Warga mengambil air di tempat penampungan air hasil program wakaf Dompet Dhuafa di Dusun Ngasem, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Selasa (25/10/2022). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Opini

Membangun Peradaban Wakaf

Bayangkan jika aset strategis dalam berbagai aspek kehidupan dimiliki umat melalui skema wakaf.

MUHAMMAD SYAFIIE EL-BANTANIE, Praktisi dan Konsultan Wakaf Dompet Dhuafa dan Asosiasi Nazhir Indonesia

Tantangan terbesar perwakafan Indonesia adalah membangun peradaban wakaf. Ketika kita mampu menghadirkan layanan berbasis wakaf dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, pada titik itulah kita boleh menyebut telah merealisasikan peradaban wakaf.

Singkatnya, wakaf menjadi gaya hidup masyarakat. Membangun peradaban wakaf terinspirasi surah al-Baqarah ayat 276, yang menerangkan, Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Kata kuncinya, “menyuburkan sedekah.”

Kita membangun ekosistem yang membuat sedekah tumbuh subur, kemudian mengonversinya menjadi sistem peradaban sedekah (baca: wakaf). Dalam konteks ini, sedekah terbagi dua, yaitu sedekah wajib dan sunah.

Sedekah wajib disebut zakat (QS 9: 60), sementara sedekah sunah ada infak dan wakaf. Infak adalah sedekah terputus, sedangkan wakaf adalah sedekah yang mengalir. Dalam konteks membangun peradaban, wakaf perlu menjadi perhatian serius.

 

 
Zakat dan infak solusi kemiskinan, wakaf solusi kesejahteraan. Wakaf memiliki keunikan dari sisi kesinambungan.
 
 

 

Zakat dan infak solusi kemiskinan, wakaf solusi kesejahteraan. Wakaf memiliki keunikan dari sisi kesinambungan. Konsep mendasar wakaf, tahan pokoknya dan alirkan hasilnya. Artinya, aset wakaf harus sustainable agar menghasilkan kebermanfaatan terus-menerus.

Bayangkan jika aset strategis dalam berbagai aspek kehidupan dimiliki umat melalui skema wakaf. Dalam bidang pendidikan, umat memiliki sekian banyak sekolah, madrasah, pesantren, dan kampus berbasis wakaf.

Dalam bidang kesehatan, umat memiliki banyak klinik dan rumah sakit berbasis wakaf. Dalam bidang ekonomi, umat mempunyai perusahaan, hotel, gedung perkantoran, dan mal berbasis wakaf. Demikian seterusnya.

Apa yang akan terjadi? Kehidupan masyarakat terlayani dengan baik. Masyarakat kurang mampu, bisa mengakses berbagai layanan berbasis wakaf secara gratis. Kehidupan masyarakat menjadi berbiaya rendah.

 

 
Dalam bidang kesehatan, umat memiliki banyak klinik dan rumah sakit berbasis wakaf.
 
 

Selain itu, masyarakat kurang mampu memperoleh manfaat lainnya, seperti bantual modal usaha yang dibiayai dari surplus wakaf. Mengapa bisa demikian? Karena surplus dari berbagai aset wakaf sepenuhnya mengalir kepada umat.

Pada akhirnya, terwujud distribusi kesejahteraan secara adil. Itulah pentingnya kita membangun peradaban wakaf.

Langkah strategis

Setidaknya, ada tiga langkah strategis yang perlu dieksekusi serius dan berkesinambungan. Pertama, melakukan edukasi wakaf terus-menerus kepada masyarakat. Kita semua sudah mengetahui indeks literasi wakaf nasional masih rendah.

Pertanyaannya, apa langkah strategis yang kita rancang untuk meningkatkan indeks literasi wakaf nasional? Seharusnya, data itu menjadi baseline bagi kita merumuskan peta jalan edukasi dan literasi wakaf.

 

 
Siapa saja pemangku kepentingan yang harus terlibat? Berapa anggaran yang perlu disiapkan?
 
 

 

Siapa saja pemangku kepentingan yang harus terlibat? Berapa anggaran yang perlu disiapkan? Kita tuangkan secara tertulis dan jadikan agenda bersama untuk mengeksekusinya.

Ketika masyarakat teredukasi dengan baik, diharapkan berdampak langsung pada peningkatan penghimpunan wakaf secara nasional. Saat penghimpunan wakaf meningkat, lebih besar lagi dana wakaf yang bisa dikonversi menjadi aset wakaf strategis.

Kedua, kompetensi dan profesionalitas lembaga nazir. Kita harus berani secara jujur mengevaluasi kelembagaan nazir, baik secara tata kelola kelembagaan maupun kapasitas SDM. Pada dua aspek ini kita masih harus berbenah.

Berapa banyak lembaga nazir yang sudah by system tata kelolanya dan memiliki peta jalan pengembangan wakaf jangka panjang? Apakah SDM lembaga nazir tersertifikasi sebagai nazir profesional? Masyarakat semakin percaya jika lembaga nazir menunjukkan perfoma excellent.

 
Lembaga nazir yang kompeten, mampu menghasilkan terobosan dalam pengelolaan dan pengembangan wakaf. 
 
 

Lembaga nazir yang kompeten, mampu menghasilkan terobosan dalam pengelolaan dan pengembangan wakaf. Ketika literasi masyarakat soal wakaf baik maka pertanyaan kuncinya, apa yang ditawarkan lembaga nazir kepada masyarakat?

Maka itu, desain besar dan peta jalan, memberikan gambaran tujuan besar dan tahapan yang ingin dicapai, yaitu peradaban wakaf. Dengan demikian, aspek why peradaban wakaf terkuatkan. Dari sini, diharapkan masyarakat tergerak berwakaf secara berkesinambungan.

Ketiga, regulasi perwakafan. Badan Wakaf Indonesia yang berfungsi sebagai regulator, mesti merancang regulasi yang mampu mengembangkan perwakafan, tetapi tetap mengacu koridor syariah dan peraturan perundangan di Indonesia.

Misalnya, aturan mengenai kebolehan lembaga nazir mengelola wakaf uang secara langsung, tanpa harus melalui Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKSPWU) menjadi isu penting yang perlu dikaji komprehensif dari berbagai perspektif.

Output-nya, revisi UU Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf menjadi lebih progresif membangun perwakafan di Indonesia.

Tangis Haru Sambut Kedatangan Jenazah Novita di Rumah Duka

Ade Sutisna sempat menyambut dan memeluk Robert Brazil Jr

SELENGKAPNYA

Dilema Spin Off dan Komitmen Pengembangan UUS

Sinergi perbankan menjadi salah satu solusi mengatasi tantangan spin off.

SELENGKAPNYA

Literasi Keuangan Perlu Ditingkatkan

Pada September 2022, dana nasabah anak usia dini BSI meningkat 22,96 persen (yoy).

SELENGKAPNYA