Uji jaringan di Bali dalam rangka persiapan G20 (ilustrasi) | Dok Telkomsel

Inovasi

Sinergi untuk Percepat Transformasi

Percepatan transformasi digital harus dilakukan melalui jalur kolaborasi.

Indonesia merupakan negara yang sangat luas dan memiliki tantangan geografis yang tinggi. Penyediaan jaringan untuk yang mencakup seluruh wilayah Indonesia, tentu menjadi hal yang sangat menantang.

Hal itu pun mendorong Huawei untuk berkolaborasi dalam mewujudkan inklusi digital. Vice President Director of Board Business Environment PT Huawei Tech Investment James Sun mengatakan, upaya ini coba diwujudkan melalui kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kominfo). "Dengan kolaborasi ini, kami mendorong inklusi digital lewat Connect the Unconnected Program,' kata James dalam penandatanganan nota kesepahaman antara Huawei dan Kominfo yang digelar di Jakarta, Selasa (8/11).

Dalam program ini, salah satu wilayah yang jadi perhatian Huawei adalah Papua. Mengingat, hingga saat ini, masih terdapat sejumlah wilayah di pulau tersebut yang belum terjangkau oleh jaringan yang mumpuni.

Dalam penandatanganan nota kesepahaman itu, Huawei pun membuktikan keberhasilan program itu dengan melakukan live streaming dengan sekolah di Sorong, Papua Barat. Live streaming itu pun terbukti bisa berjalan dengan baik karena kini wilayah tersebut telah dijangkau oleh jaringan yang memadai.

Lewat video dokumenter, Huawei juga mengungkap bahwa jaringan yang dihadirkan di Papua telah membantu masyarakat untuk melakukan komunikasi. Karena, kini masyarakat di Papua juga bisa melakukan panggilan video dengan baik. "Langkah yang kami lakukan ini merupakan bukti komitmen kami dalam mendukung hadirkan infrastruktur yang menunjang transformasi digital di Indonesia," ujar James.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Huawei For Indonesia (@huaweiforindonesia)

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Kominfo, Mira Tayyiba mengatakan, kerja sama ini diyakini mampu memberikan dampak yang besar bagi Indonesia. Karena, kerja sama ini bukan hanya seremonial, tapi menjadi suatu sinergi dalam melakukan percepatan transformasi digital.

"Indonesia sedang melakukan digitalisasi besar-besaran. Hal ini sekaligus akan membuka peluang baru dan harus dilakukan untuk bisa meningkatkan daya saing," kata Mira.

Agar transformasi digital bisa berjalan dengan optimal, ia menilai, hal itu harus dilakukan dengan berkolaborasi antara pemerintah, industri dan para akademisi.

Pemerintah, Mira melanjutkan, berperan dengan menghadirkan regulasi. “Sedangkan industri berperan lewat aspek ekonomi dan para akademisi berperan lewat riset," ujarnya.

Oleh karena itu, ia pun mengapresiasi Huawei yang telah melakukan kolaborasi tersebut termasuk dengan akademisi. Ia menekankan, capaian perluasan jaringan yang telah dilakukan oleh Huawei itu telah menjadi wujud penerapan digitalisasi yang inklusif, karena membuat semakin banyak masyarakat yang bisa menikmati layanan digital.

Perkuat Talenta

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Huawei For Indonesia (@huaweiforindonesia)

Di satu sisi, Huawei juga menyadari bahwa transformasi digital perlu didukung oleh pelatihan, penelitian serta talenta digital yang representatif. Hal itu pun mendorong Huawei untuk juga berkolaborasi dengan sejumlah universitas di Indonesia.

Sejumlah kampus yang digandeng kali ini adalah Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Telkom University. Rektor Telkom University, Prof Dr Adiwijaya mengatakan, transformasi digital merupakan salah satu prioritas yang didorong oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

"Transformasi digital tentu jadi hal yang sangat menantang karena mencakup konektivitas, platform digital dan digital services. Universitas bisa berperan dalam mencapai seluruh hal itu lewat riset dan inovasi," kata Adiwijaya.

Ia berharap, transformasi digital di Indonesia bisa benar-benar dilakukan oleh Indonesia secara mandiri. Artinya, lanjut dia, Indonesia jangan hanya jadi pengguna, tapi juga jadi negara yang melakukan pengembangan teknologi yang berkaitan dengan transformasi digital.

"Tentu, hal itu juga perlu didukung oleh keberadaan talenta digital yang mencukupi,” ujarnya. Disinilah pula, tantangan tiap universitas dalam menghasilkan talenta digital yang berkualitas, sehingga bisa mendorong kemandirian teknologi. 

 
Indonesia sedang melakukan digitalisasi besar-besaran.
MIRA TAYYIBA, Sekretaris Jenderal Kominfo
 

 

 

Frekuensi Baru untuk Layanan Merata

photo
Pengetesan jaringan broadbad di Bali (ilustrasi) - (Dok Telkomsel)

Hadirnya teknologi 5G, ditambah makin tingginya ketergantungan masyarakat terhadap berbagai layanan digital, membuat kehadiran frekuensi sangat diperlukan. Pekan lalu, Telkomsel melalui Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) telah ditetapkan sebagai pemenang seleksi pengguna pita frekuensi radio 2,1 GHz untuk keperluan penyelenggaraan jaringan bergerak seluler 2022.

Direktur Utama Telkomsel Hendri Mulya Syam mengatakan, Telkomsel mengapresiasi kepercayaan yang diberikan pemerintah untuk menghadirkan konektivitas digital ke seluruh wilayah nusantara, melalui penetapan pemenang seleksi pengguna pita frekuensi 2,1 GHz.

“Telkomsel telah mempertimbangkan berbagai aspek dalam mengimplementasikan langkah investasi korporasi tersebut, di antaranya strategi pengembangan investasi dan bisnis yang matang, serta roadmap perusahaan sebagai digital connectivity enabler,” ujarnya.

Dengan tambahan pita frekuensi 2,1 GHz tersebut, Hendri melanjutkan, Telkomsel akan berupaya meningkatkan kebutuhan masyarakat dalam menikmati layanan broadband berteknologi terkini secara nyaman, merata, setara dan berkualitas. Terutama, dalam memperkuat ekosistem gaya hidup digital yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.

Menurut Hendri, Telkomsel berencana mengoptimalkan penambahan spektrum tersebut untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas jaringan bergerak seluler. Termasuk juga, mendorong akselerasi penggelaran infrastruktur 4G/LTE yang memiliki kualitas prima dengan cakupan terluas hingga wilayah 3T, serta memperluas cakupan teknologi jaringan 5G secara bertahap.

Dengan penambahan pita frekuensi ini, maka komposisi alokasi lisensi frekuensi yang dimiliki Telkomsel, adalah frekuensi 2,3 GHz dengan lebar pita 50 MHz, frekuensi 2,1 GHz dengan lebar pita 20 MHz, frekuensi 1,8 GHz dengan lebar pita 22,5 MHz, dan frekuensi 800/900 MHz dengan lebar pita 15 MHz.

Menurut Hendri, penambahan spektrum akan menjadi bekal Telkomsel untuk terus mengakselerasi pengembangan infrastruktur jaringan seluler, seperti 4G/LTE dan 5G. Sekaligus membuka peluang lebih luas bagi seluruh lapisan masyarakat dalam mengoptimalkan berbagai potensi pada berbagai aspek kehidupan.

Modal dari Sumber yang tidak Halal

Jika ada dua pilihan hukum, maka Rasulullah SAW memilih hukum yang memudahkan selama pilihan tersebut bukan dosa.

SELENGKAPNYA

Elzatta Himpun Dana IPO Rp 170 Miliar

Dari IPO ini, Bersama Zatta Jaya berencana menambah 33 toko pada tahun depan.

SELENGKAPNYA

Bulog Jamin Ketersediaan Beras Operasi Pasar

Penyerapan gabah salah satunya difokuskan di Sulawesi Selatan.

SELENGKAPNYA