Komisioner Komnas HAM Mohammad Choirul Anam menunjukan potongan video saat memberikan keterangan pers terkait penyampaian hasil pemantauan dan penyelidikan Komnas HAM atas Tragedi Kemanusiaan Stadion Kanjuruhan di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Rabu (2/11/20 | Republika/Prayogi

Nasional

Tragedi Kanjuruhan Pelanggaran HAM

Komnas HAM menyebut, pelanggaran HAM terjadi karena penggunaan kekuatan berlebihan.

JAKARTA -- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan tragedi Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur, termasuk dalam pelanggaran HAM. Hal ini didasari investigasi mendalam yang dilakukan Komnas HAM sejak awal Oktober 2022.

"Peristiwa Kanjuruhan merupakan peristiwa pelanggaran HAM, terjadi akibat kesalahan tata kelola yang tidak menghormati norma keselamatan dan keamanan dalam penyelanggaran sepak bola dan terjadi excessive abuse of force," kata Komisioner Komnas HAM Choirul Anam dalam konferensi pers pada Rabu (2/11).

Komnas HAM menyebut, pelanggaran HAM terjadi karena penggunaan kekuatan berlebihan. Bahkan, penembakan gas air mata dilakukan ke tribun penonton dengan jumlah sangat besar. Berikutnya, terjadi pelanggaran hak hidup karena penggunaan gas air mata baik secara langsung maupun tidak langsung.

photo
Police officers fire tear gas during clashes between fans at a soccer match at Kanjuruhan Stadium in Malang, East Java, Indonesia, Saturday, Oct. 1, 2022. Panic following police actions left over 100 dead, mostly trampled to death, police said Sunday. - (AP Photo/Yudha Prabowo)

"Pelanggaran hak atas kesehatan. Banyak orang tiba-tiba luka atas gas air mata itu mengalami sesak napas, trauma, patah tulang. Memastikan bagaimana korban-korban yang potensial mengalami gangguan kesehatan secara permanen itu belum dipikirkan," ujar Anam.

Selanjutnya, Komnas HAM menyebut adanya pelanggaran hak atas rasa aman dalam tragedi Kanjuruhan. Komnas HAM menemukan pertandingan itu termasuk kategori berisiko tinggi. Namun, tidak ada langkah konkret terhadap status pertandingan dari Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). "Sehingga pada akhrinya menelan korban 135 orang meninggal dunia," kata Anam.

Kemudian, terjadi pelanggaran hak anak. Pasalnya, tragedi Kanjuruhan setidaknya menelan 38 korban jiwa yang masih berusia anak-anak. Ini belum ditambah jumlah korban anak yang luka-luka."Ini karena menonjolkan aspek bisnis daripada hak asasi manusia," kata Anam.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by AREMANIA (@aremafans)

 

Komnas HAM menyimpulkan, penembakan gas air mata menjadi alasan utama kematian korban. "Penembakan gas air mata merupakan penyebab utama korban meninggal dunia, luka, dan trauma," kata Anam.

Komnas HAM mengakui karakter dasar gas air mata memang tidak mematikan. Namun, dalam kondisi tertentu dapat menjadi penyebab kematian, seperti di tragedi Kanjuruhan di mana massa penonton berdesakan mencari jalan keluar dari kepulan asap gas air mata.

"Dapat dilihat secara langsung sebabkan kematian di pintu 13, asap masuk ke lorong di tengah kepanikan penonton," ujar Anam.

 

 

 

Jadi, diperkirakan gas air mata ditembakkan di stadion sebanyak 45 kali

 

BEKA ULUNG HAPSARA Komisioner Komnas HAM
 

 

Komisioner Komnas HAM lainnya, Beka Ulung Hapsara, mengatakan, pihaknya menemukan setidaknya 45 kali tembakan gas air mata dalam tragedi Kanjuruhan. Pihak yang menembakkan gas air mata tersebut adalah Brimob Polda Jawa Timur dan unit kepolisian Samapta Bhayangkara (Sabhara).

"Sebanyak 27 tembakan terlihat dalam video dan kemudian 18 lainnya terkonfirmasi terdengar suara tembakannya. Jadi, diperkirakan gas air mata ditembakkan di stadion sebanyak 45 kali," kata Beka.

Gas air mata pertama kali dilepaskan oleh polisi pada pukul 22.08 WIB. Lalu, menyusul 11 gas air mata ditembakkan ke arah lapangan bagian selatan beberapa detik kemudian. Bahkan, tembakan gas air mata tak berhenti pada pukul 22.11-22.15 WIB. "Setiap tembakan berisi satu sampai lima amunisi gas air mata," ujar Beka.

Jenis senjata yang digunakan teridentifikasi sebagai laras licin panjang. Lalu, amunisi yang dipakai yaitu selongsong kaliber 37 sampai dengan 38 milimeter, Flash Ball Super Pro 44 milimeter, dan anti-riot AGL kaliber 38 milimeter. 

Ribuan Aremania Tuntut Keadilan Tragedi Kanjuruhan

PSSI juga diminta melakukan revolusi secara menyeluruh terhadap sepak bola nasional

SELENGKAPNYA

Crisis Center Tragedi Kanjuruhan Masih Beroperasi

Pemain Arema FC mendapatkan pendampingan pulihkan kondisi psikologis pascatragedi Stadion Kanjuruhan.

SELENGKAPNYA

Komnas HAM Dalami Dugaan Penghentian Biaya Korban Kanjuruhan

Menko PMK mengatakan perawatan korban Tragedi Kanjuruhan masih menggunakan anggaran pemerintah.

SELENGKAPNYA