Margaret Aliyatul Maimunah memberdayakan perempuan merengkuh ladang jihad. | Istimewa

Uswah

Berdayakan Perempuan Merengkuh Ladang Jihad

Islam adalah rahmat bagi perempuan.

 

OLEH IMAS DAMAYANTI

Ciri majunya peradaban terlihat dari seberapa kuat dan maju perempuan di dalamnya. Kaum hawa adalah yang melahirkan penerus peradaban. Berbekal kekuatan batin dan ketulusan mendidik generasi penerus, mereka menyiapkan orang-orang yang meneruskan visi dan misi membangun negeri.

Margaret Aliyatul Maimunah boleh jadi salah satu tokoh Muslimah yang cukup mengerti bagaimana membawa kaum perempuan menghadapi tantangan. Ketua Umum terpilih PP Fatayat NU ini memiliki rekam jejak panjang berorganisasi dan memberdayakan perempuan.

Lahir dan dibesarkan di lingkup keluarga besar Nahdlatul Ulama, Margaret mengetahui betul bagaimana arah perjuangan organisasi masyarakat (ormas) Islam terbesar di Indonesia ini. Meskipun ia merupakan cicit salah satu pendiri NU, KH Bisri Syansuri (1886-1980), khidmahnya di Nahdlatul Ulama ia lakukan melalui proses panjang yang mendewasakan sikap dan jalan berpikirnya dalam berorganisasi.

Karena itu, dia tak serta merta didapuk menjadi ketua umum PP Fatayat lantaran merupakan seorang cicit salah satu pendiri NU. "Menjalani proses itu adalah sebenarnya yang memupuk kita menjadi pribadi yang berkarakter. Jadi, memang kita harus berproses, tak bisa jika tidak (berproses). Dan saya kira ini adalah proses yang tak mudah. Tidak ada privilege dalam perjuangan dan pengabdian yang saya lakukan," kata Margaret saat dihubungi Republika, Senin (25/7) malam.

Pihaknya menyadari betul bahwa pada masa sekarang, banyak tantangan yang dihadapi oleh kaum perempuan dan anak di Indonesia. Untuk itu, sejumlah program strategis akan dilakukannya bersama dengan PP Fatayat NU pada masa khidmah ini.

 
Perempuan harus mengambil peran besar agar dapat mengimbangi, bahkan mencegah dampak negatif kecanggihan teknologi.
 
 

Dia melihat bahwa selain diperlukannya penguatan lembaga dan kaderisasi, Indonesia juga dihadapkan dengan adanya tantangan kecanggihan teknologi.

Untuk itu, dia menilai, PP Fatayat NU tidak boleh ketinggalan zaman dan harus mampu menguasai tantangan kecanggihan teknologi. Perempuan harus mengambil peran besar agar dapat mengimbangi, bahkan mencegah dampak negatif kecanggihan teknologi. Selain itu, memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk dakwah Islam Ahlussunah waljamaah.

Fatayat NU harus menjadi sumber rujukan Islam yang berkaitan dengan perempuan dan anak. "Kita harus maksimalkan Bahtsul Masail untuk isu perempuan dan anak. Ke depan, kita akan concern di sini. Program-program terdahulu akan kita kuatkan, sementara program yang belum ada akan kita gagas dan jalankan dan masifkan," kata dia.

photo
Margaret Aliyatul Maimunah memberdayakan perempuan merengkuh ladang jihad. - (Istimewa)

Ladang dakwah

Margaret dikenal publik dengan aktivitasnya di Fatayat dan juga komisioner KPAI. Baginya, semua aktivitas yang tengah digeluti adalah aktivitas yang dipandang sebagai khidmat dan ladang jihad. Dia berpesan kepada perempuan Indonesia agar ikut serta mengambil peran dalam pembangunan di segala aspek bidang yang mampu dan bisa dilakukan.

Dia menegaskan, Islam adalah rahmat bagi perempuan karena agama ini memberi kesempatan yang luas kepada kaum hawa untuk berpartisipasi ke dalam pembangunan di aspek manapun yang perempuan bisa lakukan.

"Kita juga harus tahu apa saja tantangan di era kekinian. Yang tentu itu berbeda sekali dengan tantangan di era atau masa lalu. Kita juga harus mampu mempunyai strategi tentang bagaimana kita bisa menaklukkan berbagai tantangan-tantangan tersebut," ujarnya.

PROFIL

Riwayat pendidikan: 1. S-3 Institute Pemerintahan Dalam Negeri, Jurusan Ilmu Pemerintahan (2020-sekarang), S-2 Program Studi Kajian Wanita, Program Pascasarjana, Universitas Indonesia (2003-2006), S-1 IAIN Sunan Ampel Surabaya, Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (1997-2002), MAN Denanyar Jombang (1994-1997), MTsN Denanyar Jombang (1991-1994), MI Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang (1985-1991).

Riwayat aktivitas: Komisioner KPAI Periode 2017-2022, anggota Tim Gugus Tugas Pencegahan dan Penanggulangan Pornografi, (2017-sekarang), fasilitator dan narasumber mengenai berbagai isu (perlindungan anak, pemberdayaan perempuan, kepemimpinan dan keorganisasian, radikalisme, literasi digital, pornografi, kejahatan siber, kesehatan reproduksi perempuan, pendidikan, kesetaraan dan keadilan gender, dakwah Islam Ahlussunah walamaah an-Nahdliyyah (2006-sekarang), tenaga ahli anggota Komisi X DPR RI (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kementerian Ristekdikti RI, Kementerian Pariwisata RI, Kementerian Pemuda dan Olahraga RI) tahun 2014-2017

Muhammad Natsir: Pahlawan dan Pendidik Teladan

Tidak banyak orang mengenal Muhammad Natsir sebagai guru dan pendidik sejati.

SELENGKAPNYA

Keterwakilan Perempuan Mengkhawatirkan

Diperlukan kesungguhan berbagai pihak meningkatkan jumlah perempuan sebagai penyelenggara pemilu.

SELENGKAPNYA