Model mengenakan busana rancangan Defrico Audy yang bertemakan The Rebirth Of Culture saat acara Jakarta Fashion & Food Festival (JF3) ke-18 di La Piazza, Summarecon Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (2/9/2022). | ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Modis

Mengangkat Nilai Budaya dan Tradisi

Pentingnya unsur keberlanjutan dalam dunia mode diwujudkan dalam gerakan edukasi daur ulang sampah plastik.

OLEH SANTI SOPIA, SHELBI ASRIANTI

Setiap tahunnya industri mode Indonesia dianggap semakin menunjukkan produktivitas yang luar biasa dalam menghasilkan beragam inovasi dan karya terbaik dari para pelaku mode. Berbagai bentuk program yang mengangkat hasil-hasil produktivitas lokal yang bernuansakan budaya dan napas keberlanjutan menjadi urat nadi dalam gelaran Jakarta Fashion and Food Festival (JF3) tahun ini. 

Budaya dan keberlanjutan (sustainability) menjadi tema dalam gelaran produk lokal di Fashion Village, Summarecon Mall Kelapa Gading, bulan lalu. Sebanyak 51 tenant berpartisipasi dalam program Fashion Village. Beragam UMKM dari merek lokal juga produk wastra nusantara, seperti kain tenun, batik, hingga ready to wear ikut meramaikannya. 

“Tema ini diwujudkan dengan menghadirkan desainer, brand, dan UMKM berbasis mode yang memiliki visi untuk mengangkat budaya dalam karya mereka, baik di atas runway JF3 maupun dalam pameran Fashion Village," kata Chairman JF3 Soegianto Nagaria, saat itu.

Ajang JF3 yang berasal dari JFFF itu menjadi ajang mode dan kuliner sejak 2004 yang memberikan pengalaman maksimal bagi pengunjung. 

photo
Model mengenakan busana rancangan Sikie Purnomo berkolaborasi dengan Andy Yudhanto yang bertemakan The Rebirth Of Culture saat acara Jakarta Fashion & Food Festival (JF3) ke-18 di La Piazza, Summarecon Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (2/9/2022). - (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Pentingnya unsur keberlanjutan dalam dunia mode, kata dia, diwujudkan dalam gerakan edukasi dengan berkolaborasi bersama Plana (Plastic for Nature) dalam instalasi “Bukan Kayu”. Edukasi ini mendaur ulang sampah plastik menjadi produk mirip kayu yang tahan air dan rayap sebagai solusi bagi produk rumah tangga. 

Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dan Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) mendukung program JF3 dengan menampilkan beragam karya para desainer. Mereka antara lain Didi Budiardjo, Chossy Latu, Mel Ahyar, Tuty Adib, dan Defrico Audy. Ada juga Danjyohiyoji dan 3Second, serta Lakon Store. Pelaku rintisan program pembekalan Pintu Incubator ikut dalam kesempatan tersebut. 

Lakon Indonesia yang berpartisipasi dalam gelaran itu menyampaikan misinya dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan teknis para pengrajin tradisional. Pendiri Lakon Indonesia Thresia Mareta menyebutkan, misi itu untuk mengingatkan kembali prinsip dasar budaya dan tradisi yang menjadi kekuatan karya pengrajin.

“Kita bantu mengeksplorasi berbagai material, seperti katun, denim, kanvas, voile, taffeta, dan chiffon,” katanya. 

Dari sisi teknis, Lakon Indonesia membantu pengrajin membuat pematangan karya-karya mereka. Cara ini diharapkan memberi kelangsungan jangka panjang bagi kehidupan dan budaya. Salah satu wujudnya adalah kerja sama dengan seniman batik, Cahyo, dari Pekalongan, Jawa Tengah. Kerja sama ini dalam wujud koleksi Lorong Waktu. 

Kekuatan motif flora dan fauna Cahyo dikenal luwes dan halus dengan teknik khas pewarnaannya. Sudah lama Thresia melihat jiwa dan rasa yang dituangkan Cahyo dalam batiknya. Dalam Lorong Waktu, Thresia melihat makna upaya pelestarian budaya, dunia fashion, dan industri kreatif Indonesia.

“Tim mengeksekusi pagelaran Lorong Waktu agar maksimal dari eksplorasi yang telah kami lakukan bersama,” ujar Thresia.

Dia berharap, koleksi produk lokal dapat memiliki nilai dan standar yang bahkan bisa diterima internasional. Sehingga koleksi tersebut juga bisa mengangkat nama Indonesia dan Kota Jakarta sebagai jendela seni dan budaya Indonesia. Cara ini bisa menjadi titik balik perubahan untuk membangun budaya dan tradisi agar Indonesia terus maju dan berkembang. 

photo
Model mengenakan busana rancangan Defrico Audy yang bertemakan The Rebirth Of Culture saat acara Jakarta Fashion & Food Festival (JF3) ke-18 di La Piazza, Summarecon Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (2/9/2022). - (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Batik Berbalut Kemewahan

Para pencinta mode di Korea Selatan (Korsel) kini bisa lebih dekat dengan batik, wastra asli Indonesia. Soalnya, mulai Agustus 2022, kolaborasi dua label busana beda bangsa, yakni Iwan Tirta dan Kim Seo Ryong menyuguhkan koleksi batik yang mudah diakses warga Korsel.

Kim Seo Ryong adalah desainer Korsel yang memiliki label dengan nama sama. Label ini identik dengan koleksi luxury menswear. Setiap look rancangannya mengintegrasikan konsep tailored suit dan perfect fit. Banyak nama besar di industri hiburan Korsel menggunakan karya-karyanya, termasuk aktor Lee Min Ho dan grup musik BTS. 

Kini, Kim Seo Ryong menggunakan kain batik Iwan Tirta untuk membuat busana rancangannya dalam koleksi Resort Collection 2022/2023. Dia bekerja sama dengan label batik Iwan Tirta Private Collection (ITPC). Kim Seo Ryong menilai, kolaborasi tersebut sebagai perspektif baru dan pendefinisian ulang busaya pria modern lewat batik. 

Desainer yang awalnya berprofesi sebagai pelukis tersebut amat mengapresiasi batik, terutama batik tulis. Mengolah karya dari kain batik disebut Kim Seo Ryong sebagai tantangan tersendiri. Pasalnya, kadang ukuran kain terbatas serta memiliki motif yang "sakral". Peletakannya pun harus sesuai dengan pakem dan tidak boleh ada yang terbalik atau salah.

Tantangan itu pun dijawab oleh Kim Seo Ryong lewat busana bomber jacket, flare pants, jas, juga long coat. Motif batiknya bernuansa cerah yang menurutnya berkesan timeless dan sesuai untuk kalangan mapan di Korsel. Warna terang atau motif ikonik dengan siluet busana arsitektural dan dekonstruktif memberi napas baru untuk penampilan busana pria. 

"Proses kreatifnya, saya melihat ratusan foto kain batik Iwan Tirta. Memotong kain batiknya sesuai pola motif yang ada, dengan mengikuti pakem untuk diterapkan ke pakaian," ujar Kim yang mengajar desain dan pembuatan pola di Universitas Shinhan.

Koleksi terbarunya itu hadir di butiknya di Gangnam, Korsel, dan di situs resminya www.kimseoryong.com dan akun Instagram @kimseoryong. 

 
Proses kreatifnya, saya melihat ratusan foto kain batik Iwan Tirta. Memotong kain batiknya sesuai pola motif yang ada, dengan mengikuti pakem untuk diterapkan ke pakaian.
 
 

CEO PT Iwan Tirta Widiyana Sudirman menanggapi soal kolaborasi tersebut. Kolaborasi tersebut sebagai kehormatan, terlebih motif batik Iwan Tirta diapresiasi tinggi oleh desainer bereputasi di Korsel.

ITPC merupakan label gaya hidup mewah dengan fokus mengangkat niai warisan dan budaya Indonesia sebagai inspirasi batik. Label ini berupaya melestarikan warisan almarhum Iwan Tirta beserta lebih dari 10 ribu desain motif karyanya.

Melalui ITPC, kata dia, semangat Iwan Tirta bersama warisan dan tradisi batiknya akan terus diimplementasikan sesuai dengan relevansi zaman dan gaya hidup hari ini. "Koleksi yang didesain oleh Kim Seo Ryong kali ini menjadi sebuah pencapaian baru di mana batik dapat menarik perhatian kalangan bergengsi di pasar internasional," ujar Widiyana.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Korea, Gandi Sulistiyanto, mengapresiasi peluncuran kolaborasi Kim Seo Ryong dengan Iwan Tirta Private Collection. Kolaborasi ini juga difasilitasi oleh kedutaan. "Ini mencerminkan bahwa batik tidak hanya sebagai warisan budaya tetapi juga wearable arts dan produk kreatif yang disambut hangat oleh masyarakat Korea Selatan," kata Gandi.

Mengenang Penangkapan DN Aidit

Saat-saat menjelang G30S, Aidit banyak membuat pernyataan yang memanaskan situasi.

SELENGKAPNYA

Munir dan Keberaniannya

Munir belum pantas meninggal, ia berumur masih 39 tahun.

SELENGKAPNYA