Syekh Siroj, seorang ulama Makkah yang berasal dari keturunan Indonesia (Sunda) | DOK NU

Mujadid

Ajengan Siroj Garut, Qari Sunda di Tanah Suci

HASANUL RIZQA

 

OLEH HASANUL RIZQA

 

Makkah al-Mukarramah merupakan pusat dunia Islam. Di sana, terdapat Masjidil Haram, yang bukan sekadar tempat kiblat shalat berada. Masjid terbesar di muka bumi itu juga menjadi titik berkumpulnya para ulama besar. Mereka berdatangan dari seluruh penjuru mata angin dan menyebarkan ilmu-ilmu agama.

Sejarah mencatat, sejumlah nama alim ulama dari Indonesia berkiprah di Tanah Suci. Di antaranya adalah Ajengan Siroj. Di Makkah, dirinya dikenal sebagai salah satu guru besar ilmu qiraah Alquran atau Masyayikh al-Qurra pada paruh pertama abad ke-20 M.

Ajengan Siroj berasal dari keluarga asal Garut, Jawa Barat. Ulama berdarah Sunda itu bukanlah satu-satunya yang melegenda. Ada seorang lagi yang juga datang dari daerah tersebut dan mengajar di Masjidil Haram pada masanya, yakni Ajengan Musaddad Qarut.

 
Di Makkah, Ajengan Siroj dikenal sebagai salah satu guru besar ilmu qiraah Alquran atau Masyayikh al-Qurra pada paruh pertama abad ke-20 M.
 
 

 

Dosen pascasarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta Ahmad Ginanjar Sya'ban mengatakan, Ajengan Siroj adalah seorang syaikh al-Qurra yang disegani. Namanya sering kali disebut dalam sanad ulama-ulama ahli qiraah, khususnya yang berkarier di Makkah. Bahkan, biografi dai itu termasuk dalam daftar prestisius Makkawi Qiblah ad-Dunya.

Walaupun berdarah orang Pasundan, Ajengan Siroj lahir di Makkah pada tahun 1313 Hijriyah/1895 Masehi. Ia merupakan putra dari pasangan Garut yang lama bermukim di kota kelahiran Nabi Muhammad SAW itu.

Mereka termasuk mukimin Nusantara atau orang-orang Jawi yang menuntut ilmu di Tanah Suci sejak akhir abad ke-19 M. Demikian menurut reportase orientalis Belanda, Christiaan Snouck Hurgronje, yang bertajuk “Mecca in the Latter Part of the 19th Century".

Pemilik nama lengkap Siroj bin Muhammad bin Hasan Qarut itu mengalami masa kecil di Kota Makkah. Ia tumbuh dalam lingkungan yang religius. Kedua orang tua mendidiknya dengan penuh disiplin. Nilai-nilai islami pun tertanam dalam jiwanya sedari dini.

Siroj kecil menyukai perjalanan ke Masjidil Haram. Sesampainya di sana, dirinya pun dengan tenang mendengarkan tilawah Alquran yang dibacakan jamaah setempat. Walaupun masih berusia anak-anak, tampaknya ia sudah mampu menyerap keindahan lantunan ayat-ayat suci hingga ke dalam lubuk hatinya.

Kecintaan kepada Alquran dibuktikannya dengan kemampuan tadarus dan tahfiz yang baik. Siroj kecil mendapatkan didikan dari keluarga dan juga para ustaz di Makkah. Dirinya ikut dalam pengajian yang diadakan Masjidil Haram bagi kelompok anak-anak. Dalam usia yang belum genap 10 tahun, ia telah memilih jalan untuk rihlah ilmu-ilmu agama, mengikuti jejak ayahanda tercinta.

 
Siroj kecil ikut dalam pengajian yang diadakan Masjidil Haram bagi kelompok anak-anak.
 
 

Kira-kira tiga tahun kemudian, keluarganya kembali ke Tanah Air. Pada 1908, Siroj kecil ikut serta dengan mereka. Inilah pertama kalinya ia keluar dari Jazirah Arab untuk pulang ke tanah asal leluhurnya.

Saat berusia 13 tahun, Siroj memulai perjalanan keilmuannya di Garut. Ia belajar di beberapa pesantren setempat, bahkan hingga ke luar Jawa Barat. Menurut Ahmad Ginanjar, tidak ada catatan yang presisi mengenai lembaga-lembaga yang pernah disinggahi tokoh tersebut dalam masa mudanya.

Bagaimanapun, akademisi STAINU Jakarta itu menduga, pemuda itu pernah nyantri di sejumlah pondok pesantren terkenal di Tatar Pasundan abad ke-20 M. Sebut saja, Ponpes Suka Miskin Bandung, Ponpes Gentur Cianjur, serta Ponpes Cikudang. Kemudian, ada pula Ponpes Cibarusah, Ponpes Sempur Purwakarta, Ponpes Babakan, dan Buntet Cirebon.

Malahan, Ponpes an-Nawawi di Tanara, Serang, Banten, diduga kuat pernah disambanginya. Begitu pula dengan pesantren-pesantren besar lain, semisal Darat Semarang, Lasem Rembang, Siwalan Panji Sidoarjo, Tebuireng Jombang, hingga Bangkalan Madura. Siroj benar-benar tekun dan pantang menyerah dalam menjalani laku sebagai seorang santri.

 
Pada 1908, Siroj kecil ikut serta dengan mereka. Inilah pertama kalinya ia keluar dari Jazirah Arab untuk pulang ke tanah asal leluhurnya.
 
 

Ahmad Ginanjar mengatakan, umumnya ponpes yang berusia tua dan disegani di Tanah Jawa dipimpin alim ulama yang pernah belajar di Tanah Suci. Maka dari itu, terbentuklah jaringan intelektual yang menghubungkan antara Nusantara dan Haramain. Para pengasuh pesantren yang demikian itu juga menyebarkan pelbagai ilmu yang diperolehnya dari Makkah dan Madinah.

Siroj muda pun, lanjut Ahmad Ginanjar, pastilah termasuk dalam jaringan intelektual tersebut. Kepada mereka, ia menuntut ilmu-ilmu semisal tata bahasa Arab, fikih, kalam, tafsir Alquran, hadis, tasawuf, dan lain sebagainya.

Hingga paruh pertama abad ke-20, terdapat nama-nama ulama besar yang merupakan denyut networking  tersebut. Misalnya, Syekh Jamil Buntet, Syekh Sholeh Darat Semarang, Syekh Dahlan Abdullah Tremas, serta Syekh Abdul Muhith Sidoarjo. Kemudian, ada Syekh Baidhowi Ma’shum Lasem, Syekh Hasyim Asy’ari Jombang, dan Syekh Kholil Bangkalan.

 
Siroj kemudian kembali berangkat ke Makkah setelah beberapa tahun berada di Nusantara.
 
 

Ahmad menuturkan, Siroj kemudian kembali berangkat ke Makkah setelah beberapa tahun berada di Nusantara. Perjalanan kembali ke kota tempat kelahirannya didorong keinginannya untuk terus menekuni ilmu-ilmu agama. Pengembaraan itu dilakukannya dengan berfokus terutama pada disiplin qiraah Alquran.

Selama di Tanah Suci, dirinya mempelajari ilmu tersebut dari sejumlah Masyayikh al-Qurra pada zamannya. Ada banyak guru yang mendidiknya dengan penuh keikhlasan. Di antara mereka adalah Syekh Ibrahim al-Ghamrawi, Syekh Ahmad Hamid al-Tiji, serta Syekh Ma’mun al-Bantani al-Jawi.

Syekh Ibrahim al-Ghamrawi merupakan seorang pakar qira’ah sab’ah yang terkenal di Haramain. Adapun Syekh Ahmad Hamid al-Tiji al-Mishri digelari “muara sanad ahli-ahli qiraah Nusantara". Sebab, banyak pelajar Jawi yang berguru kepadanya.

Al-Tiji diketahui bekerja sama dengan Syekh Abdudz Dzahir Abu Samah dalam pentashihan Alquran di Makkah. Sementara itu, Syekh Ma’mun al-Bantani merupakan salah seorang ulama Nusantara yang segenerasi di atas Siroj. Hingga kini, ijazah qiraah khususnya yang diterbitkan pesantren-pesantren di Jawa, semisal Ponpes Buntet Cirebon, kerap mengutip namanya dalam mata rantai sanad.

Dengan penuh perjuangan, akhirnya Siroj berhasil meraih kelulusan. Ia kemudian memperoleh lisensi (ijazah) sebagai tanda kebolehan untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama di Masjidil Haram. Tentunya, disiplin yang menjadi spesialisasinya adalah qiraah Alquran.

 
Siroj memperoleh lisensi (ijazah) sebagai tanda kebolehan mengajarkan ilmu-ilmu agama di Masjidil Haram, dengan spesialisasinya adalah qiraah Alquran.
 
 

Syekh Siroj sejak saat itu memiliki banyak murid dari waktu ke waktu. Saking banyaknya, mereka meminta sang guru untuk mengadakan majelis ilmu di kediamannya. Maka, tempat tinggal ulama tersebut di Distrik (Hay) al-Qasyasyiyyah pun menjadi tempat belajar para santrinya itu. Tidak sedikit di antaranya yang sama-sama berasal dari Nusantara.

Reputasinya sebagai seorang pembaca Alquran (qari) sampai terdengar ke kalangan istana Kerajaan Arab Saudi. Pemerintah setempat kemudian mendaulatnya sebagai salah satu pelantun Kitabullah (muqri).

Secara resmi, dirinya diangkat oleh otoritas. Maka, dengan rutin suaranya yang begitu syahdu dan khusyuk melantunkan ayat-ayat suci terdengar di Masjidil Haram. Medium penyebaran qiraahnya juga melalui jaringan radio milik Saudi nyaris setiap hari.

Sang qari diketahui seangkatan dengan para alim lainnya, semisal Syekh Umar Arbain, Syekh Muhammad Nur Abu al-Khair, dan Syekh Zaki al-Daghastani. Yang terakhir itu merupakan seorang qari yang brilian walaupun memiliki keterbatasan fisik netra.

Ajengan/Syekh Siroj Garut berpulang ke rahmatullah pada tanggal 26 Rabiul Awal tahun 1390 M. Itu bertepatan dengan 1 Juni 1970. Ahli qiraah tersebut mengembuskan napas terakhir di Kota Makkah al-Mukarramah.

Ahmad Ginanjar mengatakan, sumbangsih sang alim khususnya dalam ilmu membaca Alquran sangat besar. Namanya layak dicatat dengan tinta emas dalam histori jaringan ulama Sunda-Haramain.

Seperti para masyayikh besar umumnya, Syekh Siroj pun mengabadikan ilmunya melalui tulisan-tulisan. Ia diketahui memiliki sejumlah karya. Di antaranya adalah buku tentang disiplin tajwid yang berjudul Tamrin al-Mubtadi.

Rifa Tsamrotus Saadah dalam artikelnya di laman Bincang Syariah mengatakan, ulama tersebut mempunyai keluarga. Hingga tutup usia, sang syekh dikaruniai beberapa putra. Salah seorang di antaranya adalah Muhammad Rif’at.

photo
Peserta mengikuti lomba Musabaqah Tilawah Quran (MTQ) dan Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) di Kodim 0710 Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (23/3/2022). - (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)

Mengenal Qira’at Sab’ah yang Melegenda

Dalam disertasinya untuk kelulusan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Ita Rahmania Kusumawati menjelaskan, pertumbuhan kajian qiraah di Indonesia dimulai dari penemuan beberapa mushaf kuno. Salah satunya bertuliskan Qira'at Nafi' riwayat Qalun.

Tentunya, studi qiraah pun digiatkan oleh para pioner, yakni mereka yang memegang sanad disiplin keilmuan tersebut. Dari segi jumlah, terdapat tiga macam qiraat yang terkenal di seluruh dunia, yaitu qiraat sab'ah, 'asyrah, dan syadzah.

Menurut Ita, thariq al-qira'at yang digunakan di Indonesia adalah tharaq al-Syathibiyyah untuk qiraat sab'ah, berdasarkan pada jalur periwayatan dalam kitab Hirzul-Amaani.

Qiraat sab'ah merupakan jenis qiraah yang muncul pertama kali. Karakter qiraah ini telah akrab di dunia akademisi Muslim sejak abad kedua Hijriyah. Bagaimanapun, hal itu diakrabi masih di lingkungan para pengkajinya, belum benar-benar populer di tengah kebanyakan umat Islam.

Yang membuat tidak atau belum memasyarakatnya qiraat tersebut pada masa itu adalah kecenderungan ulama-ulama. Mereka condong melakukan sosialisasi tentang satu jenis qiraat saja. Adapun jenis qiraat yang lain menjadi terabaikan, baik yang tidak benar maupun dianggap benar.

 
Kitab Sab'ah disusun Ibnu Mujahid dengan dengan cara mengumpulkan tujuh jenis qiraat yang mempunyai sanad bersambung hingga kepada para sahabat Nabi Muhammad SAW.
 
 

Menukil dari Pusat Data Republika, Abu Bakar Ahmad adalah penyusun buku ensiklopedia, Kitab Sab’ah. Sosok yang lebih dikenal sebagai Ibnu Mujahid itu bukan tanpa tantangan dalam menyusun karyanya. Sebab, berbagai pihak pada masanya mengecam penulisan tersebut.

Mereka menganggap, buku tersebut telah memicu kerancuan pemahaman banyak orang tentang pengertian 'tujuh kata' yang dengannya Alquran diturunkan.

Kitab Sab'ah disusun Ibnu Mujahid dengan dengan cara mengumpulkan tujuh jenis qiraat yang mempunyai sanad bersambung hingga kepada para sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkemuka. Karena itulah, inilah buku paling awal yang memopulerkan jenis qiraat sab’ah.

Adapun para sandaran qiraah itu adalah Abdullah bin Katsir al-Dariy dari Makkah; Nafi' bin Abd al-Rahman bin Abu Nu'aim dari Madinah; Abdullah al-Yashibiyn atau Abu Amir al-Dimasyqi dari Syam; serta Zabban bin al-Ala bin Ammar atau Abu Amr dari Bashrah. Kemudian, ada Ibnu Ishaq al-Hadrami atau Ya'qub dari Bashrah; Ibnu Habib al-Zayyat atau Hamzah dari Kufah; dan Ibnu Abi al-Najud al-Asadly atau Ashim dari Kufah.

Meskipun di luar ketujuh imam tersebut masih banyak nama lainnya, kemasyhuran mereka kian meluas. Itu lantaran Ibnu Mujahid cenderung secara khusus membukukan qiraat-qiraat mereka.

Kita Itu Bangsa Pembuat Tempe

Buku Joy of Cooking yang terbit perdana pada 1931 juga mencatat tempe sebagai makanan asli Indonesia.

SELENGKAPNYA

Belajar dari 'Tempo Doeloe' Ketika PSSI Mengungguli NIVB

Sepak bola dan NIVB sebagai PSSI-nya Belanda sangat terkenal di kalangan masyarakat.

SELENGKAPNYA

Islam Berkemajuan

Pandangan Islam Berkemajuan merupakan ikhtiar untuk menggali dan mengaktualisasi kembali pemikiran Islam.

SELENGKAPNYA