Keluarga mencocokkan foto suporter korban kerusuhan pertandingan Arema Vs Persebaya di kamar jenazah Rumah Sakit Saiful Anwar Malang, Jawa Timur, Minggu (2/10/2022). Per pukul 11.20 WIB sebanyak 129 suporter Arema dinyatakan meninggal dunia pasca kerusuha | ANTARA FOTO/Syaiful Arif

Khazanah

03 Oct 2022, 05:24 WIB

Ormas Islam Sesalkan Tragedi Kanjuruhan

Tragedi ini dinilai mengoyak muruah bangsa dan negara Indonesia

JAKARTA – Kerusuhan yang berujung tragedi pada pertandingan sepak bola di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menimbulkan keprihatinan dan duka mendalam di berbagai lapisan masyarakat, tak terkecuali kalangan ormas Islam. Tragedi yang merenggut lebih dari 100 korban jiwa ini dinilai mengoyak muruah bangsa dan negara Indonesia.

Keprihatinan dan duka mendalam atas tragedi yang terjadi pada Sabtu (1/10) malam itu antara lain disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Haedar Nashir. Pada saat yang sama, Haedar juga menyesalkan peristiwa tragis itu.

“Kami menyesalkan peristiwa tragis tersebut, lebih-lebih menyangkut nyawa manusia yang besar jumlahnya, padahal satu jiwa saja sangat berharga yang harus dijaga,” ujar Haedar dilansir laman resmi Muhammadiyah, Ahad (2/10).

photo
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir - (Wihdan/Republika)

Haedar mengatakan, media massa menyebut jumlah kematian akibat kerusuhan tersebut termasuk yang tertinggi di dunia dari sejumlah kerusuhan yang pernah terjadi pada pertandingan sepak bola. Belum terhitung korban luka-luka akibat kerusuhan tersebut.

Publik di berbagai media massa dan media sosial, lanjut Haedar, menyesalkan cara dan tindakan dalam menangani kerusuhan tersebut, sehingga jatuh korban meninggal yang besar. “Banyak pihak menyesalkan mengapa kerusuhan sampai terjadi dan korban begitu banyak jatuh,” katanya.

Karena itu, menurut Haedar, perlu ada investigasi yang objektif dan tuntas dari berbagai aspek atas kerusuhan dan terjadinya korban jiwa yang besar itu. Sebab, kasusnya bukan hanya nasional tetapi sudah berskala global. “Tragedi ini mengoyak marwah bangsa dan negara Indonesia,” ujar dia.

 

 

 Tragedi ini dinilai mengoyak muruah bangsa dan negara Indonesia

 

HAEDAR NASHIR Ketua Umum PP Muhammadiyah
 

 

Tragedi itu terjadi usai pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya dengan skor akhir 2-3 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10) malam. Kekalahan itu menyebabkan sejumlah suporter Arema FC turun dan masuk ke dalam area lapangan, sehingga kerusuhan pun pecah.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendi pada Ahad (3/10) siang, mengumumkan bahwa korban meninggal dunia akibat tragedi di Stadion Kanjuruhan mencapai 130 orang.

Duka mendalam atas tragedi di Stadion Kanjuruhan juga disampaikan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan, KH Ahmad Fahrurrozi atau Gus Fahrur. “Ini tragedi yang sangat menyedihkan, harus dievaluasi menyeluruh siapa yang harus bertanggung jawab,” kata dia.

Ia menegaskan, pihak yang bersalah harus ditindak dan dihukum. Sementara kompetisi dihentikan untuk investigasi agar diketahui penyebab dan kronologi sebenarnya. “Kita harus muhasabah, mengapa sepak bola yang seharusnya menyenangkan kok jadi mengerikan,” ujar Gus Fahrur.

 

 

Kita harus muhasabah, mengapa sepak bola yang seharusnya menyenangkan kok jadi mengerikan

 

KH AHMAD FAHRURROZI Ketua PBNU Bidang Keagamaan
 

 

Menurut dia, perlu dievaluasi apakah penanganan represif pihak keamanan dan penggunaan gas air mata sudah sesuai standar protap keamanan di stadion. Penggunaan gas air mata diduga membuat penonton panik dan berdesakan di pintu, kemudian terinjak-injak sehingga jatuh banyak korban.

“Fanatisme berlebihan terhadap klub sepak bola harus dihentikan, mungkin dipertimbangkan lebih baik menonton di televisi saja," kata Gus Fahrur.

Hal senada juga disampaikan Ketua Umum PP Persatuan Islam (Persis) KH Jeje Zaenudin. "Ini peristiwa penting untuk jadi dasar evaluasi dan perubahan kebijakan mendasar dalam mengelola persepakbolaan," ujar dia.

photo
Ustaz Jeje Zainudin - (DOK Pribadi)

Kiai Jeje menekankan, peristiwa maut yang mengerikan ini patut menjadi peringatan keras bagi semua pemangku kepentingan, terutama pemerintah. Bahwa olah raga sepak bola khususnya, sekian lama telah diselewengkan oleh pihak-pihak tertentu dari fungsi dan tujuannya yang mulia.

Hal tersebut sebagaimana telah diamanatkan oleh UU Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional yang telah diganti dengan UU Nomor 11 Tahun 2022. Olahraga, menurut Kiai Jeje, semestinya menjadi instrumen pembangunan kesehatan fisik jasmani bangsa, pembentukan karakter dan akhlak mulia, menciptakan kesatuan dan persatuan bangsa, menanamkan jiwa patriot serta semangat persaingan yang sportif.

"(Namun) sering kali menyimpang menjadi ajang judi dan pertaruhan, judi online, suap- menyuap, hingga mafia gol dan sebagainya. Demikian juga sering kali menjadi ajang fanatisme kelompok suporter yang cenderung destruktif," kata dia.

Ia menegaskan, pemerintah dan seluruh pihak terkait wajib bertanggung jawab atas tragedi memilukan ini dari semua aspeknya. n ali yusuf ed: wachidah handasah ';

×