Pocut Meurah | ilustrasi

Tokoh

Pocut Meurah Intan, Pantang Menyerah Melawan Belanda

Semangat yang tertanam pada diri Pocut Meurah membekas di dada tiga anaknya.

OLEH RAHMAT FAJAR

Pocut Meurah Intan merupakan satu dari perempuan-perempuan tangguh Aceh yang ikut berperang melawan penjajah Belanda. Meski namanya seolah tenggelam dengan kebesaran tokoh perempuan seperti Cut Nyak Dien atau Cut Meutia, kontribusi Pocut Meurah Intan untuk kemerdekaan tidak kalah besar.

Pocut Meurah Intan adalah putri bangsawan dari kalangan Kesultanan Aceh. Dia lahir pada 1873. Dia dibuang ke Jawa pada tahun 1901 dan meninggal pada 20 September 1937.

Dia dibuang ke Jawa oleh Belanda. Pocut Meurah Intan lantas dimakamkan di Desa Tegalsari, Kecamatan Kota, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Makamnya pun tidak jauh dari RA Kartini di Desa Mantingan, Rembang.

Pocut Meurah merupakan nama panggilan khusus perempuan keturunan keluarga Sultan Aceh. Dia kemudian menikah dengan seorang pangeran keturunan Sultan Aceh, yaitu Tuanku Majid bin Tuanku Abbas bin Sultan Alaiddin Jauhar Alam Syah.

Perempuan ini dikenal sebagai pejuang dalam melawan penjajah Belanda. Perlawanannya semakin kuat karena didukung oleh suaminya yang juga menentang dan tidak mau diajak berdamai dengan Belanda.

Dari pernikahannya tersebut, Pocut Meurah dikarunia tiga anak, yaitu Tuanku Budiman, Tuanku Muhammad, dan Tuanku Nurdin. Ketiga putranya tersebut semuanya tercatat sebagai pahlawan Aceh.

Dalam catatan Belanda, Pocut Meurah disebut sebagai salah satu tokoh dari Kesultanan Aceh yang paling anti-Belanda. Dialah satu-satunya tokoh dari Kesultanan Aceh yang tetap teguh dengan pendiriannya menolak berdamai dengan Belanda.

 
Semangat yang tertanam pada diri Pocut Meurah juga ikut memengaruhi sikap pada ketiga anak-anaknya. 
 
 

Semangat yang tertanam pada diri Pocut Meurah juga ikut memengaruhi sikap pada ketiga anak-anaknya. Darah perlawanan Pocut Meurah kepada Belanda membuat ketiga putranya juga terlibat berbagai peristiwa peperangan dengannya dan pejuang Aceh lainnya.

Semangat Pocut Meurah tidak surut meskipun harus berpisah dengan suaminya karena menyerah kepada Belanda. Dia melanjutkan perjuangannya dengan ketiga putra dan pejuang lainnya.

Ketika pasukan Marsose menjelajahi wilayah XII mukim Pidie dan sekitarnya untuk mengejar para pejuang Aceh, Pocut Meurah tetap melakukan perlawanan. Dia melakukan perlawanan dengan jalan bergerliya.

Dua putranya, Tuanku Muhammad Batee dan Tuanku Nurdin, saat itu menjadi pemimpin utama gerakan gerliya tersebut, sehingga namanya juga cukup terkenal.

Putra-putra Pocut Meurah juga menjadi bidikan pasukan Marsose. Mereka masuk dalam catatan buronan yang paling dicari, selain Pocut Meurah sendiri. Pasukan Marsose yang beroperasi di wilayah Tangse, Pidie, kemudian berhasil menangkap Tuanku Batee pada Februari 1900.

Tuanku Batee kemudian dibuang ke Tondano, Sulawesi Utara, pada 19 April 1900 karena dianggap berbahaya. Pembuangan tersebut atas dasar Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No 25 Pasal 47 RR.

Meskipun telah berhasil menangkap Tuanku Batee, Belanda tidak mengendorkan pencarian kepada pejuang-pejuang Aceh. Mereka bahkan meningkatkan intensitas pencariannya. Patroli ke berbagai wilayah dilakukan dengan sangat masif.

 
Dia melakukan perlawanan dengan jalan bergerliya. Dua putranya, Tuanku Muhammad Batee dan Tuanku Nurdin, saat itu menjadi pemimpin utama gerakan gerliya tersebut. 
 
 

Perburuan tersebut membuat Pocut Meurah juga ikut tertangkap bersama kedua putranya oleh pasukan Marsose yang bermarkas di Padang Tiji. Kendati demikian, Pocut Meurah sempat melakuan perlawanan kepada pasukan Marsose.

Perlawanan yang dilakukannya membuat pasukan Belanda cukup kesulitan untuk menangkapnya. Pocut Meurah mengalami luka parah di kepala, di bahu, dan satu urat keningnya putus. Tubuhnya menjadi lemah karena kehilangan banyak darah.

Dia kemudian dirawat oleh Belanda meskipun awalnya menolak. Proses penyembuhannya pun berjalan lama. Tubuhnya menjadi cacat dan pincang selama hidupnya.

Setelah sembuh, Pocut Meurah dimasukkan ke penjara di Kutaraja bersama seorang putranya, Tuanku Budiman. Sedangkan satu putranya, Tuanku Nurdin, tetap melakukan perlawanan kepada Belanda dan menjadi pemimpin para pejuang di kawasan Laweueng dan Kalee.

Tuanku Nurdin akhirnya juga tertangkap pasukan Belanda pada 18 Februari 1905 di tempat persembunyiannya di Desa Lhok Kaju. Pasukan Belanda juga sebelumnya telah menangkap istri dari Tuanku Nurdin pada Desember 1904.

Setelah penagkapan dan penahanan Tuanku Nurdin dan istrinya, Pocut Meurah dan Tuanku Budiman serta seorang keluarga sultan bernama Tuanku Ibrahim dibuang ke Blora di Jawa. Di situ juga Pocut Meurah mengembuskan napas terakhirnya pada 19 September 1937.

Disadur dari Harian Republika edisi 8 September 2017

Staadhuis, Sebuah Ladang Pembantaian

Staadhuis atau Gedung Balai Kota Batavia ini menyimpan sejarah paling buram bagi Kota Jakarta.

SELENGKAPNYA

Fatimah binti Maemun Pendakwah Perempuan Pertama Nusantara

Keanggunannya memikat Raja Majapahit.

SELENGKAPNYA

Malahayati binti Mahmud Syah, Laksamana Perempuan Perdana

Malahayati membentuk armada laut khusus yang berisi para janda prajurit Kerajaan Aceh.

SELENGKAPNYA