Tenaga Kesehatan menunjukan hasil tes Covid-19 di Jakarta, Jumat (11/11/2022). | Republika/Putra M. Akbar

Publik

WHO: Waspadai Munculnya Pandemi Baru 

Perubahan iklim hingga penggundulan hutan bisa menjadi pemicu terjadinya pandemi. 

BADUNG -- Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom meminta seluruh negara bersiap menghadapi kemungkinan pandemi lanjutan ke depan. Menurut Tedros, ada cukup banyak permasalahan yang bisa menyebabkan terjadinya pandemi pada masa mendatang. 

"Namun, kita tidak tahu kapan datangnya, tapi pasti pandemi lain akan datang. Saya berharap, semua negara bersiap menghadapi hal ini dan bisa mempersiapkan diri sehingga dampak dari pandemi tidak signifikan kepada kondisi global," kata Tedros dalam acara peluncuran Pandemic Fund atau dana pandemi di kawasan Nusa Dua, Badung, Bali,  Ahad (13/11).

Tedros mengatakan, isu perubahan iklim hingga penggundulan hutan yang membuat air makin tercermar, menjadi pemicu adanya pandemi baru ke depan. Situasi tersebut perlu diantisipasi secara bersama-sama. 

"Berkaca dari pandemi Covid-19, pandemi berpengaruh besar pada ekonomi global dan ketahanan kesehatan masyarakat. Apalagi, saat ini banyak faktor pemicu munculnya pandemi baru maka perlu langkah bersama untuk memitigasi dampaknya ke depan," ujar Tedros.

Tedros pun mengapresiasi Presidensi G-20 Indonesia yang mampu menyukseskan 'Pandemic Fund' (Dana Pandemi). Menurut dia, sudah saatnya sektor kesehatan dan sektor perekonomian berkolaborasi sehingga mampu meningkatkan ketahanan dunia.

Dia mengatakan, peluncuran Dana Pandemi melalui Presidensi G-20 Indonesia sebagai momentum bersejarah di sektor kesehatan. "Terima kasih sekali lagi, ini sangat bersejarah. Kami sangat senang dengan terbentuknya Dana Pandemi," kata Tedros. 

Tedros kembali menegaskan, pandemi Covid-19 yang diberlakukan WHO sejak 11 Maret 2020, dan masih terjadi hingga sekarang, bukanlah pandemi terakhir yang diperkirakan melanda dunia. Penderitaan dan rasa kehilangan yang dialami selama pandemi, menurut Tedros, merupakan bentuk pelajaran untuk menerapkan strategi yang membuat dunia lebih tangguh dari potensi pandemi pada masa depan.

Dana Pandemi digagas sejak masa Presidensi G-20 Italia pada 2021, tetapi baru berhasil disepakati dan rampung di bawah kepemimpinan Indonesia pada tahun ini. G-20 kali ini juga membentuk lembaga pengelola 'Pandemic Fund' (governing board) di bawah kepemimpinan menteri keuangan RI Periode 2013-2014 Chatib Basri dan Menteri Kesehatan Rwanda, Daniel M Ngamije.

photo
Perempuan menjalani pemeriksaan Covid-19 di Beijing, Cina, Selasa (1/11/2022). - (AP/Mark Schiefelbein)

Pandemic Fund Governing Board bertugas menyeleksi berbagai pengajuan proposal dari seluruh negara yang membutuhkan alat diagnostik, obat-obatan, dan vaksin. Negara-negara G-20 dan di luar kelompok G-20 nantinya, dapat mengajukan permohonan untuk memperoleh Dana Pandemi, dalam memperkuat kemampuan mencegah dan menanggulangi ancaman pandemi di masa depan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan Dana Pandemi merupakan bukti forum G-20 mampu menghasilkan aksi konkret, yang bermanfaat bagi masyarakat dunia. Menurut dia, negara-negara khususnya berpendapatan rendah dan menengah dapat menggunakan dana itu untuk meningkatkan kemampuan mencegah dan menanggulangi ancaman pandemi.

"Peluncuran Dana Pandemi merupakan tonggak bersejarah yang penting bagi kita semua," kata Sri Mulyani. 

Dia mengatakan, Dana Pandemi tidak hanya inisiatif dari G-20, tetapi juga merupakan hasil dari kekhawatiran bersama bahwa perlu ada mekanisme pembiayaan yang dapat diandalkan untuk pencegahan, kesiapsiagaan, dan penanggulangan pandemi.

"Terbentuknya Dana Pandemi membuktikan pentingnya memelihara komunikasi dan kolaborasi terlepas dari berbagai perbedaan, dan kita harus satu suara untuk bersiap menghadapi ancaman pandemi berikutnya," kata Sri Mulyani.

Negara-negara yang telah menyampaikan komitmennya untuk berkontribusi terhadap Dana Pandemi adalah Komisi Eropa (European Commission), Amerika Serikat, Italia, Indonesia, Cina, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, Spanyol, Australia, Singapura, Norwegia, Selandia Baru, Inggris, India, Belanda, Prancis, Afrika Selatan, dan tiga lembaga filantropi, yaitu Bill & Melinda Gates Foundation, Rockefeller, dan Wellcome Trust.

"Dana Pandemi ini menjadi katalis bagi dukungan dana jangka panjang dari lembaga lain di tingkat bilateral dan multilateral. Kami juga berharap adanya partisipasi dari lembaga filantropi dan sektor swasta," katanya. 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam forum berbeda mengajak para pelaku bisnis negara anggota G-20 untuk berinvestasi di sektor kesehatan. Dia menjelaskan, sejumlah kesepakatan di sektor kesehatan dan keuangan yang telah dicapai selama Presidensi G-20 Indonesia tahun ini, membuka banyak peluang bisnis yang menjanjikan.

"Pertama, peluang bisnisnya adalah Global Pandemic Fund senilai 10 miliar dolar AS, yang harus disiapkan untuk dunia menghadapi pandemi di masa depan," kata Budi dalam KTT B-20 di Nusa Dua, Bali, Ahad.

photo
Warga menjalani pemeriksaan Covid-19 di Beijing, Cina, Selasa (1/11/2022). - (AP/Andy Wong)

Dana Pandemi atau 'Pandemic Fund' merupakan kerja sama konkret yang dicapai G-20 tahun ini, dengan komitmen dana terkumpul sejauh ini sebanyak 1,4 miliar dolar AS dari 24 negara dan institusi internasional. Melalui kerja sama dengan Bank Dunia, dana pandemi akan diperuntukkan penanggulangan darurat kesehatan, dengan mekanisme global yang adil dan setara.

"Hal ini membuka peluang bisnis untuk penanganan darurat medis di industri alat diagnostik, vaksin, dan obat-obatan yang tumbuh dengan cepat secara global," ujar Budi.

Dia mengatakan, potensi bisnis itu salah satunya dalam pembangunan laboratorium genome sequencing untuk mengidentifikasi kemunculan patogen baru, yang dapat membahayakan sistem kesehatan global. 

Peluang bisnis lain di sektor kesehatan, yaitu pembentukan sertifikat kesehatan digital yang diakui Organisasi Kesehatan Dunia untuk menjamin pergerakan mobilitas manusia dan barang selama pandemi, serta penelitian dan pengembangan vaksin, obat-obatan, dan alat diagnostik di tujuh negara G-20, yaitu Afrika Selatan, Turki, Arab Saudi, Indonesia, Brasil, dan Argentina.

"Di Indonesia, Presiden Joko Widodo sudah sangat jelas bahwa untuk setiap pengadaan pemerintah, kami akan membeli dari perusahaan yang berproduksi di dalam negeri. Jadi sekarang Anda tahu Anda harus berinvestasi di mana," kata  Budi di hadapan sekitar 2.000 pebisnis yang menghadiri forum dialog resmi G-20, yang mewakili komunitas bisnis global itu. 

Haji Abdurrahman Sjihab, Teladan Sang Pendidik

Haji Sjihab menaruh perhatian besar pada upaya-upaya menjaga akidah umat.

SELENGKAPNYA

Ratu Adil dari Masa ke Masa

Gerakan ratu adil di Indonesia memiliki sejarah panjang.

SELENGKAPNYA

Segera Tangani Cedera Olahraga

Penanganan cedera yang cepat dan tepat berperan penting untuk kesembuhan pasien.

SELENGKAPNYA