Seorang warga mengais puing-puing rumahnya yang hancur diterjang banjir di Jaffarabad, Baluchistan, Pakistan, Ahad (28/8/2022). | AP Photo/Zahid Hussain

Tajuk

Pakistan Sebagai Pengingat

Pakistan hanyalah contoh dampak perubahan iklim mengantarkan masyarakat di suatu negara merana.

Sekjen PBB Antonio Guterres mengaku sulit mengungkapkan dengan kata-kata gambaran kondisi Pakistan selepas dihantam bencana banjir. Lebih dari sepertiga wilayah Pakistan terendam, 1.400 orang meninggal, lebih dari sejuta orang kehilangan rumah, dan panen pun sirna.

Pada Sabtu (10/9), Guterres berkunjung ke lokasi bencana banjir di Pakistan dan menemukan kondisi memilukan. Lalu, ia pun menuturkan, dirinya telah banyak menyaksikan bencana kemanusiaan di dunia, tetapi belum pernah melihat bencana iklim dalam skala seperti di Pakistan.

Mencairnya glasial dan curah hujan tinggi sejak Juni menjadi penyebab banjir di Pakistan ini. Melahirkan kerusakan massal atas rumah, jalan, jembatan, rel kereta api, ternak, juga hasil panen. Menkeu Pakistan Miftah Ismail memperkirakan kerugian total 10 miliar dolar AS.

Analis independen bahkan menyampaikan angka lebih besar, antara 15 miliar sampai 20 miliar dolar AS bahkan bisa saja lebih. Air bah pun menyisakan kerusakan signifikan pada situs arkeologi Mohenjo Daro, yang berusia 4.500 tahun di tenggara Provinsi Sindh.

 
Mencairnya glasial dan curah hujan tinggi sejak Juni menjadi penyebab banjir di Pakistan ini.
 
 

Dalam konteks bencana kemanusiaan di Pakistan, Guterres mengingatkan kembali soal dampak perubahan iklim dan tanggung jawab negara-negara kaya, yang selama ini menghasilkan tumpukan emisi dalam jumlah besar.

Mereka mestinya membangun ketahanan atas dampak perubahan iklim. Apalagi, Guterres memperkirakan kejadian serupa bakal berulang pada masa mendatang. Dia mengungkapkan, negara-negara G-20 merupakan penghasil 80 persen emisi saat ini.

Tak lupa ia menyinggung soal solidaritas. Negara-negara kaya mestinya punya tanggung jawab moral untuk membantu negara berkembang seperti Pakistan. Dengan begitu, negara-negara seperti ini kelak mampu bangkit kembali setelah dirundung bencana.

Tentu, Pakistan hanyalah contoh bagaimana dampak perubahan iklim mengantarkan masyarakat di suatu negara merana. Kita juga melihat serangkaian hawa panas yang tinggi belum lama ini menyerbu negara Asia lainnya juga kawasan Eropa.

 
Tentu, Pakistan hanyalah contoh bagaimana dampak perubahan iklim mengantarkan masyarakat di suatu negara merana. 
 
 

Fenomena ini mestinya menjadi pengingat semua negara, termasuk Indonesia, agar segera memberikan perhatian lebih pada dampak perubahan iklim. Butuh langkah konkret. Bukan sekadar adu argumentasi dan pidato panjang di forum-forum dengan biaya mahal.

Dampak perubahan iklim sudah nyata. Jutaan warga dunia mengalaminya dan merasakan penderitaan akibat kejadian tersebut. Jadi, bukan lagi sebatas perkiraan para ahli meteorologi yang disampaikan kepada pemimpin dunia.

Maka itu, perlu langkah bersama untuk mengantisipasi kejadian-kejadian alam dalam waktu dekat ini akibat perubahan iklim. Misalnya, bagaimana menangani dampak banjir dan hawa panas yang menyebabkan berkurangnya cadangan air untuk kebutuhan air minum dan pertanian.

 
Dampak perubahan iklim sudah nyata. Jutaan warga dunia mengalaminya dan merasakan penderitaan akibat kejadian tersebut.
 
 

Sektor pertanian harus jadi perhatian utama juga. Sebab, ini terkait cadangan dan ketahanan pangan dunia. Jika pertanian dunia kolaps, kelaparan massal juga bakal menyapu dunia. Selanjutnya, perlu cadangan dana internasional.

Mungkin skemanya bisa seperti ketika dunia menghadapi pandemi Covid-19 selama 2,5 tahun terakhir ini. Dana ini digunakan untuk membantu negara-negara yang akhirnya telanjur terkena bencana karena dampak perubahan iklim.

Saatnya dunia kian sadar bahaya perubahan iklim. Semakin dini kesadaran itu meninggi, kian mengecil pula potensi bencana dihadapi dunia. Jangan sampai kesedihan Guterres saat berkunjung ke Pakistan akhir pekan lalu berulang, tak ada kata untuk menggambarkan betapa besarnya bencana kemanusiaan akibat perubahan iklim. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Sulitnya Penuhi Dana Pensiun

Penghasilan yang dirasa masih pas-pasan sering menjadi alasan.

SELENGKAPNYA

Haul Habib Abu Bakar Assegaf Gresik, Kunci Sukses Berdakwah

Seorang dai tak boleh menggunakan ilmunya untuk mencari popularitas atau pengaruh

SELENGKAPNYA

Dari Dalwa Mencerahkan Bangsa

Habib Hasan telah malang melintang dalam dakwah sebelum membangun pesantren

SELENGKAPNYA