Seorang tokoh al-Washliyah dari Sumur, H Abdurrahman Sjihab. | DOK AL WASHLIYAH

Mujadid

Haji Abdurrahman Sjihab, Teladan Sang Pendidik

Haji Sjihab menaruh perhatian besar pada upaya-upaya menjaga akidah umat.

OLEH MUHYIDDIN

 

“Kaum ulama adalah pewaris para nabi.” Demikian sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis. Karena itu, kaum Muslimin diajarkan untuk menghormati dan meneladan mereka. Sejarah pun mencatat, kalangan waratsat al-anbiya' berperan besar dalam mencerdaskan kehidupan umat.

Di Sumatra Utara, ada seorang ulama yang dikenang terutama lantaran jasa-jasanya pada bidang pendidikan. Tokoh yang dimaksud adalah Haji Abdurrahman Sjihab—sering pula disebut Abdurrahman Sjihab. Sosok kelahiran tahun 1910 M itu pernah memimpin organisasi masyarakat (ormas) Islam, al-Jam’iyatul Washliyah.

Melalui gerakan keagamaan itu, ia mendedikasikan diri dan ilmunya untuk memajukan umat Islam. Perannya di ranah pendidikan, dakwah, dan sosial berdampak luas bagi masyarakat Tanah Air, khususnya Sumut. Berbagai akademisi dan pemuka lokal menilai, sang alim sangat layak untuk menyandang gelar pahlawan nasional RI.

 
Sejak kecil, Abdurrahman Sjihab telah dididik dalam dua iklim keilmuan.
 
 

Haji Abdurrahman Sjihab berasal Kampung Paku-Galang, Kabupaten Deli Serdang, Sumut. Ia merupakan anak ketiga dari Haji Sjihabuddin. Di bawah bimbingan ayahnya yang seorang kadi Kesultanan Serdang, dirinya pun tumbuh menjadi insan yang mencintai ilmu-ilmu agama.

Sejak kecil, Abdurrahman Sjihab telah dididik dalam dua iklim keilmuan. Antara tahun 1918 dan 1922, ia belajar di sekolah umum. Secara bersamaan, anak mufti itu juga memperdalam ilmu keislaman di Maktab Sairussulaiman, Simpangtiga Perbaungan. Mentalnya sebagai seorang calon pemimpin juga mulai ditempa di sana.

Memasuki usia delapan tahun, Sjihab mulai mengaji berbagai macam ilmu agama. Sejak 1922, ia menjadi murid di Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT). Madrasah itu didirikan oleh seorang alumnus Makkah, Syekh Muhammad Yunus, yang juga murid dari imam Masjidil Haram Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Di bawah arahan Syekh Yunus, Sjihab muda semakin rajin dalam belajar. Ia pun kian menguasai kitab-kitab para ulama klasik (turats). Selama menempuh studi di MIT, dirinya mendalami berbagai literatur, seperti Alfiyah, Matan Zubad, Matan Jauharah, dan Jauhar Maknun.

Karena cerdas dan terang hatinya, lima tahun berikutnya Abdurrahman diangkat menjadi asisten guru. Ia pun sempat mengajar beberapa kelas di madrasah tersebut. Kemudian, pemuda tersebut melanjutkan rihlah keilmuannya ke Maktab Hasaniyah yang dipimpin Syekh Hasan Maksum.

Ketika itu, tokoh yang bergelar Tuan Imam Paduka tersebut merupakan mufti Kesultanan Deli. Dalam rentang tahun 1931-1936, ulama besar di kawasan Medan itu membuka pengajian untuk menerangkan ilmu-ilmu agama kepada Muslimin. Di antara materi-materi ajarnya ialah kitab-kitab terkait mazhab fikih Imam Syafii.

Di Maktab Hasaniyah, Abdurrahman Sjihab belajar dengan tekun kepada Syekh Hasan Maksum. Sang guru pun tidak hanya mengajarkan berbagai ilmu kepadanya, melainkan juga karakteristik yang penuh disiplin. Alhasil, pemuda itu pun semakin alim dan saleh. Hingga akhirnya, ia termasuk dalam jajaran ahli-ahli agama yang terkenal di Medan dan sekitarnya.

Mendirikan al-Washliyah

Haji Abdurrahman Sjihab adalah ulama muda yang sangat aktif dalam berbagai aktivitas syiar Islam. Di Medan, dirinya turut membangun madrasah dan menginisiasi kelompok-kelompok diskusi keagamaan. Bahkan, ia turut membentuk sebuah ormas, yakni al-Jam’iyatul Washliyah. Gerakan itu berhaluan paham ahlussunnah wal jama’ah (aswaja) dan mazhab fikih Syafii.

Menurut Ketua Dewan Pertimbangan al-Washliyah Buya Yusnar Yusuf Rangkuti, Haji Abdurrahman Sjihab bersama dengan sejumlah tokoh lainnya dalam mendirikan ormas Islam tersebut. Mereka, antara lain, adalah Syekh Muhammad Arsyad Thalib Lubis (1908-1972) dan Haji Ismail Banda (1910-1951).

Al-Washliyah berdiri sejak 1930. Ismail Banda merupakan ketua pertamanya. Kemudian, pada periode 1931-1955 barulah Haji Abdurrahman Sjihab dipercaya sebagai nakhoda ormas Islam tersebut. Sementara itu, kedua gurunya, yakni Syekh Hasan Maksum dan Syekh Muhammad Yunus, duduk di jajaran penasihat.

Buya Yusnar mengatakan, Haji Sjihab dalam memimpin al-Washliyah cenderung berfokus pada mengembangkan pendidikan Islam. “Abdurrahman Sjihab lebih menekuni bidang edukasi, memajukan umat melalui pendidikan. Itu terutama dilakukannya saat menjadi ketua Pengurus Besar al-Jam’iyatul Washliyah. Jabatan itu diembannya sebelum Tuan Arsyad,” ujar dia kepada Republika, beberapa waktu lalu.

 
Abdurrahman Sjihab lebih menekuni bidang edukasi, memajukan umat melalui pendidikan.
 
 

Haji Sjihab memiliki banyak sahabat seperjuangan. Salah satunya adalah Haji Siradjuddin Abbas, yakni tokoh Persatuan Tarbiyah Islam (Perti). Sama seperti al-Washliyah, ormas yang berpusat di Sumatra Barat itu berhaluan aswaja. Fokusnya pun berada pada dunia dakwah, pendidikan, dan sosial. Dan, kedua haji tersebut tidak hanya memiliki pengaruh di Sumut atau Sumbar, melainkan juga skala nasional.

Buya Yusnar menuturkan, Haji Sjihab juga menjadi perintis madrasah al-Washliyah pertama di Medan, tepatnya beralamat di Jalan Sinagar Petisah. Pendirian lembaga itu dimulai pada tahun 1932. Tokoh tersebut juga pernah menjabat sebagai kepala sekolah di beberapa tingkatan, mulai dari memimpin madrasah tsanawiyah, madrasah muallimin, hingga muallimat.

Sebagai tokoh yang disegani, Haji Sjihab menaruh perhatian besar pada upaya-upaya menjaga akidah umat. Ia pun terlibat aktif dalam pelbagai syiar Islam, baik di dalam maupun luar Sumut. Baginya, kaum Muslimin mesti dapat membendung pelbagai paham yang keliru dan menyesatkan.

Sebagai contoh, sebuah kejadian pada tahun 1934. Ketika itu, organisasi Ahmadiyah Kadian hendak meluaskan pengaruhnya di Kota Medan. Mendengar wacana tersebut, Haji Sjihab langsung menyerukan ulama dan umat untuk merapatkan barisan. Tujuannya guna membendung gerakan yang dinilai telah menyimpang dari akidah Islam aswaja itu.

Bersama Muhammad Arsyad Thalib Lubis, Haji Abdurrahman Sjihab berdiri di garda terdepan dalam menolak paham Ahmadiyah. Keduanya pun menfatwakan bahwa aliran tersebut sesat dan menyesatkan. Sekira dua tahun berikutnya, ia dipercaya menjabat ketua Komite Pemberantas Itikad Ahmadiyah Kadian di Medan.

photo
Al-Washliyah merupakan sebuah ormas Islam yang besar di Indonesia. Berpusat di daerah Sumatra Utara, hingga kini banyak perannya dilakukan pada ranah pendidikan dan sosial. - (DOK AL WASHLIYAH)

Tokoh nasional

Bermula dari Sumut, Haji Abdurrahman Sjihab kian diakui luas sebagai seorang tokoh nasional. Pada 1939, sang pendiri al-Washliyah berangkat ke Tanah Suci. Tujuannya tidak hanya menunaikan ibadah haji pada tahun itu, tetapi juga merepresentasikan Muslimin RI dalam sebuah pertemuan khusus dengan Raja Ibnu Saud, penguasa Arab Saudi.

Usai musim haji, ia menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan sejumlah ulama Makkah, seperti Syekh Alie al-Maliky, Umar Hamdan, Hassan Masysath, Amin al-Kutuby, dan M Alwy.

Pada 1940, Haji Sjihab menjabat sebagai direktur Madrasah Qismul Ali. Kira-kira satu tahun kemudian, ia mewakili PB al-Washliyah dalam Kongres Muslimin Indonesia di Solo, Jawa Tengah. Forum tersebut mempertemukan para tokoh organisasi-organisasi Islam dengan agenda konsolidasi umat dan persatuan bangsa.

Pada masa pendudukan Jepang, Haji Sjihab termasuk dalam utusan yang berangkat dari Sumatra Timur ke Bukittinggi, Sumbar. Mereka mendatangi kota tersebut untuk memenuhi agenda dengan para petinggi pemerintah Dai Nippon, yang menjanjikan dukungan untuk kemerdekaan Indonesia. Di kota yang sama, dirinya juga mewakili Sumatra Timur dalam Kongres Islam se-Sumatra.

Pada periode 1945-1946, Haji Sjihab menduduki posisi sebagai berikut: anggota PB Majelis Tinggi Sumatra, ketua Pimpinan Daerah Majelis Islam Tinggi Sumatra Timur, wakil ketua Masyumi Cabang Sumatra, ketua Komite Aksi Pemilihan Umum (KAPU), dan anggota pengurus Persatuan Perjuangan (Folks Front) Sumatra.

 
Di ranah politik, ia mendukung Partai Masyumi. Bahkan, Haji Sjihab pernah duduk sebagai ketua majelis syuro parpol tersebut di level nasional.
 
 

Di ranah politik, ia mendukung Partai Masyumi. Bahkan, Haji Sjihab pernah duduk sebagai ketua majelis syuro parpol tersebut di level nasional. Melalui kendaraan politik itu pula, dirinya menjadi anggota DPR.

Walaupun berkiprah di Parlemen pada masa itu, dirinya tidak pernah mengabaikan peran sosialnya, yakni selaku ulama. Masyarakat mengenalnya sebagai alim yang tawaduk. Salah satu kepakarannya pada bidang fikih dan ushul fiqh. “Beliau (Haji Sjihab) sangat menguasai ilmu fikih. Ilmu itu dikuasainya dengan sangat luar biasa,” jelas Buya Yusnar.

Pada suatu hari di akhir tahun 1954, Haji Sjihab sedang bertugas sebagai anggota parlemen di Jakarta. Tiba-tiba, kesehatannya menurun akibat terserang penyakit. Karena memerlukan waktu yang cukup lama untuk beristirahat, ia pun kembali ke Medan dan dirawat di rumah sakit umum kota setempat.

Sekira 40 hari sejak masuk ke rumah sakit, ulama tersebut berpulang ke rahmatullah. Haji Sjihab wafat pada Senin, 7 Februari 1955. Usianya pada saat meninggal terbilang cukup muda, yakni 45 tahun. “Meskipun meninggal dunia dalam usia itu, kontribusi dan peran yang beliau lakukan selama hidup untuk agama dan bangsa ini sangat banyak,” kata Buya Yusnar.

Al-Jam’iyatul Washliyah kehilangan seorang pemimpin yang luhur, bijaksana, serta cekatan dalam menjalankan tugas-tugas. Duka tidak hanya meliputi keluarga besar ormas tersebut, tetapi juga seluruh pergerakan Islam dan masyarakat Muslimin pada umumnya.

Almarhum meninggalkan seorang isteri dan 10 anak: lima laki-laki dan lima perempuan. Saat Haji Sjihab wafat, kebanyakan putra dan putrinya masih kecil. Bahkan, anaknya yang paling bungsu belum sempat dilihatnya karena sang bayi baru berusia 20 hari.

Perjuangan di Sumatra Utara

Melalui al-Washliyah, Haji Abdurrahman Sjihab menggagas dan menerapkan berbagai terobosan pendidikan. Ia pertama-tama merintis sejumlah sekolah yang berafiliasi dengan ormas Islam tersebut di Medan, Sumatra Utara. Hingga kini, banyak lembaga yang telah diinisiasinya itu masih bertahan dan menebar maslahat di tengah umat.

Ketua Dewan Pertimbangan al-Washliyah Buya Yusnar Yusuf mengatakan, sosok pendahulunya itu tidak hanya berkiprah di ranah pendidikan. Ia pun turut andil dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hal itu diakui oleh seorang ulama kenamaan, Prof Buya Hamka.

“Yang cukup menarik adalah ketika Buya Hamka mendapat pertanyaan, siapa kira-kira yang pantas dari Sumatra Utara untuk menjadi pahlawan nasional. Buya Hamka lalu menyebut sosok Haji Abdurrahman Sjihab,” ujar Yusnar Yusuf saat dihubungi Republika dari Jakarta, baru-baru ini.

Mantan ketua umum al-Washliyah itu meneruskan, heroisme Haji Sjihab terasa besar khususnya bagi masyarakat Sumut. Sebagai tokoh Minang, Buya Hamka pun mengakui hal itu. Ormas Islam ini juga tumbuh besar hingga kini berkat ikhtiar-ikhtiar yang dilakukannya pada masa-masa silam.

 
Al-Washliyah juga tumbuh besar hingga kini berkat ikhtiar-ikhtiar yang dilakukannya pada masa-masa silam.
 
 

Kembali ke ranah pendidikan, Yusnar mengatakan, Haji Sjihab mengubah sekolah-sekolah yang dahulu dimiliki kesultanan setempat menjadi di bawah naungan al-Washliyah. Pengubahan itu berdampak pada penerapan kurikulum yang lebih modern pada tiap sekolah. Hal itu tanpa mengabaikan tarbiah Islam yang menjadi kekhasan sejak era kerajaan.

“Ia (Haji Sjihab) juga pernah punya sekolah yang didirikan dari upayanya pribadi. Akhirnya, lembaga itu pun diberikannya pula kepada al-Washliyah,” kata Yusnar menerangkan.

“Sekolah-sekolah yang berada di bawah kekuasaan para sultan itu didekatinya melalui mufti, maka sekolah-sekolah itu diubah namanya menjadi madrasah al-Washliyah,” tutup ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini.

Teladan Ibnu Ummi Maktum

Keterbatasan fisik tidak lantas melemahkan ketaatan Ibnu Ummi Maktum kepada Allah dan Rasul SAW.

SELENGKAPNYA

Ratu Adil dari Masa ke Masa

Gerakan ratu adil di Indonesia memiliki sejarah panjang.

SELENGKAPNYA

Segera Tangani Cedera Olahraga

Penanganan cedera yang cepat dan tepat berperan penting untuk kesembuhan pasien.

SELENGKAPNYA