IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika

Resonansi

Kerukunan Beragama Digaungkan dari Bahrain

Fransiskus, Paus pertama yang berkunjung ke negara-negara Teluk. Hal menarik, Bahrain negara kecil.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Ada kesamaan Paus Fransiskus dan Grand Sheikh Al-Azhar Prof Dr Ahmad Muhammad Ahmad Thayyib. Keduanya getol mempromosikan kehidupan antarumat beragama yang lebih rukun, harmonis, toleran, dan saling menghormati.

Paus Fansiskus (85), pemimpin Gereja Katolik dengan sekitar 1,36 miliar pengikut. Ia Paus ke-266 sekaligus kepala negara Vatikan. Sejak terpilih pada 13 Maret 2013 menggantikan Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri, ia menjadikan ‘hubungan baik dengan umat Islam’ salah satu prioritas.

Sejumlah negara Islam, mayoritas berpenduduk Muslim, ia kunjungi, antara lain, Yordania, Palestina, Mesir, Turki, Maroko, Uni Emirat Arab, Irak, Kazakhstan, dan terakhir kunjungan empat hari di Bahrain, 3-6 November 2022.

Ia menyebut kunjungan ke negara-negara Islam untuk ‘membangun jembatan hubungan baik’ dengan umat Islam, yang tak banyak dilakukan paus-paus sebelumnya. Ia menggambarkan perjalanannya ke Bahrain sebagai ‘perjalanan di bawah panji dialog’.

 
Fransiskus juga menjalin ‘persahabatan’ dengan tokoh dan pemimpin Islam.
 
 

 

Fransiskus juga menjalin ‘persahabatan’ dengan tokoh dan pemimpin Islam. Di antaranya, Grand Sheikh Al Azhar Dr Ahmad Thayyib. Kedua pemimpin ini sering bertemu dan saling mengundang - di Vatikan, Al-Azhar  Abu Dhabi, dan di Manama, ibu kota Bahrain, dua hari lalu.

Sheikh Dr Ahmad Thayyib (76) dipercaya sebagai pemimpin tertinggi Al-Azhar sejak 2010. Salah satu agenda utamanya, mempromosikan moderasi Islam dan toleransi antarumat beragama, yang ia pandang akan membawa keharmonisan kehidupan berbangsa dan beragama.

Ia mengampanyekan gagasannya di berbagai belahan dunia, berbicara di depan parlemen negara-negara Eropa.

Pengaruh terbesarnya terlihat tatkala Sheikh Ahmad Thayyib tampil menjadi ikon Islam moderat di Barat. Ini sangat berpengaruh mengubah pandangan Barat terhadap Islam yang hitam putih akibat isu terorisme, menganggap Islam identik dengan ajaran kekerasan atau radikalisme.

Terutama sejak peristiwa serangan teroris ke gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York, AS pada 11 September 2001, yang menewaskan lebih dari 3.000 orang. Disusul munculnya kelompok teroris seperti Alqaidah, ISIS, dan lainnya.

 
Namun, bukan berarti Sheikh Ahmad Thayyib lunak terhadap pihak yang menyerang atau menjelekkan Islam dan umat Islam.
 
 

 

Namun, bukan berarti Sheikh Ahmad Thayyib lunak terhadap pihak yang menyerang atau menjelekkan Islam dan umat Islam. Misalnya kecaman Sheikh Al Azhar terhadap pelaku penghinaan Nabi Muhammad SAW lewat karikatur di Prancis.

Juga terkait sikap sewenang-wenang penjajah Zionis Israel terhadap bangsa Palestina, termasuk saat Yerusalem dijadikan ibu kota negara Yahudi itu.

Untuk mempromosikan pandangan Al-Azhar itu, Sheikh Thayyib merapikan dan mengaktifkan institusi-institusi di lembaga pendidikan dan dakwah itu. Antara lain lembaga riset Al-Azhar Majma’ al Buhuts al Islamiyah dan Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA).

Di luar Al-Azhar, Sheikh Ahmad Thayyib membentuk Majelis Hukama Musllimin (MHM), anggotanya ulama dari berbagai negara. MHM beberapa kali menggelar forum dialog internasional, melibatkan tokoh lintas agama. Termasuk tiga kali mengundang Paus Fransiskus.

Yakni konferensi perdamaian internasional di Kairo, Mesir pada 2017, konferensi antaragama di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada 2019, dan kini forum dialog di Manama, Bahrain selama empat hari pada 3-6 November.

Fransiskus, Paus pertama yang berkunjung ke negara-negara Teluk. Hal menarik, Bahrain negara kecil. Luas negara monarki ini hanya 780 km2, terkecil ketiga di Asia setelah Maladewa dan Singapura.

Jaraknya sekitar 23 km sebelah timur Arab Saudi, dihubungkan jembatan Raja Fahd. Dengan Qatar berjarak 50 km dan 200 km dengan Iran ke utara melintasi Teluk Persia. Penduduk Bahrain pada 2019 lalu sebanyak 1.566.993 jiwa.

Namun, seperti umumnya negara Teluk, penduduk aslinya hanya 46 persen, sisanya orang asing atau ekspatriat. Dari sisi agama, 70,3 persen Muslim, 14,5 persen Kristen, 15,2 persen memeluk agama lain.

Dari jumlah umat Islam itu, sebuah sumber menyebutkan 51 persen suni dan 49 persen syiah. Namun, New York Post menyebutkan, 65-75 persen syiah. Penduduk asli Bahrain yang beragama Kristen tak lebih dari 1.000 orang.

 
Dari agenda kunjungan Paus Fransiskus ke Bahrain, paling menarik pertemuannya dengan Sheikh Al Azhar Ahmad Thayib.
 
 

Namun, yang mengikuti misa yang dipimpin Paus Fransiskus di Stadion Nasional Bahrain pada Sabtu lalu, diperkirakan 30 ribu orang. Mereka ekspatriat dari berbagai denominasi Kristen, terutama Ortodoks, Injili, dan Katolik, termasuk 2.000 umat Kristiani yang datang dari Arab Saudi.

Dari agenda kunjungan Paus Fransiskus ke Bahrain, paling menarik pertemuannya dengan Sheikh Al Azhar Ahmad Thayib. Baik Fransiskus maupun Thayyib, percaya ‘ada tanggung jawab besar di pundak Islam dan Kristen untuk bekerja sama.

Mengutip pemimpin redaksi surat kabar ‘Voice of Al-Azhar’, Ahmed El-Sawy, keterbukaan Teluk terhadap umat Kristen menarik buat Paus Fransiskus. Sebab, kendati umat Kristen sedikit tetapi Teluk kawasan menarik bagi ekspatriat seluruh dunia, menjadikan aspek pastoral dari kunjungan Paus penting. Poin menonjol dalam pertemuan di Bahrain, menurut el-Sawy, adalah penyelesaian diskusi mereka tentang perdamaian dunia.

Juga bagaimana kerukunan umat beragama terus digaungkan. Pun seruan melestarikan bumi dan seisinya, dengan menuntut negara-negara besar mematuhi komitmen dan tanggung jawab mereka.

Dolar AS Diprediksi Terus Menguat

Penguatan dolar AS diprediksi terus berlanjut dan akan menekan nilai tukar berbagai mata uang, termasuk rupiah.

SELENGKAPNYA

'Pasien Covid-19 Berdatangan'

Para lansia dan orang yang belum pernah terkena Covid-19 rentan terinfeksi subvarian XBB.

SELENGKAPNYA