Warga antre membeli sembako saat pasar murah di halaman Disperindag Yogyakarta, Selasa (18/10/2022). Pasar murah ini untuk mengendalikan inflasi di Yogyakarta. | Republika/Wihdan Hidayat

Kabar Utama

Inflasi Pangan Melandai

Inflasi Indonesia lebih terkendali dibandingkan negara-negara G-20. 

JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi pada Oktober 2022 sebesar 5,71 persen dibandingkan periode sama tahun lalu (year on year/yoy). Pada bulan lalu, inflasi pangan tercatat melandai, namun inflasi sektor energi terus menunjukkan tren peningkatan. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto menjelaskan, tingkat inflasi tahunan pada Oktober lebih rendah dibandingkan September yang mencapai 5,95 persen (yoy). Adapun secara bulanan, Indonesia mengalami deflasi 0,11 persen. Deflasi  disebabkan adanya penurunan sejumlah harga komoditas pangan pokok.

Setianto menyampaikan, inflasi pangan tahunan pada Oktober tercatat sebesar 7,04 persen, menurun dari September yang menyentuh 8,69 persen. Di Iinflasi pangan pun hanya memberikan andil terhadap inflasi umum sebesar 1,27 persen.  

Sebaliknya, inflasi energi terus menjngkat. Pada Oktober 2022, inflasi energi tembus 16,88 persen atau naik dari bulan sebelumnya yang sebesar 16,48 persen dan memberikan andil 1,54 persen. 

"Setelah mengalami lonjakan tajam bulan lalu, tekanan inflasi komponen energi pada Oktober terus berlanjut," ujar Setianto dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (1/11).

Setianto menjelaskan, tingginya inflasi energi tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menaikkan harga energi, terutama bahan bakar minyak (BBM) sejak 3 September 2022. Saat itu, harga Pertalite naik 30,72 persen, solar naik 32,04 persen, dan Pertamax meningkat 16 persen. Kemudian, pada 1 Oktober 2022, harga Pertamax diputuskan turun 4,14 persen. 

Alhasil, harga bensin secara keseluruhan pada Oktober masih mengalami inflasi, hingga mencapai 32,62 persen atau naik dari September sebesar 31,9 persen. 

Selain bensin, harga bahan bakar rumah tangga juga mengalami inflasi 16,9 persen, naik tipis dari sebelumnya 16,51 persen. Setianto mengatakan, inflasi ini terutama bersumber dari harga gas elpiji nonsubsidi yang dinaikkan. 

"Inflasi harga pangan bergejolak (volatile foods) sudah mulai menurun yang disebabkan penurunan harga beberapa komoditas, namun inflasi harga yang ditetapkan pemerintah (administered prices) masih cukup tinggi," ujarnya. 

photo
Perkembangan Indeks Harga Konsumen Oktober 2022 - (bps)

Adapun, Setianto menambahkan, komoditas lainnya yang juga masuk dalam kelompok administered prices dan mengalami inflasi tinggi yakni tarif angkutan udara dan angkutan dalam kota. Dua komoditas itu masing-masing mengalami inflasi 42,99 persen dan 25,75 persen. 

Meski demikian, ia menilai inflasi Indonesia dibandingkan negara-negara G-20 masih cenderung terkendali.  Ia mencontohkan, inflasi di Turki pada bulan lalu mencapai 83,5 persen, inflasi pangan tembus 93 persen, dan inflasi enegi 146 persen. Di Inggris, inflasi mencapai 8,8 persen, inflasi pangan 14,6 persen, dan inflasi energi 49,4 persen. 

Meski inflasi pangan melandai, sejumlah harga sejumlah komoditas seperti  beras, tempe dan tahu masih terus meningkat. Setianto menjelaskan, selama Oktober 2022, beras mengalami inflasi 1,13 persen karena kenaikan harga beras masih berlanjut. Dengan kenaikan itu, beras turut memberi andil inflasi sebesar 0,34 persen. 

"Rata-rata harga beras bulan Oktober sebesar Rp 11.850 per kg atau naik dari periode September sebesar Rp 11.720 per kg," kata Setianto. 

Harga tempe juga terus meningkat menjadi Rp 12.667 per kg, naik tipis dari bulan sebelumnya Rp 12.421 per kg. Begitu pula dengan harga tahu yang naik menjadi Rp 11.438 per kg dari Rp 11.330 di bulan September lalu. 

 “Adapun komoditas yang menyumbang deflasi adalah cabai merah, cabai rawit, daging ayam ras, dan telur ayam ras yang mengalami penurunan harga," katanya. 

Ekonom dari Institute For Demographic and Poverty Studies (Ideas) Askar Muhammad menilai akan terdapat penurunan konsumsi masyarakat dalam menyikapi tren inflasi yang tinggi. Ia menilai, konsumsi akan diprioritaskan untuk kebutuhan pokok.

"Akan ada realokasi konsumsi yang misalnya beli properti, kendaraan, atau furniture akan beralih ke konsumsi non durable dan memprioritaskan beli makanan saja," kata Askar, Selasa. 

Askar mengatakan, subsidi upah dan bantuan langsung tunai sebesar Rp 600 ribu yang diberikan pemerintah baru-baru ini memang cukup membantu masyarakat. Hanya saja, hasil kajian Ideas menilai besaran bantuan yang ideal minimal Rp 1,2 juta selama empat bulan. 

"Jadi jika ditanya, apakah masyarakat tahan atau tidak dengan inflasi tinggi? Ya antara tahan dan tidak tahan," ujarnya. 

Terkait deflasi Oktober terhadap September, Askar menilai ada tiga faktor penyebab. Pertama, kata Askar, tarif transportasi angkutan darat perkotaan yang langsung di bawah pemerintah daerah dijaga untuk tidak naik dengan memberikan subsidi transportasi melalui APBD. 

Kedua, gerakan tanam pangan cepat yang cukup efektif untuk mengurangi kelangkaan pangan dan membantu masyarakat memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Ketiga, efek musiman dari melandainya harga pangan, terutama komoditas cabai.

Menurut yang harus diwaspadai ke depan soal indeks harga produsen. Ia menilai, tren harga barang di level produsen masih cenderung ditahan dan belum dilepaskan sesuai keekonomian kepada konsumen. Langkah itu dilakukan mengingat daya beli masyarakat yang belum pulih seutuhnya. 

Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah memperhatikan beberapa permasalahan yang dihadapi rakyat. Permasalahan-permasalahan tersebut kerap dikeluhkan masyarakat kepada anggota dewan yang turun ke lapangan di masa reses. 

photo
Warga usai membeli sembako saat pasar murah di halaman Disperindag Yogyakarta, Selasa (18/10/2022). Pasar murah ini dalam rangka operasi pasar untuk mengendalikan inflasi di Yogyakarta. - (Republika/Wihdan Hidayat)

“Antara lain kenaikan harga kebutuhan pokok, kenaikan harga bahan bakar minyak, pupuk subsidi untuk petani dan pungutan liar dalam pelayanan publik,” kata Puan saat membuka Masa Persidangan II Tahun Sidang 2022–2023, Selasa (1/11). 

Puan mengatakan, terganggunya rantai pasok global sebagai dampak konflik Rusia-Ukraina, telah menimbulkan guncangan hebat. Utamanya di sektor pangan dan energi yang pada akhirnya mengakselerasi laju inflasi. 

Di Bawah Enam Persen

Pemerintah optimistis laju inflasi nasional dapat terus terkendali hingga akhir tahun. Kenaikan harga barang dan jasa diharapkan bisa dijaga di bawah enam persen (yoy).

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, tantangan pengendalian inflasi akan terdapat pada Desember karena ada momentum Natal dan tahun baru. "Tapi kita usahakan terus agar kembali ke level normal. Mudah-mudahan kita bisa tahan di bawah enam persen secara tahunan," kata Suahasil di kantor Kementerian Keuangan, Selasa (1/11).

photo
Warga usai membeli sembako saat pasar murah di halaman Disperindag Yogyakarta, Selasa (18/10/2022). - (Republika/Wihdan Hidayat)

Ia mengatakan, pemerintah akan memperhatikan ketersediaan bahan pangan, seperti beras, cabai, bawang, dan produk hortikultura lain. Stok pangan harus terus dipastikan agar dapat mencukupi kebutuhan masyarakat sehingga harganya bisa stabil dan tidak mengalami kenaikan signifikan.

Suahasil menyebut inflasi pada Oktober 2022 yang mencapai 5,71 persen secara tahunan telah sesuai dengan proyeksi pemerintah. Inflasi juga akan terus dijaga stabil ke depan sebagai fondasi perekonomian nasional dalam menghadapi kondisi perekonomian global yang diliputi ketidakpastian.

“Perekonomian global kan ada turbulensi, tetapi bagaimana perekonomian kita, inflasi masih bisa stabil, itu yang kita inginkan,” ucapnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi mencapai 5,71 persen secara tahunan pada Oktober 2022 atau lebih rendah dibandingkan inflasi secara tahunan pada September 2022 yang sebesar 5,71 persen.

Penurunan laju inflasi tersebut juga sesuai proyeksi Bank Indonesia. Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo pada Senin (31/10) mengatakan, survei yang terakhir dilakukan BI memproyeksikan inflasi indeks harga konsumen Oktober 2022 akan turun ke level 5,8 persen.

BI juga telah memproyeksikan adanya penurunan inflasi pangan pada Oktober. Berdasarkan data BPS, inflasi pangan Oktober 2022 sebesar 7,04 persen (yoy), lebih rendah dari September yang sebesar 8,69 persen. Menurut Dody, penurunan inflasi pangan merupakan hasil dari upaya bersama dari pusat dan daerah untuk mengendalikan harga-harga komoditas pangan.

Pemerintah daerah belakangan ini gencar melakukan program pengendalian inflasi, yang salah satunya dilakukan dengan menggelar pasar pangan murah. Pemerintah Kota Singkawang, misalnya, pada Selasa (1/11) menggelar pasar pangan murah di setiap kecamatan.

"Gelar Pangan Murah ini dilakukan untuk pengendalian laju inflasi pangan dan menyediakan aksesibilitas dalam pembelian bahan pangan murah untuk masyarakat di Kota Singkawang," kata Kepala Dinas PKPP Pemkot Singkawang, Dwi Yanti, Selasa.

photo
Warga berbelanja kebutuhan saat berlangsungnya pasar murah di GOR Tanah Abang, Jakarta, Selasa (25/10/2022). - (Prayogi/Republika.)

Dwi Yanti menjelaskan, terdapat tujuh jenis bahan pangan yang disediakan pemerintah, di antaranya beras, minyak goreng premium, bawang merah, bawang putih, gula pasir, telur dan daging ayam. Menurut dia, pasar pangan murah digelar dengan merangkul mitra tani dan peternak lokal, sehingga masyarakat dapat memperoleh dengan harga lebih murah dari harga normal di pasaran.

"Dinas ada kerja sama dengan petani. Untuk komoditas telur dan ayam, kita juga bekerja sama dengan peternak lokal. Maka dari itu, ada beberapa bahan pangan yang diperjualbelikan dengan perbedaan harga lebih murah sekitar 25-30 persen dibandingkan harga normal di pasaran," katanya.

Pemerintah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menyatakan telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan inflasi, meski inflasi Bogor terbilang aman atau berada di zona hijau. Pelaksana tugas (Plt) Bupati Bogor Iwan Setiawan mengatakan, beberapa langkah tersebut adalah dengan menyegerakan belanja negara, menyalurkan bantuan sosial, hingga menginventarisasi kelangkaan bahan-bahan pokok.

photo
Warga berbelanja kebutuhan saat berlangsungnya pasar murah di GOR Tanah Abang, Jakarta, Selasa (25/10/2022). Pemprov DKI Jakarta menggelar pasar murah di lima wilayah kota administrasi mulai 24-29 Oktober 2022 guna memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus meringankan beban masyarakat ketika harga kebutuhan pokok meningkat. - (Prayogi/Republika.)

"Kita juga mengalokasikan Dana Desa untuk ketahanan pangan sesuai arahan dari (pemerintah) pusat. Inventarisasi kelangkaan bahan pokok juga dilakukan, misalnya beras, minyak goreng, cabai, itu harus diantisipasi," kata Iwan.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Bogor akan memberikan subsidi untuk membantu operasional angkutan logistik bahan-bahan pokok. Tujuannya, agar harga kebutuhan pokok yang sampai ke Bogor tidak mengalami kenaikan signifikan. "Nanti operasionalnya kita subsidi. Misal beli bawang di Brebes, supaya sampai Bogor harganya tidak naik tinggi," kata Iwan.

Menurut dia, Pemerintah Kabupaten Bogor rutin melakukan evaluasi setiap tiga hari sekali, khusus membahas langkah antisipasi lonjakan inflasi. Iwan menyebutkan, khusus mengenai dana pengendalian inflasi sekitar Rp 14 miliar yang disisihkan dua persen dana alokasi umum (DAU), akan direalisasikan pada pertengahan November 2022.

Optimalisasi Peluang KPR Syariah di Tengah Gejolak

BTN berencana melepas UUS kepada BSI paling lambat pada Juli 2023.

SELENGKAPNYA

BI Proyeksikan Inflasi Melandai

Kenaikan harga gabah disebabkan hasil panen yang optimal.

SELENGKAPNYA

PLN Pastikan Keandalan Listrik Saat G-20

Kementerian PUPR mengungkapkan, semua peningkatan infrastruktur untuk persiapan KTT G-20 telah selesai.

SELENGKAPNYA