Keluarga Muslim | Freepik

Laporan Utama

Jalan Mewujudkan Generasi Berkualitas

Ketahanan keluarga menjadi keniscayaan untuk menopang kemajuan bangsa.

OLEH IMAS DAMAYANTI

Untuk menjadi negara yang maju dan berperadaban harus dimulai dari lingkup yang paling kecilnya dulu. Generasi yang maju akan berasal dari lingkup keluarga yang baik dan berkemajuan.

Ketua Komisi Perempuan Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (KPRK MUI) Siti Marifah mengatakan, keluarga adalah bagian terkecil dari sebuah bangsa. Jika keluarga sejahtera, sejahteralah suatu bangsa. “Kalau keluarga sejahtera, maka bangsa dan negaranya akan sejahtera juga,” kata Marifah saat dihubungi Republika, Selasa (8/11).

Penyiapan ketahanan keluarga dimulai sejak sebuah keluarga terbentuk. Untuk itu, perlu dipersiapkan segala hal yang menyangkut di dalamnya. Dimulai dari komitmen membentuk keluarga, pentingnya penyuluhan prapernikahan, hingga kesiapan usia perkawinan yang juga menjadi bagian penting guna mewujudkan keluarga yang sejahtera.

Marifah menekankan bahwa mewujudkan keluarga yang sejahtera dapat melahirkan generasi yang kuat, cerdas, saleh, yang harus dilalui dengan upaya-upaya yang tadi disebutkan. Namun, menurut dia, hal itu tidaklah cukup. “Upaya-upaya tadi harus ditingkatan,” kata dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Di sisi lain, pihaknya menyinggung pentingnya peran serta setiap elemen untuk menguatkan ketahanan keluarga. Kolaborasi diperlukan dari seluruh elemen, mulai dari pemangku kebijakan seperti pemerintah, pemuka agama, hingga masyarakat.

Jika setiap elemen berkolaborasi, kata dia, perwujudan ketahanan keluarga menjadi sebuah keniscayaan yang dapat menopang kemajuan bangsa. Peradaban yang maju sebuah bangsa dapat terlahir dari hadirnya ketahanan keluarga masyarakatnya.

Elemen paling kecil dari sebuah bangsa ini sejatinya memiliki andil besar dan pengaruh yang signifikan terhadap keberlangsungan bangsa. Sebab, dari lingkup keluargalah, para pemimpin, pemikir, teknokrat, dan guru-guru bangsa dilahirkan.

Ustazah Iroh Siti Zahroh menambahkan, dalam program ketahanan keluarga diperlukan peran aktif laki-laki. Dia menilai, kolaborasi dan kepedulian kaum laki-laki terhadap ketahanan keluarga menjadi poin yang cukup krusial dalam kesuksesan ketahanan keluarga.

"Keluarga itu adalah organisasi terkecil dalam negara. Untuk mencapai ketahanan keluarga, diperlukan peran serta laki-laki. Jangan menganggap bahwa urusan keluarga hanya domain perempuan,” kata dia.

 
Keluarga itu adalah organisasi terkecil dalam negara. Untuk mencapai ketahanan keluarga, diperlukan peran serta laki-laki.
SITI MARIFAH Ketua Komisi Perempuan Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (KPRK MUI) 
 

 

Peneliti Islam dari El-Bukhari Institute Neneng Maghfiro mengatakan, ketahanan keluarga bukanlah suatu hal yang mudah. Menurut dia, perwujudan ketahanan keluarga memang harus merangkul setiap elemen bangsa yang secara langsung maupun tidak langsung bersinggungan sehari-hari.

Namun, dia meyakini bahwa peran laki-laki dalam mengukuhkan ketahanan keluarga menjadi sebuah keharusan. Ketahanan keluarga, dia menilai, tidak bisa dimainkan sendiri oleh perempuan, mau tidak mau laki-laki harus mengambil peran.

“Saya rasa peran laki-laki sama pentingnya dengan perempuan dalam mewujudkan ketahanan keluarga. Di sisi lain, peranan pemerintah dan juga masyarakat juga cukup krusial dalam hal ini,” kata dia.

Pemerintah dengan segala intrumennya dapat mengontrol jalannya undang-undang yang berkaitan dengan ketahanan keluarga. Pun demikian dengan masyarakat, kata dia, kontrol terhadap jalannya undang-undang ketahanan keluarga harus diselaraskan dengan realitas yang ada. Sehingga, apabila dalam realitasnya belum berjalan, setiap elemen dapat mendorong satu sama lain agar terwujud lingkungan yang kondusif untuk meningkatkan kemajuan ketahanan keluarga.

photo
Dialog Jumat Menjadi Ayah Ideal - (Republika/Thoudy Badai)

Teladan Ibnu Ummi Maktum

Keterbatasan fisik tidak lantas melemahkan ketaatan Ibnu Ummi Maktum kepada Allah dan Rasul SAW.

SELENGKAPNYA

Fatayat NU: Tekan KDRT Hingga Stunting

Ketahanan bangsa berangkat dari ketahanan keluarga.

SELENGKAPNYA

Nasyiatul 'Aisyiyah dan Ketahanan Keluarga

Fondasi iman dan takwa menjadi aktivitas dasar dalam keluarga.

SELENGKAPNYA