Calvin Nix membantu istrinya Karen Nix pergi bekerja di New Orleans, AS, Selasa (2/8/2022). Kaen Nix adalah penyandang serebral palsy yang juga penyintas Badai Ida. | AP Photo/Gerald Herbert

Kisah Mancanegara

Mereka yang Tertinggal dalam Bencana Alam

Di tengah ancaman iklim yang kian nyata, sudah saatnya masyarakat berpikir lebih inklusif.

OLEH RIZKY JARAMAYA

Ketika badai mengancam New Orleans, Amerika Serikat (AS), sulit bagi India Scott untuk mencari tahu ke mana dia harus pergi. Selama Badai Katrina terjadi, Scott tinggal di tempat penampungan Superdome yang penuh sesak.

Menurut sebagian besar orang, tempat penampungan memberikan perlindungan paling aman. Namun bagi Scott tempat penampungan membuatnya merasa tidak aman, karena sulit diakses oleh penyandang disabilitas.

Scott terlahir cacat dan telah menggunakan kursi roda sepanjang hidupnya. Bahkan ketika cuaca tenang di New Orleans, dia enggan meninggalkan rumah untuk mengunjungi teman, pergi berbelanja, maupun makan di restoran.

Ia menilai tempat di luar rumahnya tidak dapat menjamin ia dapat melakukan hal-hal dasar, seperti menggunakan kamar kecil, melewati pintu masuk, atau naik ke tempat tidur. Scott tinggal di lingkungan Aljir di New Orleans.

Kediamannya memiliki desain sangat nyaman dan disesuaikan dengan kebutuhannya sebagai penyandang disabilitas. Misalnya, ukuran pintu masuk yang diperlebar untuk kursi rodanya, dan tempat tidur lebih rendah agar memudahkannya beristirahat.

photo
Calvin Nix mengantar istrinya Karen Nix pergi bekerja di New Orleans, AS, Selasa (2/8/2022). Kaen Nix adalah penyandang serebral palsy yang juga penyintas Badai Ida. - (AP Photo/Gerald Herbert)

Tetapi Scott masih khawatir karena dia tinggal di dekat tanggul. Kekhawatirannya, makin bertambah setiap kali ada badai besar atau badai tropis yang dapat menimbulkan banjir besar. “Saya mencoba yang terbaik untuk membuat rumah saya nyaman. Tetapi jika air itu meluap, saya dalam masalah," ujar Scott.

Ketika badai datang, Scott mengatakan dia tidak bisa mengandalkan pemerintah kota, negara bagian atau federal. Dia mengatakan, tidak ada dukungan yang memadai untuk penyandang disabilitas sebelum bencana hingga setelah bencana dari badan manajemen darurat di semua tingkat pemerintahan.  "Kami sendirian," kata Scott sambil menangis, seperti dilansir dari The Associated Press, Ahad (16/10).

Para ahli dan aktivis mengatakan, penyandang disabilitas tidak dilibatkan dalam perencanaan darurat dan bencana. Terutama. Dalam menghadapi rintangan yang tidak dihadapi oleh orang-orang yang berbadan sehat saat bencana terjadi.

Menurut laporan Program Penelitian Aksi Iklim Inklusif Disabilitas di McGill University dan International Disability Alliance yang dirilis pada Juni 2022, ketika bencana terkait iklim menjadi lebih umum dan lebih parah, sebagian besar negara di dunia mengabaikan kewajiban mereka untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak-hak penyandang disabilitas.

Para peneliti menemukan, hanya 32 dari 192 negara yang menandatangani Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Kesepakatan Iklim Paris pada 2015 yang melibatkan penyandang disabilitas dalam rencana iklim resmi mereka. Kemudian sebanyak 45 negara mengacu pada penyandang disabilitas dalam kebijakan adaptasi iklim mereka.

 
Para peneliti menemukan, hanya 32 dari 192 negara yang menandatangani Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Kesepakatan Iklim Paris pada 2015.
 
 

Tapi, tetap tidak ada negara yang menyebutkan penyandang disabilitas dalam rencana mitigasi iklimnya. Sebagian besar kontributor terbesar dunia untuk perubahan iklim seperti AS, Cina, Rusia, Brasil, Jerman, Jepang, dan Inggris, tidak memasukkan penyandang disabilitas ke dalam rencana mitigasi iklim.

Padahal sebanyak 185 negara meratifikasi Konvensi PBB tentang Hak Penyandang Disabilitas, yang disusun pada 2006. Ratifikasi itu mengatakan, negara-negara akan mengambil langkah untuk memastikan perlindungan dan keselamatan penyandang disabilitas dalam darurat kemanusiaan dan terjadinya bencana alam.

Saat ini, penyandang disabilitas bukanlah bagian kecil dari populasi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada lebih dari satu miliar orang di dunia yang hidup dengan disabilitas pada 2011.

Jumlah ini merupakan 15 persen dari populasi global pada saat itu.  Belum lama ini para peneliti dari Disability Data Initiative memperkirakan, persentase penyandang disabilitas rata-rata kini mencapai 12,6 persen di 41 negara.

“Kami masih mengecewakan penyandang disabilitas. Terutama orang-orang yang terpinggirkan, sebelum, selama dan setelah bencana,” CEO World Institute on Disability, Marcie Roth, kepada Kongres AS pada Juli. 

photo
Karen Nix bekerja di New Orleans, AS, Selasa (2/8/2022). Kaen Nix adalah penyandang serebral palsy yang juga penyintas Badai Ida. - (AP Photo/Gerald Herbert)

Petugas kebijakan untuk Learning Disability Wales, Grace Krause, mengatakan, krisis iklim tidak hanya memengaruhi penyandang disabilitas fisik. Krause mengkhawatirkan, sedikitnya informasi tentang perubahan iklim yang disajikan dalam format yang "mudah dibaca" untuk orang-orang dengan cacat kognitif tertentu. Sejauh ini, ada dua acara terkait disabilitas di COP26.

Pertama, tentang mendesain kota yang tahan iklim dan dapat diakses. Kedua, tentang kesehatan mental dan aksi iklim. Tetapi keduanya adalah acara pendukung, sementara inklusi disabilitas dalam aksi iklim jarang menjadi panggung utama.

Profesor Universitas Georgetown Julia Watts Belser, yang juga sehari-hari beraktivitas menggunakan kursi roda, mengatakan, keterlibatan penyandang disabilitas dalam perencanaan mitigasi dan adaptasi iklim sangat penting. Saat ini, ia juga tengah memimpin inisiatif mengeksplorasi persimpangan perubahan iklim dan disabilitas di Georgetown dan mengajar kelas yang disebut Disabilitas, Etika, Ecojustice.

Menurutnya, di tengah ancaman iklim yang kian nyata di depan mata, sudah saatnya masyarakat berpikir secara lebih inklusif. Termasuk juga, untuk tidak meninggalkan siapapun untuk mati dalam kondisi bencana.

Agar Keuangan Keluarga Terjaga

Para ibu bisa memilih opsi menabung atau investasi yang memberikan hasil akhir yang berbeda.

SELENGKAPNYA

Kain Persembahan Sultan

Tanggal 7 Oktober diperingati sebagai Hari Kapas Sedunia, tanaman yang buahnya selama berabad-abad berjasa menutup aurat warga bumi. 

SELENGKAPNYA

Sejarah Narkoba di Batavia

Sebelum masa VOC (1619), madat atau candu merupakan komoditas yang diperdagangkan di pelabuhan Sunda Kelapa.

SELENGKAPNYA