Istana Alhambra | DOK Wikipedia

Silaturahim

Prof Hamid Fahmy Zarkasyi, Peradaban Islam Membawa Rahmat

Setiap memecahkan persoalan, Muslim merujuk kepada Alquran

 

Zaman Rasulullah mendakwahkan Islam, kemudian dilanjutkan sahabat, para tabiin, dan tabiut tabiin adalah era peradaban Islam maju dengan pesat. Pada saat itu dunia menyoroti bagaimana umat Islam membangun peradaban sehingga banyak tokoh ilmuwan bermunculan. Kala itu, banyak negara memperhatikan bagaimana umat Islam berinteraksi dengan Alquran dan hadis sebagai sumber rujukan utama dalam menjalani kehidupan.

Guru besar filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor Prof Dr Hamid Fahmy Zarkasyi mengatakan, sejarah mengabadikan kegigihan para sahabat dalam menghafalkan dan mengamalkan Alquran. Ketika Rasulullah SAW membacakan sebuah ayat Alquran dan menjelaskan kandungannya, para sahabat segera menghafalkan dan mengamalkannya.

“Mereka tak sedikit pun melupakan pesan-pesan yang disampaikan Rasulullah, mereka juga merekam kuat dalam ingatannya setiap perilaku Rasulullah, dan meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar murid cendekiawan Muslim kelas dunia Prof Muhammad Naquib Al-Attas ini, dalam sebuah sesi kuliah umum, beberapa waktu lalu.

photo
Sejumlah warga lanjut usia (lansia) membaca Alquran saat mengikuti Pesantren Ramadhan Lansia di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Rabu (6/4/2022). Pesantren kilat yang digelar oleh Majelis Taklim Pusdai Jawa Barat itu diikuti oleh puluhan lansia untuk mengisi waktu selama Ramadhan dengan belajar mengaji dan wawasan hukum-hukum islam yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Foto: Republika/Abdan Syakura - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Setelah masa para sahabat berakhir, para tabiin dan tabiit tabiin juga melakukan hal serupa. Yakni, menghafal dan mengamalkan Alquran dan hadis. Prof Hamid mengatakan, para orientalis pun berupaya mengamati rahasia yang membuat majunya peradaban Islam pada waktu itu. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa pada zaman dulu banyak orang menghafalkan Alquran, memahami, dan mengamalkannya sebelum menguasai disiplin ilmu apa pun. 

“Semua ulama pada waktu itu apa pun keahliannya: matematika, fisika, biologi, filsafat, semuanya sudah menghafalkan Alquran. Ibnu Sina pun sudah menghafalkan Alquran sebelum belajar kedokteran dan filsafat Islam. Jadi, Alquran itu mengiringi perjalanan keilmuan para ulama kita. Itu sebenarnya yang menjadi idaman yang ingin kita tiru," kata Prof Hamid.

Karena itu Prof Hamid mendorong generasi Muslim saat ini membekali diri dengan hafalan Alquran serta berkemampuan untuk merujuk setiap persoalan kepada Alquran. Sehingga, dalam setiap memecahkan persoalan muslim merujuk kepada Alquran. Prof Hamid mengatakan, para orientalis sangat takjub dengan cara ajaran Islam menyebar dari jazirah Arab hingga ke Eropa kala itu. 

photo
Wakil Rektor I Universitas Darussalam Gontor, Hamid Fahmy Zarkasyi - (Republika)

Mereka mendapatkan temuan bahwa pasukan Muslim datang ke Persia, Spanyol, dan negara-negara lainnya tidak membawa kultur Arab ke negara yang diduduki. Melainkan pasukan Muslim membawa Alquran dan hadis yang menjadi pandangan hidup mereka. Karena itu, ketika umat Muslim menaklukan suatu negara, maka negara yang diduduki itu dengan cepat mengalami kemajuan peradaban yang sangat pesat.

"Ketika (Islam) datang ke Baghdad, maka Baghdad menjadi tumbuh peradabannya, ilmu pengetahuannya luar biasa (maju).  Datang (Islam) ke Spanyol membuat tata kotanya tidak ada duanya, sanitasinya pun menjadi sangat canggih. Saya yakin itu terinspirasi dari Alquran dan hadis. Sebab, di tempat-tempat itu (sebelumnya) sudah ada manusia, tapi mengapa tidak ada yang dilakukan (untuk kemajuan) seperti yang dilakukan orang Islam (ketika datang)," katanya.

 

 

Alquran mengiringi perjalanan keilmuan para ulama kita. Itu yang ingin kita tiru.

 

Guru besar filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor Prof Hamid Fahmy Zarkasy
 

 

Lebih lanjut, rektor Universitas Darussalam (Unida) Gontor mengatakan, Muslim yang sudah tercerahkan dengan Alquran dapat dengan mudah mengolah setiap peradaban dari luar, sehingga selaras dengan ajaran Islam (Islamisasi—Red). Karena itu, dalam catatan para orientalis menyebutkan bahwa Alquran dan hadis sebagai sumber hidup umat Muslim memberikan manfaat kepada peradaban-peradaban lainnya di berbagai kawasan.

Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini mengatakan, peradaban Islam ibarat pohon yang memiliki akar kokoh dan dahan menjulang tinggi. Pohon itu tak terpengaruh dengan kondisi apapun. Begitu pun halnya pencapaian umat Islam dalam pemikiran, sains, dan teknologi tidak pernah dicapai oleh bangsa lainnya. Karena itu Prof Hamid mengatakan kedatangan Islam membawa keberkahan bagi alam semesta.

Berbeda jauh dengan peradaban Barat saat ini, kemajuannya justru menghancurkan peradaban manusia sendiri. Namun, kalau Islam justru membawa kesejahteraan. “Rakyatnya makmur dan ilmu pengetahuan menjadi standar kemajuan. Maka, sekarang untuk membangun peradaban kita bangun melalui ilmu pengetahuan," katanya.