Pengunjung mematahkan batang rokok saat kampanye anti tembakau di Depok Town Square, Depok, Jawa Barat, Senin (30/5/2022). | ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/aww.

Nasional

06 Aug 2022, 03:45 WIB

Jumlah Perokok di Bawah 18 Tahun Meningkat

IAKMI juga mendorong pelarangan iklan, promosi, dan sponsor rokok di berbagai media.

JAKARTA -- Jumlah perokok pada anak di bawah 18 tahun di Tanah Air meningkat. Berdasarkan data Global Youth Tobacco Survey, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), dan Sentra Informasi Keracunan Nasional (Sikernas) dari Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan (BPOM) menyebutkan tiga dari empat anak mulai merokok di usia kurang dari 20 tahun.

Ketua Tobacco Control Support Center (TCSC) IAKMI dr Sumarjati Arjoso, SKM menyebut, prevalensi perokok anak terus naik setiap tahunnya. Pada 2013 prevalensi perokok anak mencapai 7,20 persen, kemudian naik menjadi 8,80 persen tahun 2016, 9,10 persen tahun 2018, 10,70 persen tahun 2019. Jika tidak dikendalikan, prevalensi perokok anak akan meningkat hingga 16 persen di tahun 2030.

“Kami audiensi ke BKKBN bertemu Pak Hasto ingin mendapatkan masukan, karena seperti kita ketahui prevalensi tembakau pada anak remaja sulit sekali untuk dikendalikan,” ujar Sumarjati, Jumat (5/8).

Ketua Ikatan Ahli Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr Ede Surya Darmawan mengatakan, upaya melindungi anak dari paparan produk rokok perlu dilakukan. Caranya, salah satunya, dengan merevisi Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang zat adiktif agar bisa memperkuat perlindungan anak terhadap produk rokok. Di antara regulasi yang sangat dinanti-nanti oleh IAKMI adalah perlunya pembuatan aturan larangan menjual rokok secara ketengan alias batangan.

photo
Seorang anggota Komunitas No Tobacco Community (NOTC) menunjukan puntung rokok saat aksi hari tanpa tembakau sedunia di Taman Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (31/5/2022). - (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/tom.)

Selain itu, IAKMI juga mendorong pelarangan iklan, promosi, dan sponsor rokok di berbagai media, baik di luar ruang, dalam ruang, televisi, dan media digital, termasuk internet. "Ada bapak merokok di samping ibu yang sedang hamil, saat menyusi dan lain-lain. Itu kan potensi anak dalam kandungan menjadi stunting. Jadi proses pendidikan merokok sejak dini. Kalau kita berjuang untuk pendidikan anak sejak dini, nah perokok itu mendidik anaknya merokok sedini mungkin,” kata Ede.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan, menekan prevalensi perokok pada anak sangat penting. Rokok pasalnya erat kaitannya dengan stunting.

“Kita ini melihat bahwa bayi yang lahir panjang badan kurang dari 48 sentimeter masih 22,6 persen. Menurut Riskesda 2018 yang lahir prematur masih 29,5 persen. Cukup tinggi. Sementara pengaruh rokok itu terbukti kan semua sepakat dari hasil katakan lah dari meta analisa atau statistika review itu semua menunjukan bahwa pengaruh rokok adalah janin tumbuh lambat. Secara ilmiah antara rokok dan pertumbuhan janin ini sudah terbukti dan sangat signifikan,” ujar Hasto.

photo
Seorang pegawai dinas kesehatan menempelkan stiker peringatan saat aksi hari tanpa tembakau sedunia di Taman Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (31/5/2022). - (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/tom.)

Hasto menyebut, peran orangtua dalam hal ini seorang syah harus benar-benar melindungi anggota keluarganya dari bahaya paparan asap rokok. Jika terpaksa, Hasto pun meminta untuk merokok di luar rumah dan jauh dari jangkauan keluarga.

“Kalau kita melarang orang merokok itu hampir pasti kita gagal. Tapi kalau mencegah orang merokok kemungkinan sukses besar. Oleh karena itu sebaiknya kita mencegahnya lewat perokok baru atau anak-anak ini,” tutur Hasto.

Di Indonesia saat ini, kematian karena 33 penyakit yang berkaitan dengan perilaku merokok mencapai 230.862 pada tahun 2015, dengan total kerugian makro mencapai Rp 596,61 triliun. Tembakau membunuh 290 ribu orang setiap tahunnya di Indonesia dan merupakan penyebab kematian terbesar akibat penyakit tidak menular. 


Cina Tembakkan Rudal di Selat Taiwan

Taiwan sejauh ini memilih menahan diri dan tidak menginginkan adanya eskalasi.

SELENGKAPNYA

PPATK Duga 176 Filantropi Selewengkan Donasi

Filantropi Indonesia menilai dibutuhkan aturan baru yang lebih detail mengatur ihwal donasi.

SELENGKAPNYA
×