Sejumlah truk yang membawa peti kemas melintas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (5/8/2022). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia pada triwulan II 2022 meningkat sebesar 19,74 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tah | ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Kabar Utama

06 Aug 2022, 03:55 WIB

BPS: Perekonomian Indonesia Impresif

Bantuan sosial yang diberikan pemerintah menjaga daya beli masyarakat bawah.

JAKARTA -- Perekonomian Indonesia tumbuh impresif pada kuartal II 2022. Konsumsi rumah tangga yang mencerminkan daya beli masyarakat telah kembali ke level lima persen. Kinerja ekspor dan industri manufaktur juga tumbuh menjanjikan, sehingga mampu mendorong perekonomian.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, angka pertumbuhan ekonomi pada April-Juni 2022 mencapai 5,44 persen terhadap periode sama tahun lalu (year on year/yoy). Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono, perekonomian Indonesia kuartal II 2022 sudah lebih baik dibandingkan sebelum pandemi Covid-19. 

"Tren ekonomi Indonesia meningkat secara persisten. Kinerja ekonomi kuartal II 2022 sudah lebih tinggi dari sebelum pandemi," kata Margo dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (5/8/). 

Nilai produk domestik bruto (PDB) kuartal II 2022 atas dasar harga konstan 2010 tercatat sebesar Rp 2.923,7 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan PDB kuartal II 2019 atau sebelum pandemi Covid-19 yang sebesar Rp 2.735,2 triliun.

Adapun secara kuartalan, ekonomi tumbuh 3,73 persen dibandingkan kuartal I 2022. Margo mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang terus mengalami kenaikan menandakan pemulihan ekonomi Indonesia terus berlangsung. BPS mencatat, peningkatan pertumbuhan ekonomi sudah terjadi sejak kuartal II 2021 lalu. 

Menurut Margo, capaian pertumbuhan ekonomi yang positif tidak terlepas dari kejelian pemerintah dalam membuat kebijakan, terutama dalam menghadapi tekanan global. 

Sejak awal tahun, Indonesia menikmati lonjakan harga komoditas dunia. Situasi itu membuat Indonesia mencatatkan nilai surplus perdagangan yang tinggi dan memberikan peningkatan penerimaan negara. “Dengan penerimaan yang bagus, pemerintah melakukan kebijakan subsidi untuk menahan kenaikan harga energi, sehingga kita juga bisa meredam inflasi," kata Margo. 

Hingga akhir kuartal II 2022, tepatnya bulan Juni, inflasi umum sebesar 4,35 persen. Meski inflasi cukup tinggi dan melebihi proyeksi pemerintah, namun inflasi inti masih tumbuh moderat sebesar 2,63 persen.   

photo
Pekerja menggunakan alat berat saat memindahkan peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (5/8/2022). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia pada triwulan II 2022 meningkat sebesar 19,74 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). - (AANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Adapun dari sisi kebijakan fiskal, pemerintah juga memberikan bantuan sosial bagi masyarakat kelompok menengah ke bawah. Dengan kebijakan itu, daya beli masyarakat yang tertekan akibat pandemi Covid-19 bisa ditingkatkan.  

Inflasi juga bisa teredam berkat kebijakan Bank Indonesia yang masih menahan suku bunga acuan di level 3,5 persen. Kebijakan itu memberikan situasi kondusif bagi pelaku usaha sehingga seluruh aktivitas ekonomi masih berjalan positif. “Di tengah tekanan inflasi global dan ancaman resesi, ekonomi Indonesia masih tumbuh impresif," katanya. 

Berbagai kebijakan itu membuat konsumsi rumah tangga yang merupakan kontributor terbesar PDB mampu tumbuh 5,51 persen (yoy), lebih tinggi dari kuartal I 2022 yang tercatat sebesar 4,34 persen. 

Konsumsi rumah tangga menyumbang 51,47 persen atau yang terbesar terhadap terhadap total pertumbuhan ekonomi. “Konsumsi rumah tangga tumbuh persisten dan lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal I 2022," kata Margo.

photo
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II 2022 - (BPS)

Margo mengatakan, tingginya konsumsi rumah tangga didukung oleh meningkatnya daya beli kelompok masyarakat bawah. Kelompok bawah terbantu oleh bantuan sosial yang dialokasikan pemerintah. Di sisi lain, terdapat peningkatkan aktivitas belanja kelompok masyarakat menengah atas, khususnya pada momen Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik dibandingkan banyak negara lain. Indikatornya, kata dia, dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam tiga kuartal terakhir yang selalu berada di atas 5 persen. 

"Kita selama tiga kuartal di atas 5 persen. Ini menunjukkan Indonesia relatif lebih baik dari negara lain," ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (5/8).

Ia menuturkan, ekonomi Indonesia melesat di tengah banyak negara terancam resesi. Ekonomi Amerika Serikat, misalnya, mengalami kontraksi 0,9 persen pada kuartal II 2022. Kendati demikian, Airlangga menegaskan Indonesia tetap harus mewaspadai ekonomi negara lain yang belum pulih. 

Kondisi tersebut diharapkan tidak memengaruhi perekonomian dalam negeri. Untuk melanjutkan momentum pertumbuhan, pemerintah akan mempercepat belanja pada kuartal tersisa. 

Ekonom mengingatkan pemerintah agar tak terlena dengan angka pertumbuhan ekonomi kuartal II 2022. Ekonom Indonesia Development and Islamic Studies (Ideas) Askar Muhammad mengatakan, pertumbuhan melejit hingga 5,44 persen karena terbantu kenaikan harga komoditas unggulan yang diekspor ke sejumlah negara, seperti batu bara, nikel, hingga minyak sawit. Pertumbuhan ekspor selama kuartal II tercatat mencapai 19,74 persen.

"Kalau dilihat angkanya saja (angka pertumbuhan, jelas itu benar-benar impresif," kata Askar kepada Republika, Jumat (5/8).

Askar memproyeksikan harga komoditas global masih akan tinggi, sehingga bakal kembali mendongkrak kenaikan pertumbuhan ekonomi. Hanya saja, pemerintah harus tetap mengantisipasi berbagai kemungkinan situasi global yang bisa menganggu perekonomian domestik.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, tantangan perekonomian pada semester II jauh lebih berat. Terdapat imported inflation karena mahalnya harga bahan baku yang akan berdampak ke konsumen. 

“Konflik yang meluas bukan hanya Rusia-Ukraina, tapi Cina-Taiwan diperkirakan memperburuk rantai pasok dan menimbulkan pelemahan sisi investasi langsung," kata Bhima.


Setoran Dividen BUMN Rp 35,5 Triliun 

BUMN berkontribusi sebesar Rp 3.295 triliun ke negara dalam 10 tahun terakhir.

SELENGKAPNYA

Transaksi Online Kemudian Dibatalkan

Transaksi kedua belah pihak itu tidak didasarkan oleh tawar-menawar harga dan barang.

SELENGKAPNYA
×