Prof KH Didin Hafidhuddin | Daan Yahya | Republika

Refleksi

Menghindari dan Menjauhi Perilaku Rakus 

Islam menempatkan harta sebagai sarana dan wasilah untuk beribadah kepada-Nya dan berbuat baik kepada sesama.

OLEH PROF KH DIDIN HAFIDHUDDIN

Kecintaan kepada dunia dengan segala isinya adalah merupakan salah satu sifat naluriah yang selalu ada dan melekat pada setiap diri manusia. Apa pun latar belakang budaya dan bangsanya; apa pun latar belakang posisi, jabatan, kedudukan, pendidikan, bahkan perbedaan jenis kelaminnya.

Allah SWT berfirman dalam QS Ali Imran [3] ayat 14: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas,  perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” 

Bahkan, jika seseorang atau sekelompok orang yang sudah memiliki dua gunung emas, dengan kerakusan (hubbuddunya), dia pasti akan mencari gunung  emas yang ketiga, dan dia akan berhenti dari perburuan gunung emas yang ketiga itu apabila seonggok tanah sudah masuk ke dalam perutnya alias sudah mati. Demikian sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya riwayat Imam Muslim.

Islam sebagai agama yang menjadi manhajul hayah umat manusia, tidak melarang untuk memiliki dan mendapatkan harta benda dengan syarat memperhatikan bagaimana cara mengusahakannya dan bagaimana pula cara memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Agar harta itu bermanfaat dunia dan akhirat.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda: "Seseorang pada hari kiamat nanti pasti tidak terlepas dari empat pertanyaan: usia  (umur) dihabiskan untuk apa, masa muda dipergunakan untuk apa, harta benda  bagaimana cara mendapatkan dan memanfaatkannya, dan ilmu pengetahuan  diamalkan untuk apa.” (HR Tirmidzi). 

 
Misalnya, Islam melarang mencari harta dengan cara korupsi, menyuap, mempermainkan takaran dan timbangan.
 
 

Misalnya, Islam melarang mencari harta dengan cara korupsi, menyuap, mempermainkan takaran dan timbangan (termasuk mempermainkan kualitas barang), dengan judi, baik online maupun offline, dan cara-cara yang batil lainnya.

Pehatikan beberapa firman Allah SWT berikut ini. Firman Allah dalam QS al-Baqarah [2] ayat 188: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian  yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa  (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada  harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”

QS an-Nisaa [4] ayat 29: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

QS al-Maaidah [5] ayat 90: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Dan juga QS al-Muthoffifin [83] ayat 1-6: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (1) (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. (2) Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (3) Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. (4)  Pada suatu hari yang besar. (5) (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? (6).” 

Sering terjadi dalam realitas kehidupan manusia, karena sikap rakus yang dimilikinya, orang-orang yang sudah kaya, bahkan memiliki jabatan publik yang tinggi dan terhormat, tetapi tetap menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan harta, bahkan sampai membunuh, menghilangkan nyawa orang lain dengan cara-cara yang keji.

Inilah yang diingatkan Rasululllah SAW dalam sebuah hadis: “Iyyaaka wath  thoma' fainnahu al faqru al haadiru (Jauhilah oleh kalian sifat rakus dan tamak. Karena sesungguhnya sifat rakus dan tamak itu akan menyebabkan seseorang merasa miskin dan fakir terus).” 

 
Sesungguhnya Islam itu telah menempatkan harta kekayaan sebagai sarana dan wasilah untuk beribadah kepada-Nya dan berbuat baik kepada sesama.
 
 

Sesungguhnya Islam itu telah menempatkan harta kekayaan sebagai sarana dan wasilah untuk beribadah kepada-Nya dan berbuat baik kepada sesama. Amatlah indah harta yang baik berada di tangan orang yang baik, demikian sabda Rasulullah SAW (Ni’ma al-malu ash-shalih fi al-mar’i ash-shalih)

Bahkan, di dalam Alquran diingatkan bahwa penyesalan yang paling mendalam ketika seseorang berada dalam posisi sakaratul maut, ia minta dihidupkan  kembali seperti sediakala agar ia bisa berinfak dengan harta yang dimilikinya.

Perhatikan firman Allah dalam QS al-Munaafiqun [63] ayat 10: “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" 

Banyak sahabat Nabi Muhammad SAW yang menjadi saudagar atau pedagang kaya, tetapi memiliki akhlak dan kepribadian yang terpuji. Kekayaannya mereka pergunakan untuk membangun agama, membangun masjid, membangun sarana dan prasarana pendidikan, memperhatikan anak yatim dan bederma untuk kepentingan fakir miskin.

Allah SWT memuji mereka dalam QS an-Nuur [24] ayat 37: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” 

Demikian pula sahabat nabi yang hijrah dari Makkah ke Madinah karena agama (Muhajirin) dan sahabat nabi yang menetap di Madinah (Anshar) memiliki sifat yang mulia. Mereka kaya, tetapi kekayaan yang dibingkai dengan sifat kepemurahaan dan menjauhkan diri dari sifat rakus dan tamak.

 
Oleh karena itu, kerasukan dan ketamakan pada materi (harta kekayaan) hanyalah akan menyebabkan kehancuran kehidupan di dunia maupun di akhirat.
 
 

Perhatikan firman-Nya dalam QS al-Hasyr [59] ayat 8-9: “(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar (8).

Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri  mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (9).” 

Juga sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: "Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada zamanku  (generasiku) kemudian orang-orang setelah mereka (generasi tabi’in), kemudian orang-orang setelah mereka (generasi tabi’it tabi’in). Kemudian, akan datang sebuah kaum yang persaksian seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya".

Ibrahim berkata; "Dahulu, mereka (para sahabat) mengajarkan kami tentang bersaksi dan memegang janji (Mereka memukul kami bila melanggar perjanjian dan persaksian).”

Oleh karena itu, kerasukan dan ketamakan pada materi (harta kekayaan) hanyalah akan menyebabkan kehancuran kehidupan di dunia ini maupun di akhirat  nanti. Sebagai bangsa yang beriman, masyarakat Indonesia, apalagi para pemimpinnya harus berusaha menghindari dan menjauhi sifat rakus dan tamak.

Harus disadari, harta kekayaan bukanlah tujuan akhir, ia hanya berfungsi sebagai sarana dan prasarana untuk melakukan pengabdian kepada Allah dan memberikan manfaat yang banyak bagi kehidupan umat manusia.

Wallahu a’lam bi ash-Shawab.

Kiai Abbas Abdul Djamil Tokoh Pergerakan Cirebon

Kontribusinya dalam mengusir penjajah sangat besar melalui gerilya Laskar Hizbullah.

SELENGKAPNYA

Jihad Santri Melawan Penjajah

Sesudah Indonesia merdeka, kalangan santri semakin merapatkan barisan untuk membela Tanah Air.

SELENGKAPNYA