Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

Mengekalkan Nama Baik

Kehidupan manusia yang kekal hanya terjadi nanti di hari akhir.

Oleh SAIFUL BAHRI

OLEH SAIFUL BAHRI 

Manusia akan dikenang oleh orang di sekitarnya. Sebagian perilaku baik atau buruk yang dilakukannya kelak akan diingat oleh mereka. Tentu, sebagian besar kita ingin dikenang nama baiknya dan tidak dilupakan.

Namun, faktanya sebagian manusia dilupakan dan hilang di lini masa sejarah. Buktinya, sebagian kita mengalami kesulitan ketika diminta menyebut nama dari kakeknya kakek atau nenek buyutnya. Hal ini bisa akan dialami oleh setiap kita. Dilupakan bahkan oleh keturunannya sendiri.

Nabi Ibrahim alaihissalam adalah nabi yang aware tentang pentingnya mengekalkan nama baiknya. Salah satu doa beliau dikekalkan di dalam Alquran, “Jadikanlah aku sebagai buah tutur yang baik di kalangan orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS asy-Syu’ara’ [26]:84).

Allah mengabulkan doa ini. Setiap Muslim yang melakukan shalat setidaknya akan bershalawat untuknya. Beliau selalu disebut dalam doa dan shalat.

Bukan hanya dirinya, namun nama baik sebagian keturunanya pun kekal dan dikenang oleh berbagai generasi. “Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi mulia.” (QS Maryam [19]: 50).

Kehidupan manusia yang kekal hanya terjadi nanti di hari akhir. Ada pun di dunia, manusia hidup sementara, kemudian ia akan meninggalkannya. Apa yang dilakukannya di dunia akan berpengaruh besar bagi kehidupan setelahnya. Termasuk kenangan tentang dirinya. Kebaikan atau keburukannya mungkin ada yang terkuak setelah ia meninggal.

Orang yang cerdas akan meniru apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim yang sangat visioner. Beliau membina dan keturunannya untuk mengekalkan nama baik. Maka sepeninggal mereka, generasi setelahnya terus mengenang kisah dan nama baiknya serta terus mendoakan. Inilah investasi kebaikan yang tak pernah terhenti.

Demi merealisasikan visi cerdas ini diperlukan strategi yang jitu. Di antaranya merealisasikan sabda Rasulullah SAW, "Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya." (HR Muslim dan at-Tirmizi dari Abu Hurairah ra)

Orang cerdas menyiapkan hal tersebut. Ia memiliki pola pikir kontributif sehingga selalu giat menanam kebaikan dan bersedekah di mana pun ia berada. Ilmu yang dipelajarinya juga digunakan dan disosialisasikan untuk menebar kemanfaatan untuk sesama manusia dan lingkungan di sekitarnya.

Ia juga berusaha maksimal mendidik keturunan biologisnya dengan baik, sebagaimana berusaha selalu membina kebaikan pada anak didik dan muridnya. Di samping itu ia meminimalisir terjebak melakukan kezaliman terhadap sesama manusia, baik kecil atau besar, yang di sengaja dan yang tidak disengaja. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Cut Nyak Meutia: Keberanian Mujahidah dari Serambi Makkah

Cut Nyak Meutia telah meniupkan semangat juang bagi kaumnya.

SELENGKAPNYA

Gaung Pan-Islam di Pekojan

Pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-18 menetapkan Pekojan sebagai kampung Arab.

SELENGKAPNYA

Bioskop di Jakarta Sepi Saat Jerman Serbu Belanda

Warga di berbagai tempat di Jakarta akhirnya percaya bahwa Jerman sudah menyerbu Belanda.

SELENGKAPNYA