Logo Perserikatan Bangsa-Bangsa di luar markas besar PBB di New York. | AP/John Minchillo

Tajuk

26 Sep 2022, 03:45 WIB

Friksi Bangsa-Bangsa

Friksi bangsa-bangsa yang membawa kepentingan masing-masing.

Pandangan berhamburan dari para pemimpin negara pada Sidang Umum PBB sesi ke-77 di New York, AS. Dalam prosesi dari 13-27 Sepetember 2022 ini, masing-masing pemimpin menyampaikan kepentingannya, upaya menggalang dukungan, dan melontar kritik.

Harapan masyarakat dunia terhindar dari beragam bencana tampaknya masih jauh. Pertikaian geopolitik, ancaman bencana, dan kemiskinan yang nyata saat ini belum mampu menyatukan dunia. Friksi antarnegara atau blok negara masih mengemuka.

Perang Rusia dan Ukraina masih menjadi sorotan utama. AS dan negara-negara Eropa konsisten menentang invasi Rusia terhadap Ukraina, yang dianggap menempatkan dunia dalam bahaya. Termasuk menimbulkan krisis pangan sebagai dampaknya.

Presiden AS Joe Biden, yang menyampaikan pidato pada Rabu (21/9), menyatakan keprihatinannya, anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB menginvasi negara tetangganya. Ini merujuk Rusia sebagai salah satu anggota DK PBB selain AS, Inggris, Prancis, dan Cina.

 
Perang Rusia dan Ukraina masih menjadi sorotan utama. AS dan negara-negara Eropa konsisten menentang invasi Rusia terhadap Ukraina, yang dianggap menempatkan dunia dalam bahaya.
 
 

Rusia dianggap berupaya untuk menghapus negara berdaulat Ukraina dari peta dunia. Ukraina, menurut dia, memiliki kedaulatan sama dengan negara lainnya. Biden menyatakan, negaranya menentang agresi Rusia terhadap Ukraina.

Perang Rusia-Ukraina juga Biden anggap mengganggu keamanan pangan dunia. Membuat dunia berada dalam krisis pangan akibat pasokan gandum mandek. Melalui upaya mediasi oleh Turki, akhirnya kapal gandum bisa kembali berlayar menuju negara tujuan.

Menteri Luar Neger Rusia Sergei Lavrov menyampaikan alasan tindakan Rusia terhadap Ukraina pada pidato Sabtu (24/9). Lavrov berdalih operasi militer di Ukraina merupakan respons atas ancaman keamanan dari AS dan Uni Eropa terhadap mereka.

Saat pidato pembukaan, Selasa (20/9), Sekjen PBB Antonio Guterres di hadapan pemimpin dunia yang hadir soal kondisi dunia saat ini. Ia menegaskan, dunia dalam bahaya. Kita semua terkunci dalam disfungsi kolosal global.

 
Saat pidato pembukaan, Selasa (20/9), Sekjen PBB Antonio Guterres di hadapan pemimpin dunia yang hadir soal kondisi dunia saat ini. Ia menegaskan, dunia dalam bahaya. Kita semua terkunci dalam disfungsi kolosal global.
 
 

Komunitas internasional tak siap atau tak berniat mengatasi masalah tersebut. Guterres meminta pemimpin dunia membuat kebijakan untuk menghindari perang dan menghadirkan perdamaian. Juga memikirkan serius soal perubahan iklim dan kemiskinan ekstrem.

"Mari kita bekerja sebagai satu kesatuan, sebuah koalisi dunia, sebagai perserikatan bangsa-bangsa," kata Guterres. Sayangnya, hingga kini Guterres masih harus bersabar. Dunia masih dilanda pertikaian. Setiap negara memang menggalang koalisi, menggalang perserikatan.

Namun, koalisi dan perserikatan itu bukan menuju sebuah pesatuan global untuk membangun kemitraan bagi kesejahteraan dunia. Setiap perserikatan memperkuat dirinya dan mengadang mereka yang tak sejalan. Lalu menjadikannya sebagai rival.

Sebuah negara menjajah negara lainnya. Lalu, negara besar lainnya mendukung penjajahan itu. Tak ada langkah konkret untuk mengakhiri penindasan terhadap negara terjajah itu walaupun nyata-nyata melanggar aturan internasional.

 
Jadi, yang mewujud kini adalah perpecahan antarbangsa. Friksi bangsa-bangsa yang membawa kepentingan masing-masing.
 
 

Jadi, yang mewujud kini adalah perpecahan antarbangsa. Friksi bangsa-bangsa yang membawa kepentingan masing-masing. Friksi itu terus berlangsung meski misalnya, perang yang diinisiasi atau didukung sebuah atau kelompok negara melahirkan kesengsaraan.

Lihatlah lagi Palestina, Afghanistan, Suriah, Yaman, dan sejumlah negara Afrika. Pandangi pula ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan pengungsi yang terpaksa bertahan di kamp-kamp pengungsian. Mereka kehilangan rumah, kehidupan, juga mungkin kehilangan asa.

Maka itu, kita berharap, perserikatan bangsa-bangsa benar-benar menjadi sebuah perserikatan menuju kebaikan. Bukan sebaliknya. Kalaupun kita tak dapat menghapuskan friksi antarbangsa, paling tidak bisa mereduksinya.

Dengan begitu, dunia tak lagi bising oleh desing peluru, ratapan kematian, ataupun rintih kelaparan. Namun sebaliknya, dunia kemudian dipenuhi senyum dan tawa kebahagiaan. Tak ada lagi pertikaian yang menghadirkan kematian dan kenestapaan.  ';

Shalat Berdua dengan Lelaki Bukan Muhrim, Sahkah?

Bagaimana hukum bagi perempuan yang shalat berdua dengan laki-laki yang bukan mahram?

SELENGKAPNYA

Berwisata di dalam Gua

Golaga memiliki sejarah menarik mengenai penyebaran agama Islam di Purbalingga.

SELENGKAPNYA
×