vp,,rm
Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

Merekayasa Kejahatan

Allah SWT mengabadikan kisah rekayasa kejahatan yang diperbuat oleh saudara-saudara Nabi Yusuf

OLEH IMRON BAEHAQI

Dalam Alquran surah Yusuf, Allah SWT mengabadikan kisah rekayasa kejahatan yang diperbuat oleh saudara-saudara Nabi Yusuf AS (kecuali Bunyamin). Kisah tersebut dapat menjadi pelajaran sekaligus peringatan agar kita tidak melakukan perbuatan jahat yang dapat merugikan diri sendiri, keluarga, institusi, dan orang lain.

Alkisah, saudara-saudara Yusuf melakukan konspirasi untuk membunuh Yusuf AS atau membuangnya ke suatu tempat. Motif kejahatan mereka adalah sifat iri dan dengki kepada Yusuf AS dan saudaranya yang bernama Bunyamin. Karena keduanya lebih dicintai dan disayangi oleh ayahnya. Dengan membunuh atau membuangnya, diharapkan perhatian dan kecintaan ayahnya beralih dan tertumpu kepada mereka. Akhirnya, mereka sepakat untuk membuang Yusuf AS dengan memasukkannya ke dalam sumur.

Pendek cerita, ketika mereka sudah selesai mengeksekusi perbuatan jahatnya, mereka pun membuat drama atau keterangan palsu di hadapan ayahnya. Alquran mendeskripsikannya sebagai berikut:

“Mereka datang kepada ayah mereka pada waktu petang hari sambil pura-pura menangis. Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami! Sesungguhnya kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf AS di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala, dan engkau tentu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.’

Dan mereka datang dengan membawa baju gamisnya yang berlumuran darah palsu. Dia (Yakub) berkata, ‘Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.’” (QS Yusuf: 16-18).

Terdapat banyak pelajaran, sekaligus peringatan dari kisah Yusuf ini. Pertama, iri dan dengki atas kebaikan, kebahagiaan, kenikmatan, dan keberhasilan yang dicapai orang lain adalah sikap keji lagi tercela. Bahayanya sifat ini ialah mendorong pemiliknya berbuat jahat.

Salah satu solusi agar orang-orang mukmin terhindar dari sifat tercela tersebut adalah berdoa. Sebagaimana diajarkan dalam Alquran, “Ya Tuhan kami, jangan Engkau jadikan kedengkian dan kebencian pada hati-hati kami kepada orang-orang yang beriman, sesungguhnya Engkau Maha Mengenal dan Maha Penyayang.” (QS al-Hasr: 10).

Kedua, kebohongan atau merekayasa kasus pidana adalah perbuatan terkutuk dan dosa besar. Itulah yang dilakukan oleh saudara-saudaranya Yusuf AS. Dalam konteks penegakan hukum, maka hakim, jaksa, aparat polisi, pengacara, dan saksi-saksi menjadi sangat penting dalam mengungkap kebenaran dan keadilan.

Ketiga, dari kisah Yusuf AS ini juga mengingatkan kita semua tentang kejinya dosa mencelakakan orang lain, apalagi sampai membunuhnya (QS al-Maidah: 32).

Keempat, hendaklah bergantung dan bertawakal kepada Allah SWT. Apabila tidak mendapat keadilan hukum, atau menjadi korban kebohongan tindak pidana, jalan yang paling baik adalah berserah diri kepada Allah, memohon pertolongan-Nya.

Sebab, jika Allah berkehendak, kebenaran dan kebatilan tersebut pada akhirnya akan terungkap juga, cepat ataupun lambat. Dan pastinya, hukuman di akhirat sudah menantinya.

Wallahu al-Musta'an.

Dari Bank Kompeni ke BI, Sejarah Bank di Tanah Air

Kondisi perdagangan di Eropa 1700-an kerap dijadikan contoh bagi para penguasa dalam menjalankan pemerintahan dan kehidupan mereka di Hindia Timur.

SELENGKAPNYA

Haul Zakat Menggunakan Kalender Masehi

Apakah menghitung haul zakat harus menggunakan kalender hijriyah?

SELENGKAPNYA

Mengekalkan Nama Baik

Kehidupan manusia yang kekal hanya terjadi nanti di hari akhir.

SELENGKAPNYA