Cover Islam Digest edisi Ahad 28 Agustus 2022. Astronomi Islam dan Renaisans. | Islam Digest/Republika

Tema Utama

Astronomi dan Jejak Islam, Heliosentris Vs Geosentris

Dalam beberapa segi, ilmuwan Islam-lah yang membuka jalan bagi astronomi modern.

Peradaban Islam menghasilkan banyak genius dalam bidang ilmu falak. Di antaranya menginspirasi gagasan heliosentris yang lahir di kalangan astronom Eropa era Renaisans.

OLEH HASANUL RIZQA

Dalam Alquran surah az-Zariyat ayat tujuh, Allah Ta’ala bersumpah. “Wassamaaa'i dzaatil hubuk.” Artinya, “Demi langit yang mempunyai al-hubuk.”

Menurut penafsiran KH Prof M Quraish Shihab, al-hubuk itu dapat berarti 'yang indah' atau ‘yang teratur'. Kata yang sama, lanjut dia, dapat pula dipahami sebagai bentuk jamak dari hibak atau habikah. Artinya, ‘jalan’ atau ‘orbit'.

Sumpah Allah itu menegaskan, langit memiliki banyak jalan yang merupakan garis edar atau orbit. Dengan meniti garis tersebut, segala benda langit—bumi, planet-planet, bintang-bintang, serta galaksi-galaksi—bergerak teratur.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Ayat Alquran itu mengisyaratkan kaum Muslimin agar mereka tidak hanya mengamati kejadian-kejadian di bumi, tetapi juga ruang angkasa. Dalam surah lain, yakni Ali Imran ayat 190-191, Allah SWT menyebut kualitas Mukminin yang merenungi semua ciptaan-Nya itu sebagai ulil albab.

“(Yaitu) yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia'.”

Cabang ilmu yang mengkaji benda-benda langit adalah astronomi. Dalam sejarah peradaban Islam, khususnya dalam masa keemasan, ada banyak ahli ilmu falak. Walaupun berjasa besar, sebagian ilmuwan Muslim itu cenderung “terlupakan". Generasi kini tampaknya lebih mengenal nama-nama saintis Barat yang non-Muslim, utamanya mereka yang muncul dari era Renaisans.

Padahal, mereka membuka jalan bagi perkembangan astronomi modern. Ambil contoh, tokoh-tokoh yakni Abu Ma’syar al-Balkhi (787-886 M), Ibnu al-Haitsam (965-1040 M), Abu Sa’id al-Sijzi (945-1020 M).

Kemudian, ada Mu’ayyaduddin al-Urdi (1200-1266), Nashiruddin al-Thusi (1201-1274 M), Quthbuddin al-Syirazi (1236-1311 M), serta Ibnu Syathir (1304-1375 M). Mereka semua berperan dalam mengungkapkan kebenaran ilmiah terkait astronomi. Salah satu hasil kajiannya menyasar pada kekeliruan geosentrisme.

Istilah tersebut merujuk pada pandangan bahwa “bumi adalah pusat". Maksudnya, planet tempat manusia berada ini adalah titik-tengah alam semesta dan selalu berada dalam kondisi diam. Adapun planet-planet, matahari, dan benda-benda langit lainnya bergerak mengitarinya.

Lawan dari geosentrisme merupakan heliosentrisme. Pandangan ini menyatakan, pusat alam semesta adalah matahari (helios). Dengan demikian, benda-benda langit—termasuk bumi—berputar mengelilinginya.

photo
ILUSTRASI Perbandingan antara model tata surya geosentrisme dan heliosentrisme. Keyakinan bahwa bumi adalah pusat semesta dimulai sejak era Yunani Kuno hingga era Renaisans (abad ke-16). - (DOK WIKIPEDIA)

Menilik jauh ke belakang. Mulanya, geosentrisme digagas oleh Anaximandros, filsuf Yunani Kuno yang hidup antara tahun 610-546 sebelum Masehi (SM). Menurut dia, bumi—yang dianggapnya berbentuk silinder, bukan bola—tidak jatuh karena kedudukannya berada pada pusat alam raya. Pemikiran serupa diikuti Aristoteles (384-322 SM) dan Hipparchus (meninggal 140 SM).

Puncaknya, Klaudius Ptolemaeus (Claudius Ptolemy) pada pertengahan abad kedua Masehi menulis risalah ilmu falak, Mathematike Syntaxis. Buku itu terkenal di Eropa dan juga Asia barat dengan judul Almagest. Di dalamnya, ilmuwan asal Iskandariah (Mesir) itu mengembangkan teori orbit benda-benda langit dengan bumi sebagai sentranya. Karena itu, gagasan “bumi sebagai pusat semesta” sering kali dinamakan Model Ptolemy.

Selama 1.400 tahun, geosentrisme diyakini sebagai kebenaran yang tidak terbantahkan dalam disiplin astronomi. Sekurang-kurangnya, ada dua persepsi yang mendukung argumentasi Ptolemy.

Pertama, matahari tampak mengelilingi bumi satu kali per hari. Begitu pula dengan bulan dan planet-planet lainnya yang dapat diamati dari bumi walau masing-masing mereka memiliki garis edar tersendiri. Kedua, Bumi dirasakan stabil, tidak bergerak, dan tidak berputar.

Menurut teori Ptolemy, bumi berada statis di pusat semesta. Kemudian, bulan mengelilinginya di orbit yang paling dekat dengan bumi. Di orbit yang paling jauh, bintang-bintang dalam bulatan angkasa yang besar (celestial sphere) berputar mengitari Bumi.

Adapun planet-planet—namanya berasal dari planetai, 'pengembara'—beredar di antara orbit bulan dan celestial sphere. Begitu pula dengan peredaran matahari, yang terletak di antara keduanya.

Semua benda langit itu, dalam pemahaman Ptolemy, berkisar mengelilingi bumi di orbit masing-masing. Garis edar Venus dan Merkurius berada di antara orbit bulan dan matahari. Adapun perputaran Mars, Jupiter, dan Saturnus terletak di antara orbit matahari dan celestial sphere.

Revolusi ilmiah

Belakangan, heliosentrisme membantah geosentrisme. Umumnya, orang-orang di masa kini menghubungkan heliosentrisme dengan ketokohan Nicolaus Copernicus (1473-1543 M). Bahkan, berbagai narasi mengeklaim, dialah ilmuwan pertama yang menggulirkan teori bumi berputar mengelilingi matahari.

Sejak masih menimba ilmu di Akademi Krakow, Copernicus telah mencurahkan perhatian pada kajian astronomi. Berbagai tulisannya tidak hanya mengundang kekaguman sesama ahli falak, tetapi juga skeptisme dan cemooh. Respons negatif ditunjukkan kalangan akademisi yang taklid pada pemikiran Aristoteles dan gereja.

Pada waktu itu, pemikiran Aristotelianisme dalam bidang fisika dan astronomi didukung otoritas agama Katolik di Eropa. Gagasan filsuf Yunani kuno itu, yang kemudian dikembangkan Ptolemy, adalah bahwa bumi diam; lalu benda-benda langit bergerak mengitari Bumi. Hal itu berdasarkan pengamatan visual yang dimafhumi siapapun: Matahari selalu terbit dari timur dan tenggelam di barat.

Bagi kaum agamawan Katolik saat itu, geosentrisme sejalan dengan penafsiran mereka terhadap takdir. Dalam keyakinannya, manusia adalah pokok utama perhatian Tuhan. Karena itu, wajarlah kalau bumi menjadi pusat semesta.

 

Bahkan, ada anggapan yang lebih bias lagi, yakni bahwa semesta mengelilingi bumi karena di dalamnya terdapat mahkota Paus. Siapapun yang mendukung heliosentrisme otomatis menolak geosentrisme. Artinya, orang itu dapat dicap sebagai pengikut kebaruan (heresy) dalam doktrin Katolik. Dan, hukuman atas pelaku heresy adalah dibakar hidup-hidup sampai mati.

Sebagai contoh, nasib nahas yang menimpa seorang mantan biarawan, Giordano Bruno. Pada 17 Februari 1600, Gereja Katolik menjatuhkan hukuman final terhadapnya. Ia dibakar hidup-hidup hanya karena meyakini heliosentrisme sebagai sesuatu yang faktual.

 
Pada 17 Februari 1600, Gereja Katolik menjatuhkan hukuman final terhadapnya. Ia dibakar hidup-hidup hanya karena meyakini heliosentrisme sebagai sesuatu yang faktual.
 
 

Copernicus sepertinya tidak ingin konfrontatif dengan otoritas Gereja. Barulah pada tahun 1540, sejumlah koleganya berupaya meyakinkan dirinya agar mau menerbitkan buku yang berisi pemikirannya dalam bidang astronomi. Beberapa tahun kemudian, ilmuwan Katolik itu terserang stroke. Dalam kondisi terbujur lemas akibat sakit, dirinya mengikuti saran mereka.

Pada Mei 1543, terbitlah De Revolutionibus Orbium Coelestium (Tentang Revolusi Bola Langit). Karya yang diluncurkan di Nuremberg (Jerman) beberapa hari jelang kematian penulisnya itu menghebohkan masyarakat, khususnya para astronom dan pihak Gereja. Sebab, di dalamnya Copernicus menyatakan bahwa semua benda langit—termasuk bumi—berputar mengelilingi matahari.

Menurut Jerry Brotton dalam The Renaissance: A Very Short Introduction, Copernicus menjungkirbalikkan pemahaman tradisional abad pertengahan di Eropa mengenai peredaran benda-benda langit. Publik umumnya kala itu meyakini geosentrisme Aristotelian sebagai “kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan". Sama seperti judul buku karyanya, ilmuwan dari masa Renaisans tersebut mengobarkan sebuah revolusi dalam ranah ilmu falak.

photo
Prangko bergambar Nashiruddin al-Thusi yang dirilis Pemerintah Iran untuk memperingati 700 tahun kematian al-Thusi, ilmuwan asal Persia ini. - (DOK Wikipedia)

Peran Muslim

Sayangnya, gagasan heliosentrisme hingga kini sering kali hanya disematkan pada ketokohan Copernicus. Padahal, para sejarawan modern telah menemukan adanya kemiripan antara konsep-konsep matematis yang ditulis dalam De Revolutionibus di satu sisi dan buah pemikiran para sarjana Muslim dari masa berabad-abad sebelumnya di sisi lain.

Jim al-Khalili dalam The House of Wisdom: How Arabic Science Saved Ancient Knowledge and Gave Us the Renaissance mengatakan, kritik Copernicus terhadap Model Ptolemy begitu mirip—atau bahkan identik—dengan penjabaran yang dilakukan sejumlah Muslim astronom, semisal Ibnu Syathir dan al-Thusi. Karena itu, anggapan bahwa ilmuwan itu sebagai pelopor teori heliosentrisme patut dipertanyakan.

Bahkan, jejak Islam tampak sangat jelas dalam De Revolutionibus. Al-Khalili membandingkan antara diagram yang terdapat dalam karya Copernicus itu dan kitab karangan al-Thusi. Di buku yang terbit pada 1543 itu, astronom Polandia tersebut menampilkan sebuah model matematis untuk menunjukkan mekanisme yang memungkinkan gerak lurus muncul dari gabungan orbit-orbit.

Ternyata, lanjut al-Khalili, model matematis itu sama persis dengan diagram yang telah dibuat al-Thusi dua abad sebelumnya, yakni pada buku At-Tadzkirah fii ‘Ilm al-Hayah. Gagasan saintis asal Khurasan itu masyhur dengan sebutan Pasangan Thusi (Tusi couple), yakni mekanisme yang menghasilkan gerakan linier dari jumlah dua gerakan melingkar. Dalam kajian astronomi, hal itu dianggap mengatasi persoalan equant Ptolemy. Dengannya, al-Thusi hendak membuktikan rotasi bumi.

Bahkan, Copernicus diketahui hanya mengganti huruf-huruf Arab dalam diagram karya ilmuwan Muslim tersebut dengan huruf-huruf Latin untuk karyanya sendiri. Alif diganti menjadi huruf A; ba menjadi B; jim menjadi G; dal menjadi D; dan seterusnya. Hal itu dilakukannya tanpa sama sekali menyebutkan nama al-Thusi sebagai rujukannya dalam menulis De Revolutionibus.

Pengetahuan tentang model planet yang dikembangkan al-Thusi dan Ibnu al-Syathir sangat mungkin sampai ke Italia via Konstantinopel. Copernicus barangkali tidak membaca At-Tadzkirah langsung dari bahasa Arab, melainkan hasil penerjemahan.

Di kampus-kampus Eropa, termasuk Akademi Krakow tempatnya belajar, terdapat beberapa manuskrip tulisan kelompok astronom Mazhab Maragha.

Cut Nyak Meutia: Keberanian Mujahidah dari Serambi Makkah

Cut Nyak Meutia telah meniupkan semangat juang bagi kaumnya.

SELENGKAPNYA

Gaung Pan-Islam di Pekojan

Pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-18 menetapkan Pekojan sebagai kampung Arab.

SELENGKAPNYA

Bioskop di Jakarta Sepi Saat Jerman Serbu Belanda

Warga di berbagai tempat di Jakarta akhirnya percaya bahwa Jerman sudah menyerbu Belanda.

SELENGKAPNYA