Senja sebelum malam penerbangan lampion perdamaian saat perayaan Waisak 2566 BE di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Senin (16/5/2022). | Wihdan Hidayat / Republika

Teraju

Menjaga Asa Wisata 

Muncul sinyal pertumbuhan positif industri pariwisata meski kondisi ekonomi global kurang kondusif.

OLEH RAKHMAT HADI SUCIPTO

Fokus, fokus, dan fokus. Dengan fokus dan serius saja, hasilnya belum tentu atau kurang memuaskan. Apalagi bila bekerja tanpa fokus dan target yang jelas.

Dalam beberapa waktu terakhir ini, salah satu yang menjadi fokus pemerintah di negara mana pun adalah sektor pariwisata. Industri ini sangat menjanjikan dan mampu menjadi penopang perekonomian. Negara yang mampu mengelola sumber daya pariwisata dengan baik, bakal memperoleh penerimaan yang menggiurkan dari sektor ini.

Tentu saja sumber daya pariwisata sangat banyak. Ada yang mengandalkan kekayaan alam yang indah serta keunikan flora dan fauna. Negara-negara lain mengandalkan jejak dan bangunan peninggalan sejarah. Lainnya menawarkan beragam kuliner yang menggoda dengan rasa yang menagih. Negara lain menambahkan nilai tambah dengan keramahtamahan penduduk mereka untuk menarik para wisatawan asing.

Nyaris setiap negara memiliki ikon masing-masing yang menjadi ciri khas pariwisata mereka. Bila menyebut Menara Eiffel, orang pasti sudah paham ini adalah menara besi tinggi yang berada di Kota Paris, Prancis, tepatnya di Champ de Mars, di tepi Sungai Seine. 

Wisatawan mancanegara (wisman) yang ke Cina pasti ingin berkunjung ke Tembok Besar Cina (Great Wall) yang menjadi saksi sejarah kerajaan besar di negara tersebut. Tentu saja peninggalan dan jejak-jejak kerajaan besar di Cina juga menjadi daya pikat lainnya.

Bila menyebut Sungai Nil, ingatan orang sudah pasti tertuju ke Mesir. Demikian pula bila ingin melihat situs berupa piramida dan mumi, orang pasti akan merujuk pada Mesir.

Borobudur juga menjadi ikon terkenal dan hanya ada satu di dunia. Inilah yang menjadi salah satu kebanggaan destinasi pariwisata Indonesia. Pulau Dewata, Bali, jelas ikon hebat lainnya bagi Indonesia.

Patung Liberty menjadi salah satu daya pikat bagi wisman yang berkunjung ke Amerika Serikat, terutama yang sedang berada di Kota New York. Istana Buckingham dan Big Ben adalah dua ikon utama di Inggris selain destinasi menarik lainnya. Bagi wisatawan yang sedang berada di Inggris, tak lengkap bila belum mengunjungi dua tempat tersebut.

Bagi yang ingin melihat satwa liar secara alami, maka mereka perlu pergi ke beberapa tempat di negara Afrika. Di sana para wisman bisa melihat kebesaran ciptaan Tuhan. Mereka bisa menyaksikan alam bebas yang menampung berbagai jenis satwa, seperti harimau, singa, jerapah, gajah, dan hewan-hewan liar lainnya hidup bebas secara alamiah. 

photo
Wisatawan berfoto di puncak Telaga Bintang Geosite Piaynemo, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Selana (26/10/2021). Telaga Bintang menjadi salah satu tujuan wisatawan untuk berwisata dengan sensasi petualangan memanjat tebing karang dan suasana pemandangan telaga berbentuk bintang. - (ANTARA FOTO/Olha Mulalinda)

Wisata kota juga makin menjadi daya pikat. Banyak orang pergi ke Singapura karena ingin melihat pemandangan kota artifisial di negara tersebut. Patung Singa Putih yang mengeluarkan air dari mulut patung tersebut juga ternyata menjadi salah satu pilihan utama bagi wisman untuk berfoto ria. 

Mereka yang mampu mengemas destinasi dengan baik dan menarik, pasti bisa mengundang banyak wisman. Namun, kunci sukses pariwisata tidak hanya itu.

Kunci sukses lain industri pariwisata adalah kemudahan dalam menjangkau destinasi yang tersebar luas. Kemudahan transportasi dan kenikmatan akomodasi bakal menjadi penopang lain untuk memberikan daya tarik bagi para wisatawan, terutama wisatawan asing.

Namun, semua itu tak mampu mendorong industri pariwisata ketika muncul gangguan lingkungan alam. Beragam bencana terbukti menjadi hambatan serius bagi pertumbuhan dan perkembangan sektor pariwisata. Contoh konkret yang masih terasa hingga kini adalah efek wabah pandemi Covid-19.

Terus berbenah

Nyaris tiga tahun seluruh negara merasakan kegetiran akibat imbas virus corona yang belum seratus persen sirna dari muka bumi. Padahal, pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terdampak oleh wabah ini. 

Dunia telah melewati hampir tiga tahun pandemi Covid-19, tak terkecuali Indonesia. Kini denyut sektor ini makin kuat terasa. Mobilitas penduduk tampak seperti sudah kembali ke kondisi normal.

Lihat saja Jakarta dan kota-kota besar lain di Tanah Air. Kemacetan sudah kembali menjadi pemandangan sehari-hari, terutama pada waktu-waktu utama, yaitu ketika orang-orang pergi kerja atau anak-anak serta mahasiswa pergi ke sekolah dan kampus. Begitu pula pada sore dan malam hari, ketika orang berebut jalan untuk sampai ke rumah masing-masing usai bekerja, kemacetan kembali terjadi.

Ini jelas pertanda baik. Mobilitas penduduk yang tinggi sebagai indikator sektor perekonomian menggeliat. Seluruh sektor tampak ingin melaju dengan cepat seperti kondisi sebelum pandemi.

Lalu, apa buktinya sektor pariwisata mulai menggeliat kembali? Data Badan Pusat Statistik (BPS) bisa membantu untuk menjelaskannya. Berdasarkan laporan BPS, laju pertumbuhan ekonomi dari lapangan usaha transportasi dan perdagangan sebelum pandemi selalu positif.

Sebagai contoh, pada 2018 dan 2019, lapangan usaha transportasi dan pergudangan menyumbang pertumbuhan sebesar 7,05 persen dan 6,39 persen. Namun, ketika terjadi pandemi parah pada 2020, kontribusinya menurun menjadi minus 15,04 persen. Kontraksi lapangan usaha tersebut bahkan sampai dua digit atau lebih dari dua kali lipat angka pertumbuhan 2018 dan 2019.

photo
Sejumlah calon penumpang pesawat berjalan di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (19/7/2022). PT Angkasa Pura II melakukan kebijakan penyesuaian tarif pelayanan jasa penumpang pesawat udara (PJP2U) atau airport tax di Bandara Soekarno Hatta, Bandara Kualanamu, Bandara Fatmawati Soekarno, Bandara Radin Inten dan Bandara HAS Hanandjoeddin yang berlaku mulai 1 Agustus 2022. - (ANTARA FOTO/Fauzan)

Namun, pada 2021 transportasi dan pergudangan membaik dan mulai bergerak ke zona hijau dengan angka pertumbuhan sebesar 3,24 persen. Ini jelas sinyal yang menggembirakan bagi dunia pariwisata.

Bukti lainnya terlihat dari lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum. Ini adalah lapangan usaha yang benar-benar berhubungan erat dengan sektor wisata. Data BPS menunjukkan, lapangan usaha ini mencatat laju pertumbuhan positif pada 2018 dan 2019, masing-masing sebesar 5,68 persen dan 5,79 persen.

Akan tetapi, saat terjadi pandemi Covid-19 kontribusinya jatuh parah ke angka minus 10,22 persen. Pada 2021 lalu, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum mulai bangkit dan mampu mengukir angka positif sebesar 3,89 persen.

Ingat, pariwisata adalah sektor yang memiliki mata rantai yang panjang. Sektor ini beririsan dan berkaitan dengan banyak sektor lainnya. Pemerintah bahkan kini berharap semua sektor harus bisa menjadi penopang atau bahkan sebagai bagian dari industri pariwisata. 

Di negara lain, nyaris semua sektor bergerak bersama-sama untuk memajukan industri pariwisata. Jadi, hotel dan restoran tak bisa berkembang bila transportasi publik tak mendukung. Pendapatan atau devisa pariwisata tak bakal melonjak bila industri makanan dan minuman jalan di tempat. Sektor pariwisata tak bakal berkembang bila wisman tak membeli banyak oleh-oleh berupa souvenir dan barang lainnya.

photo
Kitesurfer unjuk kebolehan saat Kitesurfing Exhibition 2022 di Laguna Pantai Depok, Bantul, Yogyakarta, Selasa (25/10/2022). Jogja Aerosport Club (JAC) menggelar kegiatan ini untuk mengenalkan kepada masyarakat dan pelaku wisata bahwa olahraga ekstrim ini bisa juga dilakukan di Pantai Depok, Parangtritis. Diharapkan dengan kegiatan ini bisa memberikan alternatif wisata baru di Yogyakarta. - (Republika/Wihdan Hidayat)

Bila semua tumbuh, usaha kecil dan menengah juga bakal terdongkrak. Mereka yang selama ini bergerak di UKM bakal berinovasi menjadi industri yang kreatif dan inovatif.

Presiden Joko Widodo sangat menyadari, Indonesia harus terus memacu industri kreatif ini. “Ekonomi kreatif bisa menjadi pilar utama untuk mendobrak pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pertumbuhan ekonomi untuk semuanya,” ungkap Jokowi ketika membuka Konferensi Ketiga Ekonomi Kreatif atau World Conference on Creative Economy (WCCE) 2022 di Bali, Kamis (06/10/2022) lalu.

Menurut Jokowi, ekonomi kreatif bakal menjadi kekuatan ekonomi yang inklusif tak hanya di Indonesia, tetapi juga negara-negara lainnya. Karena itulah, pihaknya terus mendorong perkembangan ekonomi kreatif supaya menjadi sektor futuristik.

Antisipasi resesi global

Belakangan ini, banyak pihak menyampaikan kekhawatiran tentang masa depan perekonomian global. Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan sudah mengingatkan kemungkinan bakal terjadi resesi dunia yang bisa berimbas pada setiap negara.

Tiga ekonom Bank Dunia, yaitu Justin Damien Guenette, M Ayhan Kose, dan Naotaka Sugawara, dalam tulisan mereka di kanal lembaga keuangan dunia beberapa waktu lalu menyatakan bahwa sejak awal tahun memburuknya prospek pertumbuhan dengan cepat ditambah dengan meningkatnya inflasi dan pengetatan kondisi pembiayaan, telah memicu perdebatan tentang kemungkinan resesi global, yang juga akan memicu kontraksi produk domestik bruto (PDB) per kapita global. 

Studi ketiga ekonom tersebut juga menyajikan analisis sistematis evolusi terbaru dari kegiatan ekonomi dan kebijakan serta penilaian berbasis model kemungkinan hasil makroekonomi jangka pendek. Menurut mereka, secara konsensus perkiraan pertumbuhan global pada 2022 dan 2023 menurun secara signifikan sejak awal 2022.

Meskipun perkiraan ini tidak menunjukkan resesi global pada 2022-2023, pengalaman dari resesi sebelumnya menunjukkan bahwa setidaknya dua perkembangan yang telah terwujud dalam beberapa bulan terakhir atau mungkin sedang berlangsung meningkatkan kemungkinan resesi global dalam waktu dekat.

Yang pertama, setiap resesi global sejak 1970 didahului oleh pelemahan pertumbuhan global yang signifikan pada tahun sebelumnya, seperti yang terjadi belakangan ini. Kedua, semua resesi global sebelumnya bertepatan dengan penurunan tajam atau resesi langsung di beberapa ekonomi utama.

Dengan peringatan Bank Dunia ini, Indonesia tentu makin mewaspadai setiap kemungkinan yang bisa menghambat, bahkan menggerus potensi pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ini harus terkendali demi menjaga momentum perbaikan ekonomi yang sudah berada pada zona hijau pada 2021 lalu.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati masih optimistis Indonesia bisa mengakhiri 2022 ini dengan wajah perekonomian yang cerah. Artinya, laju pertumbuhan Indonesia tetap pada jalur positif sehingga seluruh sektor ekonomi juga bergerak sesuai skema masing-masing.

Meski demikian, Menkeu juga meningatkan kepada semua pihak agar bekerja lebih keras lagi agar momentum pertumbuhan ekonomi pada 2022 terjaga dengan baik. Salah satunya dengan mengontrol anggaran dan menjaga tingkat inflasi sesuai asumsi yang ada pada APBN 2022.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno pun tetap optimistis sektor pariwisata Indonesia bisa lebih baik lagi pada 2022. Kuncinya, semua pihak harus siap menghadapi tantangan yang muncul.

"Bapak Presiden selalu menyampaikan bahwa saat ini ekonomi sekarang sedang sulit dan tahun depan gelap. Kita harus definisikan gelap itu apa? Gelap itu didefinisikan bergejolak, khawatir dengan keadaan di sekitar kita," jelas Sandiaga beberapa waktu lalu.

Karena itulah, Sandiaga sangat berharap semua pihak bisa bekerja sama mengembangkan sektor pariwisata yang sempat terguncang hebat terkena imbas Covid-19. 

Memang ada tren ke arah yang lebih positif. Terutama dari jumlah kunjungan wisman ke Tanah Air. Kenaikan jumlah kunjungan wisman inilah yang bisa menjadi pendorong utama kemajuan industri pariwisata Indonesia.

Sumpah Pemuda Arab

Tampilnya Partai Arab Indonesia (PAI) pimpinan AR Baswedan cukup mengejutkan.

SELENGKAPNYA

SM Amin, Gubernur Pembakar Semangat Pemuda

Bakat kepemimpinannya terasah sejak usia belia.

SELENGKAPNYA

Saksi Ungkap Kengerian Peristiwa Paniai pada 2014

Kengerian saat terjadinya pelanggaran HAM berat di Kabupaten Paniai pada 2014.

SELENGKAPNYA