yang sempat bernama Sunda Kelapa hingga Batavia menyebar di seluruh wilayah. Aral melintang, bangunan yang mulai penuh sesak pada masa kolonialisme itu perlahan mulai pudar, berkurang atau diubah bentuknya tanpa pengertian nilai-nilai sejarah yang menyertainya.

Seiring waktu berlalu, perlu diakui ada banyak upaya untuk menumbuhkembangkan sejarah Jakarta yang terus menjadikannya kota bertumbuh. “Kita bicara era singkat soal prakemerdekaan, 1920-1948. Era ini menjadi periode penting,” kata ahli arkeolog Ary Sulistyo dalam diskusi daring, Rabu (16/11).

Alih-alih daerah lain yang sejarahnya mati seiring dengan tiadanya bangunan yang menceritakan masa lalu, dia menjelaskan, Jakarta terus bertumbuh dan bertransformasi sebagai kota. Pada abad ke-17 sebelum VOC mendatangi Sunda Kelapa, Jakarta hanya merupakan kampung kecil dengan pemukim dari Cina, Banten, dan lainnya. 

Kondisi di Jakarta masa itu, ia sebut berkembang pesat. Kota ini berpindah dari daerah kekuasaan, menjadi pusat perdagangan di masa Batavia yang dicirikan dengan bangunan yang ditembok. Meskipun warisan bangunan itu sudah hilang, kata dia, hal itu tidak sepenuhnya berkurang, terutama di daerah Kota, Jakarta Utara.

photo
Pengojek sepeda membawa penumpang di kawasan rendah emisi, Kota Tua, Jakarta, Rabu (17/2/2021). - (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Kota, yang disebut kota berpagar pada masa kolonialisme, menjadi saksi perubahan pesat Batavia atau Jakarta di abad ke-20 dengan berbagai arsitektur barat dan landmark yang ada. Namun, seiring penuhnya daerah Kota karena penduduk dan pendatang pada masa tersebut, kota yang berpagar itu memperluas daerah hingga ke selatan Jakarta, terutama Bogor, Depok, dan lainnya.

“Kota artiannya ya makin besar. Seiring waktu banyak juga bangunan gaya art deco, krepyak, sampai Jenki di seluruh Jakarta, utamanya Selatan,” kata dia.

Jauh setelahnya, pada masa 1920-an, Ary menyebut, kota satelit di Kebayoran mulai muncul dengan berbagai gaya baru kiriman Eropa hingga Amerika dengan gaya Jenki. Gaya bangunan dengan nilai bangunan tersebut terus meningkat hingga 1950-an ketika pemerintah melakukan nasionalisasi aset perusahaan asing dan bangunan yang ada.

“Dari masa awal di Kota sebagai kota taman di daerah Menteng lama, terus melebar dan variatif,” kata dia.

Ary mengatakan, dengan keinginan untuk melestarikan warisan, bukan berarti ingin melanggengkan bangunan masa kolonial. Sebaliknya, kata dia, dengan mengupayakan bangunan tua, berbagai nilai sejarah bisa dilestarikan dan menjadikan kota bertumbuh mencapai tujuan akhir.

“Ini menarik, karena pusat Jakarta pindah pada era 1911-1920 dari Jakarta Utara ke Selatan. Dengan banyaknya bangunan gaya indis, krepyak, dan art deco, sejarah Jakarta, masa sekarang dan masa depan bisa terus bertumbuh,” kata dia.

 
Jakarta tidak akan habis bercerita, bahkan Jakarta bisa menciptakan keterjeratan bagi siapa saja.
ARY SULISTYO Ahli Arkeolog
 

 

Lebih jauh, dia menjelaskan, keberadaan kota tanpa cerita bisa diibaratkan sebagai kota dengan bangunan tanpa jiwa. Oleh sebab itu, dia menganjurkan agar pihak swasta dan masyarakat yang memiliki bangunan lawas di Jakarta, bisa membantu upaya pemerintah dalam menjaga kekayaan sejarah.

“Dengan begitu, Jakarta tidak akan habis bercerita, bahkan Jakarta bisa menciptakan keterjeratan bagi siapa saja,” ujarnya.

Pendiri Indonesia Hidden Heritage Creative Hub, Nofa Farida Lestari, pun sepakat. Dia memerinci, sejak masa pra kemerdekaan, 1920-1948, bangunan cagar budaya di DKI hingga kini tercatat 168 unit. Terbanyak ada di Jakarta Pusat. “Selain Monas, 95 bangunan di Jakarta Pusat masuk juga ke dalam cagar budaya,” kata Nofa.

Senada dengan Ary, Nofa mengatakan, jauh sebelum masa peralihan, berbagai cagar di DKI saat ini juga memang masih banyak ditemukan. Menurut Nofa, banyaknya penemuan cagar di Selatan Jakarta itu karena manusia yang dekat dan beralih menyusuri kondisi sungai. “Kota juga membangun sejarahnya sendiri,” kata dia.

IPB akan Dampingi Mahasiswa yang Terjerat Pinjol

Ada sekitar 150 nama mahasiswa IPB yang menjadi korban pinjol

SELENGKAPNYA

JakLingko Kembalikan Dana Dobel Penumpang Transjakarta

Ada sekitar 1.338 pengguna layanan Transjakarta yang mengeluh bayar ganda.

SELENGKAPNYA

Polisi Tangkap Pembuat dan Pengedar Uang Palsu di Bogor

Polisi menyita barang bukti berupa uang palsu pecahan Rp 100 ribu senilai Rp 15,2 juta.

SELENGKAPNYA