Emile Zehnder mulanya tertarik pada Islam setelah mengamati kehidupan kaum Muslimin di Turki, bersama tetangganya dari Prancis. | DOK TANGKAPAN LAYAR YOUTUBE INA

Oase

Emile 'Emin' Zehnder, Cahaya Hidayah di Turki

Terkesan akan kebaikan Muslim, lelaki Prancis ini memutuskan untuk berislam.

OLEH HASANUL RIZQA

 

“Dan Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (Islam)” (QS Yunus: 25). Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah Ta’ala akan memberikan hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Tidak ada satu pun yang mampu menghalangi ketentuan-Nya.

Emile Zehnder merupakan seorang mualaf yang berasal dari Prancis. Saat membaca ayat itu, ia mengaku bersyukur di dalam hatinya. Sebab, melalui Islam dirinya menemukan ketenteraman dan kedamaian batin.

Bila diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu, Zehnder barangkali tidak akan memercayai kondisinya saat ini. Dahulu, ia termasuk yang menaruh sikap curiga terhadap Islam. Hal itu seiring dengan keadaan lingkungan tempatnya berada.

 
Dahulu, ia termasuk yang menaruh sikap curiga terhadap Islam. Hal itu seiring dengan keadaan lingkungan tempatnya berada.
 
 

Seperti beberapa negara di Benua Eropa, Prancis termasuk yang dilanda Islamofobia sejak awal abad ke-21 M. Tepatnya, semenjak aksi terorisme yang mengguncang Amerika Serikat (AS) dalam Peristiwa 11 September 2001.

Zehnder ingat, beberapa tindakan kekerasan turut mempertajam kecurigaan terhadap Muslim. Ambil contoh, penembakan pada 7 Januari 2015 yang menyasar para editor media Charlie Hebdo.

Prancis adalah negara yang menganut sekulerisme sehingga memisahkan dengan tegas antara urusan privat dan publik. Agama dipandang sebagai bagian dari yang pertama itu. Karena itu, karikatur Nabi Muhammad SAW—yang sempat muncul di koran satir tersebut—dinilai bagian dari kebebasan berekspresi.

Mendengar berbagai stigma yang bernada Islamofobia, Zehnder pun makin merasa kurang tertarik untuk mengenal agama ini. Ia berpikir, lebih baik menjauh atau tidak terlalu dekat dengan orang-orang Muslim. Begitulah prasangkanya sebelum hidayah Allah datang ke sanubarinya.

Saat masa-masa produktifnya, Zehnder sehari-hari bekerja sebagai pegawai administrasi di sebuah perusahaan. Rutinitasnya dia habiskan di kota tempat kelahirannya, Strasbourg, Prancis utara. Memasuki waktu pensiun, ia pun memilih tinggal di sebuah flat sederhana pinggiran Strasbourg, dekat Sungai Rhine.

Masa-masa nirproduktif dilaluinya dengan istri tercinta, Helen—bukan nama sebenarnya. Pasangan tersebut menjalani hari demi hari dengan penuh cinta dan kasih sayang. Zehnder memang sangat menyayangi istrinya. Begitu pun sebaliknya.

Kebahagiaan mereka mulai meredup sejak pandemi Covid-19 melanda. Prancis termasuk negara dengan tingkat keparahan yang signifikan di Eropa. Walaupun berat, Zehnder dan Helen berupaya melalui periode kelam tersebut dengan terus meneguhkan cinta mereka.

Namun, umur sudah menjadi suratan takdir. Pada 2021 lalu, Helen meninggal dunia. Betapa sedih hati Zehnder mendapati musibah itu. Seakan-akan, dunia tempatnya berpijak telah runtuh sama sekali.

 
Zehnder mencoba berbagai cara untuk mengatasi kehampaan hidupnya, semisal dengan meneruskan hobi fotografi.
 
 

Tidak ada lagi keceriaan dalam menjalani masa-masa pensiun. Sebaliknya, ia menjadi mudah merasa kesepian. Lelaki itu mencoba berbagai cara untuk mengatasi kehampaan hidupnya, semisal dengan meneruskan hobi fotografi. Akan tetapi, perasaan kosong selalu menggelayuti hatinya.

Pada awal tahun 2022, lingkungan tempat tinggalnya kedatangan para penghuni baru. Mereka adalah sepasang suami dan istri yang bernama Enver Kodat dan Halide. Keduanya merupakan warga Prancis yang masih keturunan Turki.

Mulanya, Zehnder menganggap hadirnya keluarga muda itu biasa-biasa saja. Belakangan, ia mengetahui bahwa mereka adalah Muslim. Sempat tebersit perasaan agak waspada akan kehadiran mereka sebagai tetangganya.

Maklum, Zehnder ketika itu masih saja dihinggapi citra narasi-narasi Islamofobia. Karena itu, ia ingin tidak terlalu akrab dengan Enver dan Halide. Sampai suatu saat, lelaki tua tersebut berpapasan dengan mereka di jalan.

Keduanya lalu memperkenalkan diri. Zehnder tersenyum dan dalam hatinya mengakui, orang-orang Islam ini cukup ramah. Mereka kemudian menyebutkan rencana untuk kembali ke tanah leluhurnya di Turki, guna mengunjungi sanak kerabat.

 
Kalau Anda mau, boleh ikut bersama kami, untuk berlibur atau sekadar jalan-jalan? Turki negara yang indah untuk liburan.
 
 

“Kalau Anda mau, boleh ikut bersama kami, untuk berlibur atau sekadar jalan-jalan? Turki negara yang indah untuk liburan,” kata Enver kepadanya.

Zehnder hanya tersenyum dan sekadar mengiyakan. Namun, siapa sangka perkataan itu membekas dalam ingatannya sesampainya di rumah. Lama kelamaan, ia pun menginsafi, tidak ada salahnya menikmati suasana baru untuk sejenak di luar Prancis. Hal itu terasa lebih baik daripada terus-menerus di dalam rumah, tempat yang selalu membuatnya kangen akan kehadiran mendiang istri.

Lagipula, dirinya belum pernah mengunjungi Turki. Negara di antara dua benua itu mungkin menarik karena memiliki banyak destinasi wisata. Kira-kira sepekan setelah pertemuan tersebut, Zehnder pun menginformasikan kepada tetangganya bahwa dirinya berminat ikut ke Turki.

Hari yang dinanti pun tiba. Mereka berangkat dari ke Ankara dengan menumpangi pesawat terbang. Tujuannya bukanlah ibu kota tersebut, melainkan Elazig, tempat Enver Kodat berasal. Di sana, Zehnder dijamu dengan penuh kehangatan dan keakraban oleh sanak famili Enver.

photo
Emile Zehnder (tengah) sesaat sesudah mengucapkan dua kalimat syahadat di Turki - (DOK UMMAH TODAY)

Sesudah itu, mereka berangkat ke Istanbul untuk menyambangi berbagai situs bersejarah. Zehnder juga menyempatkan diri untuk mengambil foto di depan beragam masjid setempat. Tentunya, Hagia Sophia tidak terlewat dalam rihlah ini.

Hari berikutnya, Zehnder ikut dengan pasangan suami-istri itu ke Elazig. Kota yang terletak di wilayah Turki timur itu merupakan daerah tempat Halide berasal. Kebetulan, lingkungan tempat tinggal ayah dan ibu Halide sangat kental akan nuansa Islam. Beberapa majelis taklim (khandaq) sufi dapat dengan mudah dijumpai di sana.

Sekitar sepekan lamanya Zehnder menjadi tamu keluarga Halide. Mereka menjamunya dengan sangat baik dan penuh ramah tamah. Lelaki Prancis itu pun merasa, dirinya seperti menemukan rumah-kedua, tempat yang akhirnya bisa menghapus dukanya semenjak ditinggal wafat sang istri.

Pada suatu hari, Zehnder berjalan-jalan di gang yang tidak terlalu sempit di Elazig. Tampak orang-orang berkumpul mengelilingi seorang tua yang mengenakan jubah putih. Dengan bahasa Inggris yang patah-patah, ia pun bertanya kepada seorang hadirin. Rupanya, pria yang sedang ceramah itu adalah seorang ulama.

 
Zehnder pun terkesima. Belum pernah dirinya mendengar sesuatu yang begitu indahnya seperti bacaan yang keluar dari lisan sang alim.
 
 

Ia beruntung karena anak muda di dekatnya dapat berbahasa Inggris dengan cukup lancar. Ketika dai tersebut membaca Alquran, Zehnder pun terkesima. Belum pernah dirinya mendengar sesuatu yang begitu indahnya seperti bacaan yang keluar dari lisan sang alim.

Dari penjelasan “penerjemah dadakan” di dekatnya itu, Zehnder akhirnya mengetahui bahwa bacaan tersebut adalah ayat-ayat suci Alquran. Ia pun meminta terjemahan satu ayat saja dari yang tadi dibacakan. Itu adalah surah Yunus ayat ke-25.

Kembali ke rumah keluarga Halide, Zehnder masih menyimpan kesan yang mendalam dari pembacaan Alquran. Bahkan, malam itu ia tidak bisa tidur sebelum mendengarkan lagi lantunan ayat-ayat Alquran, yang akhirnya ditemukan melalui situs YouTube.

Keesokan paginya, Zehnder memberitahukan kepada Enver dan Halide bahwa dirinya ingin memeluk Islam. “Aku ingin menjadi seorang Muslim. Tolong tunjukkan padaku bagaimana caranya,” kata pria yang kini berusia 85 tahun itu kepada kedua sahabat Turki-nya itu.

Enver pada awalnya terkejut dan heran mendengar pengakuan tersebut. Apa yang membuat Zehnder tiba-tiba tertarik pada Islam? Lelaki asal Strasbourg itu pun menceritakan kesan yang didapatinya selama rihlah di Turki. Khususnya, impresi yang dirasakannya dari mendengarkan pengajian sufi di Elazig, beserta lantunan Alquran yang dibacakan.

 
Aku ingin menjadi seorang Muslim. Tolong tunjukkan padaku bagaimana caranya.
 
 

Pasangan suami-istri itu lalu menyarankannya agar bersama-sama pergi ke Kantor Mufti provinsi setempat. Sesampainya di tujuan, ketiga orang itu diterima Wakil Mufti, Ozer Comert. Setelah mengetahui maksud kedatangan mereka, pemuka agama itu kemudian menerangkan cara-cara berislam.

Tidak hanya itu, Zehnder pun diajarkan mengenai rukun iman, rukun Islam, serta sekilas perikehidupan Rasulullah SAW. Beberapa kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW diceritakan kepadanya. Beberapa kali, lelaki Prancis itu sampai menitikkan air mata lantaran terharu akan budi pekerti sang pembawa risalah Islam.

Keesokan harinya, Zehnder datang lagi ke kantor mufti tersebut, masih dengan ditemani Enver dan Halide. Kali ini, ia sudah siap untuk mewujudkan keputusannya, yakni menjadi Muslim. Ia lalu mengucapkan dua kalimat syahadat, yakni dalam bahasa Arab dan bahasa Prancis. Ustaz Ozer Comert membimbingnya hingga tuntas.

“Saya bahagia karena saya menjadi seorang Muslim,” kata Zehnder, seperti dikutip Republika dari laman Daily Sabah beberapa waktu lalu.

Mulai saat itu, ia pun memilih nama baru, yakni Emin. Itu berasal dari kata amin dalam bahasa Arab. Kepada Daily Sabah, ia mengungkapkan kebahagiaan dirinya sebagai Muslim. Ke depan, lanjutnya, ia ingin semakin banyak belajar perihal Islam.

Dukungan yang diberikan oleh tetangga Turki dan Muslimnya di Prancis setelah istrinya meninggal juga membuat dirinya terkesan tentang Islam.

 
Setelah istri saya meninggal, saya menemukan ketulusan ke mana pun saya pergi bahwa Muslim benar-benar satu untuk semua.
 
 

“Setelah istri saya meninggal, saya menemukan ketulusan ke mana pun saya pergi bahwa Muslim benar-benar satu untuk semua. Oleh karena itu, saya memilih menjadi Muslim. Sebelumnya, saya tidak mempunyai pengetahuan banyak tentang Islam,” kata Emin.

“Setelah istri saya meninggal, saya mulai lebih banyak menghabiskan waktu dengan tetangga saya. Mereka juga banyak mendukung saya. Setelah itu, saya ingin belajar lebih banyak tentang Islam. Fakta bahwa orang Turki saling mendukung di Prancis juga sangat mengesankan saya," tambahnya.

Berdasarkan pengalamannya dengan tetangga Muslimnya dan perjalanannya ke Turki dia membuat kesimpulan Islam adalah agama yang penuh kasih sayang. “Saya baru saja masuk Islam. Saya belajar perlahan. Saya masih harus banyak belajar. Saya akan belajar lebih banyak dari waktu ke waktu,” ucapnya.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Masjid Agung Sumenep, Warisan Sejarah di Madura

Masjid Agung Sumenep yang berdiri sejak 1779 ini memadukan pelbagai gaya arsitektur.

SELENGKAPNYA

Sejarah di Rabiul Akhir

Dalam penanggalan Hijriyah, Rabiul Akhir merupakan bulan keempat.

SELENGKAPNYA

Jasad Syuhada yang Terjaga

Allah SWT memperkenankan doa sahabat Nabi SAW. Jasadnya tak disentuh kaum kafir.

SELENGKAPNYA