Ismail Marzuki | wikimedia commons

Tokoh

Mencari Ismail Marzuki, Sang Komposer Legendaris

Dari Kwitang ber-Halo-halo Bandung

OLEH ALWI SHAHAB

"Tuh, itu die' tuh rumahnye," kata Ibu Amsiah, 75, sambil menunjuk sebuah rumah petak tua, di Jalan Kembang IV/97, Kelurahan Kwitang, Jakarta Pusat. Rumah yang ditunjuknya itu tampak sederhana, sebagian dindingnya terbuat dari papan.

"Di tempat inilah Bang Maing tiap hari bermain musik," kata nenek kelahiran Kwitang itu.

Orang tua Bu Amsiah adalah saudara Pak Marzuki, orang tua komponis legendaris Ismail Marzuki. Menurut Haji Amir Hasan Sadami (50 tahun)), kemenakan Ibu Amsiah, keadaan rumah tersebut ketika Pak Mail tinggal sudah jauh berbeda dengan sekarang.

"Dulu di depan rumah terdapat teras. Di teras inilah Ismail Marzuki memainkan musik, dan juga mencipta lagu," kata H Amir, yang menjadi guru agama di kampung Kwitang.

Mencari tempat kediaman kelahiran komponis Betawi ini bukanlah pekerjaan mudah. Republika baru berhasil menemukannya, setelah cukup lama menyelusuri berbagai tempat di Kwitang. Perlu kesabaran untuk menanyakan kepada sejumlah orang tua penduduk asli kampung ini.

Tampaknya, sudah tidak ada lagi anak-anak muda di Kwitang yang mengetahui bahwa komponis yang lagu-lagunya sampai sekarang masih dikumandangkan sebenarnya dilahirkan dan dibesarkan di kampung mereka. Untung ada diantara orang tua yang menunjukkan tempat tinggal kerabatnya, Ibu Amsiah.

Rumah yang kini ditempati oleh seorang Tionghoa, letaknya hanya sekitar seratus meter dari Kali Ciliwung, dan 50 meter dari masjid Kwitang. Hampir sulit dipercaya, bahwa di rumah yang sangat sederhana inilah pada 14 Mei 1914, lahir seorang bayi, putera pasangan suami istri, Pak Marzuki dan Ibu Enah, yang kemudian namanya diabadikan untuk pusat kesenian TIM.

Memandang rumah tersebut, kita membayangkan bagaimana paniknya keluarga Pak Marzuki, dan ibu tirinya, harus menyelamatkan Ismail yang masih berusia dua tahun, dan kakaknya Anie Hamimah dari amukan api. Karena, pada 1916 akibat terjadinya kebakaran besar, api melalap hampir seluruh rumah di kampung Kwitang. Ibu kandung Ismail sendiri meninggal saat ia berusia tiga bulan.

photo
Warga berjalan disamping patung Ismail Marzuki di Halaman Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. - (ANTARA)

Baik Mpok Amsiah, maupun kemenakannya ustadz Amir menuturkan bahwa Bang Maing sejak kecil sudah asyik dengan lagu dan musik. Karena kesukaannya akan musik itulah, kadang-kadang ia bermain sampai magrib, Maing menjadi agak tersisih dari orang-orang kampung.

"Maklum ketika itu main musik dianggap kurang terpuji dan kebudayaan Belanda. Orang Betawi kan kebanyakan main rebana," kata Ustaz Amir.

Bahkan, ayahnya sendiri berpandangan demikian. "Tapi die dulu sering dateng kemari ke rumah Bapak," kata Mpok Amsiah, yang kediamannya dengan rumah komponis ini tidak berjauhan.

Mengingat status sosial orang Betawi ketika itu, Ismail Marzuki mungkin merupakan salah satu dari beberapa gelintir anak Kwitang yang dapat mengecap pendidikan di HIS (tujuh tahun) dan menamatkan MULO. Bukan berarti pendidikan agama dilupakan. Karena waktu itu umumnya anak-anak Betawi pandai mengaji.

Menurut Ibu Amsiah, Pak Juki (ayah Ismail) orang yang memegang teguh agama. Mungkin karena Ismail merupakan putera satu-satunya, apalagi bakat musiknya yang tidak dapat dibendung, oleh ayahnya ia dibelikan mandolin ketika naik kelas. Lewat alat musik ini, cintanya pada musik makin menggebu-gebu.

"Pagi-pagi die sudah main musik di rumahnye. Ribut deh," kata Wan Dame (87), yang ketika itu kediamannya juga dekat dengan komponis ini.

***

Sebagai anak pengusaha bengkel, di rumah Ismail Marzuki ada gramophone, yang oleh orang Jakarta ketika itu disebut mesin ngomong. Persedian piringan hitamnya pun sangat banyak. Ada lagu keroncong, cokek, dan gambus. Tidak kurang dari lagu-lagu Barat yang ia beli sendiri dari uang sakunya. Ia juga menyenangi lagu-lagu irama rumba, samba, dan tango. Selesai satu lagu, putar lagu lain, begitulah terus menerus.

"Die sanggup berjam-jam sampe sore berada di mesin ngomong" kata Wan Dame. Tapi ada satu hal, yang terkesan sampai sekarang oleh Mpok Amsiah maupun Wan Dame tentang komponis legendaris ini. Sedari muda ia selalu necis, dan berpakaian rapi.

"Perlente, deh," kata keduanya. Karena perlente-nya ini, sampai ada kawannya yang mengatakan, "Si Mail cuma mandi dan tidur mencopot dasinya."

Bakatnya, sebagai musikus semakin menanjak ketika ia pada 1936 masuk perkumpulan orkes "Lief Java" di bawah pimpinan Hugo Dumas. Ia mempunyai daya kreatif yang luar biasa, baik dalam mengansir lagu Barat, irama Kroncong maupun langgam Melayu.

Tetapi masyarakat lebih mengenal pria yang berbadan kecil ini sebagai seorang penyanyi daripada pemain akordean, gitar, atau saxophone. Di orkes inilah, Ismail berkenalan dengan mojang Priangan yang jelita, Euilis binti Empi. Setelah menikah ia memberi tambahan nama istrinya dengan Zuraidah, menjadi Eulis Zuraidah.

Pada 1938 untuk pertama kali Ismail mengisi suara dalam film "Terang Bulan". Caranya ialah, Rd Muchtar, pemeran film tersebut, mulutnya hanya komat-komit seperti orang membaca mantera, sementara Ismail menyanyi dengan suara keras. "Karena begitulah sistem dubbing saat itu," kata SM Ardan dari Sinematek Indonesia.

photo
Ismail Marzuki dan istrinya Eulis Zuraidah - (wikimdia commons)

"Terang Bulan" ternyata merupakan film Indonesia paling sukses ketika itu. Saat diputar di bioskop "Rex" Kramat, berduyun-duyun orang datang menonton. Sebagian besar orang mau mendengar suara Rd Muchtar menyanyi, yang sebenarnya adalah suara Ismail Marzuki. Film ini juga sukses ketika dipertunjukkan di Singapura, dan semenanjung Melayu (kini Melaysia).

Sukses besar yang diraih Bang Maing tidak melontarkan semangatnya untuk membela bangsanya. Pada masa penjajahan Belanda ia menciptakan berbagai lagu seperti "Terkenang Tanah Air".

Akibat lagunya yang dinilai oleh Belanda dapat membangkitkan semangat perlawanan rakyat, membuat Ismail berselisih dengan orang-orang Belanda. Pada 1940, ia pun berhenti bekerja di Nederlands Indische Radio Omroep Maatchappy), yang kini menjadi RRI.

Pada masa pendudukan Jepang (1942), dengan semangat patriotisme yang menyala-nyala Ismail pun melalui lagu-lagunya melakukan perlawanan yang sama. Apalagi setelah beberapa tahun pendudukan Jepang, Ismail makin sadar dan menyaksikan bangsanya ditindas habis-habisan.

Digubahnya lagu "Biskan Tanah Air", kemudian menyusul "Indonesia Tanah Pusaka". Ketika lagu itu disiarkan secara luas melalui radio, Ismail pun dipanggil oleh Kenpetai (Polisi Militer Jepang). Ancaman dari Kempetei yang saat itu sangat ditakuti, tidak juga menggentarkan hatinya.

Tanpa mempedulikan ancaman Jepang, ia pun menciptakan lagu mars "Gagah Perwira", untuk mengobarkan semangat para Tentara Pelajar (PETA) yang mulai melakukan perlawanan terhadap Jepang. Dan pada masa pendudukan Jepang inilah ia menciptakan lagu "Rayuan Pulau Kelapa" yang sangat terkenal itu.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ketika RRI pada 9 September 1945 direbut kembali dari Jepang, Ismail pun ikut serta mengisi acara-acara. Tapi ketika RRI dikuasai oleh NICA yang menggonceng tentara Inggris datang kemari, Ismail pun mogok.

Sebagai seorang nasionalis ia tidak sudi bekerja dengan NICA. Dalam masa mogok ini, ia membuka kursus bahasa Inggris di kediamannya. Sedangkan istrinya, Eulis Zuraidah berjualan gado-gado dan asinan.

Pada Maret 1946, saat Belanda melancarkan serangan ke daerah pedalaman, kota Bandung diserbu jadi lautan api, anak Kwitang dan istrinya yang mengungsi ke Ciwidey, Bandung Selatan menciptakan lagu mars "Halo-halo Bandung". Di antara liriknya: Sudah lama beta tidak berjumpa denganmu. Sekarang sudah menjadi lautan api, mari bung rebut kembali.

Lebih dari 250 lagu yang telah diciptakan komponis legendaris Kwitang yang meninggal dunia pada 25 Mei 1958 ini dalam usia 44 tahun. Para musisi dan pencipta lagu menilai karya-karya Ismail Marzuki tetap digemari dan tidak usang karena waktu. Penyebabnya, karena ia menciptakan lagu-lagunya dengan sikap kejujuran dan sikap moral.

Ketika hendak meninggalkan kampung Kwitang, Ustadz Amir minta agar Jalan Inspeksi, yang lokasinya dari samping Gunung Agung hingga ke Masjid Cikini dan melewati belakang TIM menjadi Jalan Ismail Marzuki. Dulunya, sebagian dari jalan itu adalah Sungai Ciliwung, yang akibat pendangkalan berubah menjadi jalan raya.

Di sungai inilah tempat Maing kecil sering mandi. Kalau saja ia masih hidup tentu dia akan menciptakan lagu berjudul "Selamatkan Ciliwungku. Jangan kau cemari lagi".

Disadur dari Harian Republika edisi 18 Mei 1998. Alwi Shahab adalah wartawan Republika sepanjang zaman yang wafat pada 2020.

Kala Perang Jawa Bikin Bangkrut Belanda

Perang Jawa menjadi pelajaran penting bagi pemerintah kolonial Belanda untuk menghadapi pihak keraton dan rakyat Nusantara.

SELENGKAPNYA

Tak Terima Alquran Diinjak, Opu Daeng Risadju Lawan NICA

Risadju berasal dari keluarga bangsawan Luwu di Sulawesi Selatan.

SELENGKAPNYA

Duduk Perkara Subsidi (Termasuk Kompensasi) BBM

Meskipun (dana) kompensasi diterima oleh Pertamina dan PLN, tapi penerima manfaat akhir tetap masyarakat. Masyarakat, pada akhirnya, dapat membeli BBM dan listrik pada harga di bawah keekonomiannya.

SELENGKAPNYA