Suasana kediaman istri mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi di Duren Tiga, Jakarta Selatan, Selasa (9/8/2022). | Republika/Thoudy Badai

Literasi Umat

15 Aug 2022, 07:51 WIB

Irjen Sambo dan Muruah Kepolisian

Pada akhirnya, kepolisian akhirnya luruh dan perlahan mengungkapkan apa yang diduga terjadi sebenarnya.

Assalamualaikum, pembaca yang budiman.

Pekan-pekan lalu Indonesia dilanda keriuhan tak biasa yang menyedot perhatian bangsa. Mulanya adalah insiden penembakan di Rumah Dinas Kadiv Propam Polri pada 8 Juli 2022 lalu.

Mabes Polri pada 11 Juli 2022 melansir kejadian itu sebagai peristiwa pelecehan terhadap istri Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo yang kemudian berujung bakutembak dua ajudan. Brigadir J yang disebut kala itu sebagai pelaku, gugur ditembak Bharada E yang disebut membela diri saat mendapati kejadian pelecehan.

Masyarakat dan media massa kemudian meragukan keterangan tersebut. Pasalnya, sejumlah kejanggalan menguar dari skenario yang disampaikan kepolisian saat itu. Mulai dari rekaman CCTV yang disebut rusak, hingga keterangan pihak keluarga yang menyebut ada tanda-tanda penganiayaan pada jenazah Brigadir J.

Seperti banyak jurnalis lain, wartawan Republika, Ali Mansur dan Bambang Noroyono, yang bertugas di Polda Metro Jaya dan Mabes Polri menempel secara ketat isu tersebut. Sementara fotografer Putra M Akbar dan Thoudy Badai menyoroti perkembangan kasus di berbagai lokasi.

 
Pada akhirnya, kepolisian akhirnya luruh dan perlahan mengungkapkan apa yang diduga terjadi sebenarnya. 
 
 

 

Memberikan laporan menit per menit dari proses selepas kejadian tersebut. Dalam kabut kabar burung dan ketidakjelasan, Republika berikhtiar tetap menjalankan jurnalisme yang bermartabat terkait kasus ini. Menghindari spekulasi-spekulasi bombastis yang beredar tak terkendali.

Pada akhirnya, kepolisian akhirnya luruh dan perlahan mengungkapkan apa yang diduga terjadi sebenarnya. Ternyata tak ada pelecehan seksual. Ternyata bukan Bharada E sendirian yang melakukan pembunuhan, ia bertindak di bawah perintah atasannya Irjen Sambo yang jadi tersangka kemudian. Ternyata ada kongkalikong puluhan perwira dan petugas kepolisian untuk mengaburkan kejadian ini. Ternyata di tubuh kepolisian ada kelompok yang bertindak jauh melampaui kewenangan mereka.

Liputan-liputan Republika turut terbantu dengan kebaikan pembaca melalui program Literasi Umat melalui kanal ini. Kami mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan tersebut.

Pada akhirnya kasus ini bukan sekadar pembunuhan. Ia juga bisa jadi titik tolak untuk membenahi institusi kepolisian yang belakangan tak memiliki citra yang begitu bagus di masyarakat. Mengembalikan muruah korps baju coklat sebagai pelindung rakyat sebenar-benarnya. Republika juga merasa ini arah yang harus dituju.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. ';

×