Warga melintasi lapak penukaran uang di London, Senin (26/9/2022). Krisis moneter di Inggris turut menjatuhkan nilai poundsterling terhadap dolar AS. | AP/David Marueil

Internasional

Inggris Alami Inflasi Tertinggi dalam 40 Tahun

Harga bahan pangan Inggris pada September melesat dengan laju tercepat sejak 1982.

LONDON -- Harga bahan pangan Inggris pada September melesat dengan laju tercepat sejak 1982. Kondisi ini membuat Inggris mengalami inflasi tertinggi dalam 40 tahun terakhir.

Badan statistik Inggris yaitu Office for National Statistics (ONS) melaporkan pada Rabu (19/10), Harga pangan naik 14,6 persen sepanjang tahun hingga September. Kenaikan ini dipicu oleh harga yang meroket pada makanan pokok seperti roti, susu, telur, dan daging.

Kenaikan pangan menjadi porsi terbesar yang mendorong indeks harga konsumen (IHK) mencapai 10,1 persen. Ini adalah inflasi tertinggi di Inggris, terhitung sejak awal 1982.

Biaya transportasi juga naik 10,9 persen, harga furnitur dan perlengkapan rumah tangga naik 10,8 persen, serta harga pakaian meningkat 8,4 persen. Biaya hidup rumah tangga menjadi naik 9,3 persen akibat dipicu oleh kenaikan harga energi.

photo
Warga melintasi berita soal jatuhnya nilai poundsterling di London, Senin (26/9/2022).  - (AP/Frank Augstein)

Pemerintah berupaya mengatasi dampak dari kenaikan harga energi dengan cara menahan kenaikan tarif listrik dan gas alam. Namun, langkah ini diperkirakan hanya akan bertahan selama enam bulan ke depan dan bukan dua tahun seperti yang dijanjikan sebelumnya.

Artinya, inflasi diperkirakan tetap tinggi dan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya. Apalagi, saat subsidi untuk sektor energi akhirnya dicabut pemerintah.

"Perkiraan suram ini berarti penghasilan keluarga akan terus menurun tajam tahun depan, khususnya saat subsidi energi dicabut," kata Jack Leslie, ekonom senior di Resolution Foundation, lembaga //think tank// yang fokus pada peningkatan standar hidup di kalangan warga berpenghasilan rendah dan menengah.

Laju inflasi yang cepat juga menyulut perkiraan bahwa Bank of England akan menaikkan suku bunga lebih tinggi dan lebih cepat. Bank sentral Inggris ini berupaya memperlambat laju inflasi sekaligus menyelamatkan Inggris agar tidak terjatuh ke dalam resesi. Menurut ONS, secara keseluruhan perekonomian Inggris mundur 0,3 persen pada Agustus, setelah sebelumnya naik hanya 0,1 persen pada Juli.

Kondisi ini meningkatkan tekanan besar kepada pemerintahan baru Inggris untuk menyeimbangkan kembali neraca keuangannya. Pemerintah juga kini berupaya meraih kepercayaan publik dan dunia usaha.  

Chancellor of the exchequer atau menteri keuangan Inggris yang baru, Jeremy Hunt, mengatakan kepada parlemen, "Pemerintah harus memprioritaskan bantuan untuk warga yang paling rentan sembari menciptakan stabilitas ekonomi yang lebih luas."

Glenn Sanderson, kepala sekolah St. Aidan’s Catholic Academy di Sunderland, mengatakan bahwa sekolah-sekolah yang ada di wilayahnya kini kesulitan untuk menyediakan makanan untuk murid yang membutuhkan. Banyak sekolah yang mengalihkan alokasi anggaran mereka untuk buku sekolah dan bimbingan di kelas ke program subsidi makanan murid.

"Orang tua harus membuat keputusan berat apakah mereka harus membayar ongkos bus agar anak mereka bisa bersekolah atau mereka menggunakan uang itu untuk kebutuhan makan anak-anak mereka?" kata Sanderson kepada BBC.

Perang Rusia dan Ukraina berdampak global pada kenaikan harga pangan dan energi, karena pasokan gas alam dan biji-bijian terhambat. Tekanan itu meningkatkan harga parang mulai tahun lalu, di tengah harapan bahwa ekonomi akan mulai tumbuh kembali usai pulih dari pandemi Covid-19.

Kondisi di Inggris ini cerminan di sebagian besar negara-negara lain. Amerika Serikat (AS) mengalami inflasi tertinggi dalam beberapa puluhan tahun terakhir yaitu hingga 8,3 persen. Sementara nilai tukar dolar AS terhadap yen Jepang berada pada puncak tertinggi dalam 32 tahun.

Bank sentral Eropa yaitu European Central Bank akan menggelar pertemuan pekan depan. Mereka akan merumuskan kenaikan suku bunga untuk mengatasi inflasi di 19 negara yang menggunakan mata uang euro. Badan statistik Uni Eropa, Eurostat, pada Rabu menyatakan inflasi di zona euro pada September menurun tipis menjadi 9,9 persen.

Penggunaan Obat Sirop Dihentikan Sementara

Hampir 50 persen pasien yang mengalami gangguan ginjal akut meninggal dunia.

SELENGKAPNYA

Reka Ulang, tak Ada Tembakan ke Tribun 

Ada 30 adegan yang diperagakan, termasuk penembakan gas air mata.

SELENGKAPNYA

Survei: Prabowo-Erick Duet Ideal

Ada empat faktor yang membuat responden lebih banyak memilih paslon Prabowo-Erick.

SELENGKAPNYA