Wisatawan beraktifitas di dalam Goa Lawa, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Ahad (20/10/2019). | Harviyan Perdana Putra/ANTARA FOTO

Safari

Berwisata di dalam Gua

Golaga memiliki sejarah menarik mengenai penyebaran agama Islam di Purbalingga.

OLEH IDEALISA MASYRAFINA

Wisata alam memiliki daya tarik tersendiri bagi mereka yang menyukai aktivitas luar ruang. Objek wisata Goa Lawa Purbalingga (Golaga) yang terletak di Desa Siwarak, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, menjadi salah satu destinasi yang bisa Anda pilih untuk berwisata alam.

Berjarak sekitar 25 kilometer (km) dari pusat Kota Purbalingga, Golaga dapat dicapai dengan mudah dalam satu jam perjalanan. Suguhan pesona gua alami dapat menjadi destinasi liburan keluarga dengan nuansa pegunungan yang sejuk di lereng Gunung Slamet. Tidak hanya itu, berbagai titik lokasi di sana pas untuk mendapatkan foto yang indah bagi para generasi milenial.  

Berbeda dengan gua kapur pada umumnya yang membentuk stalaktit dan stalagmit, Golaga terbentuk dari lava pegunungan aktif yang meleleh selama ribuan tahun. Proses pendinginan lava itulah yang mengakibatkan batuannya keras dan kuat dengan warna hitam. Dari struktur batuan pembentuknya, gua lava (lava tube) hanya ada di Purbalingga dan Bali.  

Luas ruangan Golaga yakni 6.683 meter persegi dengan panjang dari ujung ke ujung 1.200 meter. Semua bagian gua terbentuk dari lava gunung yang membeku. "Ini daya tarik utama Golaga, di gua lain ada stalagtit dan stalagmit, suhunya juga hangat. Di sini sejuk," ujar Manajer Golaga Adi Jaya Pamungkas kepada Republika, pekan lalu. 

photo
Kelelawar penghuni Goa Lawa - (Republika/ Tahta Aidilla)

Gua ini juga memiliki sejarah menarik mengenai penyebaran agama Islam di Purbalingga. Para mubaligh diyakini bersembunyi di dalam gua dalam mengadakan musyawarah untuk menyebarkan agama Islam pada masa Majapahit. Hal itu dibuktikan dengan adanya sembilan batu sebesar meja yang berada di dalam gua. 

Tersebutlah ada Mbah Jamur Dipa, Mbah Langlang Jagat, Mbah Langlang Buana, Kiai Penderesan, Kiai Sapujagat, Kiai Antaboga, Kiai Klenting Mungil, Kiai Soleman dan Kiai Sumber yang menjadi waliyullah saat itu. Mereka sering menggunakan ruangan untuk bermunajat, di antaranya Lorong Panembahan dan Ruang Langgar untuk shalat. Pancuran Slamet dan Sendang Drajat digunakan untuk bersuci sebelum bermunajat. 

 Meski memiliki sejarah dan bentuk yang menawan, pengelola Golaga merasa perlu memodifikasi agar gua tidak tampak menyeramkan dan dapat menarik banyak kalangan. Untuk itu, mereka memasang lampu warna warni di dalam gua, bahkan ada kedai Lava Coffee Shop di sana untuk bersantai.  

Menurut Adi, sebelum pandemi, pengunjung Golaga selalu ramai, utamanya di musim liburan. Tahun ini, pengunjung mulai kembali ramai, meski tidak seperti sebelum pandemi. "Puncaknya paling ramai di Lebaran sampai dengan Juli atau Agustus. Tapi, sekarang trennya mulai naik lagi di September." 

photo
Wisatawan beraktifitas di dalam Goa Lawa, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Ahad (20/10/2019). Goa Lawa yang terbentuk secara alami dari endapan batu beku lelehan lava Gunung Slamet tersebut menjadi salah satu wisata favorit Kabupaten Purbalingga saat akhir pekan. ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/hp. - (Harviyan Perdana Putra/ANTARA FOTO)

Berdasarkan data Perumda Owabong, perusahaan umum daerah yang mengelola destinasi wisata di Purbalingga, pengunjung Golaga adalah yang terbanyak keempat dibandingkan destinasi wisata lain yang dikelolanya. Jumlahnya sebanyak 75 ribu pengunjung. "Golaga ini masuk jadi empat destinasi wisata unggulan," ujar Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dinporapar) Purbalingga, Gunanto Eko Saputro. 

Dia menargetkan sebanyak 1,85 juta wisatawan hingga akhir tahun 2022 dengan 1,4 juta pengunjung pada Agustus 2022 ini. Destinasi wisata yang paling banyak dikunjungi adalah wisata keluarga, seperti Owabong Waterpark, D'las Lembah Asri, Taman Wisata Pendidikan (TWP) Purbasari Pancuran Mas, dan Goa Lawa Purbalingga (Golaga).

Pagelaran Busana dalam Gua

Demi mencapai target 1,85 juta wisatawan hingga akhir tahun, Pemerintah Kabupaten Purbalingga lebih menggaungkan lagi objek wisata unggulannya, Goa Lawa Purbalingga (Golaga). Gua kelelawar yang terbentuk dari lava ini akan menjadi tempat peragaan busana batik tahunan Batik in the Cave. 

Terakhir digelar pada 2019, ajang ini diharapkan tidak hanya dapat memperkenalkan batik khas Purbalingga, tapi jadi dorongan bagi sentra batik usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. "Harapannya, acara ini bisa mengangkat batik Purbalingga, memberdayakan desainer lokal Purbalingga, hingga meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan," kata Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dinporapar) Purbalingga, Gunanto Eko Saputro, pekan lalu.

Peragaan busana batik yang biasanya diadakan pada Desember ini bekerja sama dengan desainer nasional yang membimbing para perancang batik lokal. Pada 2019, gelaran ini menggaet desainer Samuel Wattimena yang membimbing para perancang lokal untuk menghasilkan lebih dari 200 pakaian batik ready to wear sesuai tema. 

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Purbalingga Rizal Diansyah menjelaskan, wadah ini membina perajin batik juga perancang lewat Asosiasi Fashion Desainer Purbalingga (Afdega). Tujuannya agar karyanya naik kelas, apalagi batik jadi salah satu dari enam produk unggulan Purbalingga. 

"Pada pelaksanaan Batik in the Cave #2 nanti akan menggandeng desainer asal Purbalingga dengan kualitas level internasional, yaitu SeanSheila yang masuk di ajang Paris Fashion Week 2022," ungkap Rizal Diansyah.

Ada beberapa nama desainer lainnya, seperti Anne Avantie dan Ivan Gunawan juga akan diajukan untuk menjadi pendamping para desainer lokal dalam Afdega.

Batik in the Cave #2 juga akan memperkenalkan ecoprint dan perhiasan dari batu alam Purbalingga, Batu Klawing, seperti Nagasui, Pancawarna, dan Jasper. Menurut Ketua Afdega Tio Wicaksono, 11 anggota Afdega akan mendampingi 22 sentra batik dalam merancang busana untuk Batik in the Cave 2022.

"Kami mau menampilkan batik ready to wear yang tidak melulu formal, tapi bisa dipakai hingga berbagai kalangan," katanya. 

Sebelumnya, 11 anggota Afdega menyiapkan lebih dari 300 busana dalam waktu 10 hari untuk ajang Soedirman Fashion Street pada Agustus 2022. Ajang itu membutuhkan kain batik sebanyak 350 potong yang dibuat oleh 20 sentra batik (250 orang pembatik) se-Purbalingga. Untuk gelaran nanti, Afdega kembali memperkenalkan desain motif batik Soedirman. "Walaupun nantinya akan ada motif batik lainnya," tutur Tio.

Mengungkap Nasihat Mao Kepada Aidit

Selain menguak soal peranan Mao Tse-tung, Fic dalam buku ini juga berani membuka misteri di Halim Perdana Kusuma pada 1 Oktober 1965.

SELENGKAPNYA

Pengobatan THT Warisan Peradaban Islam

Pengobatan gangguan THT merupakan kontribusi besar dunia Islam bagi peradaban manusia hingga saat ini

SELENGKAPNYA

Mujahadah

Beberapa riwayat menyebutkan ijtihad lebih utama daripada jihad

SELENGKAPNYA