Buku Babad Diponego ditampilkan dalam pameran Pamor Sang Pangeran di Museum Nasional, Jakarta, Jumat (6/11/2020). | Republika/Thoudy Badai

Kronik

Kala Perang Jawa Bikin Bangkrut Belanda

Perang Jawa menjadi pelajaran penting bagi pemerintah kolonial Belanda untuk menghadapi pihak keraton dan rakyat Nusantara.

OLEH STEVY MARADONA

"Anda sekarang berdiri di salah satu ruangan yang digunakan oleh pahlawan nasional Indonesia, Pangeran Diponegoro, selama pemenjaraannya di Stadhuis Balai Kota Batavia antara 8 April-3 Mei 1830."

Begitu Peter B Carey, sejarawan Pangeran Diponegoro, membuka kisah di lantai dua sayap barat gedung Museum Fatahillah, Senin kemarin. Ruang pameran Kamar Diponegoro tidak luas. Ruang utamanya sekira setengah lapangan bulu tangkis. Dengan dua pintu dan satu jendela menghadap ke lapangan Stadhuis.

Udara di dalam kamar pengap dan panas. Lantainya empuk, terbuat dari kayu. Belum lima menit bercerita tentang pameran, Peter Carey sudah berkeringat. Wajahnya basah. Penulis iseng bertanya ke Peter, "Apakah panasnya sama dengan dulu ketika Diponegoro?" Peter menjawab, "Ya!".

Diponegoro ternyata pernah mengeluhkan soal cuaca panas dan pengap itu. Ia tengah pulih dari malaria. Terbiasa di daerah pedalaman Jawa Tengah yang relatif sejuk, penjajah Belanda memboyong Diponegoro dan keluarga serta belasan pengikutnya ke daerah pantai yang kering.

Akademisi asal Inggris ini mengatakan, "Diponegoro protes, ini bukan kamar untuk pangeran atau tahanan negara."

photo
Kursi dan meja yang dipajang di Kamar Diponegoro di Museum Sejarah Jakarta, Senin (12/11/2018). Museum Sejarah Jakarta pernah menjadi tempat penahanan Pangeran Diponegoro dan keluarganya di kamar yang berada di Standhuis Balai Kota Batavia selama 26 hari pada 1830 sebelum diasingkan ke Manado. - (Republika/Mahmud Muhyidin)

Ruangan itu sedianya memang bukan ruang tahanan. Itu adalah kamar pribadi sipir penjara Stadhuis. Namun, ada aturan bila ada tahanan politik penting atau tahanan negara maka kamar tersebut menjadi penjara sementara.

Stadhuis punya beberapa ruang khusus penjara. Yang umumnya dibuka adalah di lantai dasar. Penjara yang gelap berlantai batu dingin. Di sayap barat, di bawah kamar Diponegoro ada pula ruangan penjara perempuan di bawah tanah.

Tjut Nyak Dhien (1848-1908) pernah ditahan di ruangan tersebut, 1902, sebelum dipindah ke Sumedang, Jawa Barat. Ruangannya luas, tapi langit-langitnya amat rendah. Tahanan tidak bisa berdiri tegak. Lantainya tergenang air tanah.

Belanda memang resah betul dengan pergerakan dan reputasi Diponegoro saat Perang Jawa (1825-1830). Perang ini adalah salah satu perang terberat yang harus dihadapi penjajah Belanda di Nusantara, selain Perang Aceh dan perang melawan Imam Bonjol. Padahal, Perang Jawa hanya berlangsung lima tahun.

Perang Jawa, Carey belakangan menjelaskan, punya efek yang berbeda terhadap pemerintahan kolonialisme Belanda di Indonesia, secara internasional ataupun nasional. Pertama, Carey menjelaskan, Perang Jawa terjadi di saat yang 'tepat' ketika Belanda tengah limbung secara politik dan ekonomi.

photo
Sejarawan sejarah Pangeran Diponegoro Peter Carey memberikan paparannya saat meninjau Kamar Diponegoro di Museum Sejarah Jakarta, Senin (12/11/2018). - (Republika/Mahmud Muhyidin)

Efek Perang Inggris dan Prancis di Eropa sampai ke Nusantara saat itu. Belanda menjadi jajahan Prancis. Inggris dan Prancis tukar menukar daerah jajahan. Situasi kas Kerajaan Belanda menipis. Beban operasional di daerah jajahan membengkak. Sementara, penarikan pajak rakyat seret.

Dalam disertasinya yang dibukukan The Power of Prophecy, Prince Dipanagara and the end of an old order in Java 1785-1855, Carey menyebutkan, pemerintah kolonial di bawah Gubernur Jenderal Van der Capellen sampai harus meminjam uang ke Bank John Palmer & Company di Kalkuta, India sebesar enam juta sicca rupee (sekitar 300 juta dolar AS pada saat itu, menurut Carey). Uang ini digunakan untuk mengongkosi operasional kolonial di Nusantara beberapa tahun sebelum Perang Jawa.

"Ini efek internasional pertama yang muncul dari Perang Jawa," kata Carey kemudian.

Sebagai jaminannya, Carey mengatakan, Belanda mengagunkan seluruh Pulau Jawa kepada John Palmer. Palmer ketika itu adalah salah satu pedagang Inggris terkaya di British West Indies (India).

Begitu meletus perang Jawa, situasi menjadi tidak menentu. John Palmer khawatir Belanda tidak bisa melunasi utangnya dan Jawa justru jatuh ke tangan Diponegoro. Palmer & Company sempat merancang skenario agar pemerintah Inggris membantu Belanda melawan Diponegoro. Palmer ingin mengirim pasukan khusus ke Jawa.

photo
Pengunjung mengamati babad Diponegoro yang ditampilkan dalam pameran Pamor Sang Pangeran di Museum Nasional, Jakarta, Jumat (6/11/2020). - (Republika/Thoudy Badai)

Namun, usul ini diveto oleh Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, George Canning, dengan alasan itu adalah masalah perjanjian utang piutang swasta bukan negara. Belanda yang kesulitan menangkap Diponegoro sampai akhirnya harus mengirim surat meminta bantuan 3.000 personel pasukan India-Inggris, tapi juga ditolak oleh Kerajaan Inggris.

Ongkos Perang Jawa membebani Kerajaan Belanda amat besar. Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks menulis di 'Ekonomi Indonesia 1800-2010' perang dengan Diponegoro membuat defisit anggaran kerajaan melonjak sampai ke tingkat membahayakan, tercatat 10 juta gulden defisit atau sepertiga dari total belanja kerajaan.

Raja Belanda William I sampai harus memangkas anggaran infrastruktur dan pertanian secara drastis. Dananya digunakan untuk membayar prajurit dan peperangan di Jawa.

Belanda baru bisa bernapas lega setelah Diponegoro ditangkap dan dilakukan perombakan total kebijakan ekonomi di Jawa. Muncul kemudian sistem tanam paksa yang begitu sukses menyehatkan kas pemerintah kolonial dan Kerajaan Belanda.

Utang terhadap John Palmer itu pun tertutupi oleh devisa yang dihasilkan dari komoditas tanam paksa rakyat Indonesia yang diekspor Belanda. Jawa tak jadi tergadaikan ke bank.

 
Utang terhadap John Palmer itu pun tertutupi oleh devisa yang dihasilkan dari komoditas tanam paksa rakyat Indonesia yang diekspor Belanda. Jawa tak jadi tergadaikan ke bank.
 
 

 

Menghitung Efek Perlawanan Diponegoro

Perang Jawa menjadi pelajaran penting bagi pemerintah kolonial Belanda untuk menghadapi pihak keraton dan rakyat Nusantara. Peter B Carey, sejarawan yang menggeluti Perang Jawa, mengatakan, karena khawatir akan efek perang tersebut ke keraton lain, Belanda secara sistematis kemudian menghapus nuansa militeristik keraton Nusantara.

Padahal, sebelumnya pendekatan utama Belanda ke keraton-keraton Nusantara selalu berupa bantuan militer dan persenjataan.

photo
Pengunjung melihat-lihat foto di Kamar Diponegoro saat soft launching di Museum Sejarah Jakarta, Senin (12/11/2018). - (Republika/Mahmud Muhyidin)

Pemerintah kolonial juga langsung menerjemahkan Babad Diponegoro, yang ditulis langsung oleh Diponegoro dalam pengasingan, untuk dijadikan bahan pelajaran para administratur sipil dan militer di Nusantara kemudian. Dengan menerjemahkan babad bersejarah itu, Carey menjelaskan, administratur Belanda berharap bisa mengerti dan memahami bagaimana pola pikir dan perilaku orang Jawa. Dengan demikian, bisa terus menaklukkannya.

Apakah Belanda menang dengan menangkap Diponegoro? Ya dan tidak. Diponegoro memang ditangkap dan diasingkan. Keluarga dan pengikutnya berantakan dan tercerai berai.

Tetapi, ternyata efek politik Perang Jawa lebih luas dari yang diperkirakan pemerintah kolonial Belanda. Karena, peristiwa perang tersebut dijadikan salah satu tonggak nasionalisme oleh tokoh-tokoh pendiri bangsa sesudahnya. Meskipun Belanda berupaya menutupi dan mengecilkan faktor perang tersebut.

 
Ternyata efek politik Perang Jawa lebih luas dari yang diperkirakan pemerintah kolonial Belanda. Karena, perang tersebut dijadikan salah satu tonggak nasionalisme.
 
 

Skenario 'mengecilkan' peran Diponegoro terutama muncul dari versi mengapa Diponegoro melawan Belanda. Dalam tulisan utama tentang Perang Jawa, 'Java Oorlog' disebutkan Diponegoro mulai melawan Belanda karena marah soal perebutan takhta dan mengambek saat pembangunan jalan Belanda melewati wilayahnya.

Carey menyebut Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan Taman Siswa adalah organisasi awal yang menggunakan momen Perang Jawa untuk memicu semangat kebangsaan para pengikutnya. Carey mengatakan, pendiri Sarekat Islam Haji Oemar Said Tjokroaminoto pernah berpidato dengan mengutip perjuangan Diponegoro di dalam rapat.

Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) pada 12 Maret 1923 menulis surat dari Makassar ke redaksi Soerabaijach Handelsblad. Isi suratnya, ia mengajak pemimpin dan pengusaha Indonesia untuk memperingati hari wafatnya Diponegoro, 8 Februari.

photo
Ki Hadjar Dewantara menjadi dirigen saat menyanyikan lagu Indonesia Raya di sebuah acara resmi di Yogyakarta pada 1948 (Foto: Dokumentasi Perpustakaan Nasional RI). - (Dokumentasi Perpustakaan Nasional RI)

"Pemerintah Belanda memiliki buku sejarah yang dari sana anak-anak belajar sejarah mereka. Beberapa halaman mencurahkan ke panglima Perang Jawa yang gagah berani ini dan sebagai gantinya (Belanda) menulis lawan dari pemerintahan Belanda ini dengan penghinaan yang memalukan," demikian tulis Ki Hadjar Dewantara.

Muhammadiyah bertindak lebih 'nakal' lagi dengan memasang foto Pangeran Diponegoro di dalam pamflet kongres. Kongres ke-20 Muhammadiyah di Yogyakarta pada 8-16 Mei 1931. Di dalam pamflet itu tampak Pangeran Diponegoro dengan pakaian kebesarannya berwarna putih. Di bawahnya ada seruan azan, "Hayya 'Alal Falah" (marilah kita meraih kemenangan).

Diponegoro menunjuk ke arah masjid agung. Dan, di belakang ada latar Gunung Merapi sedang mengeluarkan asap. Oleh pemerintah Belanda kemudian, pamflet ini dikumpulkan dan dibakar karena khawatir 'efek Diponegoro' makin meluas di masyarakat Yogyakarta.

Mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro dalam perbincangan dengan penulis, Senin (12/11), mengatakan, 'efek Diponegoro' kepada legitimasi nasionalisme harus diakui kian kencang pada abad ke-20. Wardiman mengatakan, saat membawa Babad Diponegoro untuk dijadikan warisan dunia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) beberapa tahun lalu, panitia Indonesia harus mencari betul di mana letak pentingnya momen Perang Jawa bagi nasionalisme ataupun kebangkitan Islam.

Terhadap hal ini, Wardiman mengatakan, "Taman Siswa itu harus diakui sebagai yang pertama menggaungkan perjuangan nasionalisme Diponegoro, meski nasionalisme Diponegoro ketika itu terbatas di Jawa."

photo
Sejumlah warga mengikuti upacara bendera di Curug Tarung kawasan lereng gunung Prahu Dusun Gunung Wuluh, Canggal, Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (18/8/2020). Upacara dilaksanakan di lokasi jalur perjuangan Pangeran Diponegoro. - (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

Ruth T McVey dalam bukunya Kemunculan Komunisme Indonesia juga menemukan bagaimana Partai Komunis Indonesia di awal-awal melegitimasi figur Diponegoro untuk menggerakkan para petani Jawa. McVey menulis, beberapa bulan sebelum pecah pemberontakan PKI 1926-1927, kerap diadakan rapat akbar. Peserta rapat adalah Syarikat Islam, Central Syarikat Islam, dan PKI.

Di dalam ruangan rapat itu terpajang 19 foto di antaranya adalah tokoh komunis internasional: Karl Marx, Rosa Luxemburg, Karl Liebknocht, Vladimir Lenin, dan Leon Trotsky. Ini untuk mengingatkan para peserta rapat akan orientasi perjuangan komunisme internasional.

Tetapi, kemudian turut juga dipajang para tokoh Perang Jawa, yakni Pangeran Diponegoro, Panglima Sentot Alibasya, dan Kiai Modjo sebagai pengingat perjuangan melawan Belanda. Tidak ada satu pun foto pimpinan PKI lokal atau Belanda.

Dalam jumpa pers di Museum Sejarah Jakarta, Senin lalu, Peter Carey menyebut, kemunculan Diponegoro dalam sejarah amat penting karena justru menjadi awal babak berakhirnya pemerintah kolonial Belanda. Carey kemudian menyamakan penangkapan Diponegoro dan pengikutnya oleh Belanda dengan penangkapan Bung Karno dan kabinetnya di Yogyakarta saat agresi militer Belanda. Karena justru dengan penangkapan kedua tokoh itu, penjajahan Belanda atas Indonesia berakhir.

Disadur dari Harian Republika edisi 15 November 2018

Pocut Meurah Intan, Pantang Menyerah Melawan Belanda

Semangat yang tertanam pada diri Pocut Meurah membekas di dada tiga anaknya.

SELENGKAPNYA

Awal Baru dari Akhir Perang Jawa

Perang Diponegoro menandakan babak baru hubungan kolonial dan Islam Jawa.

SELENGKAPNYA