Masjid Besar al-Hidayah di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Gaya arsitekturnya cenderung modern, berpadu dengan kearifan lokal. | DOK REP MUHYIDDIN

Arsitektur

Masjid Besar al-Hidayah, Cermin Toleransi di Pulau Dewata

Masjid Besar al-Hidayah menjadi “saksi” kerukunan antarumat beragama.

OLEH MUHYIDDIN

Bali merupakan daerah yang populer sebagai destinasi turis di Indonesia. Secara demografis, mayoritas warga setempat menganut agama Hindu. Di peringkat kedua, berdasarkan data Kementerian Agama (Kemenag) 2018, terdapat pemeluk Islam dengan persentase sekitar 10 persen dari total populasi provinsi itu.

Dengan profil demikian, Bali memiliki banyak tempat yang menarik dengan nuansa religi Hindu. Bagaimanapun, tidak sedikit lokasi di Pulau Dewata yang menunjukkan corak keislaman sehingga layak menjadi pilihan bagi para pelancong khususnya Muslim. Salah satunya adalah Masjid Besar al-Hidayah di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan.

Bangunan masjid ini menampilkan gaya arsitektur yang indah. Pesonanya semakin anggun karena berlokasi persis di dekat Danau Beratan. Jaraknya pun tidak terlalu jauh dari Pura Ulun Danu, salah satu tempat ibadah umat Hindu di Tabanan. Hal itu menandakan, kaum Muslimin dan Hindu setempat sangat memelihara toleransi antarumat agama.

photo
Masjid Besar al-Hidayah berdiri sejak 1927. Renovasi besar-besaran hingga tampilannya seperti kini dimulai pada masa Orde Baru. - (DOK REP MUHYIDDIN)

Fasad Masjid Besar al-Hidayah dihiasi dengan ukiran berwarna kuning keemasan. Pada dua sisi pintu masuk utama, terdapat ukiran kaligrafi yang bertuliskan kalimat basmalah. Di dekatnya, ada guratan yang menampilkan lafaz takbir.

Saat mengunjungi Masjid Besar al-Hidayah beberapa waktu lalu, Republika sempat berbicang dengan seorang anggota takmir setempat. Ustaz Nuruddin, demikian namanya, sejak tahun 2015 aktif mengurus tempat ibadah Muslim ini. Lelaki yang kini berusia 51 tahun itu juga menjadi imam shalat lima waktu di sana.

Ia menuturkan, umumnya masyarakat setempat menamakan bangunan ini sebagai Masjid Candikuning. Berdirinya tempat ibadah ini tidak terlepas dari peran para leluhur desa. Mereka tidak hanya berasal dari kalangan Muslimin, tetapi juga umat Hindu lokal.

photo
Sisi interior Masjid Besar al-Hidayah, Tabanan, Bali. Pembangunan masjid ini melibatkan beberapa orang Hindu yang ahli ornamen bangunan. - (DOK REP MUHYIDDIN)

Pada fase awal, pembangunan masjid ini berada di atas lahan hasil wakaf Kumpi Awal dan Kumpi Nurdinah. Lokasinya terletak persis di depan kompleks Pura Ulun Danu Beratan. Inisiasinya datang pada 1927, yakni sejak ikrar wakaf di hadapan Guru Alimun, seorang pemuka Muslim setempat.

Semula, bangunan masjid tersebut sangat sederhana. Ukurannya sekira 5x5 meter persegi. Karena itu, kebanyakan orang menyebutnya langgar atau santren. Begitu selesai dibangun, Langgar Candikuning tidak hanya difungsikan sebagai tempat shalat berjamaah, tetapi juga sarana pendidikan Islam, khususnya bagi anak-anak dan pemuda.

Memasuki tahun 1940-an, jumlah komunitas Islam di Desa Candikuning kian bertambah. Kapasitas langgar pun tidak lagi memadai. Pada 1948, para pemuka Muslim setempat sepakat untuk merenovasi bangunan tersebut. Masyarakat lokal pun bergotong royong untuk mewujudkan masjid yang lebih permanen. Proses peletakan batu pertama dilakukan oleh Guru Nuruddin Keramat Sindu dari Karangasem.

photo
Salah satu ornamen kaligrafi pada Masjid Besar al-Hidayah, Tabanan, Bali. - (DOK REP MUHYIDDIN)

Beberapa tahun kemudian, renovasi itu tuntas dikerjakan. Setelah kemerdekaan RI, pemugaran selanjutnya terjadi pada 1978. Sejak itu, daya tampung masjid tersebut semakin luas, tetapi jumlah umat Islam di desa setempat juga kian bertambah. Tiga kali perbaikan skala kecil dilakukan untuk membuat tempat ibadah itu mampu menampung jamaah.

Kemudian, para tokoh muda Desa Candikuning membentuk Yayasan Sosial al-Hidayah. Tujuannya untuk menggalang dana dari para donatur yang hendak mewujudkan renovasi besar-besaran masjid setempat. Dari sekian banyak penyumbang, terdapat nama presiden RI kala itu, Soeharto.

Pemimpin Orde Baru tersebut memberikan sebesar Rp 7 juta kepada yayasan ini. Hingga akhirnya, terwujudlah masjid yang lebih megah dan bernama Masjid Besar al-Hidayah. Peresmiannya dilakukan wakil gubernur Bali saat itu, Muljono.

Teranyar, renovasi untuk memperbaiki masjid raya itu dikerjakan pada 2009 lalu. Dalam proses itu, empat sokoguru dipasang. Kemudian, dua menara juga dibangun. Tidak ketinggalan, penambahan ornamen-ornamen khas Bali pada berbagai sisi eksterior.

photo
Ustaz Nuruddin, takmir Masjid Besar al-Hidayah. - (DOK REP MUHYIDDIN)

“Pengerjaannya memang kolaborasi antara umat Islam dengan Hindu di sini. Yang membuat ornamen-ornamen atau ukiran di sisi luar masjid ini adalah para pengrajin Hindu. Kami kemudian memberi khat Arabnya,” ujar Nuruddin.

Desa Candikuning memiliki penduduk sekira tiga ribu orang pemeluk Islam. Berada di tengah mayoritas Hindu, komunitas Muslim selalu hidup damai dan rukun. Masing-masing umat memang menjunjung tinggi semangat toleransi dan kebersamaan.

Di Bali, terdapat istilah nyama beraya yang merujuk pada ikhtiar menjaga keharmonisan masyarakat. Secara harfiah, terminologi itu berarti ‘saudara semua'. Penerapannya bisa dilihat, umpamanya, ketika berlangsung hari besar keagamaan.

Nuruddin mencontohkan, tiap perayaan Maulid Nabi pihak takmir Masjid Besar al-Hidayah selalu mengundang kaum Hindu untuk makan bersama dan sebagainya. “Bisa jadi, sebagian dari kami umat Islam yang lahir di Bali ini punya keluarga yang Hindu. Punya kakek atau nenek leluhur yang memeluk agama itu. Makanya, kami di desa ini sangat merawat toleransi,” ucapnya.

Secara legal formal, masjid ini berada di bawah pengelolaan Nadzir Wakaf dan Yayasan Sosial Al-Hidayah Bedugul. Biaya operasional dan pengembangan masjid ini diperoleh secara swadaya, yakni umumnya dari dana sedekah atau infak yang terhimpun.

Kebanyakan Muslimin di Desa Candikuning memiliki leluhur perantau asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada masa lalu, Lombok sempat menjadi wilayah Kerajaan Gelgel yang berpusat di Bali.

Di desa tersebut, terdapat pula makam seorang ulama besar, yaitu Habib Umar bin Yusuf al-Magribi. Tokoh tersebut merupakan salah seorang perintis dakwah, wali pitu, di Pulau Dewata.

 

Teladan Ibnu Ummi Maktum

Keterbatasan fisik tidak lantas melemahkan ketaatan Ibnu Ummi Maktum kepada Allah dan Rasul SAW.

SELENGKAPNYA

Jalan Mewujudkan Generasi Berkualitas

Ketahanan keluarga menjadi keniscayaan untuk menopang kemajuan bangsa.

SELENGKAPNYA

Habib Anis al-Habsyi, Alim Karismatik Nan Murah Senyum

Cucu penggubah kitab Simthud Duror itu berdakwah di tengah masyarakat Solo Raya.

SELENGKAPNYA