Mohammad Hatta | istimewa

Tokoh

Saat Bung Hatta Berhadapan dengan Komunis

Hanya partai Islam PSII yang melawan kolonial saat Bung Karno ditahan Belanda

MOHAMMAD HATTA

Pada akhir rapat anggota saya sampaikan bahwa telah datang saatnya saya mengundurkan diri dari jabatan Ketua Perhimpunan Indonesia. Saya sarankan Abdullah Sjukur menggantikan saya, dan saran ini diterima.

Ada dua hal yang terjadi pada tahun 1930 yang berhubungan dengan jabatan saya dalam Perhimpunan Indonesia. Pertama, tentang majalah komunis yang diterbitkan di Berlin yang melaporkan bahwa empat orang telah dipecat dari "Liga Menentang Imperialisme dan Untuk Kemerdekaan Nasional".

Dari empat orang itu, dua di antaranya orang Barat, yaitu Maxton dan Edo Fimmen, yang dituduh sebagai reformis sosial. Sedangkan dua orang lainnya ialah Jawaharlal Nehru dan Mohammad Hatta, yang dituduh sebagai reformis nasionalis.

 
Dalam surat-menyurat dengan Nehru, saya ceritakan apa yang telah terjadi pada kongres kedua di Frankfurt.
 
 

Dalam surat-menyurat dengan Nehru, saya ceritakan apa yang telah terjadi pada kongres kedua di Frankfurt. Pada kongres itu Nehru tidak hadir. "Kongres Nasional India" pada waktu itu diwakili oleh Sen Gupta. Nehru juga sependapat bahwa karena sikap komunis, Liga itu akan hancur dari dalam. Betullah sesudah tahun 1930 aktivitas Liga itu tidak terdengar lagi.

Kedua, kejadian yang datang dari Indonesia. Ir Soekarno dan tiga orang temannya dari Partai Nasional Indonesia (PNI) ditahan oleh Pemerintah Kolonial. Tidak ada protes keras yang diajukan oleh persatuan partai-partai nasionalis PPPKI. Hanyalah partai Islam PSII yang mengadakan rapat umum untuk menentang tindakan kolonial ini.

PNI sendiri tidak berbuat apa-apa. Pimpinan Pusat yang dipimpin oleh Mr Sartono sendiri bahkan mencoba untuk mengatur penggabungan PNI dengan "Partai Kebangsaan Indonesia". Jadi merupakan suatu penggabungan antara golongan nasionalis yang menolak kerja sama dengan penguasa kolonial dan nasionalis lain yang menerima kerja sama itu. Kebijaksanan ini tidak diterima oleh sebagian terbesar cabang-cabang PNI dan akhirnya usaha tersebut tidak pernah terlaksana.

photo
Wakil Presiden Mohammad Hatta saat mengawasi penumpasan pemberontakan PKI di Madiun pada 1948. - (istimewa)

Sesudah Ir Soekarno dan teman-temannya dijatuhi hukuman penjara oleh pengadilan di Bandung, PNI dibubarkan oleh pimpinan pusatnya atas desakan Mr Sartono. Partai Indonesia kemudian didirikan untuk menggantikannya.

Hal ini ditentang oleh pimpinan golongan tengah, antara lain, Soedjadi, Moerad, Kantaatmaka, Bondan, Soekarto, Tegoeh, dan masih banyak lainnya lagi. Mereka menolak untuk menggabungkan diri ke dalam Partai Indonesia dan di seluruh Jawa, pada masing-masing daerahnya, mereka mendirikan "Golongan Merdeka". Saya membantu mereka dalam menentang pembubaran PNI, yang saya anggap memalukan dan melemahkan perjuangan rakyat.

Di India, hal yang berlawanan terjadi. Ketika Gandhi mengajak rakyatnya bergerak ke partai untuk membuat geram sebagai gerakan menentang peraturan-peraturan Pemerintah Kolonial Inggris, lima puluh enam ribu penduduk ditahan dan dimasukkan ke dalam penjara. Tetapi gerakan itu berjalan terus sampai akhirnya Pemerintah Kolonial Inggris terpaksa membatalkan peraturan-peraturan yang ditentang rakyat India itu.

 
Di Indonesia, hanya empat orang pemimpin partai dimasukkan penjara, maka partai itu dibubarkan.
 
 

Di Indonesia, hanya empat orang pemimpin partai dimasukkan penjara, maka partai itu dibubarkan. Hal ini terjadi tidak lain karena ketakutan bahwa Pemerintah Kolonial Belanda akan menyatakannya sebagai partai terlarang. Para pemimpin yang membubarkan partai itu lupa bahwa mereka hanya menunjukkan kelemahan dengan taktik semacam itu, dan bahwa mereka ini tidak menunjukkan kesediaan untuk berkorban. Padahal, justru kesediaan untuk berkorban inilah yang merupakan ajaran Perhimpunan Indonesia.

Suatu persetujuan kemudian dibuat antara saya dan Soedjadi, juru bicara "Golongan Merdeka", untuk menerbitkan majalah di Jakarta tiap 10 hari sekali guna pendidikan kader-kader baru. Nama majalah ini ialah Daulat Ra'jat. Nama itu sudah memberi pengertian yang betul bagaimana sikap kita terhadap rakyat.

photo
Sukarno dan Mohammad Hatta saat berada di Rengasdengklok. - (wikimedia commons)

Dalam kata pengantar majalah itu disebutkan, "Daulat Ra'jat akan mempertahankan asas kerakyatan yang sebenarnya dalam segala susunan: dalam politik, dalam perekonomian, dan dalam pergaulan sosial. Bagi kita rakyat itu yang utama, rakyat umum yang mempunyai kedaulatan, kekuasaan (souvereiniteit). Karena rakyat ini jantung hati bangsa. Dan, rakyat itulah yang menjadi ukuran tinggi rendahnya derajat kita. Dengan rakyat itu kita naik dan dengan rakyat kita akan turun. Hidup matinya Indonesia Merdeka semuanya bergantung pada semangat rakyat. Penganjur-penganjur dan golongan kaum terpelajar baru ada berarti, kalau di belakangnya ada rakyat yang sadar dan insaf akan kedaulatan dirinya." (Daulat Ra'jat, Tahun I, No 1, 30-9-1931).

Saya telah memutuskan untuk menyelesaikan studi saya pada pertengahan tahun 1932. Dengan tambahan tugas baru menulis berbagai artikel untuk Daulat Ra'jat, dan kadang-kadang juga untuk mingguan De Socialist, saya benar-benar menutup diri saya dari pergaulan. Oleh karena itu saya pindah ke Rotterdam.

Di suatu tempat di Rotterdam sekitar akhir tahun 1931, saya berbicara dengan Sjahrir. Saya menyarankan agar ia pulang ke Indonesia lebih dulu untuk membantu menyatukan Golongan Merdeka dengan memberikan pendidikan politik, ekonomi, dan demokrasi sosial. Nantinya jika saya telah pulang ke Indonesia, Sjahrir dapat melanjutkan belajar lagi di negeri Belanda. Sjahrir mengikuti anjuran saya itu.

 
Di suatu tempat di Rotterdam sekitar akhir tahun 1931, saya berbicara dengan Sjahrir. Saya menyarankan agar ia pulang ke Indonesia lebih dulu.
 
 

Terlepas dari itu, Perhimpunan Indonesia mulai menentang kebijaksanaan saya. Beberapa anggota tua yang mulai mengenal ide-ide komunisme pada tahun 1930, seperti Abdul Madjid Djojoadiningrat dan Setiadjit, mencoba membelokkan anggota-anggota muda untuk menentang saya dengan menuduh saya melanggar disiplin Perhimpunan Indonesia dan memecah gerakan nasionalis di Indonesia.

Mereka dibantu oleh Rustam Effendi, yang ketika datang ke negeri Belanda menolak masuk Perhimpunan Indonesia, karena ia menganggap perhimpunan ini terlalu radikal dan juga karena ia sendiri mengikuti politik "kerja sama" dengan Pemerintah Kolonial. Tetapi kemudian ia masuk Perhimpunan Indonesia dan secara rahasia masuk CPN, yaitu Partai Komunis Nederland.

Melalui hasutan dan propaganda, Madjid dan Setiadjit mempengaruhi anggota-anggota muda dari Perhimpunan Indonesia untuk memilih Rustam Effendi sebagai ketua menggantikan Abdullah Sjukur. Di bawah pimpinan Rustam Effendi ini, saya dikeluarkan dari keanggotaan Perhimpunan Indonesia dengan tuduhan melanggar disiplin dan memecah kesatuan gerakan nasionalis di Indonesia.

 
Di bawah pimpinan Rustam Effendi ini, saya dikeluarkan dari keanggotaan Perhimpunan Indonesia dengan tuduhan melanggar disiplin dan memecah kesatuan gerakan nasionalis di Indonesia.
 
 

Saya sampaikan sebagai jawaban bahwa Perhimpunan Indonesia telah keluar rel dari jalan radikal, keluar dari jalan semula yang membentuk pejuang-pejuang yang tahan uji, membelok mengikuti jalan oportunistis dan mungkin telah menjadi alat komunis. Saya katakan bahwa apa yang penting bagi saya ialah bahwa semangat pergerakan nasional yang radikal itu harus dipertahankan agar rakyat tetap dapat bersiap sedia memberikan pengorbanan-pengorbanan kepada Ibu Pertiwi.

Pada permulaan bulan Juli 1932 saya berhasil lulus ujian doktoral saya dan pada pertengahan bulan itu saya menuju Indonesia. Saya mengambil kereta api ke Genoa. Kemudian dari sana mengambil kapal Jerman "Saarbrucken" ke Singapura dan selanjutnya dengan KPM saya sampai di Jakarta pada pertengahan bulan Agustus, setelah 11 tahun lamanya berada di luar negeri.

Sementara itu Golongan Merdeka, yang anggota-anggotanya semula berdiri sendiri-sendiri, telah disatukan menjadi partai "Pendidikan Nasional Indonesia", yang untuk sementara dipimpin oleh Sjahrir.

 
Ir Soekarno telah pula dikeluarkan dari penjara. Ia tidak berhasil mencoba menyatukan Partai Indonesia dan Pendidikan Nasional Indonesia.
 
 

Ir Soekarno telah pula dikeluarkan dari penjara. Ia tidak berhasil mencoba menyatukan Partai Indonesia dan Pendidikan Nasional Indonesia. Oleh karena itu, ia sendiri masuk Partai Indonesia, disingkat Partindo (gabungan nama ini dari Bung Karno --penterjemah). Saya dapat menemuinya di Bandung sebelum saya aktif di Pendidikan Nasional Indonesia.

Pada bulan November 1932, saya pulang ke Sumatera Barat untuk menemui keluarga dan untuk melihat bagaimana perkembangan gerakan rakyat di sana. Saya hanya dapat tinggal di Sumatera Barat satu setengah bulan saja. Pada suatu hari saya menerima surat dari Asisten Residen di Bukittinggi agar saya menemuinya.

Ketika saya datang menghadapnya, ia mengatakan bahwa saya harus meninggalkan Sumatera Barat dengan kapal KPM tengah hari besoknya. Pagi harinya saya diambil polisi dengan mobil menuju rumah Demang Sutan Saibi di Padang. Saya dijamunya sebagai tamu. Sesudah makan siang dengannya, ia mengantar saya ke Teluk Bayur dan pukul 5 sore kapal ini menuju Jakarta.

Disadur dari serial Otobiografi Mohammad Hatta (Bagian V) yang dimuat di Harian Republika edisi 20 Maret 2000

Pengorbanan 40 Ribu Jiwa di Sulawesi

Mereka menjadi korban kekejaman Westerling yang dikenal sebagai peristiwa Korban 40.000 Jiwa.

SELENGKAPNYA

Raden Saleh: Sayyid, Maestro, Pemberontak

Raden Saleh mewariskan sebuah masjid mungil di Dresden, Jerman

SELENGKAPNYA

Mencari Ismail Marzuki, Sang Komposer Legendaris

Dari Kwitang ber-Halo-halo Bandung

SELENGKAPNYA