Pejuang republik dalam Perang Surabaya pada November 1945. | Istimewa

Kronik

Menjahit Ingatan Pertempuran Surabaya

Napak tilas dan kronologi pertempuran Surabaya

OLEH DADANG KURNIA, RONGGO ATUNGKORO

Surabaya, kota pahlawan pemudanya, rela berkorban surabaya, kota sejarah pemudanya, pantang menyerah...

KOES PLOES, SURABAYA, 1974

Jihad untuk Tanah Air, pekik takbir merdeka di tiap waktu, hingga tetes darah para syuhada telah diberikan Surabaya bagi sejarah bangsa ini. Mengenang peristiwa 10 November tak bisa dilepaskan dari sejumlah kenangan perang dari kota di ujung timur Pulau Jawa ini.

Petikan lirik milik grup band legendaris Indonesia, Koes Plus, itu pun mengantar kita pada nostalgia yang sama. Lirik yang menggambarkan seperti apa Surabaya tempo dulu, saat peristiwa penting dalam tali sejarah Indonesia pascakemerdekaan.

Buku sejarah telah banyak bertutur. Kala itu, rakyat Indonesia, khususnya pemuda, di wilayah Surabaya dan sekitarnya bersatu melawan sekutu yang memboncengi Belanda. Pertempuran berdarah yang kemudian tak sedikit memakan korban dari pihak sekutu dan rakyat Indonesia.

photo
Pasukan Inggris tiba di Surabaya pada 1 November 1945 - (istimewa)

Republika mengajak pembaca melakukan napak tilas ke beberapa lokasi yang berkaitan dalam peristiwa tersebut. Peristiwa yang salah satu harinya kini ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional. Hari yang terus diperingati setiap 10 November setiap tahunnya.

Perobekan Bendera Hotel Oranje (18-19 SEPTEMBER 1945)

Bendera Merah Putih di tiang bersejarah itu masih berkibar. Di ujung tiang putih, warna yang menjadi warna dominan hotel tersebut. Di bagian tembok hotel di bawah bendera itu terdapat plakat bertuliskan sejarah perjalanan hotel itu.

Hotel Majapahit berada di Jalan Tunjungan Nomor 65. Hotel ini sebelumnya bernama Hotel Yamato pada zaman kependudukan Jepang. Sebelumnya lagi pada zaman kependudukan Belanda, hotel ini menyandang nama Hotel Oranje, sebuah nama yang diambil dari warna kebanggaan Negeri Kincir Angin itu. Konon, nama Oranje juga diambil lantaran bangunan hotel juga dicat penuh warna oranye.

Di bagian dalam hotel, tepatnya di bagian lobi, terdapat foto-foto yang dipajang di segala penjuru dinding. Yang paling besar ada di bagian meja penerima tamu. Terpajang foto bangunan asli Hotel Oranje hasil potretan Kurkdjian L.

photo
Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato. - (istimewa)

"Ya kayak temen-temen itu selfie di tempat-tempat bersejarah itu cuma buat pamer, upload di media sosial, cari perhatian, kejar dari teman-temannya. Bukan karena merasa bangga akan tempat bersejarah tersebut," ujar Rizala Satria, seorang mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Rizala Satria, saat ditanyai Republika soal sejarah tersebut pekan lalu.

Soal peristiwa 10 November, mahasiswa asli Surabaya tersebut mengaku tidak mengingat lagi. "Yang saya masih ingat hanyalah perobekan bendera Merah Putih Biru menjadi bendera Merah Putih," kata mahasiswa jurusan komunikasi tersebut.

Pada pengujung September 1945, atau tepatnya dua bulan sebelum tentara sekutu membombardir Surabaya pada 10 November 1945, arek-arek Surabaya mulai curiga kala bendera triwarna Belanda berkibar di Hotel Oranje.

Dalam memoarnya "Pertempuran 10 November 1945", satu tokoh sentral peristiwa itu, Soetomo, mengisahkan ketegangan yang memuncak di Surabaya pada 18 September 1945. Biang keladi yang membuat suasana semakin panas itu adalah pria bernama WV Ch Ploegman dan Spit.

photo
Warga menyaksikan perobekan bendera Belanda yang berkibar di Hotel Majapahit saat teatrikal peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato sekarang Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (19/9). Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati peristiwa perobekan bendera Belanda menjadi bendera Indonesia pada 19 September 1945. - (ANTARA FOTO)

Tanpa alasan yang jelas, mereka mengibarkan bendera negaranya di atas Hotel Oranje. Bung Tomo, sapaan akrab Soetomo, yakin betul perbuatan itu telah direncanakan sebelumnya. Rakyat meramai, berkumpul, dan bersiap di sekitar hotel. Semakin lama semakin besar jumlahnya.

Mereka semua, tulis Bung Tomo, membawa tombak, keris, bambu runcing, golok, dan pedang yang berkilat-kilat di bawah sinar matahari pagi. "Si Tiga Warna melambai tertiup angin pagi, seolaholah mencoba mengukur hasrat rakyat yang tidak senang melihat lambaian bendera itu," ujar Bung Tomo menjelaskan.

Guru besar sejarah Universitas Negeri Surabaya, Prof Aminuddin Kasdi, menuturkan, pada 19 September 1945, rakyat semakin marah dan perkelahian tak terhindarkan. Tinju lawan tinju, lempar lawan lempar. Golok, pedang, dan senjata rakyat yang mereka bawa mulai digunakan.

Pertempuran awal di Kota Surabaya itu pecah. Hingga sebuah peristiwa heroik terjadi: perobekan bendera Belanda menjadi dwiwarna: Merah Putih di Hotel Oranje.

Merampas Senjata di Don Bosco (1 OKTOBER 1945)

Sekilas, gedung ini tampak tak menyimpan sebuah cerita heroik dalam runutan peristiwa pertempuran Surabaya. Sebaliknya, gedung yang terletak di Jalan Raya Tidar 115, masuk wilayah Surabaya Selatan, ini punya peranan penting.

Bangunan ini juga yang menjadi alasan mengapa pemuda Surabaya sanggup bertahan berpekan-pekan berkontak senjata dengan tentara Sekutu.

photo
Pejuang republik menuju Perang Surabaya pada November 1945. - (Istimewa)

Gedung Don Bosco didirikan pada 1927, diambil dari nama seorang pastor berkebangsaan Italia: Johanes Bosco. Saat berkunjung ke Don Bosco pekan lalu, Republika mendapati kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.

Seperti panti asuhan pada umumnya, Yayasan Don Bosco menghadirkan banyak fasilitas penunjang pendidikan, semisal tempat ibadah, aula untuk kegiatan besar, ruang latihan dan peralatan musik, serta ruang belajar dan rekreasi.

Ada Handono (50), yang setia menjaga keamanan aktivitas belajar mengajar di panti asuhan ini. Handono merupakan alumnus dari panti asuhan yang kemudian diberdayakan oleh yayasan. "Masih asli bentuknya," ujar alumnus Don Bosco tahun 1982 itu.

Sejarah mencatat drama perampasan senjata yang terjadi di gedung ini. Pascainsiden perobekan bendera itu, rakyat Surabaya semakin yakin, Belanda pasti datang. Apa yang harus para pemuda Surabaya lakukan? Disepakati bahwa senjatasenjata dari Jepang harus segera direbut. "Pada 21 September, ada rapat raksasa di Stadion Tambaksari untuk menggelorakan perjuangan perlawanan terhadap Belanda yang pasti datang," tutur Prof Aminuddin Kasdi.

Rakyat Surabaya juga semakin menyadari, untuk bisa mempertahankan diri dengan baik, keberadaan senjata dan alat untuk bergerak cepat menjadi syarat penting. Alhasil, kendaraan-kendaraan perang milik Jepang menjadi sasaran rakyat Surabaya. Pergerakan itu diawali beberapa orang pemuda dan anak kampung yang mencoba merebut kendaraan.

Pendiri Komunitas Roode brug Soerabaia, yang mendampingi Republika menapaktilasi sudut sejarah Surabaya, Ady Setyawan, menjelaskan, dalam usaha merebut persenjataan Jepang itu, rakyat Surabaya memang tidak langsung menuju ke gudang senjata. Awalnya, mereka merebut senjata dari tentara Jepang yang melakukan patroli.

photo
Pejuang republik menuju Perang Surabaya pada November 1945. - (Istimewa)

Barulah setelah itu, Ady menjelaskan, rakyat Surabaya menuju ke gudang senjata di panti asuhan Don Bosco. Gedung itu, kata dia, dialihfungsikan Jepang menjadi gudang senjata terbesarnya se-Asia Tenggara. "Ada sekitar 400 ribu pucuk senjata yang berhasil direbut," ungkap Ady.

Pada 1 Oktober 1945, senjata milik Jepang yang disimpan di sana berhasil diambil oleh arek-arek Surabaya yang dipimpin Bung Tomo, drg Moestopo, Inspektur Polisi Mohammad Yasin, dan lainnya. Bangunan yang ditetapkan menjadi cagar budaya pada 1996 itu sempat dijadikan markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Gajah Mada.

Sebanyak dua gerbong kereta penuh senjata dikirimkan untuk para pejuang di Jawa Tengah dan Jakarta. Ketika itu, senjata-senjata hasil rampasan dari Jepang juga disumbangkan dan diangkut ke luar kota.

Resolusi Jihad (22 OKTOBER 1945)

Aktivitas keagamaan menjadi rutinitas di gedung yang terletak di Jalan Bubutan VI Nomor 2, Surabaya, Jawa Timur. Dulu gedung ini dikenal dengan nama kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Oelama). Gedung yang kini berfungsi sebagai salah satu kantor PCNU Kota Surabaya itu belum berubah bentuk dari bangunan induknya. Saat ini di sekeliling gedung tua itu, ada tambahan tiga lanta.

Ketua PCNU Kota Surabaya Ahmad Muhibbin Zuhri menjelaskan, pada era revolusi, kantor itu menjadi markas perjuangan bagi para ulama. Ia juga jadi tempat mengumumkan Resolusi Jihad hasil rapat yang dilakukan konsul NU se-Jawa-Madura pada 22 Oktober 1945.

"Resolusi jihad itu intinya dua. Pertama, seruan kepada pemerintah untuk menyatakan sikap yang tegas terhadap sekutu. Kedua, supaya mengumumkan perang atau jihad perlawanan fisik kepada mereka," kata Muhibbin di biliknya di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, saat ditemui Republika.

photo
Salah satu dokumen Resolusi Jihad - (jejakislam.net)

Resolusi itu juga berbeda dengan Fatwa Ji had, yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asyari sebelumnya. Poin Fatwa Jihad ada tiga, yaitu wa jib hukumnya bagi Muslim yang berada di dalam radius sekitar 90 kilomenter, untuk melakukan perlawanan fisik melawan penjajah.

Kedua, apabila mati dalam pertempuran, matinya adalah mati syahid. Ketiga, siapa pun yang menjadi antek atau bekerja sama dengan sekutu, wajib hukumnya dibunuh. "Fatwa jihad itu dikeluarkan di Tebuireng, Jombang, yang kemudian dibawa ke Surabaya dan dibacakan pada rapat yang menghasilkan Resolusi Jihad," kata Muhibbin.

Fatwa Jihad itu kemudian menimbulkan girah spiritual atau keagamaan yang sangat besar. Ia jadi api yang membakar semangat juang. "Demikianlah sehingga terjadi pergolakanpergolakan fisik di tingkat lokal. Peristiwa 10 November itu bukan merupakan pertempuran tunggal, tapi didahului oleh suatu gerakan massa yang didorong oleh Fatwa Jihad itu," kata dia.

Sekutu Merapat Di Tanjung Perak (25-27 OKTOBER 1945)

Di Pelabuhan Tanjung Perak, bangunan Modderlust, tempat pemantauan kapal yang keluar masuk pelabuhan pada masa kolonial sudah tak tampak lagi wujudnya kini. Di lokasi pelabuhan bekas berdirinya gedung itu hanya terdapat sebuah monumen.

photo
Pasukan Inggris tiba di Surabaya pada 1 November 1945 - (istimewa)

Selain gedung Modderlust yang hanya tinggal monumen, memang tak banyak bangunan kuno yang ada di sana. Ketika Republika melihat-lihat dengan membawa foto Pelabuhan Tanjung Perak tempo dulu, sudah banyak hilang bangunan tua di kawasan itu.

Bangunan-bangunan yang ada di sana sudah banyak berbeda dibanding foto lawas yang menjadi pembanding. Ketika berta nya kepada petugas keamanan pelabuhan, mereka mengatakan hanya tinggal satu bangunan yang dipertahankan bentuknya, yaitu gedung yang saat ini menjadi Kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak Surabaya.

Bangunan yang berarsitektur khas zaman kolonial belanda itu terletak tak jauh dari Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara Pelabuhan dan berada di muara Kalimas. Tamu yang ingin masuk ke dalam wilayah gedung itu harus melewati dua pos penjagaan.

Republika harus berputar- putar lebih dulu sebelum menemu kan prasasti yang ditandatangani oleh Panglima Armada RI Laksamana Muda TNI Prasodjo Mahdi pada 1978. Dalam prasasti itu diterangkan, bangunan itu digunakan sebagai markas Serikat Pelayaran Indonesia (SPI) pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Letak prasasti itu ada di pojok muara Kali Mas. Dekat dengan pagar pembatas antara bangunan itu dan dermaga. Mungkin, prasasti itu tak akan terlihat jika pengunjung tak melihat gedung itu dari sisi depan.

photo
Pasukan Belanda beraksi dalam Perang Surabaya. - (istimewa)

Tak lama pascainsiden di Hotel Oranje, Brigjen A W S Mallaby membawa Brigade 49 yang membawa sekitar 6.000 personel pasukan Gurkha pada 25 Oktober 1945. Mallaby mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menggunakan kapal perang Inggris HMS Wavenley.

Mereka yang datang merupakan perwira- perwira Inggris dan prajuritnya dari Gurkha dan Nepal yang telah berpengalaman perang. Mereka mendapat tugas melucuti tentara Jepang dan menyelamatkan tawanan Sekutu. Rakyat dan Pemerintah Jawa Timur di bawah pimpinan Gubernur RMT A Suryo awalnya menolak kedatangan mereka.

Namun, dengan lobi yang dilakukan Mallaby, disepakati sejumlah perjanjian yang membuat Pemerintah Indonesia melunak. Diantaranya, Ingris berjanji tidak membawa angkatan perang Belanda, menjamin keamanan dan ketenteraman, membentuk kontak biro agar kerja sama dapat berjalan dengan baik, dan Inggris hanya akan melucuti senjata Jepang.

Namun, keesokan harinya tanggal 26 Oktober 1945, pasukan Sekutu kedapatan melanggar kesepakatan. Mereka melakukan penyergapan ke Penjara Kalisosok. Mereka membebaskan para tawanan Belanda, di antaranya adalah Kolonel Huiyer. Pengkhianatan ditambah dengan melakukan pendudukan kantor Pos Besar, gedung Internatio, dan objek vital lainnya di Surabaya.

Pada 27 Oktober, pukul 11.00 WIB, pesawat terbang AFNEI menyebarkan pamflet yang berisi perintah kepada rakyat Surabaya dan Jawa Timur untuk menyerahkan senjata. Pemuda Surabaya menolak dan kemudian terjadilah kontak senjata terbuka.

Pertempuran semakin meluas ke seluruh penjuru Surabaya. Tentara Sekutu berhasil dipukul mundur oleh arek-arek Surabaya, bahkan pimpinan pasukan Sekutu, Brigjen Mallaby, ditawan.

Di Gedung RRI, Pasukan Gurkha Dihabisi (28-29 OKTOBER 1945)

Rangkuman dari kisah kuno itu kini terpampang di bagian halaman depan gedung RRI yang sudah kembali dibangun dan diberi cat berwarna dominan biru. Di sebuah tugu yang menandakan lokasi di Jalan Pemuda Nomor 82-90, Genteng, Embong Kaliasin, Genteng, Kota Surabaya, itu sebagai tempat bersejarah dalam peristiwa 10 November 1945.

photo
Gedung RRI Surabaya, Jawa Timur. - (Republika/ Tahta Aidilla)

Ruslan Abdulgani menceritakan, RRI mulai diduduki Inggris melalui pasukan Gurkha pada siang hari 28 Oktober 1945. Pasukan Gurkha yang datang ke gedung RRI kurang lebih berjumlah 35 orang bersama dengan komandannya orang Inggris. Ketika itu, RRI selalu memutar lagu kebangsaan "Indonesia Raya" pada pembukaan dan penutupan siaran.

Hingga akhirnya arek Surabaya yang berada di sekitar gedung RRI dibuat meradang. Bentrokan tak terhindarkan. Namun, karena rakyat yang mengepung gedung itu tak memiliki senjata yang mumpuni, mereka menghubungi markas PRI, dan Polisi Istimewa untuk meminta bantuan.

Bentrokan berlangsung hingga keesokan harinya. Pada Senin pagi, 29 Oktober 1945, tembak-menembak di sana kembali ramai. Polisi Istimewa mengirimkan kendaraan panser dari markasnya lengkap dengan senjata dan tiga orang penumpangnya, Luwito, Wagimin, dan Sutrisno.

Wagimin dan kawan-kawannya memutuskan untuk membuka dan melemparkan jeriken bensin cadangan yang ada di dalam panser ke lantai gedung. Setelah melemparkan jeriken, Wagimin segera memindahkan pansernya yang berada di bagian depan gedung dan kemudian sebuah granat dilempar ke gedung RRI. Setelah granat meledak, api menyala. Gedung RRI terbakar hebat kala itu.

Pasukan Gurkha yang berada di dalam akhirnya keluar dan mengangkat tangannya. Tapi, rakyat Surabaya sudah marah bukan kepalang rekan seperjuangannya mati ditembaki. Pasukan Gurkha yang menyerah tadi dihabisi saat itu juga.

Upaya Lobi Sukarno (29 OKTOBER 1945)

Pada 27 Oktober 1945, setelah Mallaby melakukan perundingan dengan para pemimpin di Surabaya, Mayor Jenderal Hawthorn tanpa tedeng aling-aling di Jakarta mengeluarkan perintah yang justru bikin panas emosi pemuda Surabaya. Salah satunya adalah perintah untuk menjatuhkan pamflet atau selebaran dari atas kota.

photo
Poster meminta pasukan India yang tergabung dalam satuan Gurka menghormati kemerdekaan Indonesia dalam pertempuran Surabaya pada November 1945. - (Imperial War Museum (IMW))

Selebaran itu berisi perintah kepada rakyat Indonesia untuk menyerahkan semua senjata mereka. Jika tidak, mereka akan ditembak mati. Dalam selebaran itu tertulis, "siapa pun yang terlihat membawa senjata dan menolak untuk menyerahkannya pada tentara sekutu akan ditembak".

Mallaby mengaku tak mengetahui surat perintah itu. Namun, pasukan Inggris di Surabaya tetap memaksa rakyat Indonesia untuk menuruti perintah yang ada di selebaran Hawthorn.

Rakyat Surabaya yang geram kemudian melakukan perlawanan. Perlawanan yang berlangsung selama tiga hari hingga 29 Oktober 1945. Perlawanan yang begitu luar biasa sampai-sampai pihak Inggris merasa kewalahan dan kemudian meminta Presiden Sukarno untuk datang ke Surabaya.

Pada 29 Oktober 1945 sore, Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin tiba di Surabaya dengan menumpang pesawat militer Inggris. Sejarah mencatat, pertemuan Sukarno dan Mallaby terjadi di Gubernuran.

photo
Sukarno selepas melakukan lobi-lobi dengan pemimpin pasukan Inggris di Surabaya pada Oktober 1945. - (istimewa)

Pertemuan yang terjadi hingga malam itu, akhirnya dicapai kesepakatan yang tertuang dalam Armistic Agreement regarding the Surabaya-incident: a provisional agreement between President Soekarno of the Republic Indonesia and Brigadie Mallaby, Concluded on the 29 October 1945.

Di antara kesepakatan itu, yakni pamflet yang ditandatangani Mayjen Hawthorn dinyatakan tidak berlaku; Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan polisi diakui oleh Sekutu; seluruh Kota Surabaya tidak dijaga lagi oleh Sekutu kecuali kamp-kamp tawanan dijaga tentara Sekutu bersama TKR; serta untuk sementara waktu Tanjung Perak dijaga bersama TKR, polisi, dan tentara Sekutu untuk menyelesaikan tugas menerima obat-obatan untuk tawanan perang.

Perundingan di Gubernuran juga menyepakati nama-nama anggota Kontak Biro dari kedua belah pihak. Dari Inggris ada lima orang (Brigjen Mallaby, Kolonel LHO Pugh, Wing Commander Groom, Mayor M Hudson, dan Kapten H Shaw). Sementara Indonesia sembilan perwakilan (Residen Sudirman, Doel Arno wo, Atmaji, Mohammad, Soengkono, Soeyono, Koesnandar, Roeslan Abdulgani, dan TD Kundan selaku juru bahasa).

Tewasnya Mallaby (30 OKTOBER 1945)

Ada satu titik di dekat Jembatan Merah, Kota Surabaya. Di titik tersebut, saat ini berdiri pos polisi. Di seberang pos polisi itu, berdiri sebuah gedung. Tampak berdebu meski cat gedung berwarna putih dan merah masih terlihat belum pudar.

Sejak lama kosong, tak tampak lagi kegiatan di gedung yang dahulu dikenal dengan nama Gedung Internatio tersebut. Cat dasar berwarna putih dengan list merah, gedung ini terlihat mencolok jika dibandingkan gedung di sekitarnya.

photo
Puing mobil Brigadir Mallaby yang hancur selepas kontak tembak dengan pejuang Indonesia. - (Imperial War Museum (IMW))

Di dekat plakat berisi sejarah gedung itu yang terletak di bagian muka gedung terdapat coretan dinding. Tiap pintu masuknya ditutup dengan terali. Situasi itu membuat seakanakan gedung itu tak diurus.

Sebelum dikuasai oleh tentara Inggris, gedung yang terletak di Jalan Rajawali dekat Jembatan Me rah itu menjadi salah satu tempat pengelolaan per dagangan pada masa penjajahan Belanda. Aslinya, gedung ini bernama Internationale Credieten Handelvereeniging Rotterdam. yang rampung pada 1931.

Satu hari pada 30 Oktober 1945, para anggota Kontak Biro iring-iringan menuju Gedung Internatio membawa pesan menyudahi pertempuran. Namun, Brigjen AWS Mallaby ditahan tak boleh masuk oleh rakyat Surabaya dan menugaskan kapten-kaptennya bersama dengan pimpinan TKR Jenderal Mayor Muhammad Mangundiprojo. Mobilnya tak bisa bergerak dari lokasi yang saat ini menjadi tempat berdiri pos polisi.

"Ternyata pihak Inggris membuka tembakan. Dari Gedung Internatio mereka menembak ke arah kerumunan massa. Karena tak siap, korban langsung bergelimpangan di Jembatan Merah," ungkap Ketua komunitas Sejarah Roodebrug Soerabaia, Ady Setiawan.

photo
Tentara Inggris mengecek puing mobil Brigadir Mallaby yang hancur selepas kontak tembak dengan pejuang Indonesia. - (Imperial War Museum (IMW))

Itu juga yang kemudian membuat pimpinan tentara Inggris, Mallaby, tewas. "Ada pemuda di bawah usia 20 tahun melepaskan beberapa tembakan dari jarak dekat ke arah Mallaby yang berada di dalam mobil," kata Ady.

Namun, belum jelas apakah tembakan anak itu membunuh langsung Mallaby atau tidak. Tapi, menurut Ady dan juga Aminuddin, yang jelas Mallaby tewas karena ledakan yang kemudian membakar mobil yang ditumpanginya.

Semangat Bung Tomo (10 NOVEMBER 1945)

Ada sebuah rumah di persimpangan Jalan Mawar, Surabaya. Rumah tua itu kini tertutup seng hijau di sekelilingnya. Ketika disambangi Republika, seorang petugas keamanan menyapa.

"Ini baru mulai dibangun dua hari yang lalu. Mau dibangun ulang. Kondisi rumah kemarin kan sudah parah, jadi mau dipugar lagi," ujar Enang kepada Republika di depan pos keamanannya, Jumat (3/11).

Pada seng berwarna hijau itu ditempel gambar desain bangunan. Bentuknya berbeda dengan rumah asli. Hanya bagian atapnya yang terlihat sama. Para pekerja tampak sedang melakukan proses pembangunan di balik seng.

Dulu, Bung Tomo dan rekan-rekannya menjadikan tempat itu sebagai studio pemancar Radio Barisan Pemberontakan Republik Indonesia (RBPRI). Selama melakukan siaran, Bung Tomo kerap berpindah-pindah agar tak ketahuan pihak musuh. Menjelang 10 November 1945, Bung Tomo sudah mulai menggunakan rumah tersebut.

"Dia pidato, sampai Ketut Tantri ikut aktif itu ya di Mawar itu. Sampai perang belasan November itu masihlah di sana, sampai akhirnya tempat itu dihujani bom mengenai bagian kamar mandi belakang dan memakan korban satu anggotanya asal India," kata pendiri Komunitas Roodebrug Soerabaia, Ady Setyawan.

Ketut Tantri merupakan warga Amerika Serikat yang pro terhadap RI. Dia merupakan tandem dari Bung Tomo. Jika Bung Tomo berpidato menggunakan bahasa Indonesia, Ketut Tantri berpidato menggunakan bahasa Inggris dan kemudian dipancarkan. Berkat Ketut Tantri, pidato-pidato Bung Tomo dapat diterima dunia internasional.

Titik-titik Perang (9-27 NOVEMBER 1945)

Usai tewasnya AWS Mallaby di Jembatan Merah, Inggris mengatakan pihak Indonesia telah melanggar gencatan senjata. Hingga akhirnya mereka mengeluarkan ultimatum kepada pemerintah daerah RI dan rakyat Surabaya.

Ultimatum itu dikeluarkan oleh Mayor Jenderal EC Mansergh yang menjabat sebagai pengganti Mallaby. Surat ultimatum itu intinya berisikan perintah dari Inggris agar Indonesia menyerahkan seluruh senjatanya. Jika tidak, Surabaya akan dihancurkan, baik lewat darat, udara, dan laut.

Secara diam-diam pula, Divisi 5 Inggris yang berkekuatan 24 ribu tentara di bawah komando Mayjend RC Mansergh mendarat di Surabaya. Selain diperkuat oleh sisa Brigade 49, pasukan Inggris itu juga dilengkapi dengan pesawat tempur Thunderbolt, Mosquito, dan tank kelas Sherman, yang merupakan persenjataan tercanggih saat itu.

Pada malam di 9 November 1945, Gubernur Suryo berpidato yang menjadi jawaban tegas menolak ultimatum tersebut. Benar saja, tanggal 10 November 1945 Inggris menepati janjinya dengan membombardir Surabaya, baik melalui laut, darat, maupun udara.

TUGU PAHLAWAN

Sujoko (47), warga Kelurahan Ngaggel rejo, Kecamatan Wonokromo, mengatakan , hanya sekilas lewat di Tugu Pahlawan . Ia di sana tak lain karena tempat tersebut dipenuhi masyarakat yang sekadar ingin beolahraga atau hanya jalan-jalan mengisi waktu libur bersama keluarga.

Sujoko menjelaskan, yang diketahuinya dari peristiwa di Tugu Pahlawan sebatas adanya perlawanan yang dilakukan oleh para pahlawan terhadap para penjajah. "Ya, itu Mas, pertempuran antara para pahlawan melawan para penjajah yang menggunakan bambu runcing itu," kata dia.

Tugu Pahlawan sedianya salah satu lokasi yang kemudian dalam perang selama tiga minggu di Surabaya memakan korban yang tidak sedikit dari pihak Indonesia. Titik perang yang paling banyak memakan korban ada di lokasi tersebut, tepatnya di depan Gubernuran.

Tugu Pahlawan dibangun di atas runtuhan Kantor Raad Van Justititie atau Gedung Pengadilan Tinggi pada masa penjajahan Belanda. Tujuan pembangunan monumen ini pun mengenang sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan.

Bahkan, di Museum 10 November, kita masih dapat melihat beberapa peninggalan milik Bung Tomo dan bendera laskar pejuang ketika pertempuran bersejarah berlangsung. Salah satu peninggalan yang menjadi favorit adalah mobil kuno yang pernah dipakai Bung Tomo. 

photo
Pemain dari Front Kolosal Soerabaja menampilkan drama teatrikal pertempuran di Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Ahad (20/3/2022). Pementasan drama teatrikal pertempuran yang berjudul Alap-Alap Simokerto Dari Sektor Timur tersebut sebagai sarana edukasi sejarah bagi masyarakat. - (ANTARA FOTO/Didik Suhartono/YU)

ALUN-ALUN CONTONG

Lokasi kedua berada di Alun-Alun Contong. Di sana juga didirikan sebuah monumen pengingat atas peristiwa tersebut. Di sana, ketika perang, pertahanan Indonesia dibombardir habis-habisan.

Bombardir tersebut sampai membuat Palang Merah ketika itu hanya bisa melihat orang-orang yang bergelimpangan dengan usus terburai, tangan dan kaki putus, jalan penuh genangan darah. Mereka tidak bisa apa-apa, hanya bisa sembunyi di selokan karena artileri itu tidak habis-habisnya menyerang. 

GEDUNG SIOLA

Pertempuran hebat juga terjadi di Gedung Siola. Gedung yang terletak di perempatan jalan menuju Jalan Tunjungan itu menjadi saksi sejarah pengorbanan pemuda bernama Madun untuk menyelamatkan pejuang lainnya.

Lokasi itu juga dijadikan sebagai pertahanan oleh para pejuang Indonesia. Pasukan infanteri Inggris terus mencoba masuk, tapi terus-menerus gagal. Akhirnya, mereka memanggil kavaleri dan tank-tanknya.

Di sana pejuang Indonesia hanya memiliki satu tank dari TKR Laut. Tank yang kemudian berhasil dilumpuhkan oleh pesawat terbang Inggris. 

photo
Pekerja mengecat gedung Siola, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (4/4/2019). - (ANTARA FOTO)

BENTENG KEDUNG COWEK

Selain tiga lokasi tadi, pertempuran di barisan pertahanan Indonesia terjadi di Benteng Kedung Cowek. Benteng itu terletak tak begitu jauh dari Jembatan Suramadu.

Ketika terjadi perang, dari benteng itu para pejuang Indonesia jual beli tembakan dengan kapal-kapal perang Inggris. Di sana memang terdapat meriam-meriam raksasa yang dioperasikan oleh pejuang bekas pasukan Heiho.

Berdasarkan kesaksian dari pihak Indonesia dalam catatan sejarah, ada sekitar 200 jenazah yang ditinggalkan di sana tanpa sempat dievakuasi. Itu karena pihak Inggris gencar mengirimkan tembakan artilerinya dan akhirnya menguasai benteng itu pada 27 November 1945.

"Saat ini kondisi benteng itu mangkrak. Tidak ada monumen, tidak ada penanda. Tapi, bekasbekas lubang tembakan itu masih ada di dinding-dinding benteng," ungkap Ady. 

Disadur dari Harian Republika edisi 10 November 2017

Wapres: RI dan UEA Kembangkan Islam Moderat

Indonesia menjadi contoh dalam memperkuat perdamaian dan toleransi di dunia.

SELENGKAPNYA

Proyek LRT Dikhawatirkan Makin Lama Mangkrak

Proyek LRT yang telah dibangun dari Velodrom-Kelapa Gading bisa terbengkalai.

SELENGKAPNYA

Pembunuh Anak di Depok Pakai Narkoba

Perilaku tersangka seusai melakukan tindakan ini disebut saksi mata memang seperti orang linglung

SELENGKAPNYA