Cerpen Subarni Ingin Tidur Nyenyak | Daan Yahya/Republika

Sastra

Subarni Ingin Tidur Nyenyak

Cerpen Tin Miswary

Oleh TRY MISWARY

Dengan tangan gemetar, Subarni melempar selimutnya ke lantai, membiarkannya menubruk debu-debu halus yang belum disapu. Napasnya memburu, berat dan liar, seperti kerbau penarik balok di hutan raya. Matanya separuh terpejam, namun tetap berusaha menangkap arah, lalu tubuhnya terangkat perlahan, duduk bersandar di tepian ranjang yang berderit pelan. Pandangannya memendar, menyapu dinding kamar yang masih tenggelam dalam remang. Hidungnya kembali menangkap aroma ganjil, bau mesiu dan anyir yang menyelinap halus, membuat perutnya mendadak bergolak.

Setiap kali mimpi itu datang, aroma itu selalu menyergap, melekat rapat, seintim sepasang kekasih yang saling memeluk. Bau mesiu dan anyir itu seakan menjadi pertanda, pembuka tabir bagi kisah-kisah lama yang telah lama terkubur di dasar waktu. Cerita-cerita yang tak pernah benar-benar pergi itu, selalu datang mengendap dalam mimpi-mimpi Subarni, bekas prajurit yang kini hanya memilin waktu, menunggu mati yang entah kapan. Dalam mimpinya, ia melihat bayang-bayang mengambang, samar, namun nyata. Suara-suara ganjil menyertainya, lirih, kadang menderu, membangunkannya di tengah malam seperti bocah tersesat di pasar beraroma rempah, menjerit mencari ibunya.

Usai memungut kembali selimutnya yang kini dipeluk debu, Subarni melangkah lunglai ke luar kamar. Ia menapaki lantai dingin menuju beranda rumah yang menghadap kuburan. Di sanalah, istri dan anak semata wayangnya kini bermukim, mengukir sunyi dan sesekali bercakap-cakap dengan malaikat sembari menunggu langit digulung. Subarni mengempaskan tubuh rentanya pada kursi rotan yang tergeletak diam di sana. Dia berusaha menghidu aroma pagi yang menyembur hawa dingin. Di langit-langit beranda, sepasang burung kucica mulai bernyanyi, menyapa sang tuan yang kembali terjaga.

“Harusnya ini sudah berakhir,” desis Subarni, lirih. “Sudah terlalu lama.”

Sejak mimpi-mimpi itu datang bertahun-tahun silam, Subarni tidak pernah bisa memejam mata dengan tenang. Ketika istrinya masih hidup, perempuan itu selalu hadir dalam gelap, memeluk tubuh Subarni yang basah oleh peluh dan kecemasan. Ia akan membisikkan bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa mimpi hanyalah mimpi. Namun kini, ketika istri dan anaknya terbakar menjadi abu dalam kecelakaan pesawat dua bulan lalu, tak ada lagi peluk yang menenangkan. Setiap kali mimpi itu datang, Subarni hanya bisa merintih sendirian, membuang selimut, dan sesekali memaki, atau kadang-kadang dia akan membunuh sepasang cecak yang sedang bersanggama di dinding kamar.

Dalam mimpinya, Subarni melihat dirinya sendiri berjalan di tengah ladang yang dipenuhi perdu. Telapak kakinya menginjak rerumputan basah yang membuat bulu kuduknya menari pelan, ditemani nyanyian serangga yang terdengar seperti suara api yang merambat di rumpun bambu. Lalu, dari balik rimbun yang tak bernama itu, ratusan tangan merangsek keluar menembus tanah seperti akar-akar kayu, mencengkeram kaki Subarni, menariknya ke dalam bumi.

“Keluarkan kami!” 

Mendengar suara itu, Subarni meronta. Dia berusaha lepas, dan tepat saat tubuhnya nyaris tertelan tanah, ia terjaga dan mulutnya tergagap. Dia duduk lemas di atas ranjang, napasnya memburu, tubuhnya menggigil. 

Kini, di beranda yang dibekap sunyi, Subarni duduk menekur, diam dalam bayang dirinya sendiri. Pikirannya melayang menerabas lautan waktu. Berpuluh-puluh tahun lalu, dia begitu gagah. Tubuhnya tinggi dan keras seperti batang meranti, memakai loreng dengan senapan tersangkut di bahu. Dia adalah seorang tentara muda yang saban hari ditugaskan memburu pemberontak. Dia menghabiskan banyak waktu dalam desing peluru dan dentum senapan, membidik musuh dengan presisi agar tidak ada pelor yang terbuang, seolah setiap nyawa hanyalah hitungan statistik.

Namun setiap kali perintah penyerbuan datang, ada ngilu yang menyeruak di dadanya: tajam dan dingin, seperti tersayat lempengan seng yang dipenuhi karat. Subarni tahu, dia tak punya pilihan lain. Menjadi tentara adalah cita-cita masa kecilnya, impian yang dulu terasa gagah dan mulia. Tapi medan tempur tak pernah seperti di buku pelajaran. Bau kematian yang lengket, menyusup hingga ke batang-batang pinang di pedalaman, membuat langkahnya gamang. Ia mulai berpikir untuk berlari, ingin menjauh. Dia sudah tidak sanggup lagi menjadi penjual tiket bagi kematian orang lain.

Pernah suatu kali, dalam pertempuran di pedalaman Pidie, Komandan memerintahkan Subarni untuk membakar rumah-rumah penduduk. “Ini strategi! Kata sang Komandan dengan suara bariton, sambil matanya menatap Subarni. “Biar tak ada lagi yang memberi perlindungan pada para pemberontak.”

Saat perintah itu jatuh seperti palu di atas kepala, batin Subarni bergolak hebat, bergemuruh seperti petir yang menyambar pucuk beringin. Dalam kekalutan itu, sempat terlintas di kepalanya untuk mengangkat senapan dan mengarahkannya ke dada sang Komandan. Tapi nyali itu luntur seketika, seperti api unggun yang mendadak padam disiram hujan. Maka, dengan tangan bergetar, dia pun mulai menyulut api. Dia membakar bangunan-bangunan itu seperti petani membakar sampah di ladang, membuat asap mengepul, mengambung di bawah langit, membawa serta tangisan dan ratapan perempuan dan anak-anak yang tak pernah menduga kalau setan tidaklah mesti bertanduk, tapi bisa hadir dalam wujud yang begitu anggun.

Sejak peristiwa itu, di sela tugas yang tak pernah betul-betul usai, di antara desing peluru dan dentum senapan yang masih bergaung di telinga, Subarni lebih sering memilih diam di barak. Di sanalah ia duduk lama, mengelus senapan yang dulu begitu ia banggakan, yang kini menyimpan bara kematian. Matanya kerap kosong menatap lantai, tapi pikirannya melayang pada tubuh-tubuh yang dulu rebah, berlumur darah, jatuh ke tanah seperti ranting yang baru ditebas. Kadang, air matanya jatuh tanpa bisa dicegah, membasahi lantai kasar, menyisakan sembap di mata dan rasa terbakar di sekujur tubuh, seperti luka ditaburi garam.

Setelah perang usai, Subarni memilih pensiun muda. Ia ingin menjauh dari suara tembakan dan bau darah, lalu beralih menjadi petani kopi di lereng yang sejuk. Untuk beberapa waktu, hidupnya serupa danau di pagi buta: tenang dan nyaris tanpa riak. Hasil panen yang sederhana dan sedikit gaji pensiun saban bulan cukup untuk menyambung hari, memberi makan dirinya, istri, dan anak semata wayangnya. Namun, ketika usianya menua hingga tujuh puluh, tubuh kekarnya mulai mengerut, mengempis seperti belimbing wuluh yang lama diperam. Dan bersamaan dengan itu, mimpi-mimpi ganjil mulai datang, menggempur malam-malamnya dengan garang. Tak ada lagi ketenangan; yang tersisa hanya bayang-bayang yang makin dekat dan suara-suara dari masa silam yang enggan pergi. 

Dengan langkah tertatih, Subarni kembali masuk ke kamar. Ia menarik selimut perlahan, membungkus tubuh tuanya yang mulai rapuh. Mata keruhnya terpejam, bibirnya lirih merapal sisa-sisa doa yang masih diingat, barangkali demi sedikit damai, barangkali demi malam yang tak lagi diserang bayang. Dan pagi pun menjalar perlahan, menyentuh tirai jendela tanpa suara. Tak ada mimpi yang datang di sisa pagi yang tinggal sejengkal itu, hanya hening, menggantung di antara napas yang masih bersisa.

Namun, keesokan malamnya, mimpi itu datang lagi, seperti biasa, seperti tamu lama yang tak pernah lupa alamat. Ia membawa serta suara-suara dan bayang-bayang yang kini tak lagi membuat Subarni gentar. Semuanya telah menjadi akrab, seperti denting lonceng sepeda penjual jamu yang saban pagi lewat di depan rumahnya. Tapi malam itu berbeda. Untuk pertama kalinya, Subarni tak terbangun dengan teriakan. Ia tetap tinggal di dalam mimpi, memilih menetap. Di sana, ia menunduk perlahan, menatap wajah-wajah yang muncul dari tanah satu per satu. Wajah-wajah tanpa nama: anak-anak kecil, perempuan yang menggenggam bayinya erat-erat, dan seorang lelaki tua dengan raut wajah retak, yang mengangguk padanya pelan, seolah berkata: kami ingat.

Subarni meraih pensil yang tergeletak di meja, lalu mulai menuliskan apa saja yang ia lihat, apa yang ia dengar dalam mimpi-mimpinya. Goresannya bergetar, seolah tangannya ingin menyampaikan sesuatu sebelum semuanya lenyap. Di luar, burung kucica bersiul-siul seperti biasa di beranda, menyambut pagi yang pelan-pelan datang, sementara Subarni terus menulis, menggambar wajah, suara, dan akar-akar yang menjerat.

Sampai pada suatu pagi yang hening, ketika matahari masih mengendap-endap di balik kabut, tetangga menemukannya duduk kaku di kursi rotan. Matanya terbuka, menatap lurus ke arah dua gundukan kecil di pekarangan rumah. Di pangkuannya tergeletak sebuah buku lusuh yang lembar-lembarnya telah renyuk, penuh coretan tangan dan gambar-gambar kasar: deskripsi tentang ladang-ladang perdu penuh darah, tangan-tangan yang mencakar dari tanah, dan tangisan yang tak kunjung reda. Di halaman terakhir yang terlihat lembap, tetangga menemukan satu kalimat: Aku hanya ingin tidur nyenyak.

Di hari-hari berikutnya, kursi rotan itu tetap di tempatnya, bergoyang pelan ditiup angin, kosong dan sunyi. Tak ada lagi Subarni di sana. Hanya sisa bau anyir dan aroma mesiu yang menetap, menyusup pelan ke dinding rumah, ke dedaunan kopi, dan ke lubuk ingatan para tetangga. Bau itu tak pernah benar-benar hilang, seperti luka yang terus menganga.

Dan akhirnya, Subarni pun benar-benar bisa tidur nyenyak untuk pertama kalinya.

 

Tin Miswary, menulis cerpen, esai dan resensi buku. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat