Pengungsi Lansia bersama Polwan dari Satuan Ditlantas Polda DIY senam bersama disela trauma healing di Barak Pengungsi Galagaharjo, Sleman, Yogyakarta, Senin (25/1). Polwan memberikan pembekalan kepada Lansia sebelum pulang ke desa masing-masing besok. Se | Wihdan Hidayat / Republika

Bugar

Menjaga Mood di Tengah Kemelut

Patut diwaspadai berapa lama respons emosi dan pikiran negatif muncul pada individu.

OLEH ADYSHA CITRA RAMADHANI

Satu hal yang mungkin tak bisa dihindari dari hidup adalah perubahan. Dalam dua tahun terakhir ini, misalnya, kehidupan masyarakat mengalami perubahan drastis akibat pandemi Covid-19. Dalam waktu yang relatif singkat, masyarakat dunia dituntut untuk beradaptasi dan melanjutkan hidup seperti sebelumnya.

Belum usai pandemi Covid-19, masyarakat kini dihadapkan dengan penyakit cacar monyet hingga kenaikan harga bahan bakar. Di tengah gejolak permasalahan tersebut, hal yang wajar jika banyak orang merasa stres, takut, sedih, atau cemas. Namun, kondisi ini tak sepatutnya dibiarkan berlarut-larut.

"Sebenarnya kalau kita stres, kita murung, nggak apa-apa. Kalau kita sedang sedih, tidak usah dipaksakan senang. Jadi, tidak usah merasa bersalah kalau kita murung," ujar psikolog PION Clinician, Astrid Wen MPsi Psikolog, menjelaskan kepada Republika, awal pekan ini.

Namun, respons emosi atau pikiran terhadap situasi negatif bisa dikatakan tak sehat jika sampai mengganggu fungsi dan peran seseorang dalam hidup. Contohnya, stres dan cemasnya sampai mengganggu konsentrasi dan produktivitas. Respons emosi atau pikiran juga bisa dianggap kurang menyehatkan jika mengganggu ritme hidup. Terlebih, jika berdampak pada kualitas tidur, kebiasaan makan, dan lain-lain.

photo
Perempuan melamun. (ilustrasi). - (AP Photo/Rick Bowmer)

Hal lain yang patut diwaspadai, kata Astrid, adalah berapa lama respons emosi dan pikiran negatif ini muncul. Tidak sehat jika perasaan tersebut menetap hingga dua pekan atau lebih. "Kalau sudah ada gangguan ritme hidup, gangguan fungsi dalam diri kita, itu berarti sudah tanda bahaya, kita harus segera cari pertolongan." 

Bila fungsi dan ritme hidup tak sampai terganggu, dia menambahkan, rasa stres atau cemas yang muncul masih dalam taraf bisa ditangani oleh diri sendiri. Dalam hal ini, Astrid mengatakan, ada beberapa cara yang bisa membantu menyalurkan emosi secara sehat. Misalkan saat cemas, Anda bisa menciptakan ketenangan dalam diri. Caranya memang bisa berbeda-beda pada tiap orang, misalkan meditasi, menulis jurnal, atau mendengarkan musik. 

Setelah merasa tenang dan lebih fokus, Astrid menyarankan melakukan pemetaan masalah yang memicu munculnya rasa cemas. Pemetaan masalah ini juga bisa dibantu oleh tenaga profesional, seperti psikolog. Karena, terkadang seseorang yang merasa cemas tak benar-benar memahami dari mana sumbernya. "Boleh sekali kita memiliki beberapa alternatif cara menenangkan diri," ujar Astrid.

Soal stres, psikolog influencer Indah Sundari Jayanti MPsi mengatakan, perlu dikelola dengan baik. Menurut studi dalam Current Opinion in Psychology, stres yang kronis bisa menyebabkan sistem imun memproduksi respons peradangan yang persisten dan meluas. "Ketika kita mengalami stres, tentu yang bereaksi tidak hanya psikis, tetapi fisik juga," ujarnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by INDAH SJ, M.Psi., Psikolog (sundariindah)

Untuk bisa mengelola stres, hal pertama yang dilakukan adalah mencari sumbernya. Lalu, ketahui kapasitas energi, suasana hati, hingga tingkat prioritas dari masalah yang memicu stres.

"Kalau itu bukan sesuatu yang prioritas, menguras energi, dan sedang tidak mood, tidak apa-apa istirahat dulu. Stres kadang muncul karena kita memaksakan diri melakukan sesuatu di luar kapasitas kita," ungkap Indah dalam Ladies Talk di Jakarta, beberapa waktu lalu. 

Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani Sani Budiantini SPsi berpendapat serupa. Menurut dia, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyalurkan emosi negatif, termasuk stres. Cara-cara ini bisa dipilih sesuai dengan preferensi atau kebiasaan tiap individu.

"Ada yang baca buku, menonton, berjalan (kaki), melakukan olahraga, atau sekadar menarik napas dalam untuk menenangkan diri," ujar Sani kepada Republika.

Setelah menenangkan diri, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah menyelesaikan masalah. Ini penting dilakukan agar seseorang tak hanya bereaksi secara emosi terhadap situasi yang sulit, tetapi juga mencari solusi yang konkret. "Boleh kita buat perencanaan, apabila terjadi, apa yang harus kita lakukan. Bagaimana melakukan penghematan, bagaimana menjalankan kehidupan lebih efisien," kata Sani menjelaskan.

Mencari jalan keluar atas permasalahan yang memunculkan stres dan kecemasan juga dapat membuat diri sendiri menjadi lebih tenang karena mengetahui langkah antisipasinya. "Manusia itu punya kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi. Terbukti pada era pandemi, sesusah apa pun, ternyata banyak juga orang yang survive, penanganan medis pun bisa dengan cepat mengikuti kebutuhan yang ada," ujar Sani.

Kenaikan BBM Pengaruhi UMP DKI 2023

Pemprov DKI mulai membahas UMP, dengan mempertimbangkan inflasi akibat harga BBM naik

SELENGKAPNYA

Pemberontakan PKI dan 'Wild West' di Solo 1948

Tanggal 7 Desember, markas besar TNI mengumumkan pemberontakan PKI telah ditumpas.

SELENGKAPNYA

Bus Tayo dan Angkot Si Banteng Pun Jadi Gratis

Kebijakan tersebut mulai berlaku 6 September hingga 11 November

SELENGKAPNYA