Pemain buluangkis ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan dalam pertandingan semifinal BWF World Championships di Tokyo, Sabtu (27/8/2022). | AP/Shuji Kajiyama

Teraju

Tetap Bangga!

The Daddies masih mampu melaju ke partai puncak sekaligus menyelamatkan Indonesia.

OLEH NURUL S HAMAMI

Pengembalian dropshot Aaron Chia gagal dikejar oleh Hendra Setiawan yang sudah mati langkah. Mohammad Ahsan juga tak bisa apa-apa. Shuttlecock mendarat lebih cepat di bagian depan lapangan permainan pasangan Indonesia itu.

Seketika Chia merebahkan badannya di lapangan, sementara Soh Wooi Yik berlutut di dekat net. Keduanya berteriak keras. Pasangan Malaysia ini memastikan gelar juara dunia 2022 dalam genggaman setelah duel selama 40 menit di Tokyo Metropolitan Gymnasium, Tokyo, Jepang, Ahad (28/8). 

Segala daya dan upaya sebenarnya sudah dikerahkan oleh The Daddies –sebutan bagi Ahsan/Hendra. Bahkan, mereka memimpin 18-13 di gim pertama. Kemenangan sudah di depan mata. Namun, perlahan tapi pasti, Chia/Soh mampu balik menekan dan menambah tiga poin berturut-turut sebelum Ahsan/Hendra berusaha menjauh lagi dan tetap memimpin 19-16.

Di poin krusial itu ganda Malaysia justru “mendapat angin” ketika bisa mencuri poin lagi dan menjadikan skor 17-19. Chia/Soh selanjutnya memancing dengan bola-bola atas dan sangat efektif menambah empat poin berikutnya untuk memenangkan gim ini 21-19. Empat poin terakhir diperoleh setelah pengembalian yang gagal dari Ahsan sekali dan Hendra sisanya.

Gim kedua The Daddies kelihatan mulai menurun staminanya. Mereka memang sempat memimpin 3-1 tapi gagal mengimbangi permainan cepat dan bertenaga dari Chia/Soh yang memang jauh lebih muda. Chia baru berusia 25 tahun, sementara Soh 24. Sedangkan, Hendra sudah 38 dan Ahsan 35.

Sempat terjadi tiga kali skor kembar mulai 3-3, 4-4, dan 7-7. Di titik 7-7 itulah Ahsan/Hendra kian melemah. Sebaliknya, Chia/Soh melejit dan unggul 11-9 hingga 19-13. The Daddies masih mampu menambah satu poin sebelum akhirnya pasangan negeri jiran itu menyudahi duel final ini 21-14. Juara dunia ganda putra yang baru pun telah lahir.

Bagi Chia/Soh, gelar tersebut amatlah berharga. Mereka mencatatkan diri sebagai pemain Malaysia pertama yang berhasil menjadi juara dunia sejak kejuaraan ini digelar pada 1977 di Malmoe, Swedia.

Akan halnya The Daddies, hasil tersebut membuat mereka gagal menorehkan gelar juara dunia untuk kali keempat. Sebelumnya mereka selalu juara setiap kali tampil yakni di 2013, 2015, dan  2019. Juga buat Hendra sendiri yang menjadi juara dunia untuk kali kelima dengan pasangan yang berbeda. Sebelumnya dia menjadi juara saat berpasangan dengan Markis Kido pada 2007 di Kuala Lumpur.

photo
Pemain buluangkis ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan dalam pertandingan semifinal BWF World Championships di Tokyo, Sabtu (27/8/2022). - (AP/Shuji Kajiyama)

Meski gagal, The Daddies tetap bersyukur. “Saya dan Hendra tetap mengucap syukur alhamdulillah sudah bisa menyelesaikan pertandingan ini walaupun hasilnya bukan yang diharapkan. Kami juga mengucapkan selamat kepada pasangan Malaysia sudah menjadi juara dunia,” kata Ahsan usai pertandingan, dikutip dari laman resmi PBSI, pbsi.id.

“Di awal gim pertama itu mereka coba mengadu bermain cepat, tapi tidak berhasil. Setelah itu, mereka mengubah menjadi lebih pasif dan banyak menunggu. Kami malah kesusahan dan tidak siap dengan serangan balik mereka. Hari ini kami akui mereka bermain sangat rapat dan tidak banyak mati sendiri,” sambung Hendra soal keunggulan 18-13 dan 19-17di gim pertama yang gagal dipertahankan.

The Daddies mengaku tidak mau ambil pusing dengan rekor kemenangan mereka 100 persen yang terhenti di final tersebut. “Kami tidak memikirkan statistik. Tidak masalah rekor 100 persen itu terhenti. Kami mau fokus untuk coba lagi di Japan Open pekan depan. Kami juga meminta maaf kepada semua masyarakat Indonesia karena belum bisa membawa medali emas,” tutur Ahsan.

Selamatkan Indonesia

Apapun hasilnya, tetap bangga pada Ahsan/Hendra. Di usia yang sudah tidak lagi muda bagi ukuran atlet, mereka masih mampu melaju ke partai puncak sekaligus menyelamatkan Indonesia ada di final kejuaraan dunia.

photo
Pemain buluangkis ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan dalam pertandingan semifinal BWF World Championships di Tokyo, Sabtu (27/8/2022). - (AP/Shuji Kajiyama)

Di kejuaraan kali ini The Daddies juga selalu mencatat kemenangan dua gim langsung sejak awal hingga perempat final. Hanya di semifinal mereka dipaksa bermain tiga gim oleh juniornya, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, 23-21, 12-21, 21-16.

Di saat Indonesia mengharapkan pada pemain-pemain yang lebih muda seperti pasangan Marcus Gideon/Kevin Sanjaya, Fajar/Rian, dan Bagas Maulana/Muhammad Shohibul Fikri, The Daddies justru memperlihatkan mereka masih bertaring. Ini harus menjadi catatan kritis buat Rionny Mainaky sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Pusat PBSI. Dia mesti bisa memecahkan persoalan mengapa pemain-pemain yang notabene usianya di bawah Ahsan/Hendra malah merana di kejuaraan dunia.

“Ahsan/Hendra terlihat sangat fokus di turnamen ini. Di lapangan tidak mau kalahnya terasa,” kata Rian, tentang sukses seniornya lolos ke final.

Terhenti di babak semifinal dan harus puas dengan medali perunggu adalah capaian ulang Fajar/Rian di tahun 2019. Saat itu mereka juga hanya sampai semifinal, juga dengan menderita kekalahan dari Ahsan/Hendra.

“Tidak puas karena harapan menjadi juara itu ada dan kita juga sudah persiapan sebaik mungkin. Tapi, memang tidak mudah mengalahkan pemain yang sudah berpengalaman di kejuaraan dunia. Apalagi Ahsan/Hendra belum pernah kalah sekalipun kalau main di turnamen ini,” ungkap Fajar. “Semoga ke depan kita bisa lebih konsisten. Hasil di sini memang tidak jelek tapi masih kurang bagus,” tambahnya.

Fokus pada permainan terutama di saat poin-poin penting menjadi “pekerjaan rumah” tersendiri bagi Fajri –panggilan penggemar dan media kepada Fajar/Rian. Mereka kadang kehilangan konsentrasi sehingga banyak membuat kealahan sendiri yang mendasar. Seperti ketika kalah di gim pertama pada The Daddies, padahal sudah memimpin jauh 15-7, 17-13, lalu 18-15, dan poin gim 20-18.

“Di gim pertama itu memang kesalahan yang sangat fatal. Kita sudah unggul jauh 15-7 dan 20-18 tapi jadi kalah. Itu menjadikan pelajaran yang sangat berharga buat ke depannya. Sebelum poin 21 memang harus fokus dan tidak boleh lengah,” ungkap Fajar.

Dia menambahkan, Ahsan/Hendra mengubah strategi di akhir-akhir gim pertama dengan memperlambat tempo dan bermain balik menyerang. “Di awal gim kita sudah nyaman karena mereka ikut pola kita yang cepat,” kata Fajar.

Fajri sebenarnya mampu bangkit dan memenangkan gim kedua. Tapi, di gim ketiga permainan Ahsan/Hendra semakin menyulitkan mereka.

“Tadi gim ketiga kita mau menerapkan pola dengan no lob panjang. Tapi, mereka sudah benar-benar antisipasi jadi kita banyak tertekan,” timpal Rian.

photo
Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto dalam pertandingan semifinal BWF World Championships di Tokyo, Sabtu (27/8/2022). - (AP/Shuji Kajiyama)

Di luar Fajri yang kadang masih tampil kurang fokus, Bagas/Fikri kembali belum menunjukkan performa bagusnya seperti ketika menjuarai All England pada Maret lalu. Setelah menjadi kampiun di kejuaraan bergengsi dan tertua di dunia itu, pasangan muda Indonesia ini (24 dan 22 tahun) tak pernah lagi menjadi juara di turnamen BWF World Tour yang mereka ikuti. Kali ini mereka langsung tumbang di tangan Alexander Dunn/Adam Hall (Skotlandia) 21-17, 19-21, 15-21 di babak awal.

Bakri – panggilan buat Bagas/Fikri-- mengaku permainan mereka memang belum stabil sejak menjuarai All England. “Kendala kami memang sejak juara di All England. Kami berharap dan ingin terus bermain maksimal dan meraih hasil bagus. Tapi, permainan kami memang belum stabil jadi belum bisa memberikan yang terbaik,” ungkap Fikri.

Pelatih pelatnas ganda putra, Herry Iman Pierngadi, mengatakan masalah yang dihadapi Bakri adalah mental bertanding yang menurun. “Kalau menurut saya mental bertanding Bagas/Fikri itu menurun, drop ya. Dan belum kembali lagi. Di latihan mereka normal, biasa tapi di pertandingan tidak bisa keluar. Apa yang sudah dilatih hilang semua. Malah di lapangan terlihat panik, bingung mau main seperti apa,” kata dia.

“Sehari-hari sering saya ingatkan agar motivasinya ditambah. Tapi, yang menjadi masalah itu di lapangan. Percaya dirinya tidak ada, gregetnya hilang. Ini yang harus segera disikapi dan menjadi PR. Memang setiap pemain akan ada masanya seperti itu dan ada yang cepat, ada yang lambat untuk mengatasinya,” tambah Herry.

Herry berharap anak asuhnya itu bisa cepat berbenah. “Saya selaku pelatih akan banyak ngobrol sama mereka, kasih tahu untuk cepat berubah. Jadi, minimal saat bertandingnya itu level turunnya jangan terlalu banyak dibanding latihan. Seperti tadi itu hanya 50-60 persen dari kemampuan Bagas/Fikri,” jelas Herry.

Selain menjadi PR bagi Bakri, tentu saja itu juga menjadi PR besar bagi tim pelatih untuk bisa mengasah anak asuhnya. Tak terkecuali terhadap Marcus/Kevin yang belakangan mulai kendor dan terhenti di babak ketiga kejuaraan dunia tahun ini. The Daddies bisa menginspirasi.

Kala Perang Jawa Bikin Bangkrut Belanda

Perang Jawa menjadi pelajaran penting bagi pemerintah kolonial Belanda untuk menghadapi pihak keraton dan rakyat Nusantara.

SELENGKAPNYA

Tak Terima Alquran Diinjak, Opu Daeng Risadju Lawan NICA

Risadju berasal dari keluarga bangsawan Luwu di Sulawesi Selatan.

SELENGKAPNYA

Merekayasa Kejahatan

Allah SWT mengabadikan kisah rekayasa kejahatan yang diperbuat oleh saudara-saudara Nabi Yusuf

SELENGKAPNYA